My Princess

My Princess
#026



Dengan beralaskan pasir, Zea dan Rakes duduk dengan pandangan yang terus memerhatikan deburan ombak yang menyapa bibir pantai, semilir angin dengan nakal meniup jilbab Zea membuat sang pemilik harus menggenggam kedua ujung jilbabnya dengan erat.


"Apa Jannati begitu menyukai laut?" Tanya Rakes yang melihat Zea begitu bahagia.


"Hmmm, tempat favorit aku! nyamannya." Jawab Zea sambil memejamkan mata menikmati angin sepoi-sepoi yang mulai membelai wajahnya.


"Chim chim senang bisa buat Jannati sebahagia ini." Ujar Rakes yang perlahan mengalihkan pandangannya pada wajah sang kekasih.


Mata syahdu Rakes terus saja menatap lekat wajah Zea, kini perlahan malah kedua tangannya yang mulai menyentuh lembut kedua pipi Zea.


"Chim chim..." Ujar Zea ketika Rakes semakin mendekat padanya.


"I love you, Jannati!" Bisik Rakes di telinga kiri Zea.


Sejenak kembali menatap wajah Zea dalam jarak yang begitu dekat, lalu perlahan Rakes mulai mendekatkan wajahnya, perlahan semakin dekat, membuat Zea memejamkan matanya, kedua tangan Zea semakin kuat menggenggam ujung jilbabnya.


"Zea, Zea, Zea..."


"Hmmmm, aku mengizinkannya Chim chim, lakukanlah!" Jelas Zea yang masih menutup rapat kedua matanya.


"Zea!" Ulang Rayyan untuk yang kesekian kalinya, kali ini dengan Rayyan melakukannya dengan suara yang cukup memekakkan telinga.


Suara Rayyan sukses membawa kembali roh Zea ke alam nyata, mata Zea yang telah terbuka sempurna malah menatap sekitar dengan penuh kebingungan.


"Ngomong ngomong siapa Chim chim?" Tanya Bian penasaran dan segera berbalik menghadap Zea.


"Kepo!" Cetus Zea yang begitu kesal.


"Udah waktunya pulang masih aja molor, emang kamu ngapain aja sih semalaman?" Tanya Taufan.


"Ya, ya...ya suka-suka aku lah mau ngapain!" Cetus Zea yang langsung memasukkan semua buku dan peralatan tulisnya kembali ke dalam tas.


"Kayak kalian nggak kenal Zea aja, paling juga dia main game semalam!" Ujar Rafeal yang segera bangkit dari kursinya.


"Mau kemana?" Tanya Zea.


"Pulang, mau kemana lagi coba!" Cetus Rafeal yang langsung keluar kelas.


"Zea, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Rayyan.


"Oke, bicaralah!" Pinta Zea.


"Kalau gitu kami duluan, ingat besok sore ada pertandingan balap di lapak biasa, aku udah daftar!" Jelas Bian.


"Siap! lagi pula aku juga udah kangen sama arena balap, udah lama nggak balapan." Jelas Zea.


"Oke, ingat jangan sampai kalah!" Jelas Taufan.


"Sip! Nggak ada kata kalah dalam kamus Zea, ingat itu!" Tegas Zea dengan nada sombongnya.


"Kami duluan!" Ujar Bian.


Bian dan Taufan langsung keluar meninggalkan Zea dan Rayyan yang masih duduk di kursi mereka masing-masing.


"Tentang apa?" Tanya Zea sambil memakai ranselnya.


"Apa kamu serius memilih Rakes?"


"Kenapa bertanya seperti itu? apa ada yang salah dengan abang Rakes?"


"Apa kamu tidak melihat dia dengan baik, selain aneh dia juga terlihat sangat mencurigakan. Dia seperti menyembunyikan dirinya dari semua orang, dia terlihat palsu, apa kamu tidak melihat semua itu?"


"Aku mencintainya, bagaimanapun dirinya, itu tidak akan mengubah rasa cinta aku sama dia."


"Apa kamu gila?"


