
Di atas tempat tidur sana ketiganya duduk dengan posisi saling berhadapan. Mereka terlihat begitu serius dengan apa yang sedang mereka bahas.
"Masih ada waktu seminggu lagi kan?" Tanya Rafeal memastikan.
"Jangan coba-coba untuk ikut serta!" Tegas Marvel.
"Ikut serta? apa maksud mu dengan ikut serta, jelas-jelas nama aku tertulis di kertas ini, itu artinya aku bukan ikut kalian tapi aku sedang bertugas." Jelas Rafeal.
"Jangan ngada-ngada kamu Rafeal, apa kamu nggak dengar apa yang dokter katakan barusan!" Jelas Rakes.
"Kamu harus istirahat total selama satu bulan penuh, jadi jangan pernah berpikir untuk ikut minggu depan." Jelas Marvel.
"Kalian jangan mulai deh! sudah jelas aku diikut sertakan!" Protes Rafeal.
"Aku sudah mengajukan permohonan pergantian posisi sementara sama kepala, Lexel akan menggantikan mu hingga bulan depan." Jelas Rakes.
"Kamu gila...." Gumam Rafeal.
"Iya kami memang gila, jadi kamu yang waras harap untuk nurut jika tidak maka kegilaan kami berdua akan semakin membabi buta." Jelas Marvel.
"Dasar!" Gumam Rafeal kesal dengan keputusan sepihak yang dibuat oleh kedua sahabatnya.
'Tingting' sebuah chat masuk, Marvel langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celana lalu segera membuka chat tersebut.
#Marvel, apa Rakes bersama mu? sejak tadi mama terus menghubunginya tapi tidak aktif, jika dia bersama mu katakan padanya untuk segera pulang, Zea sendirian di rumah karena tiba-tiba kakek Jordan masuk rumah sakit jadi mama sama papa langsung ke rumah sakit, mama nggak tega ngebangunin Zea yang begitu terlelap. Suruh Rakes pulang sekarang juga.#
"Ada apa? kenapa wajah mu jadi tegang gitu?" Tanya Rafeal yang melihat perubahan ekspresi wajah Marvel saat membaca chat yang baru saja masuk.
"Roger, apa Roger di rumah?" Tanya Marvel tiba-tiba, dia terlihat begitu panik.
"Ada apa dengan Roger?" Tanya Rakes khawatir.
"Princess, Haisssssh! kita harus pulang ke rumah papa Hadi sekarang juga!" Tegas Marvel yang langsung meloncat dari tempat tidur.
"Apa maksud mu? Zea, Roger, haisssssh!" Gumam Rakes yang langsung lari keluar.
"Apa lagi ulah bocah itu! Dasar, akan aku patahkan tangan mu jika kamu berani menyentuh Zea sedikit saja!" Gumam Rafeal dengan penuh emosi, ia juga tidak tinggal diam, meski harus dengan menahan rasa sakit dari luka yang masih terasa begitu perih, Rafeal segera berlari menyusul kedua sahabatnya yang berlarian memasuki mobil.
Ketiganya langsung bergegas menuju rumah Hadi bahkan mereka sama sekali tidak memperdulikan Mariana dan Maya yang sejak tadi memanggil ketiganya.
___________________
"Abang Rakes, abang....! mama, pa...." Panggil Zea dengan suara lantang, dia berlari menuju pintu kamar.
"Nggak ada siapapun di rumah Zea, mereka baru aja pergi. Kamu tenang aja, abang akan menemani mu!" Jelas Roger lalu memeluk paksa tubuh Zea.
"Aku rasa abang Roger belum tuli kan? aku bilang lepas, jangan menyentuh ku!" Pinta Zea.
"Sssssssttttt! tenanglah Zea, tenangkan dirimu, abang hanya ingin memberi mu kenyamanan." Jelas Roger yang semakin mendekap erat tubuh Zea dari belakang.
"Baiklah, terpaksa aku harus gunakan kekerasan." Gumam Zea penuh amarah.
Zea langsung mengayunkan sikunya ke belakang hingga tepat mengenai bagian perut Roger.
"Zea, jangan buat abang menunjukkan sisi brutal abang dihadapan mu!" Tegas Roger lalu mencengkram erat kedua tangan Zea.
"Aku yang akan menunjukkan sisi iblis ku yang selama ini terus aku sembunyikan dari abang!" Gumam Zea.
Bersamaan dengan kaki kanannya yang menginjak kaki Roger lalu kepalanya yang ia ayunkan ke belakang tepat menghantam dagu Roger. Roger yang menerima serangan secara bertubi-tubi membuat ia begitu kesakitan dan kewalahan hingga tanpa sadar ia melepaskan cengkramannya dari tangan Zea.
