
πTiga Bulan Kemudianπ
Zea terlihat begitu lesu, ia begitu tidak bersemangat, ayunan yang menbawa tubuhnya ke timur dan ke barat seakan tidak memberi efek apapun, bahkan kakinya saja terlihat begitu lemah namun tetap ia gerakkan untuk mengayun tubuhnya. Lagu yang terputar lewat earphone yang terpasang di telinganya tidak mampu menghibur hatinya yang sedang begitu pilu menahan rindu.
Dengan lembut tangan Elsaliani menyentuh bahu sang putri tercinta, membuat Zea menarik earphone dari telinganya.
"Uma..." Ujar Zea dengan nada yang begitu lemah dan mata yang sembab.
"Kenapa sayang? kamu nangis lagi?" Tanya Elsaliani yang langsung duduk di bangku tepat di depan ayunan dimana Zea berada.
"Katanya seminggu, tapi udah sembilan hari abang Rakes belum juga pulang, kemana abang sebenarnya, Zea khawatir uma." Gundah Zea bersamaan dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipi merahnya.
"Sayang, ada pekerjaan yang harus Rakes selesaikan, jika semuanya sudah beres dia pasti akan pulang." Jelas Elsaliani.
"Zea rindu abang, uma. Rasanya begitu menyesakkan dada, nggak tau kenapa Zea sangat ingin melihat senyumnya, candanya, dan juga semua larangannya untuk Zea."
"Apa Zea begitu mencintainya?"
"Sangat uma, Zea nggak bisa ngebayangin kalau sampai abang ninggalin Zea, Zea pasti akan mati dengan perlahan. Cinta ini memenuhi seluruh aliran darah di sekujur tubuh Zea, sehingga Zea begitu tergantung padanya, Zea benar-benar tidak bisa jika tidak ada abang di samping Zea."
"Uma senang jika kalian benar-benar saling mencintai."
"Abang Rakes udah janji kalau abang bakal menikahi Zea setelah lulus SMP, dan besok pengumuman kelulusan Zea, Zea mau abang ada disini sekarang." Jelas Zea penuh harap
"Tenanglah sayang, Rakes akan segera kembali bersama kita." Ujar Elsaliani dan langsung memeluk tubuh Zea dengan begitu erat.
"Zea rindu abang Rakes, uma. Sangat-sangat rindu." Ungkap Zea.
"Iya sayang, uma paham, karena uma juga pernah di posisi yang sama seperti Zea sekarang. Rindu untuk melihat senyumnya, rindu dengan pelukan hangatnya, uma bahkan begitu sering merindukan ayah mu, bahkan hanya sehari saja di tinggal pergi rasa rindu sudah memuncak di dada ini."
"Iya kan uma, rindu itu sama sekali tidak enak?"
"Hmmmmm, udah, sekarang ayo kita masuk udah mau azan magrib nih!" Ajak Elsaliani.
"Ayo uma!" Ujar Zea sambil bangun dengan agak bermalas-malasan.
Elsaliani merangkul tubuh Zea lalu keduanya segera masuk kedalam.
____________________
"Hai! gimana deg-degan nggak?" Tanya Bian yang baru saja nimbrung diantara yang lainnya yang masih duduk di kursi masing-masing.
"Deg-degan? emang anak SD apa?" Cetus Taufan yang masih santai bahkan ia terlihat masih begitu fokus dengan game online di ponselnya.
"Ini tuh hari bersejarah tau, hari terakhir kita pakai putih biru karena berikutnya kita bakal pakai putih abu-abu!" Seru Bian yang begitu bersemangat.
"Dasar bocah!" Cetus Rafeal sambil menepuk bahu Bian.
"kamu lagi puasa bicara?" Tanya Taufan pada Zea yang sedari tadi terlihat diam membisu.
"Mikirin siapa sih?" Tanya Rafeal namun sama sekali tidak ada jawaban, Zea masih saja berada di dunia lamunannya.
"Zea!" Seru Bian bersamaan dengan memukul meja di depan Zea.
"Iya, kenapa? apa pengumumannya sudah di tempel?" Tanya Zea.
"Ada apa? jangan diam, ayo cerita!" Pinta Rafeal.
"Apa ini ada hubungannya dengan Rayyan?" Tanya Bian.
"Oh iya, dimana Rayyan?" Tanya Zea yang baru menyadari kalau Rayyan tidak bergabung dengan mereka.
"Ada di depan kelas, katanya malas di kelas terus." Jelas Taufan.
"Apa kalian berdua ada masalah?" Tanya Rafeal.
"Nggak, kami baik-baik aja." Jelas Zea.
"Ingat, apapun yang terjadi aku nggak mau kita pisah, kita berlima akan terus sama-sama sampai menua nanti." Tegas Bian.
"Iya, setelah ini kita akan mendaftar di SMA yang sama, aku akan meminta papa untuk mengurus semuanya, termasuk memasukkan kita di kelas yang sama." Jelas Taufan.
"Cieeeee! anak Sulthan mah bebas, the power of ohlang Kaya!" Seru Rafeal dengan celetukan yang sukses membuat semuanya tertawa ria.
"Resek!" Ujar Taufan.
"Biarin! senangnya bisa jadi teman orang kaya raya." Ucap Bian yang langsung memeluk Taufan.
"Kalian bawa semua peralatan kan?" Tanya Rafeal.
"Bawa dong!" Jawab Bian bersemangat.
"Zea, bawakan?" Tanya Rafeal memastikan karena Zea hanya diam saja.
"Bawa dong!" Jawab Zea singkat.
"Oke, setelah pengumuman kita bakal langsung beraksi, jadi nggak sabar nih!" Ungkap Bian yang begitu heboh.