"Jika jatuh cinta padanya dinyatakan sebuah kegilaan, maka iya, saat ini aku benar-benar sudah gila."


"Zea, bagaimana kalau dia seorang mafia atau lebih parah jika ternyata dia adalah seorang *******?"


"Cukup Rayyan! aku mengenal dia sejak kecil, ayah sama uma mengenalnya dengan baik, dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia anak seorang tentara, cucu dari pengusaha kaya raya, bagaimana mungkin dia seorang *******, tuduhan mu tidak masuk akal Rayyan!"


"Tapi...."


"Cukup Rayyan, berhenti berburuk sangka pada pacarku. Kamu teman baik aku dan abang Rakes pacar aku, jadi aku harap kalian tidak menempatkan aku di situasi yang rumit, karena aku sayang kalian berdua." Jelas Zea.


"Terserah padamu, Zea. Suatu saat kamu juga akan melihat bahwa ucapan aku bukanlah tuduhan belaka, kamu akan menyesali keputusanmu ini Zea." Tegas Rayyan.


Dengan kasar Rayyan menarik tasnya yang tersangkut di sisi kiri meja kelas lalu meninggalkan Zea sendirian di kelas begitu saja.


"Rayyan, hari ini kamu menunjukkan sisi yang tidak pernah terlihat dari dirimu, tatapan mu membuat buluku merinding. Aku bahkan tidak mengenali sosok kamu yang ini Rayyan." Gumam Zea.


Sejenak berusaha menenangkan diri, mencoba membuang semua perasaan khawatir dan lekas bangkit dari kursi.


"Oke Zea, yang harus kamu pikirkan sekarang adalah kencan, ayo pulang, dandan yang yang cantik, hari ini adalah hari terbahagia buat aku dan Chim chim, jadi nggak sabar." Ungkap Zea yang kembali tersenyum bahagia karena mengingat sebentar lagi ia akan kencan untuk yang pertama kalinya dengan orang yang begitu ia sayangi.


__________________


Suara siul yang begitu keras sontak mengalihkan pandangan Zea yang dari tadi fokus pada ponselnya.


Zea yang semenjak beberapa menit yang lalu duduk di halte di depan gerbang sekolah menunggu jemputan, kini secepat kilat Zea segera bangun dengan mata yang terus menatap langkah kaki yang kian mendekat kearahnya.


"Hai ratu balap! gimana udah siap buat besok sore?" Tanya Dion setelah berhenti bersiul dan kembali mendekati Zea.


"Kenapa? elo udah takut? pertandingannya besok lah kamu udah takut dari sekarang, banci!" Cetus Zea dengan gaya coolnya.


"Zea, Zea, kamu masih sama kayak dulu, sombong, angkuh!"


"Kamu pikir kamu nggak? kali ini siapa lagi yang akan kamu bawa ke arena balap?"


"Kali ini aku sendiri yang bakal berduet sama kamu, semoga kamu bisa mengalahkan aku."


"Oke, bersiaplah untuk kembali kalah!" Seru Zea.


"Semoga kamu bisa ikut besok!" Cetus Dion lalu lekas meninggalkan Zea.


"Aneh banget, nggak biasanya dia muncul sendirian!" Gumam Zea yang merasa ada hal janggal dengan Dion yang tiba-tiba menemuinya.


"Ah, mending naik taxi aja lah!"


"Sudah aku duga, pasti ada yang aneh, Dion, Dion, selalu saja main kotor!" Cetus Zea sinis ketika beberapa motor berhenti di dekatnya.


"Pemukul bayaran Dion kan?" Tanya Zea.


"Terserah apa kata elo, intinya aku cuma harus buat kaki atau tangan elo patah, nggak lebih." Jelas seorang cowok yang memakai jaket hitam sambil turun dari motornya.


"Elo tau siapa aku?" Tanya Zea.


"Emang penting?" Cowok itu malah balik bertanya.


"Kalian mau berurusan dengan tentara, polisi, hakim, pengacara atau agen negara? tinggal pilih aku bakal telpon sekarang!" Jelas Zea.


