
"Rakes....." Ujar Erina saat Rakes perlahan melangkah memasuki ruang rawat Zea.
"Ma..." Ujar Rakes dengan suara melemah.
Langkah Rakes melemah, membuat Erina yang sedang rebahan di sofa seketika bagun lalu memeluk erat tubuh Rakes.
"Mama....." Tangis Rakes pecah sudah tanpa bisa ia kendalikan lagi.
"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja, jangan menangis, kamu tidak mau kan tangisanmu malah membuat Zea dan Uma mu bangun, ayo sini..." Jelas Erina lalu membawa Rakes untuk duduk ke sofa.
"Mama tau perasan mu sayang, mama paham." Ujar Erina dengan terus mengusap lembut punggung Rakes.
"Ayah sama papa mana ma?" Tanya Rakes karena memang sejak masuk tadi ia tidak mendapati mereka baik diluar maupun di dalam ruangan.
"Papa ke ruangan kakek dan Iqbal ada tugas mendadak." Jelas Erina.
"Bagaimana keadaan Zea ma?"
"Menantu mama baik-baik saja, dan kamu juga harus baik-baik saja. Tidurlah, ini masih jam tiga pagi, jangan terlalu berusaha untuk menyakiti dirimu sendiri, ini semua bukan salah kamu, semuanya akan segera berlalu, sayang." Jelas Erina lalu mengecup lembut kening Rakes.
Rakes dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Erina, sejenak mencoba memejamkan mata meski dengan air mata yang terus saja menetes tanpa terkendali.
(Maafkan mama sayang, mama tau semua ini salah mama, mama yang terlalu memanjakan Roger, hingga kamu yang harus terluka. Kamu terus saja berusaha untuk menyembunyikan semuanya dari mama, maafkan mama Rakes, maafkan mama.) Ungkap hati Erina dengan perasaan yang begitu kacau saat ia menatap wajah Rakes yang sembab dan lelah.
____________________
'Kleeek' Suara pintu yang di tutup dengan begitu pelan, sejenak menatap ke seluruh ini ruangan, pandangannya silih berganti menatap wajah lelap semua yang sedang tertidur nyenyak di ruangan tersebut.
Marvel melangkah mendekati sosok Kania yang tertidur di sofa, perlahan duduk berjongkok tepat di hadapan wajah Kania.
"Sayang, calon makmum abang, abang mencintai mu, sangat-sangat mencintaimu." Bisik Marvel pelan bersamaan dengan tangannya yang mengusap pelan jilbab Kania.
"Abang...." Ujar Kania setelah membuka matanya dan mendapati wajah Marvel tepat di hadapannya.
Kania buru-buru bangun dan langsung memeluk erat tubuh Marvel.
"Aku rindu abang!" Tegas Kania yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa abang membangunkan mu?" Tanya Marvel pelan.
"Itulah yang aku inginkan, tapi abang sama sekali tidak membangunkan aku, kenapa hanya menatap ku?"
"Kenapa? apa abang tidak boleh menatap mu?" Tanya Marvel kebingungan.
"Dasar...." Cetus Kania kesal.
"Dasar????" Ulang Marvel dengan wajah yang semakin kebingungan.
'Cup' Sebuah kecupan mendarat di kening Marvel.
"Kania...." Ujar Marvel yang semakin langsung salah tidak karena mendapatkan kecupan dari Kania.
"Tidurlah, abang juga harus istirahat, abang bukan robot!" Jelas Kania.
"Boleh abang membalasnya?" Tanya Marvel.
"Membalas? apa yang ingin abang balas?"
"Yang barusan?"
"Apa?"
'Cup' Kini giliran Marvel yang bergerak.
"Abang...." Ujar Kania dengan wajah yang merah merona.
"Tidurlah kembali, abang akan tidur di kursi sana." Jelas Marvel.
"Aku mencintai mu, calon imam ku!" Ujar Kania dengan senyuman manisnya.
Marvel hanya membalasnya dengan senyuman lalu bergegas ke kursi yang ada di samping ranjang Rafeal lalu merebahkan kepalanya pada sisi ranjang yang berlawanan dengan Mariana.
(Kalian berdua benar-benar membuat aku bahagia, aku menyayangi kalian. Marvel, Kania, terima kasih karena sudah datang dalam kehidupan ku, terima kasih atas semuanya, dan kamu Ana, ayo kita buat masa depan yang indah untuk kita berdua, meski tidak seindah yang lainnya, tapi kita tetap harus bahagia, paling tidak ini lah yang bisa aku lakukan untuk membalas semua kebaikan Marvel untuk ku, aku akan membahagiakan mu, Ana, aku janji.) Bisik hati Rafeal yang memang sejak tadi diam-diam melihat adegan antara Marvel dan Kania.
