My Princess

My Princess
#193



πŸ’œBeberapa Bulan Kemudian


Sore yang begitu indah, di taman belakang sana Zea terlihat sedang berjalan santai dari arah timur ke barat, barat le timur begitu seterusnya. Angin yang bertiup pelan membuat suasana semakin nyaman.


Namun suasana itu tidak bertahan lama, karena sesaat kemudian Zea merasa kesakitan, tangan kanannya segera meraih pohon mangga yang ada di dekatnya berusaha bertumpu di sana.


"Uma, abang, ayah....." Teriak Zea dengan suara yang begitu lantang.


"Abang, ayah, uma..." Kali ini dengan volume yang lebih full.


Teriakan Zea sukses membuat orang-orang yang dia panggil berlarian ke halaman belakang, dari kejauhan terlihat Iqbal yang terus berlarian bahkan dengan kedua tangannya yang menggenggam pisau, lalu kemunculan Rakes dengan penampilan yang di penuhi keringat ia bahkan hanya mengenakan kaos tanpa lengan serta celana pendek dan sarung tinju yang merekat di kedua tangannnya, selanjutnya Elsaliani yang bahkan datang dengan spatula di tangan kanannya.


"Ada apa? kamu baik-baik saja?" Tanya Iqbal panik.


"Apa yang terjadi?" Tanya Elsaliani khawatir.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rakes dengan nafas ngos-ngosan.


"Kalian bertiga tidak bermaksud menyerang Zea kan?" Tanya Zea.


Pertanyaan Zea sontak membuat mereka sadar dengan penampilan mereka.


Tanpa tunggu lama, Iqbal langsung membuang pisaunya begitu saja begitu pula dengan Elsaliani dan Rakes pun langsung membuka sarung tinjunya.


"Uma, sakit!" Adu Zea yang semakin tidak bisa mengendalikan rasa sakitnya.


"Apa kamu mau melahirkan?" Tanya Rakes panik.


"Yang benar? ayo ke rumah sakit!" Jelas Iqbal dan hendak menggendong Zea.


"Biar aku aja, ayah." Ujar Rakes yang langsung mengambil alih.


Rakes segera menggendong Zea lalu membawanya ke mobil, Iqbal dan Elsaliani mengikuti keduanya.


"Biar ayah yang nyetir, kalian berdua temani Zea." Jelas Iqbal dan langsung menjalankan mobil.


"Uma, sakit!" Lapor Zea.


"Kamu kan kuat, masak gitu aja sakit!" Ujar Iqbal.


"Ayah mana tau gimana sakitnya, emang ayah pernah hamil apa?" Cetus Zea kesal.


"Lebih sakit mana sama tertembak peluru?" Tanya Iqbal.


"Lebih sakit lahiran!" Tegas Zea dan Elsaliani serentak.


"Waaah, oke ayah kalah, tapi setidaknya ayah berhasil ngurangin rasa sakit kamu meski sebentar kan! kita akan segera sampai jadi bertahanlah sebentar lagi!" Jelas Iqbal.


"Ayah.." Ujar Zea pelan.


"Rakes..." Panggil Elsaliani kerena sejak tadi Rakes hanya terdiam dan larut dalam tangisnya.


"Iya uma!" Jawab Rakes pelan.


"Kamu bawa baju ganti?" Tanya Elsaliani.


"Baju ganti?" Ulang Rakes lalu segera menoleh penampilannya.


"Di jok belakang ada baju dan celana ayah, pakai saja!" Jelas Iqbal.


"Baik!" Jawab Rakes.


"Udah kamu tenang aja, Zea dan anak kamu pasti akan baik-baik saja!" Jelas Iqbal.


"Hmmmmm!" Jawab Rakes yang semakin mempererat genggaman tangannya di tangan Zea.


Akhirnya mobil berhenti di depan rumah sakit, Rakes langsung turun lalu kembali menggendong Zea lalu membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Para perawat langsung menyambut kedatangan Rakes dan langsung membawa Zea ke dalam ruang bersalin.


"Apa aku boleh ikut masuk?" Tanya Rakes.


"Suami dari pasien!" Jelas Elsaliani.


"Silahkan pak!" Jelas sang dokter yang menangani Zea.


Rakes langsung ikut masuk ke dalam ruangan tersebut sedangkan Elsaliani dan Iqbal menunggu di luar.


Waktu terus berjalan, namun para dokter belum juga keluar, hingga Hadi dan Erina pun datang.


"Bagaimana?" Tanya Hadi.


"Masih dalam proses." Jelas Iqbal.


"Kita doakan yang terbaik, mereka pasti akan baik-baik saja!" Jelas Erina lalu merangkul bahu Elsaliani.


"Semoga saja kak!" Ujar Elsaliani penuh harap.


Sesaat kemudian para perawat dan dokter pun keluar, keempatnya langsung bangun.


"Bagaimana dok?" Tanya Elsaliani dan Erina serentak.


"Semuanya baik-baik saja anak dan cucu-cucu ibu baik-baik saja, mereka sehat semuanya!" Jelas Sang dokter.


"Alhamdulillah!" Ujar Elsaliani dan Erina lega.


"Tunggu! cucu-cucu? apa maksud dokter mereka kembar?" Tanya Hadi.


"Iya, lebih tepatnya dua orang cucu lelaki!" Jelas sang dokter.


"Benarkah?" Tanya Iqbal yang begitu bahagia.


"Iya, sekali lagi selamat, kami permisi!" Jelas dokter dan lekas berlalu.


