My Princess

My Princess
#202



Suara nada panggilan seakan menggema di seluruh ruangan, membuat Marvel mau tidak mau harus membuka paksa matanya yang sedang begitu terlelap. Dengan bermalas-malasan Marvel meraba ponselnya yang entah berada dimana.


"Seharusnya nggak akan ada panggilan malam seperti ini! kan lagi cuti!" Gumam Marvel kesal namun segera meraih ponselnya dan memeriksa siapa yang sejak tadi menelpon dirinya.


"Waaaah ngajak ribut nih Makhluk!" Gumam Marvel saat melihat nama kontak yang sejak tadi terus menelpon dirinya.


"Kenapa?" Tanya Marvel setelah menggeser kan tombol hijau di layar ponselnya.


"Gimana sukses?" Tanya Rakes dari seberang.


"Benar-benar! aku ngantuk, awas kalau berani menelpon lagi!" Cetus Marvel.


"Pasti gagal malam pertama kan? makanya jadi ngeselin kayak gini!" Goda Rakes.


"Kalau bukan urusan pekerjaan aku mati kan nih!" Ancam Marvel.


"Wow slowww! tahan dulu!" Jelas Rakes.


"Buruan, kenapa?"


"Maksud aku, hasrat kamu loh yang di tahan. Aku ngerti, karena aku dulu juga gitu harus puasa berbulan-bulan lamanya."


"Nggak nanya tuh!"


"Ya aku kasih tau, supaya kamu nggak kecewa!"


"Rakes, aku matikan nih!"


"Oke! aku cuma mau mastiin aja kok, dan ternyata dugaan aku benar!" Jelas Rakes puas dengan gelak tawanya.


"Aku ngantuk!"


"Ya udah kamu lanjutkan lagi tidurnya dan aku mau kembali beraksi sama Zea mumpung para bocil lagi bobo nyenyak!" Jelas Rakes dan langsung memutuskan panggilannya begitu saja.


"Benar-benar sinting nih makhluk! waaaah, Rakes awas akan aku balas!" Gumam Marvel kesal.


Marvel bahkan langsung melemparkan ponselnya begitu saja keatas meja kecil yang ada di dekat tempat tidur.


Sejenak menenangkan diri, lalu ingin kembali tidur, namun seketika ia menyadari bahwa sejak tadi selimut menghilang entah kemana. Ia menatap ke seluruh tempat tidur dan tidak ada siapapun selain dirinya.


"Dimana Kania? kemana perginya?" Tanya Marvel dengan mata yang terus menelusuri setiap sudut kamar.


"Apa dia pindah ke kamar lain, tapi kenapa selimut juga ikut dibawanya?" Tanya Marvel yang semakin kebingungan.


Marvel turun dari tempat tidur, baru saja kakinya turun langsung disambut oleh selimut yang tergeletak di lantai, mata Marvel langsung tertuju pada selimut yang tepat berada di kakinya.


"Ya ampun Kania!" Ujar Marvel yang mendapati tubuh Kania yang tertidur nyenyak di lantai sana dengan rambut yang berantakan, kepala yang beralas selimut, satu kaki yang tersangkut di ujung selimut dan satu kaki lagi terlipat dengan lutut yang ia peluk erat.


Marvel mendekati tubuh Kania lalu segera mengangkatnya dan kembali membawanya ke atas tempat tidur.


"Serasa lagi ngurusin anak TK!" Ujar Marvel saat mendapati Kania yang masih tertidur lelap.


Dengan senyuman lebar, Marvel kembali merebahkan tubuhnya lalu hendak memejamkan matanya namun sebelum itu terjadi, tangan Kania telah lebih dulu mendarat tepat di kepalanya.


"Kania, Kania!" Ujar Marvel yang malah membiarkan tangan Kania begitu saja.


"Tidur nyenyak sayang!" Ucap Marvel pelan.


'Buuk' kini kaki Kania yang mendarat di pinggang Marvel.


Marvel hanya tersenyum tipis dengan menghela nafas berat dan kembali memejamkan matanya.


__________________


"Selamat pagi mi, pi..." Sapa Mariana sambil bergabung di meja makan.


"Pagi sayang, ayo kita sarapan!" Jelas Aryani yang duduk tepat di sebelah Marvel.


"Iya mi!" Ujar Mariana lalu duduk di sebelah Rafeal.


"Ana, kamu mau ngantor?" Tanya Revtankhar yang menyadari penampilan Mariana yang begitu rapi dengan stelan jasnya.


"Iya pi, ada dokumen yang harus aku siapkan!" Jelas Mariana.


"Lalu suami mu, kamu udah izin?" Tanya Aryani.