Kini pandangan Rafeal hanya fokus menatap wajah Mariana yang terlelap di sampingnya.
_________________
"Iya sayang...." Ujar Elsaliani lembut setelah membuka matanya.
"Uma, bisa bantu aku ke kamar mandi?" Tanya Zea.
"Iya sayang, sebentar..." Ujar Elsaliani yang segera bangun lalu membantu Zea untuk bangun.
"Mau kemana?" Tanya Rakes yang segera menghampiri ranjang dimana Zea berada.
"Abang, kapan abang datang? kenapa tidak membangunkan aku?" Tanya Zea bertubi tubi, karena memang sejak membuka mata tadi, ia sama sekali tidak melihat sosok Rakes yang berbaring di sofa sana.
"Tadi jam tiga pagi, abang tidak ingin membangunkan mu yang sedang begitu terlelap!" Jelas Rakes.
"Apa ada yang terluka? abang baik-baik saja kan?" Tanya Zea memastikan.
"Iya, apa kamu mau ke kamar mandi?" Tanya Rakes.
"Iya, ayo uma..." Ajak Zea.
"Sama abang aja, uma kembalilah istirahat, uma pasti capek banget kan semalaman jagain Zea terus, biar abang yang antar ke kamar mandi." Jelas Rakes.
Rakes langung mengangkat tubuh Zea ke dalam gendongannya lalu tangan kirinya menyeret tiang infus, ia langsung melangkah menuju kamar mandi.
"Stop!" Pinta Zea saat Rakes masuk ke kamar mandi.
"Kenapa?" Tanya Rakes.
"Aku bisa sendiri!" Jelas Zea.
"Jangan bercanda!" Tegas Rakes yang langsung masuk ke kamar mandi.
"Abang, kaki aku baik-baik saja, aku bisa jalan!" Jelas Zea.
"Bodo amat!" Cetus Rakes yang langsung menutup pintu kamar mandi tersebut.
"Zea, Zea...." Ujar Erina dengan senyuman lebar karena tingkah Zea yang begitu lucu menurutnya.
"Begitulah mereka kak, kadang El bingung dibuat mereka. Terkadang Zea bertingkah bak monster yang siap menerkam Rakes tapi sewaktu waktu berubah menjadi kelinci yang begitu imut, potongan mas Iqbal banget!" Jelas Elsaliani.
"Itulah hal yang sangat menarik dari Zea dan Iqbal, sama halnya dengan abang Hadi dan Rakes, dari luar mereka seolah terlihat begitu cuek dan tidak peduli pada apapun, tapi dibelakang kita mereka bahkan mati-matian menahan semua rasa sakit yang bahkan membuat nafas mereka sesak hanya dengan memikirkannya saja. Ntah lah, harusnya aku bersyukur karena mereka menjadi tameng untuk kebahagiaan orang-orang yang mereka cintai, namun terkadang aku justru takut, takut mereka akan pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal." Jelas Erina dengan ekspresi yang seketika berubah sedih.
"Kak, aku kenal abang Hadi dan Rakes dengan baik, mereka tidak akan pergi tanpa melakukan perpisahan yang manis dengan kita." Ujar Elsaliani lalu memeluk erat tubuh Erina.
"Mama, uma!" Ujar Rakes dan Zea yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Udah selesai?" Tanya Erina lalu mengambil alih tiang infus dari tangan Rakes.
"Udah ma!" Ujar Rakes.
"Aku jadi iri!" Ujar Zea setelah tubuhnya kembali dibaringkan ke atas ranjang.
"Iri? pada siapa?" Tanya Elsaliani.
"Ya sama uma dan mama, sama siapa lagi coba?" Jelas Zea yang tiba-tiba berubah jadi manja.
"Loh, kenapa?" Tanya Erina.
"Masak aku nggak di peluk!" Protes Zea.
"Sayang...!" Ujar Erina yang langsung memeluk Zea.
"Kamu ini...." Ujar Elsaliani yang ikut memeluk tubuh Zea.
(Semoga bahagia ini bertahan hingga akhir. Meski aku tidak ada disisi kalian, aku harap kalian bertiga bisa terus hidup bahagia.) Ungkap hati Rakes dengan terus menatap ketiga wanita yang begitu ia cintai.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