
"Kenapa kak? apa ada masalah dengan kandungan Zea?" Tanya Rakes setelah duduk di depan Putri dengan di batasi oleh meja kerja Putri.
Putri yang tadinya sibuk mengecek data pasien kini beralih fokus pada Rakes.
"Rakes, sebenarnya keadaan kandungan Zea saat ini sedang tidak baik. Kondisi kandungan Zea sangat lemah, Zea juga kelihatan pucat dia seperti memendam rasa khawatir yang berlebihan, sepertinya banyak hal yang dia pikirkan. Jika keadaan ini terus berlanjut, kakak takut ini akan berefek buruk pada Zea dan juga bayi kalian." Jelas Putri.
"Apa separah itu?" Tanya Rakes.
"Hmmmmm, Selama Zea bisa mengontrol dirinya dengan baik, maka tidak akan terjadi hal yang tidak kita inginkan. Rakes, Zea masih sangat muda, terkadang hormon dan emosinya mendorong ia untuk terus khawatir, takut, gelisah hingga membuat dia stres. Kamu harus mengawasinya dengan baik." Jelas Putri.
"Tapi....."
"Iya, mereka akan baik-baik saja selama kamu menjaga mereka berdua dengan baik."
Setiap detail penjelasan dokter Putri masih saja tergiang-giang di ingatan Rakes, sejak tadi malam Rakes masih saja memikirkannya. Segala fokusnya seakan melebur, bahkan sejak tadi malam hingga siang ia masih saja larut dalam kegelisahannya.
Meski tangannya terus saja membuka lembaran demi lembaran buku yang ada di atas mejanya, namun ia sama sekali tidak membaca satu tulisan pun, tubuhnya memang berada di situ namun pikirannya masih saja tertinggal dalam ingatan tentang Zea.
(Apa yang harus aku lakukan? aku,,, Zea, abang....) Bisik hati Rakes dengan diiringi tetesan air mata, dadanya seakan sesak, bahkan ia tidak bisa mengatur nafasnya dengan baik.
"Rasanya sakit banget, hati abang bagai di tikam besi tajam saat tau kondisi kamu yang sebenarnya. Zea, bagaimana bisa kamu hanya diam dengan senyuman saat hati kamu di penuhi rasa khawatir dan takut, abang benar-benar bodoh, abang bahkan tidak tau perasaan kamu yang sebenarnya, abang tidak tau di balik kekonyolan mu ternyata kamu menyimpan ketakutan yang mendalam, di balik sikap bar bar mu, ternyata ada kekhawatiran yang berlebihan, harusnya sebelum menyentuh mu abang memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, harusnya abang menahan diri abang sebentar lagi, harusnya abang menunggu sampai kamu benar-benar dewasa. Maafkan abang, maafkan abang, Zea." Ungkap Rakes dengan penuh penyesalan.
Tangan kekar Rakes terus menekan bagian dadanya yang sesak, tangisnya pun kian terisak, hingga sebuah tangan membuka pintu ruangan dimana ia berada.
"Apa yang terjadi?" Tanya Erina yang perlahan berjalan mendekati Rakes yang duduk di meja belajarnya.
Setelah menemui Temi tadi pagi, lalu mengurus segala pekerjaannya dengan Temi dan setelah urusannya selesai Rakes memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Sejak satu jam yang lalu Rakes berada di kamarnya. Erina yang berdiri di sisi kiri Rakes, perlahan mulai mengusap bahu lebar sang putra tercinta.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Erina.
"Mama...." Ujar Rakes yang langsung memeluk erat pinggang Erina.
Rakes semakin larut dalam tangisannya, melihat keadaan Rakes membuat tangan Erina beralih mengusap rambut Rakes.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja!" Ujar Erina.
"Ma, harusnya waktu itu aku mendengarkan saran mama, harusnya aku tidak memaksakan kehendak aku yang pada akhirnya justru membuat Zea tersiksa."
"Ayo cerita sama mama, apa yang membuat kamu begitu ketakutan seperti ini?"
"Zea ma, gara gara aku, Zea dalam bahaya!"
"Apa ada yang mengincar Zea? mama akan minta bantuan papa dan juga Iqbal, untuk semakin memperketat penjagaan terhadap Zea."
"Bukan itu ma!"
"Lalu? apa ini tentang kandungan Zea?" Tanya Erina dengan nada yang terdengar begitu hati hati.
"Hmmmm!" Rakes menganggukkan kepalanya pelan.
"Lalu dimana Zea sekarang?"
"Masih di sekolah, aku sudah meminta Ivent untuk menjaganya dengan baik"
"Di sekolah?"
"Hmmm, dia yang maksa ingin sekolah, katanya hari ini ada ulangan."
"Ya udah, sana gih jemput Zea! ini udah mau jam pulang sekolah kan?"
"Baiklah....." Ujar Rakes menurut lalu lekas bangun dari kursinya.
Rakes yang perlahan beranjak menuju pintu, kini kembali beralih menatap Erina yang sedang merapikan meja belajar Rakes.
"Ma, bagaimana...?" Tanya Rakes dengan tatapan sendu.
"Berhenti bicara omong kosong! menantu mama dan juga cucu mama pasti akan baik-baik saja." Tegas Erina.
"Ma..."
