
"Assalamualaikum!" Suara rame rame yang memberi salam dari luar seketika mengalihkan fokus Zea yang sedang menonton film kartun favoritnya di ruang keluarga.
"Siapa yang datang uma?" Tanya Zea saat Elsaliani melintasi ruangan dimana ia asyik rebahan di atas sofa dengan di temani oleh bebagai jenis makanan ringan yang mengelilingi dirinya.
"Nggak tau, biar uma lihat dulu..." Ujar Elsaliani yang bergegas ke pintu depan.
"Siapa sih? penasaran tapi malas gerak!" Ujar Zea yang akhirnya tetap rebahan saja.
"Zea......" Panggil Bian yang langsung berlari menghampiri Zea lalu segera duduk di kaki Zea.
"Waaaah kalian! rinduuuuuu!" Seru Zea yang terlihat begitu bahagia saat melihat semua anggota pasukan gesreknya berdatangan.
"Sama aku juga rindu banget! sekolah serasa kuburan tanpa kamu!" Jelas Namira dan langsung memeluk erat tubuh Zea.
Zea lekas bangun lalu segera membenarkan jilbabnya, ia terus mencoba menyembunyikan perut buncitnya.
"Bosan, ayolah Zea, kenapa harus homeschooling segala sih, nggak seru!" Jelas Taufan dan segera mengambil posisi di sebelahnya Namira.
"Sorry, ini maunya ayah bukan aku!" Jelas Zea.
"Apa kabar? beru beberapa minggu nggak ketemu kamu tambah gendut aja!" Ujar Rayyan.
"Iya dong, kan kerjaannya makan mulu!" Cetus Bian lalu mengambil satu bungkusan kripik dan langsung melahapnya.
"Mau minum apa sayang?" Tanya Elsaliani.
"Air sumur aja uma!" Cetus Zea.
"Ciiih dasar kejam!" Cetus Taufan.
"Mau yang segar segar uma, hausss!" Ujar Bian manja.
"Oke, tunggu sebentar ya!" Ujar Elsaliani dan bergegas ke dapur.
"Gimana keadaan sekolah?" Tanya Zea.
"Kan tadi sudah aku bilang, macam kuburan! aku serasa hilang semangat untuk sekolah!" Jelas Namira yang kembali memeluk Zea.
"Waktu serasa begitu lambat berlalu, tanpa kamu Zea, sekolah seketika menjadi tempat yang paling aku benci!" Jelas Bian.
"Alasan,,,,," Cetus Rayyan.
"Ya emang kenyataannya gitu!" Tegas Bian.
"Bilang aja nggak ada lagi tameng yang selalu melindungi kamu, terus nggak ada lagi orang yang bisa kamu jadikan sebagai taruhan di area balap, iya kan?" Jelas Taufan.
"Nah itu kamu paham!" Cetus Bian dengan tawa bahagia.
"Dasar, teman durhaka!" Cetus Zea yang seketika langsung menjitak kening Bian.
"Auuuuuw sakit tau!" Protes Bian yang langsung mengusap pelan dahinya.
"Om Iqbal nggak di rumah?" Tanya Rayyan.
"Ayah lagi kerja." Jawab Zea.
"Kalau Rakes?" Tanya Rayyan dengan mata terus celingak-celinguk mencari sosok Rakes.
"Abang juga lagi keluar!" Jelas Zea.
"Kenapa? apa kamu nggak suka kalau abang Rakes di rumah?" Tanya Taufan.
"Nggak!" Tegas Rayyan.
"Nah ini minumnya datang, ayo di minum!" Ujar Elsaliani yang langsung menghidangkan jus jeruk ke atas meja.
"Terima kasih Uma!" Ucap Bian yang langsung meneguknya tanpa tersisa.
"Haus atau apa sih?" Ujar Namira dengan menggelengkan kepalanya.
"Haus benget loh, uma boleh nambah ya?" Jelas Bian.
"Pasti dong, uma emang sengaja bawa lebih, silahkan!" Jelas Elsaliani.
"Uma mah udah hafal sama tabi'at kamu Bian, makanya uma bawa lebih, iya kan uma?" Jelas Rayyan.
Elsaliani hanya bisa tersenyum bahagia tanpa ucapan sama sekali.
"Uma....!" Regek Bian yang merasa bahwa dirinya sedang diejek oleh yang lainnya.
"Ciiih, sok manja, dasar mesin pemakan apa saja!" Cetus Taufan.
"Biarin, uma yang punya aja nggak masalah tuh!" Jelas Bian.
"Dasar! tukang makan!" Seru Zea.
"Macam situ bukan aja!" Ujar Elsaliani yang sontak membuat semuanya tertawa.
"Uma apaan sih? kok anak sendiri di kadalin?" Ujar Zea.
"Ya emang kenyataannya kan?" Ujar Elsaliani.
"Iyap, alright uma. Ucapan uma memang tepat sasaran!" Seru Bian puas.
"Ya udah uma mau masak, kalian makan siang di sini kan?" Tanya Elsaliani.
"Emang boleh uma?" Tanya Rayyan memastikan.
"Nggak boleh!" Protes Zea.
"Apaan sih Zea, lagi pula kami makan di rumah uma bukan di rumah kamu kali!" Jelas Bian.
"Tunggulah, uma nggak akan lama kok!" Jelas Elsaliani dan bergegas ke dapur.
"Biar aku bantu uma!" Ujar Namira yang lekas mengikuti Elsaliani ke dapur.
"Terima kasih sayang!" Ucap Elsaliani lalu keduanya segera ke dapur meninggalkan yang lainnya di ruang tersebut.
"Zea, ada balapan besok malam, gimana mau ikut? aku siap daftarkan nama kamu!" Jelas Bian.