"Yes! let's go!" Ajak Bian yang langsung berlari keluar.
Zea, Rafeal dan Taufan pun segera keluar.
Semua siswa kelas tiga sudah menyerbu, semuanya begitu sibuk mencari nomor peserta mereka masing-masing. Sebagian siswa bahkan langsung beraksi di lokasi tersebut, mengeluarkan spidol bahkan ada yang mengenakan cat semprot untuk membubuhkan tanda tangan mereka di seragam teman-teman lainnya.
Pengumuman yang seharusnya melalui online, namun berakhir dengan ofline karena pengajuan protes oleh para siswa yang memang ingin membuat moment terakhir mereka di sekolah menjadi sejarah yang tak terlupakan, mereka ingin menghabiskan waktu bersama dalam kegilaan yang begitu di idamkan oleh semua pelajar yang baru saja lulus.
"Selamat tinggal putih biru!" Teriak Bian girang dan langsung mengeluarkan cat merah dari dalam ranselnya.
Tanpa tunggu lama, Bian langsung mengukir tanda tangannya di seragam keempat sahabatnya secara bergantian.
"Eh apa-apaan sih, aku belum lihat sama sekali! main coret aja!" Gumam Taufan.
"Udah, aku udah lihat semuanya, kita berlima jebol!" Seru Bian.
"Loh kenapa banyak banget coretan buat aku?" Tanya Zea heran karena Bian berulang kali melukis di seragamnya.
"Karena kamu lulus dengan peringkat teratas wahhhh benar-benar gila, kamu hebat Zea!" Seru Bian yang kembali beraksi.
Mendengar penjelasan Bian membuat yang lainnya segera menyerang Zea.
"Gila! nih rasain!" Seru Zea yang kini ikut membuat coretan di seragam para sahabatnya.
Sangking hebohnya aksi mereka berlima hingga membuat semua kerumunan siswa beralih menatap mereka.
Kelimanya terlihat begitu bahagia, begitu puas dengan hasil yang mereka peroleh.
Tidak hanya sampai di situ, mereka kembali melanjutkan kebobrokan mereka di tempat perkumpulan club mereka, di mana lagi kalau bukan di markas perkumpulan mereka, tempat di mana semua kegilaan terjadi.
Setelah menguras tenaga selama dua puluh menit, kini kelimanya terduduk di rerumputan sambil menghadap kearah danau.
"Kita lulus! kita bukan lagi siswa SMP!" Ujar Rayyan.
"Setelah ini kita akan tumbuh jadi dewasa, namun aku harap kita akan terus seperti ini selamanya!" Ungkap Rafeal
"Iya, meski telah beranak cucu aku berharap kita msih bisa ngumpul sama-sama." Ujar Taufan.
"Kita sahabat selamanya!" Seru Zea dengan suara lantang dan menggema di udara.
"Forever!" seru Bian dengan semangat yang berkobar-kobar.
"Kita bakal ke SMA mana?" Tanya Rayyan.
"Kalian tenang aja, santai, orang papa udah ngurusin semuanya, kita hanya harus duduk tenang sampai tahun ajaran baru dimulai." Jelas Taufan.
"Yeeee! nggak sia-sia punya sahabat kaya!" Ujar Rayyan dengan senyuman lebar.
Kelimanya tertawa bahagia.
_______________
"Apa abang udah pulang?" Tanya Zea dengan nafas yang ngos-ngosan dan keringat yang bercucuran.
"Masih belum sayang!" Jawab Elsaliani yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Zea Lulus, uma." Jelas Zea.
"Alhamdulillah, selamat sayang!" Ucap Elsaliani bahagia dan beranjak memeluk erat Zea.
"Makasih, Zea ke kamar dulu, uma."
"Iya sayang, cepat mandi, bau banget tau!"
"Meski bau masih tetap menawan kan uma! Zea naik dulu, uma." Jelas Zea dengan senyuman manja dan segera menaiki tangga.
Bukannya ke kamar sendiri, Zea malah masuk ke kamar Rakes, perlahan melangkah masuk dengan mata yang terus memandang ke setiap sisi kamar. Air mata langsung lolos dari pertahanannya tatkala mata Zea terhenti di sebuah foto yang terpasang dalam bingkai putih diatas meja sana.
Foto dimana sosok Rakes yang terlihat begitu keren dengan kaos hitam dan rambut gondrong yang bahkan hampir menutupi kedua matanya.
Zea terus mendekati foto tersebut, di lalu menyentuhnya dengan begitu lembut.
"Abang, cepatlah kembali!" Pinta Zea lalu duduk diatas kasur dengan tangan yang menggenggam erat bingkai foto dan membawanya ke dalam dekapan.
"Rindu ini serasa tak terbendung lagi, Chim chim, kenapa mata ini tidak bisa berhenti untuk melihat bayangmu yang muncul di mana-mana, bahkan otak ini dipenuhi dengan ingatan tantang Chim chim, Senyuman maut Chim chim yang seakan menembus mata, dinding beton dan dada kotak-kotak yang begitu kokoh dan lebar seakan memenuhi otak mesum ku, belum lagi bibir merah lagi merekah yang begitu menggoyahkan keimanan ku, di tambah lagi dengan tatapan mata bening dan teduh yang selalu meluluhkan kenakalan mu, Chim chim aku serasa ingin menerkam mu, cepatlah pulang, sebelum rinduku menggila dan tak terkendalikan lagi!" Ungkap Zea lalu perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata mencoba untuk menenangkan rindu yang kian berkecamuk meminta untuk segera bertemu dengan sosok yang begitu meneduhkan jiwa.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya ππ
Stay terus sama My Princess ππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