My Princess

My Princess
#144



"Chim chim, Chim chim..." Panggil Zea dengan suara serak dan mata yang masih terpejam rapat.


Tangan Zea terus saja mencari sosok sang suami, meski harus meraba karena enggan membuka mata, tangan Zea terus saja menyentuh tubuh Rakes yang terbaring lelap di sampingnya. Ulah tangan Zea yang terus saja menyentuh wajah hingga sesekali mengacak rambut Rakes sukses membuat sang suami terjaga.


Rakes perlahan membuka matanya lalu mencoba mengarahkan pandangannya pada tangan Zea yang kini terhenti di bahunya, mata Rakes terus teralih pada sang pemilik tangan, alangkah kagetnya Rakes saat mendapati Zea yang kini duduk tepat dihadapannya dalam keadaan mata yang masih terpejam dan yang paling parah rambut Zea terurai berantakan hingga menutupi hampir seluruh wajah cantiknya.


"Huuuuuuf! Zea.....!" Ujar Rakes sambil mengelus dadanya.


"Chim chim!" Panggil Zea.


"Iya, ada apa? apa ada yang sakit?" Tanya Rakes yang perlahan mendekat lalu mencoba merapikan rambut yang menutupi wajah Zea.


"Lapar!" Lapor Zea manja.


"Lapar? ya udah, mau makan apa biar abang ambilkan!"


"Tapi mata aku sama sekali nggak bisa dibuka, aku ngantuk banget."


"Hmmmmmm!" Rakes terus mencoba untuk mencari solusi terbaik.


"Chim chim cepetan! aku benar-benar lapar banget! aku mau makan nasi sama ikan goreng, pakek sambal super pedas!" Jelas Zea dan dimenit berikutnya kembali membaringkan tubuhnya.


"Ikan goreng?" Tanya Rakes memastikan.


"Iya!" Tegas Zea.


"Sepertinya dia mulai ngidam, huuuuuuuf! Harus ekstra sabar, tenang Rakes, kamu pasti bisa." Gumam Rakes pelan pada dirinya sendiri.


"Aku maunya sekarang, bukan entar!" Jelas Zea.


"Baiklah, tunggu sebentar, abang akan membawakannya?" Jelas Rakes yang bergegas pergi.


Sesampai di dapur, Rakes langsung memeriksa isi kulkas dan syukurnya semua bahan-bahan dapur ada di sana. Rakes langsung mengambil seekor ikan yang lumayan besar dan pastinya sudah di bersihkan. Setelah menyiapkan semua yang ia butuhkan Rakes mulai memasak di saat itu pula Rafeal datang.


"Rakes!" Seru Rafeal saat mendapati Rakes yang sedang bergulat dengan kuali.


"Hai....!" Ujar Rakes lalu kembali fokus pada masakannya.


"Aku yang salah atau kamu yang sakit parah? ini masih jam dua pagi dan kamu sedang goreng ikan? yang benar aja?"


"Zea yang minta!"


"What???? waaaah ternyata Zea sudah mulai nih!"


"Mulai? mulai apa?"


"Mulai menjadikanmu sebagai pembantu pribadinya. Lihat aja dia bakal meminta yang aneh aneh dan yang paling parah permintaan itu datangnya pasti tengah malam. Selamat bro! gadis biasa aja kalau hamil ribet banget apa lagi kalau Zea pasti bakal wow banget!" Jelas Rafeal.


"Kembali ke kamar mu sebelum nih ikan panas terbang ke kepala mu!" Gumam Rakes.


"Wusssssh sadis! nggak suami, nggak istri sama-sama galak bagaimana nanti anak kalian pasti bakal langsung main hantam tanpa peringatan! aaaahhhh ngeri, selamat malam!" Jelas Rafeal lalu secepat kilat meraih botol air mineral lalu cepat-cepat melarikan diri dari tatapan horor Rakes.


"Tenang Rakes, tenang!" Ujar Rakes mencoba menahan emosinya.


Rakes kembali melanjutkan aksi memasaknya, hingga beberapa menit berlalu akhirnya Rakes menyelesaikan semuanya. Setelahku meletakkan semuanya di dalam piring Rakes segera membawanya ke kamar.


