My Princess

My Princess
#103



Ketiga lelaki gagah nan tampan dengan stelan seragam kebanggaan mereka, ketiganya baru saja keluar dari ruangan yang mana di atas pintu sana bertuliskan 'KEPALA'. Wajah tegang mereka seketika berubah setelah melangkah keluar dari ruangan yang sempat membuat ketiganya tegang.


"Huuffff!" Desah kasar ketiganya dengan membuang nafas lega.


"Akhirnya aku bisa menarik nafas lega, huffff sesak!" Keluh Rafeal dan mulai melangkah meninggalkan area ruangan yang sukses membuatnya menjadi lelaki pendiam dan penurut.


"Ya setuju, aku bahkan lebih senang terjun ke dalam perang badai dari pada di dipanggil pulang seperti ini." Jelas Marvel.


"Ayo pulang!" Ajak Rakes yang terus berjalan lebih dulu.


Sesampai di kamar, ketiganya seketika menghempaskan tubuh mereka di ranjang masing-masing.


"Kira-kira siapa yang akan di kirim sebagai pengganti ku? kenapa sekarang aku tidak ingin bertukar posisi, yah dulu aku ingin cepat-cepat Zea lulus tapi ntah mengapa sekarang aku ingin tetap sekolah, rasanya berat meninggalkan mereka semua, jati diriku bahkan telah menyatu dengan semua tingkah konyol mereka, Bian yang jago berbohong untuk menutupi segala situasi yang terjadi, Taufan yang selalu memberi segala fasilitas untuk kebutuhan kami bersama, Rayyan yang selalu saja memastikan kami mengerjakan semua tugas rumah dan juga mengikuti setiap ulangan dan ujian dengan baik, ia bahkan menguras tenaganya untuk mengajarkan setiap mata pelajaran yang tidak kami mengerti dan Zea, dia yang selalu melindungi kami dari setiap bahaya selalu saja memastikan kalau para musuh tidak mengusik ketenangan kami berempat, sepertinya jiwaku telah melekat dengan mereka semua." Jelas Rafeal bahkan dengan tetesan air mata, saat mengenang kembali setiap detik yang telah ia lalui bersama anggota club mereka yang telah terbina sejak SMP dulu.


"Aku paham bagaimana rasanya harus meninggalkan orang-orang yang telah begitu dekat dengan kita, tapi inilah resiko dari pekerjaan kita. Dulu aku bahkan menangis sesugukan saat harus meninggalkan kakek Fajar padahal aku baru satu bulan tinggal bersamanya. Apa kamu yang sudah tiga tahun lebih bersama." Jelas Marvel.


"Kita harus membiasakan diri, karena sejatinya kita hanya singgah sejenak bersama mereka karena inilah rumah kita yang sebenarnya." Jelas Rakes.


"Sebelum sebulan kita harus menyelesaikan misi kita kali ini, karena aku benar-benar tidak menyukai mereka semua, aku tidak suka dengan rumah baru kita." Tegas Rafeal.


"Ya, untuk kali ini aku sependapat dengan Rafeal, aku benar-benar tidak ingin berlama-lama bersama mereka." Jelas Marvel.


"Lebih dari itu, berjanjilah kalau kalian berdua akan keluar sebagai mana kalian masuk, aku tidak ingin terjadi apapun pada kita bertiga, kita akan menyelesaikannya dengan baik." Jelas Rakes.


"Apa ini juga salah satu alasanmu menolak bantuan dari kepala? apa kamu tidak ingin membuat om Iqbal berada dalam bahaya?" Tanya Marvel.


"Hmmmm, lagi pula aku percaya dengan kemampuan kita bertiga, aku tidak ingin tim ayah ikut serta." Jelas Rakes.


"Yap, kita akan menyelesaikan misi kali ini dengan sempurna." Tegas Marvel.


"Rafeal, sebenarnya ada pesan pribadi dari Kepala untuk kamu!" Jelas Rakes.


"Apa? apa dia ingin aku jadi orang gila lagi? haiiiiiisssss sepertinya Kepala punya dendam tersembunyi deh sama aku, buktinya aku selalu saja di beri peran sampingan, baru kali ini jadi aktor utama eh sekarang malah di kirimkan pesan khusus, nggak jelas banget!" Gumam Rafeal kesal.


