My Princess

My Princess
#040



Mata tajam Rakes terus saja menatap arloji yang menempel di tangan kirinya, berharap ia bisa menghentikan waktu yang terus beranjak larut. Setelah memarkirkan motor di depan teras, kaki panjang Rakes segera bergegas masuk, dengan cepat ia langsung membuka pintu utama lalu segera berlari menaiki tangga dan bergegas ke kamarnya.


"Hufff! akhirnya sampai juga, syukurlah karena semuanya sudah tidur, setidaknya mereka tidak melihat aku dalam keadaan seperti ini." Ungkap Rakes lega setelah menutup kembali pintu kamarnya.


Setelah sejenak menenangkan diri yang sedari tadi berpacu dengan prasangka yang aneh-aneh kini Rakes mulai melepaskan semua senjata yang tersembunyi di tubuhnya, di mulai dengan dua unit pistol diantara kedua sepatunya, lalu sebila pisau yang terselip di lengan baju kirinya, setelah meletakkan semuanya ke dalam lemari kini Rakes mulai membuka sepatunya dan membiarkan tergeletak begitu saja di depan lemari dilanjutkan dengan membuka seragam hitam yang membalut kokoh tubuh kekarnya, diakhiri dengan kaos yang sudah di penuhi dengan keringat bercampur darah di bagian perut sebelah kiri. Dengan asal Rakes melempar kaos yang baru saja ia lepas ke atas lantai lalu segera memperhatikan luka yang masih saja meneteskan darah.


"Harus segera di jahit, lumayan lebar sih!" Ujar Rakes pada dirinya sendiri setelah memeriksa keadaan perutnya.


"Kenapa pulang? udah bosan di luar?" Tanya Zea yang tiba-tiba muncul dari belakang Rakes.


"Astaghfirullah!" Seru Rakes yang di kagetkan dengan suara lantang Zea.


"Kenapa se-kaget itu? aku masih belum jadi hantu kok!" Cetus Zea yang segera bangun lalu dengan cepat berdiri tepat di hadapan Rakes, membuat Rakes tidak lagi bisa menghindar dari Zea.


"Apa abang salah masuk kamar?" Tanya Rakes yang mencoba menatap seluruh isi kamar.


"Apa Chim chim amnesia? baru juga sembilan hari sudah nggak tau yang mana kamar sendiri yang mana kamar aku, bagaimana kalau sampai sebulan? apa Chim chim akan lupa dengan wajah aku?" Tanya Zea yang seakan sedang menuntut pelampiasan rasa rindu namun dengan cara yang berbeda dari pasangan kekasih pada umumnya.


"Lalu ngapain kamu di sini?"


"Menurut Chim chim? lagian kan udah di buka yang biar aja kelihatan, kenapa harus di tutup pakek tangan segala sih?" Jelas Zea yang tidak bisa memalingkan matanya dari tubuh Rakes.


"Zea, abang lelah! tolong jangan bertingkah konyol!"


"Bertingkah konyol? aku atau Chim chim?" Tanya Zea yang kini beralih menatap manik mata Rakes.


"Zea, pertahanan abang ada batasnya!" Tegas Rakes yang langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Zea.


"Keluarlah!" Lanjut Rakes dengan wajah yang semakin di penuhi keringat dingin.


"Apa Chim chim sama sekali tidak rindu sama aku? apa ini hanya rindu sepihak? aku yang menggila karena menahan rindu sedangkan Chim chim stay cool tanpa rasa apapun!"


"Zea tolong!" Pinta Rakes dengan suara melemah.


Tangan kanan yang sedari tadi menahan bagian luka yang pada akhirnya tidak lagi bisa menahan darah yang kian mengalir, hingga tetesan darah kental mengalir dari sela jemari Rakes lalu membasahi celana di bagian paha Rakes.


"Chim chim!" Seru Zea setelah melihat darah yang menetes dari perut kiri Rakes.


Zea segera mendekat hingga ia benar-benar tepat di hadapan Rakes tanpa jarak sama sekali.


"Dua langkah ke belakang! abang benar-benar harus mengobatinya sekarang juga, setelah ini abang janji, abang akan jelaskan semuanya sama kamu!" Jelas Rakes lalu mencoba bangun.


"Jangan bergerak, atau aku akan langsung menyentuh abang!" Ancam Zea yang sontak membuat Rakes kembali duduk.


"Zea, luka abang harus di jahit. Mengertilah!"


