My Princess

My Princess
#077



Mata Zea menatap Temi dengan penuh dendam, seakan Zea siap menarik keluar jantung Temi dengan kasar.


"Pastinya kamu juga bukan manusia, darah monster pasti akan mengalir dan melahirkan monster juga!" Gumam Temi yang juga ikut menantang tatapan Zea.


"Bagaimana mau mulai sekarang?" Tantang Zea yang semakin penuh ambisi.


"Lebih cepat lebih baik!" Tegas Iqbal.


Iqbal menarik pelatuk senjatanya, satu peluru mendarat sempurna ditangan Temi hingga senjatanya yang tadi terarah di kepala Rakes kini terjatuh dengan sendirinya di lantai. Tangan Rakes dengan gesit menggenggam ujung pisau yang hampir saja menusuk bagian perut Zea, lalu dengan cepat tangan Zea menusuk pisau tepat di bagian jantung Temi, seketika tubuh Temi ambruk di lantai membuat Lestari panik seketika.


"Kurang ajar!" Maki Temi dengan terus menahan perutnya agar darah tidak semakin mengalir di tambah luka tembak pada bagian tangannya membuat Temi semakin lemah, keringat yang ikut menetes mengiringi tetesan darah dari kedua lukanya, hingga di menit selanjutnya Temi kehilangan kesadarannya.


"Temi bangun! aku bilang bangun!" Teriak Lestari histeris.


"Diam!" Tegas Iqbal dengan mengarahkan senjata kembali di kepala Lestari.


"Segera kirimkan ambulance ke alamat yang baru saja aku kirimkan di group." Jelas Rakes setelah menghubungi Marvel.


"Siap!" Jawab Marvel dari seberang.


Rakes mendekati tubuh Temi lalu memeriksanya dengan begitu telaten, ia bahkan mengikat bagian lengan Temi agar darah berhenti menetes lalu melepaskan jaketnya dan menekan bagian perut Temi, sikap Rakes langsung mendapat perlawanan dari Zea, dengan kasar Zea menarik jaket yang Rakes gunakan untuk menahan luka Temi.


"Biarkan dia mati, karena itulah balasan yang setimpal untuk dia, nyawa harus dibayar nyawa!" Gumam Zea.


Rakes tidak menanggapinya sama sekali, ia malah kembali meletakkan jaketnya kembali di perut Temi.


"Abang!" Gumam Zea lalu kembali merampas nya.


"Mati adalah hukuman yang sangat sepele, Zea. Dia harus merasakan bagaimana rasanya sakit, bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia cintai, dia tidak boleh mati dengan begitu mudah, ini baru awal Zea, abang akan membuatnya bertekuk lutut di kaki uma, dia harus memohon maaf pada uma." Jelas Rakes yang langsung membopong tubuh Temi lalu membaringkannya di kasur.


Penjelasan Rakes bak petir yang menyambar hati Zea, bahkan Iqbal pun hanya bisa diam dengan semua keputusan yang Rakes buat.


Perlahan Zea mendekati Rakes yang masih menekan bagian perut Temi, tangan Zea menarik tangan Rakes yang tadi ia gunakan untuk menahan pisau.


"Untuk melakukan semua itu, abang tidak boleh terluka!" Jelas Zea lalu membalut tangan Rakes dengan bagian bawah kemeja miliknya yang telah ia sobek.


"Terima kasih Jannati!" Ucap Rakes dengan senyuman.


Iqbal diam-diam mengeluarkan borgol dari saku celananya lalu memasangnya di tangan Lestari lalu yang satunya lagi ia kaitkan pada kaki sofa.


"Lepaskan aku Iqbal, lepas!" Teriak Lestari dengan terus menarik tangannya.


"Diamlah, atau aku akan langsung membunuhmu!" Jelas Iqbal.


"Iqbal, aku mencintaimu! aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu." Ungkap Lestari.


"Dan aku mencintai istriku. Aku melakukan semua ini karena aku sangat mencintai istriku. Jangan lagi usik El, jangan lagi sakiti dia jika tidak maka aku akan membunuhmu!" Jelas Iqbal.


"Iqbal...." Teriak Lestari.


"Diam!" Gumam Iqbal yang langsung melepaskan pelurunya.


Peluru yang melesat mengenai sofa yang hanya selisih beberapa inci dari kepala Lestari, membuat Lestari terdiam seketika.


"Ayah!" Ujar Zea yang segera berlari lalu memeluk erat tubuh Iqbal.


"Tenanglah! jangan kotori tangan ayah dengan membunuh wanita ****** itu." Ujar Zea.


"Maafkan ayah sayang!" Pinta Iqbal yang berusaha menekan dalam emosinya.


"Aku sudah meminta tante Angel untuk datang kesini. Kita harus segera pergi, ayo!" Ajak Rakes yang langsung beranjak mendekati Iqbal dan Zea.


"Ayo, biar hukum yang mengurus mereka berdua." Jelas Iqbal lalu merangkul Zea dan Rakes.


Ketiganya hendak keluar dari kamar tersebut, namun suara alarm mobil polisi membuat langkah mereka terhenti seketika.


"Kenapa mereka begitu cepat, sial!" Maki Rakes yang membuat Iqbal dan Zea tertawa kecil.


"Kenapa tertawa? apa ada yang lucu?" Tanya Rakes setelah mendapati ayah dan anak yang sedang menertawainya.