"Zea....!" Panggil Rakes mencoba membangunkan Zea setelah meletakkan bawaannya di atas meja di dekat tempat tidur.


"Hmmmmmmm!"


"Zea, abang udah bawakan pesanan Zea nih, ayo makan!"


"Tapi aku masih ngantuk!"


"Tapi kamu lapar kan? ayo dong sayang, kita makan, kasian kan Raze Junior, dia pasti sangat kelaparan!" Jelas Rakes yang perlahan membelai lembut rambut Zea.


"Suapin!" Pinta Zea manja yang perlahan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu sedikit mencoba membuka matanya.


"Oke!"


Rakes langsung melaksanakan permintaan Zea, dengan begitu penuh kasih sayang Rakes terus menyuapkan Zea.


"Ini Chim chim yang masak?"


"Iya?"


"Subhanallah, ini tuh lezat banget!" Seru Zea dan kembali melahap ikan yang ada di tangan Rakes.


"Benar-benar! waaaah! Sedap gila! gimana kalau kita buka restauran? mending Chim chim beralih profesi jadi koki aja deh sekarang"


"Ide bagus!" Ujar Rakes dengan senyuman bahagia karena melihat Zea menyukai masakannya.


"Nih yang terakhir!" Ujar Rakes sembari memberikan suapan terakhir.


"Apa? udah habis? perasaan juga baru makan dua tiga suap!"


"Zea, kamu loh yang menghabiskan semua ini!"


"Tapi aku masih lapar! masih mau nambah!" Adu Zea dengan begitu manja.


"Zea, kamu barusan ngabisin satu piring penuh loh, yakin masih lapar?"


Zea hanya memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, abang masak lagi sekarang!" Jelas Rakes dan segera bangun.


"Aku mau ikut!"


"Kamu tunggu di sini aja, abang janji nggak bakal lama!"


"Tapi aku serius mau ikut ke dapur!"


"Hmmmm, baiklah, ayo!" Ajak Rakes yang langsung membantu Zea bangun lalu keduanya segera ke dapur.


Keduanya terus berjalan menuju dapur namun seketika Rakes menghentikan langkahnya, ia segera berdiri di hadapan Zea.


"Sssssstt!" Bisik Rakes pelan.


"Aku rasa suaranya dari dapur." Ujar Zea pelan.


"Kamu tetap disini, biar abang yang cek ke dapur!"


"Tetap di samping abang!" Pinta Rakes yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zea.


Perlahan keduanya terus berjalan hingga tiba tepat di depan pintu dapur. Suasana dapur gelap gulita sama saat Rakes meninggalkannya beberapa menit yang lalu, namun suara hantaman terdengar semakin keras. Rakes terus berusaha mencari dari sebelah mana suara itu berasal, setelah yakin, Rakes langsung beraksi.


"Awwwwww!" Jerit Marvel saat tangan Rakes mendarat di pundaknya.


Seketika ruangan terang benderang.


"Abang Marvel!" Ujar Zea.


"Ngapain gelap-gelapan?" Tanya Rakes.


"Apa kalian sedang melakukan operasi tanpa mengajak aku?" Tanya Rafeal yang masih berdiri tegak di samping saklar, karena Rafeal lah yang baru saja menyalakan lampu.


"Aku lagi cari sesuatu! Terus, kenapa kalian bertiga ke dapur?" Tanya Marvel yang masih mengusap bahunya yang masih terasa sakit.


"Cari sesuatu dalam gelap! benar-benar kamu sudah kehilangan akal sehat mu!" Cetus Rafeal yang langsung mengambil air minum dan meneguknya hingga puas.


"Aku tidak ingin ada yang tau, makanya hanya menggunakan senter!" Jelas Marvel.


"Apa yang abang cari?" Tanya Zea penasaran.


"Tunggu, lalu kalian berdua ngapain ke dapur?" Tanya Marvel.


"Ke dapur ya buat masak nggak mungkin kan buat dandan!" Cetus Rakes.


"Hahahah, hahahhah!" Bahkan tawa Rafeal membuat dirinya sendiri tersendak.


"Tutup mulut besar mu, atau kamu mau yang lainnya bangun?" Cetus Marvel bersamaan dengan melempar sebuah tomat ke mulut Rafeal.