"Justru karena itu jangan bergerak, jika abang terus bergerak lukanya bisa saja semakin parah, dimana kotak obatnya?"


"Di lemari bagian Utara!"


"Tetap duduk!" Perintah Zea lalu segera menuju lemari.


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Zea segera kembali menghampiri Rakes yang begitu patuh menunggu di tempat tidur.


"Apa ini cukup?" Tanya Zea setelah meletakkan dua kotak P3K di sisi Rakes.


"Hmmmm! berbaliklah!"


"Nggak mau!"


"Zea!"


"Dilihatin atau disentuh? Chim chim pilih mana?"


"Terserah kamu! abang nggak tau harus gimana untuk menghadapi sikap keras kepalamu itu!" Jelas Rakes yang pasrah dengan keputusan yang Zea buat.


Rakes segera membersihkan lukanya dengan kapas yang telah di basahi dengan alkohol, lalu mulai menyiapkan jarum dan benang yang akan ia gunakan untuk menjahit luka yang panjangnya hampir seukuran jari telunjuk.


Menarik nafas pelan lalu membuangnya kasar, baru setelahnya Rakes mulai menggerakkan jarum mendekati bagian luka.


Bersamaan dengan benang yang menembus kulit Rakes disaat itu pula Zea mendekat lalu meniup bagian luka tersebut dengan begitu pelan.


"Aku hanya ingin sedikit berguna untuk Chim chim saat ini, setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa perih Chim chim!"


"Zea....."


Sejenak menatap wajah Zea, kini Rakes hanya bisa pasrah dengan apa yang sedang Zea lakukan, Rakes pun akhirnya kembali menjahit luka tersebut hingga tujuh kali jahitan.


Tangan Zea perlahan mulai bergerak lalu mencoba menyentuh sisi luka tersebut.


"Zea cukup!" Pinta Rakes yang langsung menghentikan tangan Zea.


"Sedikit aja, jika kotak-kotak tidak bisa di ganggu beton juga boleh!"


"Nggak Zea!"


"Apa Chim chim sama sekali tidak rindu? jujur, aku sangat merindukan Chim chim, rindu serindu rindunya!"


"Kamu benar-benar!" Seru Rakes yang langsung menarik tubuh Zea hingga terduduk disampingnya.


"Abang jauh lebih rindu!" Ungkap Rakes lalu mengusap lembut kepala Zea yang terbalut kerudung dengan keadaan yang begitu kacau.


"Benarkah?" Tanya Zea dengan senyuman puas.


"Hmmmm!" Jawab Rakes diiringi dengan anggukan kepala.


"Lalu apa Chim chim tidak berniat untuk melepas rindu?"


"Dengan cara memeluk? mencium atau lebih dari sekedar itu? apa harus dengan cara seperti itu?"


"Chim chim!"


"Zea, jika menuruti nafsu abang pasti sudah melakukannya sejak tadi, kamu tau abang setengah mati menahan rindu. Tapi jika abang melepas rindu dengan cara seperti itu, bukankah abang akan terlihat kejam pada rasa rindu. Rindu itu rasa yang terlahir dari hati, maka biarkan hati yang memudarkannya dengan cara yang tak melanggar batasan diantara kita."


"Tapi....!"


"Mau jalan dengan abang besok?"


"Apa aku punya alasan untuk menolak?"


"Apa itu artinya iya?"


"Apa ada jawaban lain yang lebih tepat?"


"Terima kasih, abang sayang Zea." Ungkap Rakes dengan tatapan penuh arti.


"Apa malam ini aku boleh nginap di sini?"


"Jangan gila, balik ke kamar sekarang!"


"Nggak mau!"


"Apa kami mau tante El melihat kita?"


"Sangat suka! dengan begitu uma akan langsung menikahkan kita. Oh, hampir saja lupa nah!" Jelas Zea.


Zea segera memamerkan foto pengumuman kelulusannya, Rakes langsung menggambil Ponsel milik Zea lalu menatapnya lekat.


"Apa ini sungguhan? yakin bukan editan?"


"Kalau ragu silahkan pastiin sendiri, Chim chim nggak akan ingkar janji kan?"


"Janji yang mana?"


"Menikahi aku!"


"Udah malam, sana gih balik kamar!"


"Aku sayang Chim chim!" Tegas Zea dan beranjak keluar dari kamar Rakes.


(Bagaimana ini? apa sebaiknya memang aku nikahi saja ya, lagi pula nggak masalahkan udah bersuami tapi masih sekolah.) ungkap Rakes.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️