
Suasana yang terdiam membisu membuat Rafeal segera mengambil kesempatan, perlahan tangannya sedikit menyentuh kaca mata yang ia kenakan lalu perlahan melangkah mendekati vidio yang masih menampilkan Zea, ia terus memandangnya hingga wanita yang tadi mengarahkan senjata kearahnya kembali menghentikan langkah Rafeal dengan meletakan ujung senjata tepat di bagian kepala Rafeal.
(Ku mohon cepatlah! aku tidak punya banyak waktu, apa pun cerita aku tetap harus menyelamatkan Princees, so please, cepat!) Ungkap hati Rafeal yang masih fokus pada dinding yang menampilkan Zea.
"Selangkah lagi kamu maju, maka akan ku hancurkan kepala mu!" Tegas Wanita tersebut.
"Perintah dilaksanakan!" Jawab Rafeal lantang dan langsung berdiri tegak bahkan tanpa gerak sama sekali.
"Apa kalian sedang mempermainkan aku?" Tanya Temi yang merasa aneh karena semua pasukan berdiri membisu di tempat mereka masing-masing.
"Apa aku terlihat sedang bermain?" Tanya Rakes yang seakan siap menarik pelatuk senjatanya.
"Oke!" Teriak Rafeal yang kembali mengalihkan fokus seluruh isi ruangan tersebut.
"Jangan ada yang bertindak tanpa instruksi ku!" Tegas Iqbal.
"Apa kalian sedang melakukan perang saudara lalu mengabaikan aku?" Tanya Temi.
"Aku akan menangkap mu sekarang juga!" Tegas Iqbal yang dengan begitu gesit mengambil alih senjata dari tangan Rakes lalu dengan begitu cepat lari kearah Temi, bahkan tanpa disadari oleh yang lainnya kini Iqbal tepat berada di hadapan Temi dengan senjata yang terarah sempurna di dada Temi.
Ulah Iqbal sontak membuat suasana kacau, seluruh bawahan Temi langsung mengarahkan senjata mereka kearah semua pasukan Iqbal, tak tinggal diam Alam, Hendra dan Luqman juga ikut mengangkat senjata mereka.
Kini suasana semakin memanas, hanya Rakes dan Rafeal yang masih berdiri dengan tangan kosong di tengah-tengah amukan perang.
"Apa aku harus memperlihatkan kegilaan ku?" Tanya Iqbal.
"Seberapa gila? aku jauh lebih gila dari kamu Iqbal." Tegas Temi yang tak kalah kekeh dari Iqbal.
"Bagaimana kalau kita menggila bersama?" Tawar Iqbal.
"Mulai!" Perintah Temi.
Ucap Temi langsung membuat tampilan Vidio yang tadinya terlihat tenang kini mulai kembali memanas. Suara erangan Elsaliani yang menahan rasa sakit karena perlakuan kasar oleh lelaki yang sedari tadi berada di sampingnya, kali ini lelaki tersebut tidak hanya mencekik leher Elsaliani tapi ia mulai menampar serta menjambak kerudung Elsaliani hingga membuat wajahnya menghadap keatas, tangan Elsaliani terlihat jelas begitu gemetaran. Di sisi lainnya, tali semakin terulur membuat tubuh Zea perlahan semakin menurun. Pemandangan tersebut cukup membuat Iqbal tidak lagi bisa menahan diri, ia langsung melepaskan pelurunya tepat di kaki kanan Temi, melihat keadaan tersebut membuat semua bawahan Temi ikut beraksi, hingga suara tembakan menggelegar memenuhi seisi ruangan.
Rakes lari mendekati Temi, namun langkahnya langsung dihadang oleh wanita yang sedari tadi menodongkan senjata pada Rafeal. Satu peluru mendarat sempurna di bahu Rakes membuatnya kaki Rakes terhenti karena rasa sakit yang seakan merobek dan membakar bahunya.
"Rakes!" Seru Iqbal yang bergegas melindungi Rakes.
"Hentikan!" Teriak Hendra yang berhasil menyandra Temi.
disaat yang bersamaan tali yang tadinya diulur perlahan kini dilepaskan sepenuhnya membuat tubuh Zea terjun bebas di udara.
"Temi, aku mohon hentikan!" Pinta Rakes penuh harap saat tali tersebut benar-benar di lepas dari pegangan lelaki yang dari tadi menggenggamnya.
Rafeal yang tadi fokus pada dinding yang menampilkan Zea, kini mulai ambil sikap, Kakinya melangkah mundur, lalu sejenak memperhitungkan segala keadaan dan akhirnya berlari kearah jendela dan 'Kriiing' Sebelum Rafeal sampai di jendela tersebut ia lebih dulu melemparkan sebuah senjata ke kaca dan selanjutnya tubuhnya menghantam jendela tersebut membuat dirinya terjun bebas dari gedung tersebut.