"Basi! aku udah biasa diakalin dengan modus seperti itu, udah nggak mempan."


"Oke, aku hubungi sekarang!" Zea langsung mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya dan segera menghubungi sebuah kontak di ponselnya.


"Ayah, siapa yang jemput aku?" Tanya Zea ketika wajah Iqbal terlihat jelas dilayar ponselnya.


"A.....a.....yah" Ulang cowok itu setelah melihat sosok Iqbal yang lengkap dengan seragam kebanggaannya.


"Pasti sebentar lagi Rakes sampai, tunggulah sebentar lagi!" Jelas Iqbal dari seberang sana.


"Oke! assalamualaikum ayah tersayang!" Ujar Zea dengan senyuman lebar lalu memutuskan vidio callnya.


"Bagiamana? oh ya, kamu dengar barusan ayah aku bilang, Rakes sebentar lagi datang, kamu tau siapa dia?" Jelas Zea.


"Agen rahasia negara!" Bisik Zea ditelinga cowok tersebut dengan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Ayo cabut!" Perintah cowok tersebut yang langsung kembali ke motornya.


Hanya butuh beberapa menit saja semua pasukan gank motor telah menghilang begitu saja, membuat Zea bernafas lega.


"Hufffff, untuk otak aku cepat encer hari ini, kalau nggak tenaga aku bakal terkuras melawan mereka, lalu akan berimbas pada kencan yang begitu aku idamkan. Syukurlah, setidaknya aku masih punya banyak tenaga untuk menggoda Chim chim!" Jelas Zea.


"Maaf membuatmu menunggu lama, ada hal yang harus abang urus tadi." Jelas Rakes yang menghentikan mobilnya di sisi Zea.


"Aku maafkan!"


"Ayo!"


Zea langsung masuk ke dalam mobil, Rakes kembali menjalankan mobilnya.


"Mobil siapa?" Tanya Zea sambil menatap seluruh sisi mobil.


"Punya abang."


"Sejak kapan abang punya mobil?"


"Barusan!"


"Dasar cucu miliader!" Gumam Zea dengan suara pelan.


"Apa?"


"Nggak ada apa-apa. Kenapa nggak naik motor aja?"


"Kita kan mau kencan!"


"Sekarang?"


"Jadi?"


"Yah, aku pakek seragam? nggak banget, kita pulang dulu, aku mau ganti baju, mau dandan biar lebih wow, ini kan kencan pertama aku!" Jelas Zea.


"Pakek seragam aja kamu udah buat jantung Abang meloncat dari tempatnya, gimana kalau dandan, bisa rontok pertahanan abang!"


"Ooooho! Chim chim udah mulai bar-bar ya!" Goda Zea yang langsung mencolek lengan Rakes.


"Zea!"


"Gimana kalau kita langsung nikah aja? aku benar-benar nggak bisa sabar lagi, pengen nyentuh tuh dada kotak-kotak!"


"Tuh kan mulai lagi, dua bulan lagi kamu baru lulus SMP, butuh tiga tahun lagi baru lulus SMA."


"Aku mau berhenti sekolah, aku mau jadi istri Chim chim!"


"Jangan gila!"


"Biar aja, lagi pula seharusnya aku sekarang nggak lagi SMP, harusnya aku udah SMA." Gundah Zea dengan raut wajah penuh kesedihan lalu menundukkan wajahnya.


"Zea...."


"Aku, dulu....."


"Lupakan cerita lama, kita nggak hidup dimasa lalu." Jelas Rakes yang mencoba membalikkan kembali sosok Zea yang penuh tawa.


"Tapi...!"


"Udah! sekarang saatnya kita kencan, kamu mau kemana?"


"Laut!"


"Oke, ayo ke laut!"


"Chim chim serius??"


"Nggak ada kata tidak buat Jannati!"


"uwuwuwuwu! pacar aku is the bets, laut aku akan datang!" Seru Zea penuh kebahagiaan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️