"Bukannya kamu sendiri yang menghubungi mereka? dasar!" Cetus Iqbal lalu menjitak kepala Rakes.


"Ayo lewat sini!" Ajak Zea yang ternyata diam-diam memantau kebawah melalui jendela.


"Kamu yakin?" Tanya Rakes setelah mengamati jarak dimana ia berada dengan rerumputan di bawah sana.


"Apa abang takut?" Zea malah balik menantang.


"Bukan aku yang jadi masalahnya, tapi Zea." Jelas Rakes yang begitu mengkhawatirkan sang istri tercinta.


"Nggak usah buat adegan romantis deh!" Cetus Iqbal.


"Ayah aku serius, kita di lantai tiga nih!" Jelas Rakes.


"Kamu lupa Zea anaknya siapa? Zea, lompat!" Jelas Iqbal.


Perintah Iqbal langsung di laksanakan oleh Zea, tanpa ba bi bu, Zea langsung melompat hanya butuh waktu beberapa menit tubuh Zea mendarat di atas rumput nan hijau dibawah sana.


"Gila!" Ujar Rakes yang melihat tali yang terikat kuat di kaki ranjang sana.


"Mau pakai tali juga?" Tawar Iqbal sambil memamerkan seutas tali lainnya.


"Nggak perlu!" Tegas Rakes yang langsung terjun bebas.


Iqbal menyusul dengan mengenakan tali yang sedari tadi ia pegang.


"Ayo cabut!" Ajak Zea setelah kedua lelaki yang ia sayangi mendarat dengan sempurna di sampingnya.


"Go!" Perintah Iqbal lalu ketiganya langsung berlari kearah pagar, kembali melompat lalu bergegas kabur dari lokasi tersebut.


Dengan nafas yang ngos-ngosan ketiganya sampai di mobil yang mereka parkirkan begitu saja di tepi jalan.


"Buruan jalan!" Perintah Iqbal setelah duduk manis di kursi penumpang.


Zea pun ikut masuk lalu duduk disamping Iqbal, Rakes yang masih berada di luar mobil hanya bisa menghela nafas kasar dengan kelakuan Iqbal dan Zea yang kini sedang memperlakukannya bak seorang sopir pribadi.


"Baiklah!" Ujar Rakes dan segera masuk lalu menjalankan mobil.


"Zafran kan?" Tanya Iqbal setelah mobil mereka melaju meninggalkan area jalanan tersebut.


"Jangan salahkan abang Zafran, soalnya Zea yang ngotot!" Jelas Zea.


"Lain kali jangan nekat, ayah nggak mau kalau sampai kamu kenapa-napa." Jelas Iqbal sambil mengusap jilbab hitam Zea.


"Baiklah!" Jawab Zea lalu memeluk tubuh Iqbal.


"Kheeeeeem! udah tangan terluka jadi sopir pula, nasib ya nasib!" Ujar Rakes dengan memasang wajah sedih.


"Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Ujar Zia dengan nada khas yang kerap kali ia gunakan untuk menggoda Rakes.


"Dasar istri durhaka!" Cetus Rakes.


"Nah, ayah nggak ikutan deh!" Ujar Iqbal yang langsung melepaskan tubuhnya dari dekapan Zea.


"Ayah kok gitu sih?"


"Cewek itu kalau udah nikah maka ia berada di bawah tanggungan suaminya, harus taat pada semua perintah dan ajakan suami, selama suami tidak memerintahkan yang dilarang dalam agama, ucapan suami adalah perintah yang harus di lakukan oleh istri." Jelas Iqbal.


"Kan cuma bercanda yah, kok jadi serius sih?" Cetus Zea.


"Iya ayah, aku juga bercanda kok!" Jelas Rakes.


"Uma yang selalu mengatakan nasihat itu pada ayah. Uma bahkan selalu menuruti segala perintah ayah meski semua itu malah menyakitinya." Jelas Iqbal yang seakan kembali pada masa lalu suramnya, masa lalu yang penuh dengan dosa pada sang istri tercinta.


"Apa uma sebaik itu?" Tanya Zea.


"Hmmmm, ayah pun heran kenapa bisa wanita sebaik itu menjadi jodoh ayah yang hanya seorang ********. Ayah bahkan merenggut masa-masa bahagianya dengan sangat sadis. Ayah beribu kali menyakitinya dan uma bahkan berjuta kali membalasnya dengan kasih sayang, hati ayah bahkan sempat tertanya mungkinkah istri ayah adalah seorang Malaikat yang sedang menjelma menjadi manusia atau mungkin manusia yang sedang berusaha menjadi sosok Malaikat." Jelas Iqbal.


"Begitu besar cinta yang uma berikan, Ayah beruntung kerena dari berjuta lelaki ayahlah yang Allah pilih menjadi jodoh uma, dan Zea jauh lebih beruntung karena Allah menakdirkan Zea lahir dari rahim yang wanita shalihah, dan terlebih lagi di tubuh Zea mengalir darah dari lelaki yang begitu gagah dan bertanggung jawab." Ungkap Zea lalu kembali memeluk erat tubuh Iqbal.


(Akulah yang lebih beruntung, karena Allah mengizinkan aku untuk berada di tengah-tengah kalian bertiga, para manusia tangguh.)Bisik hati Rakes dengan senyuman bahagia.


Mobil terus melaju menelusuri jalan malam nan sepi, hingga mengantarkan ketiganya ke istana tercinta.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️