My Princess

My Princess
#171



Selepas kepergian Rakes dan Ivent, Mariana dan Rafeal pun sampai tepat di ruangan VIP dimana Roger masih duduk di sudut ruangan sana.


"Dimana Zea?" Tanya Mariana yang bahkan langsung mendekati Roger lalu menarik kasar bagian leher dari jas Roger.


Ulah Mariana membuat langkah Rafeal terhenti, Rafeal yang ingin menyerang Roger akhirnya memilih diam.


"Katakan dimana Zea sebelum aku menghancurkan semuanya?" Ancam Mariana yang menarik Roger hingga berdiri tegak.


"Lepas!" Gumam Roger kasar dan langsung menepis tangan Mariana dari dirinya.


"Aku kira jika sedarah semuanya akan sama, aku pikir kamu sama dengan abang Rakes ternyata aku salah, meski saudara kamu sama sekali tidak terlihat sama dengan abang Rakes pantas saja Zea lebih memilih abang Rakes dari pada cowok gila seperti kamu." Cela Mariana yang memang tidak lagi bisa menahan amarahnya.


"Diam Ana! kamu tidak berhak membandingkan aku dengan abang Rakes!" Gumam Roger yang langsung mendorong Mariana.


Mariana yang memang tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan kasar dari Roger seketika kehilangan kendali, tubuhnya ter-ayun kebelakang dan hampir saja jatuh untungnya dengan sigap Rafeal langsung menolongnya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rafeal memastikan keadaan Mariana.


"Hmmmm!" Jawab Mariana dengan anggukan.


Rafeal melepaskan tubuh Mariana dari dekapannya lalu perlahan melangkah mendekati Roger, tangan Rafeal perlahan mengusap lembut kedua bahu Roger lalu lama kelamaan usapan tersebut berubah menjadi cengkraman yang cukup membuat Roger meringis kesakitan.


"Jangan sentuh Ana, jangan cari gara-gara dengan dia dan juga jangan pernah lagi ganggu Zea, ini peringatan pertama dan terakhir dari aku. Aku tau kamu pasti mengenal aku dengan sengat baik kan? aku bisa berubah menjadi psikopat berdarah dingin jika orang-orang yang aku sayangi di usik ketenangannya." Bisik Rafeal namun dengan suara penuh penekanan dan tatapan horor yang begitu mematikan.


"Ayo Ana, kita pulang!" Ajak Rafeal yang langsung menggandeng tangan Mariana dan membawanya pergi.


Setelah Mariana dan Rafeal menghilang dari pandangannya, di saat itu pula Roger kembali bernafas dengan lega, sesaat seakan jantungnya berhenti berdetak ia benar-benar dibuat mati dengan tatapan Rafeal.


"Dia benar-benar gila, ternyata cerita tentang dia benar adanya, Rafeal si pemilik baby face tapi berhati mafia." Gumam Roger dan kembali mengatur pernafasannya.


"Rafeal, aku pun akan menggila seperti kamu jika aku tidak bisa mengambil kembali milik ku, jika aku tidak bisa datang dengan cara membujuk Zea bukankah aku harus berbelok mengambil jalan lain, yah aku harus menghancurkan abang Rakes karena hanya dengan cara itu aku bisa mengambil kembali milikku." Jelas Roger pada dirinya sendiri dan lekas pergi meninggalkan lokasi tersebut.


____________________


"Zea, bertahanlah!" Pinta Rakes dengan tetesan air mata.


Kedua tangan Rakes begitu setia mengusap wajah Zea yang kini tepat di dalam pangkuannya.


Perlahan Zea membuka matanya lalu sejenak menatap wajah Rakes yang terlihat jelas begitu takut, khawatir dan juga marah.


"Abang...." Ujar Zea lalu mencoba menyentuh wajah Rakes namun sebelum tangan Zea berhasil melakukannya, tangan Rakes lebih dulu menyambut lembut tangan Zea.


"Bertahanlah!" Pinta Rakes lalu mengecup lembut tangan Zea.


"Berhenti menangis!" Pinta Zea lalu mencoba untuk bangun.


Aksi Zea seketika membuat Rakes heran, Zea kini terlihat baik-baik saja, bahkan dengan penuh manja langsung memeluk erat tubuh Rakes.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rakes yang masih tercengang.


"Hmmmm, dari tadi aku memang baik-baik saja!" Jelas Zea dengan senyuman lebar.


"Misi sukses!" Ujar Ivent dengan senyuman bahagia.


"Baik-baik saja? misi sukses? apa maksud kalian?" Tanya Rakes lalu menatap keduanya secara bergantian.


"Ini ide Ivent, sesaat sebelum abang Roger mengajak aku ke ruangan VIP, Ivent yang duduk di meja lain tiba-tiba menghampiri aku sambil memperlihatkan tulisan yang ada di tangannya....." Jelas Zea


__________________


"Abang sudah pesan ruangan khusus buat kita makan siang, ayo!" Ajak Roger.


"Aku nggak mau!" Tolak Zea.


