
Seminggu telah berlalu semenjak kejadian di arena balap yang menyebabkan Marvel harus menjalani operasi pada bagian bahu kirinya. Dion serta para sahabatnya kini telah di tetapkan sebagai tahanan sedangkan Roger masih dalam proses persidangan, belum ada putusan untuk hukuman yang akan ia terima.
Tepatnya di sebuah taman, Zea terlihat sedang duduk bersama Bian, sejak bertemu beberapa saat yang lalu keduanya masih saja diam dengan tatapan lurus ke depan tanpa menoleh satu sama lain.
"Seharusnya aku lebih waspada! maafkan aku Zea." Jelas Bian.
"Justru aku yang salah, aku yang tidak bisa membaca keadaan yang ada, aku malah masuk dalam perangkap mereka dan parahnya aku malah menempatkan abang Marvel pada posisi yang harusnya aku tempati!" Jelas Zea.
"Sejak awal, aku sedikit curiga pada ajakan Dion, dia tiba-tiba ngajak balap bahkan saat semuanya sudah mulai tenang tapi aku benar-benar nggak paham kenapa bisa Roger yang berada dibalik semua kekacauan ini."
"Bian, terkadang cinta dengan dipaksa harus memiliki akan menjadi petaka buat diri sendiri!"
"Maksud kamu?"
"Sejak kecil abang Roger sudah begitu berambisi untuk menikahi aku, entah karena cinta atau mungkin daya saingnya terhadap abang Rakes. Semakin kesini, abang Roger malah terlihat seperti physcopat, dia ingin menjadikan semua milik abang Rakes sebagai miliknya."
"Ah....! sekarang aku paham, mungkin dia tidak mencintai mu tapi lantaran abang Rakes begitu mencintai mu hingga membuat dia juga ingin mendapatkan kamu, yah meski harus dengan cara seperti ini."
"Tapi yang tidak bisa aku mengerti kenapa dia tega melakukan ini semua pada ku?"
"Zea, sebenarnya yang Roger incar bukan kamu tapi abang Rakes. Sekarang aku baru paham kalau kenyataannya kecelakaan seminggu yang lalu dia rancang untuk melukai abang Rakes."
"Maksud kamu?"
"Saat mengajak balapan, Dion mengatakan kalau aku juga harus mengajak Rakes."
"Apa?"
"Hmmmmm, sejak awal Rakes lah target Roger bukan kamu ataupun Marvel." Jelas Bian yang akhirnya paham dengan keadaan yang saat ini mereka jalani.
"Abang Roger benar-benar keterlaluan! setelah apa yang sudah abang Rakes korbankan untuk kebahagiaan dia, tapi justru dia membalasnya dengan cara ini, dia benar-benar bajingan!" Gumam Zea penuh emosi.
Perlahan tangan Bian menyentuh bahu Zea lalu menepuknya pelan.
"Cukup Zea, jangan biarkan emosi memenuhi jiwa mu, lagi pula sekarang Roger pun sudah mendapatkan hukuman atas semua kejahatannya."
"Tapi...."
"Tenangkan diri mu, saat ini yang harus kamu pikirkan adalah kebahagiaan keluarga mu, biarkan semuanya berjalan seadanya. hmmmm!" Ujar Bian dengan begitu bijak, sosok yang selama ini bahkan tidak pernah muncul dari dalam diri Bian.
"Kamu benar Bian kan?"
"Terus elo kira siapa? Bian juga bisa bijak kali!"
"Syukur deh! oh ya, yang lain pada kemana?"
"Taufan dan Namira sibuk kencan dan Rayyan seperti biasa sibuk belajar buat tes nanti."
"Dan kamu sibuk cari gara-gara!"
"Nah itu elo paham!" Cetus Bian dengan gelak tawa khasnya.
____________________
"Abang....." Panggil Roger saat ruang sidang mulai di bubarkan.
Di kursi penonton sidang sana Rakes masih duduk tak bergeming sama sekali meski Roger sejak tadi berulang kami memanggilnya.
"Pa......!" Teriak Roger yang terdengar begitu putus asa.
Dan sama halnya dengan Rakes, Hadi juga masih duduk mematung di kursi penonton sidang.
"Ma.... tolong ma, tolong hentikan semua ini!" Tangis Roger pada sang mama yang kini berada di sampingnya.
"Maafkan mama sayang!" Ujar Erina dan lekas pergi meninggalkan Roger.