Rafeal baru saja menadapat balasan dari Zafran atas vidio yang ia kirim lewat kaca mata yang ia kenakan, Zafran dengan pasti mengatakan bahwa Zea ternyata berada tepat di atap gedung dimana dirinya berada. Diam-diam keduanya berkerja sama dan memprediksikan kondisi Zea dengan baik. Saat kaca matanya terhubung dengan sebuah titik merah yang lokasinya terus berpindah dengan cepat, Zafran yang menghitung mundur langsung memerintahkan Rafeal untuk terjun.
Kerja sama keduanya benar-benar sempurna, Rafeal melayang tepat ketika tubuh Zea melewati ruangan tersebut. Rafeal langsung merangkul tubuh Zea, keduanya meluncur namun ketika sampai di lantai tiga, usaha Rafeal membuahkan hasil, tangannya berhasil meraih sebuah besi pembatas, tak menyia-nyiakan usahanya, dengan sisa tenaga yang ia miliki, Rafeal membantu Zea untuk ikut meraih besi tersebut.
"Kamu bisa kan?" Tanya Rafeal.
"Pasti!" Tegas Zea yang berhasil meraih besi tersebut dengan kedua tangannya.
Keduanya mulai berusaha untuk naik pada sisi gedung tersebut.
"Akan aku jelaskan semuanya, tapi sebelum itu, pecahkan dulu jendelanya!"
"Dasar!" Cetus Zea yang langsung mengarahkan sikunya.
Zea terus berusaha sedangkan Rafeal hanya menunggu hasilnya, akhirnya hantaman untuk yang ke sepuluh kalinya, kaca tersebut pecah.
"Let's go!" Ajak Zea yang langsung masuk melalui jendela dengan disusul oleh Rafeal.
________________
Setelah Rafeal meloncat, Rakes langsung lari menuju jendela lalu berusaha mencari sosok Rafeal yang tak lagi dapat ia jangkau keberadaannya.
"Princess selamat!" Tegas Rafeal yang terdengar jelas dari alat yang terpasang di telinga Rakes.
Rakes benar-benar lega akhirnya ketakutannya tidak nyata kenyataan.
"Sekarang tante El juga dalam pengawasanku dan om Mikeal, kami sedang menuju rumah sakit, tante El mengalami pendarahan." Jelas Marvel yang ternyata sedari tadi berusaha menyelamatkan Elsaliani.
"Akan ku bunuh kalian semua!" Gumam Rakes yang langsung menyerang wanita elegan yang sedari tadi terus membuatnya kesal.
Tanpa ampun Rakes terus menghajar wanita tersebut, Sedangkan yang lainnya sibuk membereskan para bawahannya Temi yang berusaha kabur dari lokasi kerena Temi telah kalah telak.
Tubuh Iqbal ambruk di lantai, matanya terus menatap vidio yang kini hanya memperlihatkan sebuah mobil kosong serta dua orang lelaki yang masih berdiri di atap sebuah bangunan.
"Kapten, El sekarang berada di rumah sakit, jika semuanya sudah selesai cepatlah ke sini!" Suara Mikeal terdengar dari alat yang terpasang di telinga Iqbal.
"Kapten pergilah, biar kami yang urus sisanya." Jelas Alam.
Tanpa ucapan sepatah kata pun Iqbal langsung berlari keluar dari ruangan tersebut.
"Rakes, berhenti!" Pinta Hendra mencoba menghentikan tinju Rakes yang terus melakukan penyerangan terhadap wanita tadi.
"Aku akan membunuhnya!" Gumam Rakes yang kembali meninju wajah wanita tersebut.
"Kalian semua akan menyesal!" Seru Temi.
Bersamaan dengan melemparkan bola asap buatan yang sukses membuat seisi ruangan pengap dan gelap, tak ada yang terlihat.
"Segera jaga pintu!" Tegas Luqman memberi perintah.
"Jangan sampai ******** itu lepas!" Tegas Rakes yang terus berusaha mencari Temi dalam kumpulan asap tebal.
Mereka terus mencari hingga akhirnya asap mulai menghilang, keadaan kembali seperti sedia kala, dan Temi menghilang dari ruangan tersebut, yang tersisa hanya beberapa bawahan Temi yang memang tidak bisa melarikan diri.
"Haisss sial!" Gumam Rakes yang langsung beraksi mengejar sosok Temi yang seharusnya telah berhasil mereka amankan.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