"Mau di hantam sama om Iqbal? jangan ngadi ngadi ya!" Jelas Rayyan mengingatkan.
"Acaranya hari kok? udah kamu tenang aja, biar aku yang atur semuanya, di jamin om Iqbal nggak bakal tau!" Jelas Bian.
"Sorry, tapi aku nggak bisa!" Jelas Zea.
"Waaaah, taubat nih ceritanya!" Ujar Taufan.
"Udah! berhenti bahas tentang balapan, hmmm gimana kalau kita jalan nanti sore!" Usul Rayyan.
"Ide cemerlang, ayo! biar aku yang tanggu semua biayanya, ayo kita jalan!" Ajak Taufan yang begitu semangat.
"Oke! setuju!" Seru Rayyan dan Bian serentak lalu ketiganya langsung menatap kearah Zea yang hanya diam tanpa jawaban.
"Jangan bilang kalau kamu juga nggak bisa?" Ujar Rayyan.
"Sorry!" Ujar Zea pelan lalu menundukkan wajahnya.
"Zea...." Ujar Rayyan lalu beralih pindah ke dekat Zea.
"Ayolah!" Ajak Taufan yang juga ikut mendekat pada Zea.
"Aku benar-benar nggak bisa!" Jelas Zea.
"Nggak asyik!" Cetus Bian kesal.
"Apa kami bukan lagi sahabat mu?" Tanya Taufan.
"Bukan begitu..." Sanggah Zea.
"Zea...." Panggil Rakes yang berdiri diambang pintu sana.
Suara Rakes membuat mereka berempat langsung menoleh pada sosok Rakes.
"Abang...." Ujar Zea lalu sedikit menjaga jarak dari ketiga sahabatnya.
"Haiii!" Sapa Taufan.
"Haiiii!" Seru Bian sambil mengangkat tangan kanannya.
"Kenapa menatap kami dengan tatapan seperti itu? apa kami buat salah?" Tanya Rayyan karena mendapati Rakes yang menatap intens pada mereka.
Tanpa ucapan sama sekali Rakes langsung meninggalkan ruangan tersebut.
"Abang Rakes!" Panggil Zea.
"Udah biarin aja!" Tegas Rayyan yang dengan spontan langsung menarik tangan Zea agar Zea tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Biarkan aja, lagi pula kami masih rindu sama kamu!" Jelas Rayyan.
"Tapi..." Keluh Zea.
"Ayo makan!" Ajak Namira yang baru kembali dari dapur.
"Nah, ayo kita makan!" Ajak Bian yang segera bergegas ke dapur.
"Ayo Zea!" Ajak Taufan.
Semuanya langsung menuju ke meja makan lalu makan siang bersama-sama.
_________________
Di kamarnya sana Rakes terlihat sedang bersiap dengan semua perlengkapannya.
Dia terlihat berulang kali mengecek penampilannya hingga suara pintu yang di buka dari luar seketika mengalihkan pandangan Rakes.
"Chim chim!" Ujar Zea dan terus mendekat.
"Hmmmmm!" Jawab Rakes lalu kembali sibuk merapikan kemejanya.
"Mau kemana?" Tanya Zea.
"Pasukan mu mana? apa mereka sudah pulang?" Bukan menjawab pertanyaan Zea, Rakes malah balik mengajukan pertanyaan pada Zea.
"Iya, mereka baru aja pulang!" Jelas Zea lalu duduk dipinggir kasur di dekat cermin di mana Rakes berdiri.
Rakes kini sibuk menyelipkan satu unit pistol ke pinggangnya lalu sebilah pisau di bagian lengan bajunya selanjutnya memasang alat pendengar di telinganya lalu terakhir memakai topi hitam di kepalanya.
"Apa misi lagi?" Tanya Zea.
"Iya, abang pergi, assalamualaikum!" Jelas Rakes dan lekas melangkah meninggalkan Zea begitu saja.
Zea hanya terdiam dengan tatapan kosong, suara pintu yang di tutup dari luar membuat Zea menyadari bahkan Rakes benar-benar pergi tanpa bicara padanya.
"Ya Allah jagalah setiap langkah suami hamba, bawa ia kembali sebagaimana ia pergi!" Pinta Zea dengan memejamkan matanya.
Suara pintu yang dibuka dari luar lalu langkah yang terus mendekat pada Zea.
"Zea..." Ujar Rakes dan langsung memeluk erat sang istri tercinta.
"Aku kira Chim chim nggak akan peduli lagi pada ku!" Jelas Zea bersamaan dengan isak tangisnya.
"Maafkan abang! maaf!" Pinta Rakes lalu mengecup kening Zea.
"Kali ini berapa hari?"
"Dua atau bahkan mungkin hanya satu hari. Sayang, abang akan langsung pulang jika misi telah selesai!"
"Hmmmm, apa Rafeal dan abang Marvel juga ikut?"
"Iya, jaga kesehatan mu, abang sayang Zea." Jelas Rakes lalu mengusap lembut kepala Zea.
"Chim chim juga, jaga diri dengan baik! aku dan Raze Junior akan menunggu Chim chim di sini!" Jelas Zea dengan senyuman manisnya lalu menyentuh wajah Rakes.
"Abang pergi, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Tepat setelah Rakes keluar, ponsel milik Zea berdering satu chat masuk, dengan cepat Zea langsung meraih ponselnya dan segera membuka chat yang ternyata dari Rayyan.
~Sudah berapa bulan? jadi ini alasan kamu harus homeschooling? apa pelakunya Rakes? jawab Zea! kamu hamil kan?~
Dek! jantung Zea seakan berhenti untuk sesaat, ia benar-benar dibuat syok dengan pertanyaan Rayyan.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