
Sore hari yang begitu cerah, suasana taman begitu ramai, banyak pasangan yang menghabiskan waktu mereka sambil berjalan santai, ada yang bercanda ria bersama teman-teman ada pula yang datang bersama keluarga kecil mereka yah walau hanya sekedar mengisi waktu luang sambil menemani sang buah hati mereka berkeliling taman.
Zea yang sedari tadi menelusuri taman bersama sang kekasih tercinta, kini keduanya memutuskan untuk rehat sejenak di salah satu bangku yang berada di bawah pohon rindang yang memang sedang kosong.
"Satu, dua, tiga, tiga setengah!" Ujar Zea sembari mengukur jarak diantara ia dan Rakes dengan melebarkan jari kelingking dan ibu jari sebagai alat pengukur.
"Apa Chim chim memelihara wudhu untuk magrib nanti?"
"maksudnya?"
"Nah jauh benar jaraknya!" Jelas Zea yang langsung mendekat menghapus jarak yang terbentang diantara keduanya.
"Geser!" Perintah Rakes.
"Nggak mau! Coba lihat pasangan di depan kita, mereka terlihat begitu romantis, sejak tadi aku perhatikan, tangan cowok itu tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan sang kekasih, jadi iri!" Jelas Zea.
"Bulan depan."
"Apa harus nunggu sampai sebulan? padahal cuma pegang tangan doang, lalu setelah sebulan apa aku harus menunggu setahun biar bisa meluk, terus setahunnya lagi baru bisa kiss, kelamaan!"
"Bulan depan kamu bebas melakukan apapun pada tubuh abang."
"Jangan bercanda!"
"Abang serius!"
"Bohong, paling juga nanti Chim chim jaga jarak lagi, bukan muhrim lah, dosa lah, ada batas yang nggak boleh di langgar, ishhhh mengingatnya aja udah bikin kesal dan sakit hati!"
"Nggak akan ada lagi batasan di antara kita."
"Maksudnya?"
"Abang akan menjadikan mu istri abang, menghancurkan dinding pembatas yang selama ini abang bangun dengan kokoh, setelah ijab qabul abang sepenuhnya jadi milik kamu, Zea. Seutuhnya!"
"Serius? sebulan lagi? Chim chim tidak sedang membuat naskah drama romantis kan?" Tanya Zea memastikan dengan senyuman yang begitu berbinar-binar.
"Tapi...."
"Aku nggak suka apapun setelah kata tapi! karena pada akhirnya kata manis di belakang kata tapi hanyalah bohong belaka."
"Zea, abang bukanlah lelaki sempurna sebagaimana yang kamu pikirkan, abang punya segudang kelemahan, abang bisa saja membuat hidupmu berada dalam bahaya, bahkan abang bisa saja menjadi orang yang pada akhirnya membuatmu terluka. Namun, lebih dari itu, abang adalah orang yang akan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga abang, memberimu cinta dan sayang yang berlimpah ruah!" Jelas Rakes.
"Nggak masalah jika aku harus tinggal di medan perang, asalkan bersama Chim chim, aku ridha."
"Gombal"
"Serius! Jadi benar, soal ucapan Chim chim barusan?"
"Iya."
"Jadi nggak sabar pengen langsung bulan depan!"
"Dasar bocah! ya udah kamu tunggu disini, abang akan belikan minum dulu!"
"Oke!"
"Kak Zea!" Panggil sebuah suara yang langsung membuat sang pemilik nama menoleh kearah asal suara.
"Kania, Qalesya!" Seru Zea girang ketika melihat kedua gadis yang begitu ia sayangi yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
Kedua gadis cantik tersebut segera menghampiri Zea dan duduk di samping kiri dan kanan Zea.
"Apa kakak sedang kencan?" Tanya Kania.
"Iya dong. Jangan bilang kalau kalian juga lagi kencan, mana nih adik ipar kakak?" Goda Zea sambil menoleh ke sana sini.
"Wah bakal seru nih, ayo kita kencan bareng!" Ajak Qalesya bersemangat.
"Jadi serius nih kalau kalian juga sedang kencan?" Tanya Zea.
"Pastinya dong kak, kita kan juga punya kekasih!" Jelas Kania.