"Aku bisa melakukan hal yang lebih mengerikan dari ini, jadi aku mohon tinggalkan aku sendirian, jangan ganggu aku!" Tegas Zea dengan tatapan tajam yang seakan menembus mata Roger.
"Zea, kamu tau siapa sebenarnya lelaki yang kamu cintai itu? dia tidak lebih dari seorang penipu!" Jelas Roger.
"Ntah dia penipu, monster atau bahkan berwujud serigala sekalipun aku akan tetap mencintainya." Tegas Zea.
"Baiklah kalau abang memang ngotot ingin memiliki aku!" Gumam Zea lalu perlahan melangkah mundur berusaha terus menjaga jarak dari Roger.
Perlahan tangan Zea mengambil gunting yang terletak di atas meja yang ada di belakangnya.
"Kamu ingin membunuh ku? ayo silahkan, aku bahkan rela mati ditangan mu." Jelas Roger yang terus mendekat.
"Selangkah lagi abang maju maka gunting ini akan menembus leher ku?" Ancam Zea yang langsung mengarahkan gunting tepat di bagian lehernya.
"Zea, jangan gila!" Gumam Roger yang mulai ketakutan.
"Aku kan yang jadi target abang? maka aku yang akan menghilang, setelah ini jangan lagi ganggu hidup suami aku." Jelas Zea yang semakin menempelkan ujung gunting di lehernya.
"Zea, hentikan! abang bilang berhenti!" Pinta Roger.
"Bukankah ini yang abang inginkan, jika abang tidak bisa memiliki aku, maka siapapun tidak bisa memiliki aku bukan? fine akan aku kabulkan keinginan abang!" Jelas Zea.
"Zea, stop!" Tegas Roger yang langsung bergerak lalu merebut paksa gunting dari tangan Zea.
Ulah Roger cukup membuat tubuh Zea terhimpit, karena memang sejak tadi punggung Zea telah menempel pada dinding.
"Abang sakit....!" Jerit Zea yang begitu kesakitan karena Roger menghimpit perut besarnya.
"Zea....." Panggil Rakes dengan langkah yang terus berlarian menaiki tangga.
"Abang.....!" Panggil Zea diiringi air mata yang mulai menetes karena menahan rasa sakit pada bagian perutnya.
Dengan kasar Rakes langsung membuka pintu kamarnya lalu mendapati Zea yang terduduk di sudut kamar dengan Roger yang berdiri tepat dihadapan Zea dengan tangan yang menggenggam erat gunting.
"Abang..." Panggil Zea dengan suara melemah.
"Zea...." Ujar Marvel saat melihat keadaan Zea yang begitu kacau.
Rakes langsung berlari menghampiri sang istri lalu mengangkat tubuh Zea, dan membawanya pergi.
'Buuuk' Tinju Rafeal mendarat sempurna di wajah Roger hingga cukup membuat kedua hidung Roger berdarah.
Tidak sampai di situ, Rafeal kembali menyerang Roger hingga membuat tubuh Roger terpental beberapa langkah ke belakang.
"Jika saja kamu bukan adiknya Rakes, maka aku akan membunuh mu!" Gumam Rafeal dengan penuh amarah.
"Rupanya kamu sama sekali tidak menghiraukan peringatan ku selama ini, aku akan membunuh mu! sekali lagi kamu mengacaukan hidup sahabat aku, maka aku akan membunuh mu dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh mu, kamu tidak amnesia kan? kamu pernah melihatnya sendiri bukan bagaimana cara aku menghabisi bajingan itu, aku harap kamu tidak lupa dengan apa yang pernah kamu lihat, atau memang kamu ingin aku mereka ulang kejadian itu pada dirimu. Jangan lagi ganggu Rakes dan Zea." Gumam Marvel dengan penuh penekanan pada setiap kata-katanya.
Tangan Marvel yang mencengkram kasar kerah baju Roger, perlahan melepaskannya, namun mata merah Marvel masih saja menatap dalam pada Roger.
"Haisssssh!" Teriak Rafeal penuh kekesalan ia bahkan meninju dinding sangking tidak bisanya menahan amarah saat melihat Roger.
"Hentikan, sebaiknya kita susul Rakes, ayo!" Ajak Marvel lalu merangkul Rafeal dan keduanya pergi meninggalkan Roger begitu saja.
"Haisssssh!" Teriak Roger frustasi ia bahkan terus saja menjambak rambutnya sendiri.
"Haaaaaaaaaah!" Teriak Roger kali ini bersamaan dengan menghantamkan kepalanya ke dinding kamar.
"Dasar psikopat! bajingan kamu Roger!" Maki Roger pada dirinya sendiri, ia terlihat semakin brutal menyakiti dirinya sendiri, hingga tubuhnya semakin melemah, ia kehabisan tenaga dan berakhir dengan duduk tak berdaya.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