"Dasar kurang ajar, berani mencela di belakang!" Gumam Marvel.


"Kamu kira aku Srigala yang langsung terus terang dihadapan Kepala, aku tidak punya banyak nyawa untuk mengatakan tidak pada Kepala!" Jelas Rafeal.


"Termasuk jika Kepala melamar mu untuk menjadi menantunya?" Tanya Rakes yang sukses membuat Marvel dan Rafeal tercengang.


"Apa? Menantu?" Tanya Marvel dan Rafeal serentak.


"Bagaimana?" Tanya Rakes.


"Jangan ngaco, becanda mu nggak lucu, ayo pulang!" Ajak Rafeal.


"Aku serius!" Tegas Rakes yang memang terlihat begitu serius dengan ucapannya.


"Nggak tertarik!" Tegas Rafeal.


"Dia kagum padamu, kamu bahkan menjaga Zea dengan sangat baik, dia ingin kamu yang kelak menjaga putrinya. Namanya Mutia, kuliah semester lima, aku akan mengirimkan kontaknya untukmu!" Jelas Rakes yang bangkit dari tidurnya dan lekas menuju lemari untuk mengambil baju gantinya.


"Aku pulang lebih dulu!" Tegas Rafeal yang langsung keluar kamar bahkan tanpa berganti baju lebih dulu.


"Kamu beruntung Mutia karena papamu melakukannya lebih cepat dari yang aku lakukan, aku kira aku bisa menyatukan dia dengan Ana, ternyata aku kalah cepat dari Kepala!" Bisik hati Marvel yang terlihat begitu kecewa.


"Ayo pulang, buruan ganti baju sana!" Jelas Rakes sambil menghampiri Marvel yang masih duduk tertunduk di ranjangnya.


"Apa Rafeal akan menerima lamaran itu?" Tanya Marvel.


"Dia tidak akan menerimanya, ayo ganti baju sana, aku akan mengantar mu pulang sebelum anak buah papimu menyerang ku, buruan gih!" Jelas Rakes.


Tanpa jawaban Marvel lekas bangun untuk berganti baju, lalu keduanya segera pulang.


_______________________


"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh sebelas.... haissssss!" Gumam Zea yang terlihat begitu kesal lalu membuang semua kacang hijau dalam kedua mangkok putih yang ada di atas meja belajarnya.


Tangan Zea kini kembali menyentuh layar ponselnya.


"Kamu bohongi aku ya? bukannya jadi sabar aku malah tambah kesal, tips menguji kesabaran apaan!" Gumam Zea yang kali ini justru ponselnya yang menjadi sasaran.


Setelah mendorong kasar ponselnya hingga membentur tumpukan buku, kini Zea bangkit dari kursinya lalu segera menghempaskan tubuhnya keatas kasur.


Zea benar-benar terlihat begitu kesal, ia bahkan terus bangun lalu kembali rebahan hingga beberapa kali dengan mata yang terus menatap pada pintu berharap orang yang ia rindui lekas kembali.


Ntah untuk ke yang berapa kalinya, ia sendiri bahkan tidak bisa menghitungnya dengan benar, Zea terus saja membolak-balik tubuhnya ke setiap sisi kasur hingga pada akhirnya ia terlelap dengan posisi tubuh yang berada tepat di bagian ujung kasur sedikit lagi saja ia bergeser dapat dipastikan tubuhnya pasti akan mendarat di lantai.


_____________________


Tepat pukul 01:00 motor Rakes terparkir di garasi rumah Iqbal. Perlahan turun dan lekas masuk secara diam-diam.


Rakes terus menaiki tangga tanpa menimbulkan suara langkah kaki sama sekali. Rakes lekas meluncur ke kamarnya.


"Apa dia di kamar sebelah? dia bahkan tidak merindukan aku sama sekali!" Ungkap Rakes setelah melihat tempat tidurnya yang kosong.