"Kalau sang pujaan hatinya Qalesya kakak udah kenal nih, tapi kalau pangeran Kania kakak sama sekali nggak kenal yang mana, siapa sih?" Tanya Zea penasaran.
"Kania!" Panggil Marvel yang baru saja datang dengan beberapa kaleng minuman dan cemilan yang ada di dalam plastik di kedua tangannya.
"Udah nggak usah kaget berlebihan deh, ampe mangap tuh mulut!" Seru Zafran yang langsung menutup mulut Zea dengan sebuah es cream.
"Ishhh dingin tau!" Protes Zea yang langsung mengambil alih es cream dari tangan Zafran.
"Hai! yah aku Marvel sahabatnya Rakes, dan juga pacarnya Kania." Jelas Marvel dengan senyuman lebar.
"Beneran nih?" Tanya Zea yang masih belum bisa menerima kenyataan dengan sepenuhnya.
"Awww sakit!" Jerit Zea histeris setelah tangan Qalesya mencubit lengan kanannya.
"Nah sakit kan? ya udah berarti kakak tidak sedang bermimpi, ini sungguhan!" Jelas Kania.
"Emang sempit nih dunia!" Cetus Zea yang langsung menepuk jidatnya.
"Ayo kita kencan bersama!" Ajak Qalesya.
"Bakal seru juga tuh, ayo!" Ajak Marvel bersemangat.
"Terus di mana abang Rakes?" Tanya Zafran.
"Di sini!" Ujar Rakes yang baru bergabung.
"Ayo ke sebelah sana, pemandangannya lebih indah." Jelas Qalesya.
"Ya udah ayo!" Ajak Zafran.
Zafran, Rakes dan Marvel yang telah lebih dulu berjalan, sedangkan para gadis baru saja beranjak bangun dari kursi lalu mengikuti langkah para pria mereka, hingga keenamnya sampai di bagian timur taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran dan bergoyang riang mengikuti angin yang bertiup pelan.
"Ayo duduk!" Pinta Marvel yang telah lebih dulu duduk di atas rerumputan lalu membuka semua bawaannya.
"Anggap saja mini piknik!" Seru Zea yang segera duduk dan diikuti oleh yang lainnya.
Keenamnya menghabiskan waktu bersama, bercanda, tertawa bahkan saling membuka kartu aib dari masing-masing pasangan.
_________________
"Mau berapa lama lagi aku menunggu?"
Suara Reva membuat Roger yang tadinya sedang fokus memeriksa dokumen yang ada di hadapannya segera beralih menoleh kearah di mana Reva berdiri.
"Reva, ayo duduk!" Ujar Roger.
"Apa abang masih belum menemukan waktu yang tepat?" Tanya Reva setelah duduk di hadapan Rakes.
"Lawan kita tidak mudah, so kita butuh perencanaan yang matang agar bisa menang dari mereka!" Jelas Roger yang menutup semua berkas yang ada di hadapannya.
"Apa tiga bulan belum cukup? lagian abang punya banyak uang, abang bisa sewa preman terbaik di negara ini!"
"Reva, ingat tujuan kita adalah misahin mereka bukan melukai mereka." Tegas Roger.
"Aku tau, bahkan sangat tau, aku juga tidak mau kalau sampai abang Roger melukai abang Rakes. Tapi apa abang sadar, jika kita tidak secepatnya bergerak aku takut kita bakal terlambat!"
"Sabarlah sebentar lagi, abang janji, abang akan mendatangkan abang Rakes untuk mu!" Jelas Roger.
"Aku tunggu janji abang!" Jelas Reva.
"Abang akan memisahkan mereka berdua, karena sejatinya Zea hanya milik aku, sampai kapanpun hanya aku satu-satunya lelaki yang berhak atas diri Zea." Tegas Roger.
"Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan." Ungkap Reva penuh ambisi.
"Pasti Reva."
"Aku tunggu kabar baiknya, aku permisi." Jelas Reva yang langsung keluar dari ruangan kerja Roger.
"Jika cara baik tidak mempan, maka dengan terpaksa akan aku pakai cara yang mengerikan, sekalipun aku harus bermain curang! Zea bersiaplah menjadi istri Roger Al-Hambal sang CEO tampan, muda dan kaya raya." Gumam Roger.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️