Iqbal dan Elsaliani perlahan mendekati Roger yang dikawal oleh dia orang petugas kepolisian.
"Tante, tolong lepaskan aku, aku mohon!" Tangis Roger.
"Roger, ini adalah bukti kalau kamu itu bertanggung jawab, tante percaya kalau kamu bisa menjalani semua ini dengan baik, setelah semua ini selesai kembalilah menjadi Roger yang baik, Roger yang tante kenal." Jelas Elsaliani.
"Tante ini cuma kesalahan, tolong maafkan aku!" Pinta Roger.
"Tapi om....!"
"Apa harus om sebutkan kembali semua kejahatan mu yang kami coba maafkan sejak dulu?" Tanya Iqbal.
"Mas....!" Ujar Elsaliani dengan menyentuh lembut jemari Iqbal.
"Berawal dari mencoba mencelakakan Rakes saat di kebun binatang ketika kalian masih kecil dulu, lalu membuat mama mu memarahi Rakes hingga dia harus keluar dari rumah, merampas semua hak warisan Rakes, dua tahun yang lalu kamu juga mencoba meracuni Rakes, kamu juga bekerja sama dengan Lestari dan juga Fadhil untuk mencelakakan Rakes dan yang sama sekali tidak bisa om maafkan, kamu bahkan mencoba untuk menodai Zea." Jelas Iqbal.
"Om....!"
"Mas, cukup!" Pinta Elsaliani.
"Tante itu semua nggak benar!" Keluh Roger.
"Apa harus om list kan semuanya?" Gumam Iqbal.
"Ayo mas, kita pulang!" Ajak Elsaliani.
"Tante, om...!" Ujar Roger.
"Selama 15 tahun kedepannya, renungkanlah semua kejahatan kamu, habiskan masa tahanan mu dengan menyesali perbuatan mu itu!" Gumam Iqbal.
"Om..." Seru Roger.
"Bawa dia!" Perintah Iqbal.
"Baik pak!" Jawab keduanya serentak dan lekas menyeret Roger bersama mereka.
"Mas tenanglah!" Ujar Elsaliani mencoba menenangkan Iqbal yang sejak tadi begitu di penuhi amarah.
"Huuuuuf!" Ujar Iqbal.
"Ayo pulang...." Ajak Elsaliani dan keduanya pun lekas pulang.
"Pa...." Panggil Rakes sambil menoleh pada Hadi yang duduk di sebelahnya dengan di selangi 2 kursi kosong.
"Kali ini biarkan dia yang bertanggung jawab!" Jelas Hadi.
"Lalu bagaimana dengan mama dan kakek?" Tanya Rakes yang justru begitu mengkhawatirkan keadaan sang mama dan kakek yang jelas akan begitu terluka dengan semua ini.
"Mama mu juga akan paham, dia pasti ngerti. Sudah cukup selama ini kamu yang menjadi tameng untuk adik mu kali ini biarkan dia tumbuh dewasa, dan juga soal kakek, papa rasa dia jauh lebih paham, lagi pula bukan kah sejak dulu hanya kamu yang ada di hatinya, kejadian ini justru membuat semua keinginannya menjadi kenyataan, kamu yang akan mewarisi semua miliknya!" Jelas Hadi.
"Bukan ini yang aku inginkan pa, aku sama sekali tidak tertarik dengan harta kakek, aku tidak ingin menerimanya!" Jelas Rakes.
"Setidaknya terimalah untuk sementara ini, setelah Roger kembali nanti maka kembalikan semuanya pada dia." Jelas Hadi.
"Apa Roger akan baik-baik saja?"
"Bagaimanapun, dia adalah anak papa, papa tau kalau dia pasti bisa kembali menjadi Roger kita, Roger yang baik dan manis!"
"Hmmmm, semoga saja pa. Aku bahkan begitu merindukan sosoknya yang dulu."
"Papa juga, papa merindukan anak-anak papa." Ujar Jadi lalu tersenyum pada Rakes.
"Pa....." Ujar Rakes yang langsung bangun dan segera memeluk sang papa tercinta.
"Badai ini akan segera berlalu, dan keluarga kita akan kembali baik-baik saja, seperti sediakala." Ujar Hadi sambil mengusap punggung lebar milik sang putra sulungnya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE Comen voteππ
Stay terus sama My Princess ππππ
Khamsahamida πππππ
Oh ya manteman jangan lupa main ke novel baru aku ya,,,
πXue_Lianπ
Ditunggu kunjungannyaπππππ