Sejenak tercegat di depan pintu sambil terus menatap tempat tidur yang kosong lalu segera menuju ruang ganti. Rakes menghabiskan waktu selama dua puluh menit di kamar mandi, setelah mengenakan kaos hitam dan celana pendek yang berwarna senada hingga membuat kulitnya putih terpancar sempurna. Dengan handuk kecil yang masih menutupi rambut basahnya, Rakes keluar dari kamarnya lalu segera memasuki kamar sang istri.


"Abang bahkan tidak bisa memejamkan mata abang sedetikpun karena perasaan rindu yang kian menggebu ini, tapi kamu justru tertidur nyenyak tanpa beban rindu sedikitpun. Zea, benarkah kamu mencintai abang?"Ungkap Rakes yang masih betah berdiri jauh dari tempat di mana Zea terlelap.


Rakes hendak melangkah keluar namun suara Zea seketika menghentikan kakinya.


"Chim chim, Chim chim!" Ujar Zea dengan mata yang masih terpejam.


Mata Rakes langsung fokus pada wajah polos Zea, di menit selanjutnya tubuh Zea mulai bergerak berguling ke arah utara hampir saja membuatnya terjatuh ke lantai jika saja Rakes tidak bergegas menahannya.


Tangan Rakes menahan tubuh Zea, lalu kembali menggeserkannya ke atas tempat tidur.


'Cup' Bibir Rakes menyentuh kening Zea lembut.


"Tidurlah sayang!" Ucap Rakes yang kembali mencium lama kening Zea.


Tangan Rakes kini beranjak menyentuh perut rata Zea yang bahkan terpampang jelas pada sisi bagian kiri karena piyama yang Zea kenakan sedikit tersingkap ke atas.


"Chim chim!" Ujar Zea pelan saat merasakan tangan Rakes menyentuh bagian perutnya, tangan Zea menarik handuk yang menutupi kepala Rakes lalu membuangnya ke lantai.


"Apa abang membangunkan mu? maaf!" Pinta Rakes dan segera memindahkan tangannya.


Secepat kilat Zea menghentikannya, tangan Zea menarik kembali tangan Rakes lalu meletakkannya kembali di atas perutnya.


"Katanya tidak akan selama ini? katanya hanya setengah hari, tapi kenapa tengah malam baru pulang? kenapa ingkar janji? kenapa membuat aku menahan rindu? kenapa?" Zea mulai mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Maaf!" Pinta Rakes.


"Bukankah sudah aku katakan, alih-alih mengatakan kata maaf bukankah lebih baik Chim chim memeluk aku dan Raze Junior!" Jelas Zea.


Zea perlahan bangun lalu segera memeluk erat tubuh Rakes.


"Apa Chim chim tidak merindukan ku?" Tanya Zea yang kembali mengeratkan pelukannya.


Tanpa kata Rakes hanya memperdalam pelukan mereka, membuat Zea segera mengadahkan wajahnya untuk menatap wajah Rakes yang berada lebih tinggi dari wajahnya. Zea mulai mengangkat wajahnya lalu secepat kilat menerkam bibir sang suami.


"Jangan menahan rindu begitu lama, jika menginginkannya lakukan saja! jangan menunggu hingga aku memintanya!" Jelas Zea yang kembali melancarkan aksi tabrakannya.


"Aku, Nuri Zea Zahiya Saka istri abang, jadi tidak perlu menunggu hingga aku yang mulai lebih dulu, aku hak abang. Mulai sekarang jangan lagi menahan diri, jangan hanya mementingkan perasaan aku, siapapun yang rindu kita bebas memulainya, apa abang mengerti?" Jelas Zea panjang lebar dengan kedua tangan yang mendekap wajah Rakes.


"Ayo istirahat!" Ajak Rakes yang beranjak merebahkan tubuhnya di sisi Zea.


"Hmmmmmmm!" Ujar Zea dengan memamerkan gigi putihnya.


Rakes menarik tubuh Zea kedalam pelukannya.


"Abang mencintaimu, my princess!" Ujar Rakes lalu kembali mengecup kening Zea.


"Aku jauuuh sangat mencintai abang, my lovely Chim chim!" Ujar Zea lalu membenamkan wajahnya di leher Rakes.


Keduanya terlalap sambil memeluk satu sama lain, melepas rasa rindu yang membuat keduanya begitu tersiksa.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️