"Enak!" Ujar Rafeal dengan mulut yang masih mengunyah tomat yang mendarat sempurna di mulutnya.


"Rafeal benar-benar deh, udah balik ke kamar gih, ganggu aja!" Gumam Zea yang segera mendekati Marvel.


"Ciiiiih! dasar..." Seru Rafeal yang melangkah mendekati Rakes.


"Jangan dekat-dekat!" Cetus Rakes sembari mengayunkan pisau yang sedang ia gunakan untuk mengiris bawang.


"Wiiih! ngeri!" Cetus Rafeal dan sedikit mundur dari Rakes.


"Sebenarnya apa yang abang Marvel cari?" Tanya Zea.


"Uang? intan? permata? berlian?" Tanya Rafeal yang kini beralih mendekat pada Marvel dan Zea.


"Dasar....." Cetus Zea dan Marvel hampir bersamaan hingga membuat Rafeal tersenyum menggoda.


"Apa kamu mencari cincin yang kita beli bersama waktu itu?" Tanya Rakes yang sontak membuat Rafeal dan Zea menatap tajam pada Marvel.


"Hmmmmmm!" Jawab Marvel dengan begitu penuh kecewa.


"Dasar ceroboh! kenapa bisa ilang sih? itu cincin buat Kania kan? kamu mau lamar Kania kan? dasar!" Gumam Rafeal kesal dan segera beraksi mencarinya.


"Kenapa kamu terlihat lebih marah dari abang Marvel?" Tanya Zea.


"Lalu apa aku harus diam? kalian tau, kalau kehilangan cincin saat meu lamaran merupakan pertanda buruk!" Jelas Rafeal.


"Dasar orang tua masih percaya aja sama tahayul!" Cetus Zea.


"Zea, aku bukannya percaya sama tahayul, aku cuman nggak mau kalau terjadi apa-apa sama mereka berdua, ayo bantu cari, pokoknya harus ketemu!" Tegas Rafeal yang kembali fokus mencari.


"Oke! ayo kita cari!" Jelas Rakes yang ikut membantu.


"Ketemu!" Seru Zea girang.


"Dimana?" Tanya yang lainnya serentak.


"Itu!" Seru Zea sambil menunjukkan kearah lantai di mana cincin berada.


Rakes segera mengambilnya lalu menyerahkannya kembali pada Marvel.


"Jangan sampai hilang lagi, atau akan aku patahkan tanganmu!" Cetus Rakes.


"Pegang erat-erat! kamu harus memberikannya pada Kania!" Jelas Rafeal dan lekas pergi.


"Terima kasih!" Ujar Marvel.


"Udah abang Marvel tenang aja, mereka berdua begitu karena mereka peduli sama abang, oh ya kapan mau melamar Kania?" Tanya Zea.


"Rencananya besok sebelum kita pulang!" Jelas Marvel.


"Semoga berhasil! dan aku doakan semoga abang dan Kania berjodoh sampai ke surga!" Ujar Zea.


"Terima kasih!" Ujar Marvel dengan senyuman.


"Kalau gitu aku ke kamar dulu, kalian lanjutkan dinner tengah malam kalian, selamat malam, eh selamat pagi!" Ujar Marvel dan segera pergi.


"Tinggal satu pasangan lagi, huuuuf sepertinya aku harus turun tangan nih!" Ujar Zea.


"Apa kamu mulai merencanakan sesuatu?" Tanya Rakes.


"Hmmmmm, pokoknya Rafeal dan kak Ana harus bersatu!" Tekad Zea.


"Hadeeeeeuh! udah nggak usah jadi mak Jomblang, biar mereka yang mengurus hati mereka, sekarang ayo kita urus hati kita." Ujar Rakes dengan tatapan menggoda.


"Let's go!" Ujar Zea penuh semangat dan langsung memeluk tubuh Rakes.


"Bagaimana dengan makannya?"


"Kita tunda besok pagi aja!" Ujar Zea.


"Kamu ini!" Ujar Rakes dan langsung mengangkat tubuh Zea ke dalam gendongannya, keduanya lekas meninggalkan dapur.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️