
Sudah 2 hari Stefany berada di rumah sakit dan 2 hari pun Alrico tidak fokus bekerja dan setelah pulang dari kantor ia selalu ke rumah sakit untuk memastikan keadaan Stefany.
Hari ini Alrico tidak langsung ke rumah sakit ia berkunjung ke salah satu Cafe untuk merilekskan fikirannya, ia tadi pagi sedang ada meeting besar namun tidak biasanya ia tidak fokus dan hampir gagal presentasi yang dia berikan.
Alrico memesan Coffe americano untuk merasakan pahitnya coffe. Tidak lama kemudia datanglah seorang laki-laki dengan tubuh tinggi dan ideal wajah yang tampan dan laki-laki itu adalah Javiero Alexander Sahabat dari Alrico.
Javiero duduk di depan Alrico dengan wajah yang panik namun kepanikan nya bisa ia tutupi, sedangkan Alrico sangat kaget dengan kedatangan Sahabat nya itu.
"Hay dude, aku terbang dari New York kesini dan meninggalkan meeting mu hanya untuk kau" Ucap Javiero dengan menghela nafas berkali-kali.
"What untuk ku? Bahkan aku berharap kau tidak ada disini sekarang" Alrico baru saja ingin me time untuk dirinya karena ia butuh waktu sendiri.
"Aku khawatir Alrico! Aku mendapatkan kabar bahwa kau hampir saja kehilangan Clean penting dan semua pekerjaan mu berantakan. Aku kesini mau membantu mu apakah kau sedang ada masalah dude?" Javiero menatap wajah Alrico.
"Berhenti menatapku dan aku sedang tidak ada masalah, aku hanya butuh waktu sendiri" Alrico menyesap coffe nya kembali dan Javiero sudah mengerti sifat asli nya Alrico.
Javiero sudah mengenal Alrico sejak lama dan dia sudah mengenal sifat aslinya Alrico. Jika Alrico bersikap seperti ini seperti nya Alrico menyimpan rahasia kepadanya, dan Javiero akan mencari tahunya.
"Oke baiklah aku menyerah, percuma saja nanti kau akan mencari tahu nya" Ucap Alrico fanal karena ia tahu betul sikap Javiero, ia akan mencari tahu nya sampai dapat.
Javiero hanya tersenyum tipis, dan dia siap mendengarkan curhatan sahabatnya.
"Dia yang waktu itu berada di Mension ku, dan dia cukup berhasil menarik perhatianku" Alrico gmterdiam sejenak dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Dia sedang koma dan sudah 2 hari dia tidak sadarkan diri setelah menjalani operasi" nampak dari raut wajah Alrico yang berubah menjadi sendu, Javiero pun merangkul pundak Alrico dan menepuknya.
"Baru kali ini aku merasa kehilangan seseorang, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku takut kehilangannya" Javiero yang merasakan badan sahabatnya itu bergetar menepuk pundak Alrico.
Javiero tidak pernah lagi melihat Alrico merasa kehilangan yang kedua kalinya. Memang yang pertama ia sudah kehilangan saudara perempuan nya dan di hari itu Alrico sangat berubah menjadi pria yang kejam, sering pergi ke club dan bergonta-ganti wanita.
"Saat ini ia hanya membutuhkan doa dan membutuhkan mu disampingnya. Dan sekarang kenapa kamu masih berada disini, kalau dia sudah terbangun dan tidak ada siapa-siapa disampingnya gimana? Sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit sekarang" Javiero menepuk pundak Alrico dan tersenyum kepada Alrico, Alrico pun memeluk tubuh sahabatnya yang selalu ada di sampingnya.
"Boleh aku ikut ke rumah sakit untuk sekedar menjenguknya" Ucap Javiero dan diangguki oleh Alrico mereka pun berjalan ke luar kafe dan mengendarai mobilnya masing-masing menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Alrico pun segera masuk ke dalam rumah sakit diikuti oleh Javiero di belakangnya.
Alrico berhenti sejenak dan membuat Javiero pun berhenti melangkahkan kakinya.
"Kau harus berjanji bahwa tidak ada yang boleh tau tentang dia terutama Momi dan Dady" Ucap Alrico dan Javiero pun mengangguk.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang inap Stefany.
Sesampainya di depan ruang inap Stefany Alrico pun langsung membuka pintu ruangan itu dan nampak Stefany yang sudah sadarkan diri dari koma nya.
Stefany yang sedang berbincang dengan suster yang sudah menua dan nampak wajah Stefany yang tertawa dengan lontaran kata dari suster itu.
Stefany dan suster perempuan yang menyadari keberadaan Alrico dan Javiero pun berhenti melanjutkan perbincangannya, dan menatap Alrico dan Javiero.
Alrico pun berlari ke ranjang Stefany dan memeluk tubuh mungil dan rapuh itu, Alrico mengecup puncak kepala Stefany dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Stefany.
Suster itupun keluar dan Javiero duduk di sofa memerhatikan Alrico dan Stefany.
Alrico dan Stefany cukup lama dalam keadaan seperti ini dan Stefany pun sudah merasakan sesak di dadanya.
"Kau membuatku sesak" Stefany mencubit perut Alrico pelan namun cubitan nya itu sangat sakit sekali bagi Alrico, Alrico pun meringis kesakitan.
Alrico pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Stefany dengan sangat lembut.
"Jauh-jauh" Stefany menutup wajah Alrico dengan telapak tangannya dan mendorong wajah Alrico ke belakang.
Stefany masih trauma dengan perlakuan Alrico dan ia sangat takut jika berdekatan dengan Alrico.
Namun Alrico tidak menghiraukannya dan dia menarik tangan Stefany dan dikecupnya tangan Stefany.
"Apa ada yang sakit?" Alrico memeriksa tubuh Stefany.
"Berhenti membolak-balikkan tubuhku dan aku tidak apa-apa, malah kau yang membuat ku saa..."
CUP
Alrico yang gemas melihat tingkah Stefany dan ia langsung mencium bibir Stefany dengan sangat cepat, Stefany pun berhenti berbicara.
Setelah kesadarannya pulih Stefany memukul dada bidangnya Alrico dan menutup wajahnya.
"Kau sudah mencuri first kiss ku, yang seharusnya diambil oleh suamiku nanti!" Stefany pun menangis dengan sangat kencang dengan sesegukkan.
Javiero pun yang merasa keadaan semakin mencekam ia pun segera keluar dari ruang inap Stefany.
"Don't cry baby I'm sorry" Alrico memeluk tubuh Stefany dan meneglus rambut Stefany.
"Apa kau anggap aku ini jalang, dan seenaknya kau mencuri first kiss pertamaku!" Stefany pun tidak berhenti menangis.
"no, you are my girl and will be the princess beside me. I will marry you and make you a princess"
Stefany pun berhenti menangis setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alrico.
ππππ
**TBC
semoga kalian suka y sama ceritaku β€οΈ
jangan lupa senyum dan happy weekend π€
salam dari penulis amatir
DINπ€β€οΈπ**