"Abang janji ini kali terakhir abang menemui kamu tanpa izin dari abang Rakes, ayolah!" Jelas Roger.


"Aku tetap nggak mau!" Tegas Zea.


"Sebelum ajakan abang berubah menjadi ancaman, menurut lah!" Pinta Roger.


(Ikuti saja permintaan Roger, aku akan memantau dari jauh dan jika dia macam-macam langsung saja hantam dan kalau menyakiti dia tak juga membuat dia berhenti maka coba dengan membuat dia takut kehilangan dirimu.)


Ivent berlalu bak orang asing, lalu Zea langsung mengiyakan permintaan Roger dan keduanya langsung menuju ruangan yang memang sudah Roger siapkan untuk acara makan siang mereka berdua.


____________


"Dan ide Ivent berhasil!" Zea mengakhiri ceritanya dengan tawa penuh kemenangan.


"Kalian sadar kalau kalian juga menjadikan aku korban?" Tanya Rakes.


"Sejak tadi aku mau jujur, tapi Zea terus memberi kode agar aku tetap diam, maafkan aku pak!" Pinta Ivent yang masih saja fokus mengemudi.


"Kalian!" Gumam Rakes kesal namun ia tetap saja tidak bisa memarahi mereka berdua terutama Zea yang terus saja memeluknya dengan begitu manja.


"Sorry, habisnya aku suka lihat wajah abang yang seperti tadi, aku bahagia melihat abang begitu mengkhawatirkan aku dan juga Raze Junior." Jelas Zea lalu mengecup pipi kiri Rakes.


"Kamu tau abang hampir saja mati karena sesak, aku benar-benar takut jika sampai kamu dan Raze Junior dalam bahaya. Tolong jangan ulangi lagi..." Pinta Rakes lalu mengecup lama kening Zea.


"Hmmmmm, dan soal kak Ana, dia nggak salah, dia juga nggak tau kalau abang Roger berniat jahat pada aku. Dan juga tadi, sebenarnya abang Roger....." Zea menggantungkan penjelasannya dengan mata yang terus menatap dalam mata Rakes.


"Kenapa? apa yang Roger lakukan?" Tanya Rakes.


"Sebelum abang dan Ivent datang, aku...hmmmm, abang Roger sempat mendekap tubuh aku dari belakang, aku sudah berusaha menghindar tapi tetap saja....." Penjelasan Zea langsung terhenti saat tangan Rakes malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Tidak ada yang terjadi, yang penting kamu dan Raze Junior baik-baik!" Ujar Rakes dan kembali mengecup lembut kening Zea.


"Maafkan aku!" Pinta Zea.


"Sssssssttttt, diamlah! saat ini abang hanya ingin memeluk mu dalam diam!" Ujar Rakes lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Zea.


(Entah mengapa, rasanya bahagia kalian juga milikku, hanya dengan melihat pak Rakes dan Zea bahagia aku sudah sangat bahagia, semoga kalian selalu bersama dan juga semoga kelak akan ada gadis yang mencintai aku seperti cinta Zea untuk pak Rakes, semoga saja waktu itu akan datang) ungkap hati Ivent dan terus melaju menuju rumah Iqbal.


__________________


"Terima kasih sudah mengantar aku pulang!" Ujar Mariana setelah keluar dari mobil Rafeal.


"Hmmmmm!" Jawab Rafeal.


"Rafeal...."


"Iya? kenapa? ahhh biar nanti aku minta tolong orang untuk membawa mobil mu pulang!"


"Bukan soal mobil."


"Lalu?"


"Maaf karena hari ini aku membangunkan sisi jahat mu, maafkan aku!"


"Lupakan semuanya, dan masuklah!"


"Ada hal penting yang ingin aku katakan, sebentar saja!"


"Bicaralah!"


"Entah mengapa, untuk sesaat aku justru takut dengan sosok kamu yang tadi, tapi saat dengan gagah tangan mu mendekap bahu ku, lalu mata ku menatap dalam wajah mu yang di penuhi amarah, aku justru semakin terpikat dengan pesona mu. Rafeal aku rasa aku benar-benar telah jatuh cinta pada dirimu, aku semakin takut kehilanganmu." Jelas Mariana.


Ungkapan Mariana bahkan tidak mendapatkan tanggapan sama sekali, Rafeal hanya diam dengan tatapan kosong yang bahkan hanya menatap stir mobil. Merasa diabaikan begitu saja, Mariana pun memutuskan untuk masuk.


"Bagaimana ini? kenapa jadi semakin parah seperti ini? aku yang sama sekali tidak ingin mengengam tangan Ana kini justru perlahan melakukannya. Kania, ada apa dengan hati ku? kamu masih ada di sini tapi kenapa terkadang untuk sesaat Ana membuat bayanganmu menghilang lalu senyuman mu kembali datang seakan memintaku untuk tetap setia mencintai mu dalam diam. Apa mungkin aku yang mulai menggila atau justru kamu memang tidak ingin aku melupakan mu? Kania, bagaimana ini?" Jelas Rafeal pada dirinya bahkan tanpa terasa ia justru menitikkan air mata.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan Lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