"Rakes, kamu tau apa yang membuat keadaan Zea memburuk? itu karena dia memikirkan keadaan kamu. Dia takut kamu terluka, dia yang siang malam memikirkan keadaan kamu, dia yang setiap malam berharap kalau kamu akan pulang dalam keadaan tanpa luka, dia yang bahkan menggila saat kamu mulai terjun dalam bahaya. Rakes, paling tidak jangan biarkan dia mengkhawatirkan mu, tetaplah kuat demi Zea dan juga bayi kalian." Jelas Erina.
"Baiklah, aku permisi, Assalamualaikum!" Ujar Rakes.
"Waalaikumsalam!" Ucap Erina.
Setelah Rakes pergi, Erina masih saja berdiri menatap kepergian Rakes.
"Mama akan selalu mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kalian sayang. Rakes, mama percaya kalau kamu akan bertanggung jawab pada setiap keputusan yang telah kamu buat, kamu pasti akan menjaga istri dan anak kamu dengan baik, mama tau kamu bisa melakukannya." Ungkap Erina dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
______________________
"Kenapa berhenti di sini?" Tanya Zea saat sopir pribadi Ivent menepikan mobil yang mereka tumpangi.
Bukannya menjawab pertanyaan Zea, Ivent malah segera turun dari mobil lalu bergegas membukakan pintu di sebelah Zea.
"Apa kamu menurunkan aku di tengah jalan?" Tanya Zea.
"Abang Rakes menunggu mu!" Jelas Ivent.
"Dimana?" Tanya Zea girang dan langsung keluar dari mobil.
"Itu, di sana!" Jelas Ivent dengan menunjuk kearah mobil putih yang ada di depan mereka.
"Yakin itu mobilnya abang Rakes?" Tanya Zea ragu.
"Terus?"
"Di pinjam sama abang Rakes, udah sana gih! selamat berkencan." Jelas Ivent lalu kembali masuk ke dalam mobil.
Zea segera berjalan mendekati mobil putih tersebut.
"Masuklah!" Pinta Rakes yang langsung membuka pintu mobil dari dalam.
"Mau ke mana?" Tanya Zea setelah duduk di samping Rakes.
"Pulang!"
"Pulang?"
"Iya pulang, nggak mungkinkan abang ajak kamu ke medan perang!"
"Nggak lucu!" Cetus Zea yang mulai kesal.
"Zea...."
"Oke, ayo pulang!" Cetus Zea yang langsung menyandarkan kepalanya diikuti dengan memejamkan matanya.
Rakes langsung menjalankan mobil, perjalanan yang begitu membosankan, keduanya hanya terdiam. Rakes masih fokus menyetir sedangkan Zea yang awalnya hanya sekedar memejamkan mata namun akhirnya benar-benar tertidur pulas.
Setelah menyetir hingga beberapa menit lamanya, akhirnya mobil Rakes berhenti di parkiran rumah lamanya Rakes.
Rakes langsung membawa Zea masuk tanpa menganggu tidur nyenyaknya.
Setelah membaringkan tubuh Zea keatas tempat tidur, Rakes ikut duduk di sisi kanan Zea. Tangan Rakes perlahan membuka jilbab Zea, lalu sedikit melepaskan kancing teratas seragam yang Zea kenakan. Perlahan tangan Rakes mulai menyentuh wajah Zea.
"Chim chim!" Ujar Zea setelah membuka matanya dan mendapati wajah Rakes yang sedang menatap dirinya.
"Hmmmmm!" Ujar Rakes tanpa beranjak sejengkal pun.
Mata Zea mulai memerhatikan seisi kamar Rakes.
"Apa itu foto saat ulang tahun aku?" Tanya Zea saat matanya mendapati foto dirinya yang masih terlihat begitu imut dengan balutan gaun pink.
"Hmmmmmm!" Rakes mengangguk.
"Bukankah itu saat ulang tahun setelah aku bangun dari tidur panjang ku?"
"Hmmmmmm!"
"Kenapa masih menyimpannya?"
"Karena ingin!"
"Apa aku begitu cantik sampai Chim chim memasang semua foto ku di dinding kamar ini?"
"Hmmmmmm!"
"Aku bahkan tidak memiliki selembar pun foto Chim chim!" Keluh Zea.
"Untuk apa foto jika orangnya bisa kamu lihat setiap saat."
"Benar juga yah!" Ujar Zea yang langsung mengalungkan tangannya di leher Rakes.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan kami, Aku akan menjaga Raze Junior dengan baik. Aku tau dokter Putri pasti mengatakan sesuatu kan? sejak semalam Chim chim terus saja bertingkah aneh! ini membuat aku tidak nyaman!"
"Zea...."
"Selama Chim chim menjaga diri dengan baik, maka kami pun akan bertahan dengan baik. Fokus pada tugas Chim chim, lakukan yang terbaik, dan cepatlah pulang, aku tidak ingin Chim chim terlalu lama di sana."
"Maa...."
Secepat kilat jemari Zea langsung menutup mulut Rakes, membuat Rakes menghentikan ucapannya.
"Tidak ada kata maaf dan juga terima kasih! aku tidak ingin mendengarnya." Tegas Zea.
'Cup' Ciuman Rakes sukses membuat Zea tersenyum bahagia.
"Lagi!" Pinta Zea.
'Cup'
"Lagi, lagi, lagi!" Pinta Zea.
'Cup' 'Cup' 'Cup' Tanpa protes Rakes langsung memenuhi keinginan Zea.
Bahkan Rakes hanya diam saat tangan Zea mulai meraba kontak-kotak miliknya.
"Abang..." Ujar Zea yang langsung membenamkan pipi merahnya di dada Rakes.
"I love you my princess!" Ungkap Rakes yang semakin mengeratkan pelukannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️