"Tadi Ana udah izin kok mi." Jawab Rafeal.


"Suami cuti kok istri malah pergi, harusnya ikut cuti juga dong!" Jelas Marvel.


"Nah, mami setuju sama abang kamu!" Jelas Aryani.


"Tapi mi...." Keluh Mariana.


"Mi, nggak masalah kok! lagi pula sebentar lagi aku juga mau keluar, ada pertemuan dadakan dengan anggota lainnya." Jelas Rafeal.


"Marvel juga?" Tanya Revtankhar.


"Iya pi."


"Terus Kania gimana?" Tanya Revtankhar.


"Kan ada mami loh pi, banyak hal yang ingin mami lakukan dengannya." Jelas Aryani.


"Mami jangan macam-macam ya, Kania masih sangat polos jangan sampai mami kotak katik otak istri aku!" Jelas Marvel.


"Udah kamu santai aja, kerja yang bagus, biar Kania mami yang urus!" Jelas Aryani.


"Terus Kania mana? kok nggak sarapan?" Tanya Mariana yang menyadari bahwa sejak tadi Kania tidak ikut bersama mereka.


"Masih tidur!" Jelas Marvel.


"Mami apaan sih, siapa coba yang nggak tidur emang aku ngapain Kania!" Cetus Marvel yang cukup membuat semua orang tersendak.


"Ya siapa tau aja kan!" Ujar Aryani.


"Terus nggak abang bangunin?" Tanya Mariana.


"Biarkan saja dia tidur, dia pasti capek! lanjutkan makan kalian, papi berangkat duluan!" Jelas Revtankhar dan beranjak dari tempat duduknya.


"Hati-hati pi!" Ujar Aryani.


"Mau berangkat bareng?" Tanya Marvel.


"Oke!" Jawab Marvel lantang.


"Bukan kamu maksud aku, tapi Ana." Jelas Rafeal.


"Ayo berangkat!" Ajak Mariana penuh semangat dan langsung menggandeng tangan Rafeal.


"Kami permisi mami!" Ujar Rafeal.


"Dasar!" Cetus Marvel kesal.


"Jangan ngiri!" Cetus Mariana dan lekas pergi.


"Kamu nggak berangkat?" Tanya mami.


"Iya mi, aku berangkat! Assalamualaikum!" Jelas Marvel lalu menyalami Aryani dan lekas pergi.


Marvel yang hendak membuka pintu mobilnya yang terparkir di depan rumah, seketika menghentikan langkahnya karena mendengar namanya di panggil.


"Abang Marvel!" Panggil Kania sambil terus berlarian ke teras.


"Kania, kamu udah bangun?" Tanya Marvel.


"Maaf!" Ujar Kania yang langsung memeluk erat tubuh Marvel.


"Loh kenapa minta maaf?"


"Karena aku,,,,"


"Kenap?"


"Semalam tidur abang pasti keganggu sama aku kan?"


"Maksudnya??"


"Ya, karena aku tidurnya...."


"Abang sama sekali tidak terganggu."


"Tapi..."


"It's oke! abang baik-baik saja."


"Terima kasih, dan selamat bekerja, hati-hati!" Jelas Kania lalu mencium punggung tangan Marvel.


"Love you, Kania." Ucap Marvel sambil mengusap pelan kepala Kania.


Kania hanya tersenyum lebar dan Marvel pun lekas pergi.


__________________


"Jadi beneran nih, kalian mau pindah?" Tanya Elsaliani saat ia dan Zea sedang menemani si kembar bermain di atas ambal bulu.


"Iya uma." Jawab Zea.


"Udah ngabarin mama Erina?"


"Udah, tadi malam abang udah bilang sama mama dan juga papa."


"Uma pasti bakal kesepian banget!"


"Uma jangan ngomong gitu dong, lagi pula kami pindahnya bukan ke luar negeri, kita masih satu negara bahkan satu kota uma, aku akan sering-sering bawa para bocah main."


"Tetap aja...."


"Uma,,,"


"terus Rafeal dan Marvel ikut juga?"


"Hmmmm, iya. Mereka bertiga memang sudah janji sejak dulu, kalau setelah menikah mereka akan tinggal di rumah mereka." Jelas Zea.


"Apa memang harus begitu?"


"Itu udah keputusan mereka bertiga uma."


"Apa boleh buat kalau itu memang sudah keputusan mereka." Jelas Elsaliani lalu membawa Azan dan Uzun kedalam pelukannya.


"Uma dan Ayah pasti akan merindukan kalian berdua sayang!" Ujar Elsaliani lalu mencium kedua cucunya secara bergantian.


💜💜💜💜💜💜💜


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida 💜💜💜💜💜