"Dua cucu sekaligus!" Ujar Hadi yang begitu girang.


_________________


Beberapa menit kemudian, Zea telah di pindahkan ke ruang rawat dan kedua bayinya yang masih berada di ruangan bayi. Semuanya berkumpul di ruangan Zea.


"Siapa nama cucu-cucu ayah?" Tanya Iqbal.


"Mereka cucu ayah ya jelas dong ayah mau tau, lagi pula ayah udah nggak sabar pengen gendong keduanya!" Jelas Iqbal.


"Gimana kalau sekalian kita ke kamar bayi dan culik mereka, langsung aja kita bawa pulang!" Usul Hadi.


"Ada-ada aja papa ni!" Ujar Erina.


"Habis mereka ngeselin sih!" Ujar Hadi.


"Papa tuh yang ngeselin!" Ujar Rakes.


"Apa mereka seganteng ayah?" Tanya Iqbal.


"Mulai lagi!" Ujar Elsaliani.


"Seganteng daddy nya dong!" Ujar Zea bangga.


"Gantengan ayah kali!" Cetus Iqbal.


"El, mending kita ke kamar bayi aja yok!" Ajak Erina.


"Ayo kak!" Ajak Elsaliani.


"Emang mama sama uma tau yang mana cucu mama dan uma?" Tanya Zea.


"Pasti ada nama daddy diujung nama bayinya kan?" Tanya Erina.


"Ahmad Azan Al-Maliki dan Ahmad Uzun al-Maliki." Jelas Rakes.


"Kenapa nggak dari tadi coba!" Jelas Iqbal dan langsung pergi.


"Nama yang bagus! ayo kita lihat cucu kita Azan dan Uzun!" Jelas Hadi dan lekas pergi.


"Mama jadi penasaran sama arti dari nama yang kalian pilih!" Ujar Erina.


"Ahmad itu potongan dari nama ayah Iqbal, lalu Azan artinya panggilan dan Uzun artinya pendengar dan diakhiri dengan nama daddy mereka al-Maliki." Jelas Rakes.


"Semoga kelak keduanya menjadi anak-anak soleh dan berguna bagi bangsa dan agama, aamiin!" Jelas Elsaliani.


"Ya udah kami permisi sebentar ya, ayo El!" Ajak Erina.


"Ayo kak!" Ujar Elsaliani dan keduanya lekas pergi.


"Chim chim!" Ujar Zea saat di ruangan hanya tinggal mereka berdua.


"Hmmmm, apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Rakes.


"Terima kasih karena selalu ada di samping aku, terima kasih karena sudah memberikan kebahagian ini untuk aku, dan terima kasih karena sudah memilih aku sebagai ibu dari anak-anak Chim chim!" Jelas Zea.


"Sayang, seharusnya abang yang berterima kasih, sayang sudah memberikan berjuta kebahagiaan dalam hidup abang dan sekarang sayang menjadikan abang sebagai seorang daddy dari dua laki-laki tampan. Kedepannya ayo kita sama-sama membesarkan Azan dan Uzun dengan penuh kasih sayang, agar kelak mereka tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan juga cerdas." Jelas Rakes.


"Hmmmmm, apa Chim chim akan menjadikan mereka seperti chim chim?" Tanya Zea.


"Maksudnya?"


"Pekerjaan?"


"Kenapa? apa sayang tidak suka dengan pekerjaan abang?"


"Bukan, sebaliknya, aku justru ingin mereka berdua mengikuti jejak abang!" Jelas Zea.


"Mereka masih bayi loh, biarkan mereka sendiri yang menentukan masa depan mereka tugas kita hanya membimbing dan mendukung mereka." Jelas Rakes.


"Baiklah!" Ujar Zea.


"Kalau di perhatikan wajah mereka sama sekali nggak mirip sama salah satu dari kita, abang rasa keduanya malah lebih mirip sama ayah!" Jelas Rakes.


"Gawat!" Seru Zea.


"Kenapa gawat???"


"Bagaimana kalau ntar sikapnya juga nular sikap ayah?" Ujar Zea.


"Ya bagus dong, dari pada nular sikap bar bar mommy mereka, bisa stress abang mikirnya!" Jelas Rakes.


"Maksud abang??" Tanya Zea.


"Sayang nggak lupa kan, kalau sayang suka main nyosor, nggak kebayangkan kalau Azan dan Uzun suka nyosor sama anak gadis orang, membayangkannya saja udah bikin abang pusing belum lagi suka balapan, bolos, waaaah paket komplit banget!" Jelas Rakes.


"Haaah, abang ngatain aku nih?"


"Bukan gitu..."


"Dasar...."


"Abang...."


"Biarin mereka mirip aku dari pada mirip abang, yang ada mereka bakal kehilangan orang yang mereka cintai kerena nggak berani berterus-terang, belum lagi suka jaga jarak, suka menyendiri, suka...." Penjelasan Zea langsung terhenti saat Rakes menundukkan pandangannya.


"Abang...." Panggil Zea.


"Iya..." Ujar Rakes.


"I love you!" Ujar Zea yang sontak membuat Rakes menatap dirinya.


Perlahan tangan Rakes menyentuh wajah Zea, lalu mengecup lembut kening sang istri tercinta.


"Sifat siapapun yang mereka warisi, kita hanya harus membimbing mereka." Jelas Rakes.


"Iya, ayo kita besarkan Azan dan Uzun dengan penuh kasih sayang."


"Hmmmmm"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