My Princess

My Princess
#101



"Chim chim!" Panggil Zea yang baru saja keluar dari ruang ganti.


"Hmmmm!" Jawab Rakes yang masih sibuk dengan ponselnya.


Rakes bahkan menjawab tanpa menoleh kearah Zea, dia begitu fokus membaca setiap tulisan di layar ponselnya ia bahkan tidak menyadari jika saat itu ia masih mengenakan handuk dan duduk di lantai dengan bersandar pada tempat tidur.


"Markas utama!" Baca Zea sambil duduk diatas kasur tepatnya di samping Rakes.


"Zea...!" Seru Rakes yang langsung mematikan layar ponselnya.


"Apa itu? apa yang Chim chim sembunyikan?" Tanya Zea dengan tatapan interogasinya.


"Nggak penting, gimana udah siap?" Tanya Rakes yang mengalihkan pembicaraan.


"Sini!" Pinta Zea sambil terus mengulurkan tangannya pada Rakes.


"Yang lain sedang menunggu kita di bawah, kamu nggak mau kan kalau sampai komplotan kamu nyariin kamu ke kamar." Jelas Rakes yang malah melemparkan ponselnya ke kolong tempat tidur.


Dengan lembut Rakes merebahkan kepalanya keatas paha Zea diikuti dengan kedua tangan yang melingkar di pinggang ramping Zea.


"Jangan pikirkan apapun, abang akan menyelesaikan semuanya, semuanya tanpa ada yang tersisa. Tunggulah sebentar lagi, semuanya akan abang tamat kan." Jelas Rakes dengan begitu pelan.


"Tak bolehkan aku ikut andil?"


"Bagaimana bisa abang membiarkan istri tersayang abang ikut berada dalam bahaya, lagi pula ini adalah bagian dari pekerjaan abang, abang sudah masuk maka abang yang harus bertahan hingga akhir."


"Lalu apa aku harus berdiam diri membiarkan Chim chim bertarung seorang diri? kisah ini tidak akan bermula jika saja Chim chim tidak memilih pekerjaan ini, dan aku lah tersangka utama yang membuat Chim chim memilih pekerjaan ini."


"Ini adalah bukti cinta abang, abang bahkan bisa melakukan hal yang lebih gila untuk menjaga kamu, Jannati! tugas kamu adalah membantu abang lewat doa, kamu tau kan kalau doa istri untuk suaminya tidak terhalang oleh apapun, doakan abang di sepanjang doa mu!" Ungkap Rakes.


Perlahan tangan Rakes mulai bergerak di punggung mulus Zea, pelan-pelan terus beranjak keatas.


"Chim chim!" Ujar Zea dengan wajah yang telah memerah sempurna.


"Miss you, my princess."


Tangan Rakes kini malah merambah menuju leher jenjang Zea.


"Chim chim..." Ujar Zea yang kian tersipu malu.


"Selesai! udah abang resletingkan!" Jelas Rakes dengan senyuman puas karena berhasil menggoda sang master penggoda.


"Ngajak perang? oke fine!" Seru Zea bersemangat.


Rakes yang baru saja berdiri seketika langsung di tarik paksa oleh Zea. Tubuh Rakes tumbang keatas kasur. Zea yang masih berdiri tegap terus menatap setiap inci tubuh Rakes dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Boleh kan mangsa jadi pemangsa?" tanya Zea dengan tatapan yang siap menerkam.


Zea kian mendekat, hingga suara pintu yang di ketuk dari luar membuat langkah Zea terhenti.


"Zea, Zea....!" Panggil Rayyan.


"Aihsssss!" Gumam Zea kesal.


"Zea, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rayyan.


"Iya, aku akan segera turun, tunggulah sebentar!" Jelas Zea yang bahkan tak beranjak dari tempatnya.


"Aku akan menunggu di sini, cepatlah!" Jelas Rayyan.


"Nggak usah! hmmmm, kamu tunggu di meja makan aja, aku baru mau mandi!" Jelas Zea.


"Mandilah! aku akan tunggu, selama apapun itu!" Jelas Rayyan.


Ntah mengapa penjelasan Rayyan sukses membuat Rakes menggepalkan tinjunya lalu mendarat di atas kasur.


"Aku akan sedikit agak lama!" Jelas Zea dengan tatapan yang terarah pada Rakes yang masih duduk di atas kasur.


"Gunakan waktu sebanyak yang kamu mau, aku akan menunggu di depan kamar mu!" Jelas Rayyan.


Seketika Rakes bangun dan segera menyeret Zea untuk ikut bersamanya ke ruang ganti.


"Pakailah kerudung mu dan lekas temui dia sebelum kewarasan abang menghilang!" Jelas Rakes setelah memakaikan kerudung pada Zea.


Rakes segera mencari pakaiannya di lemari tanpa lagi peduli pada keberadaan Zea.


"Love Chim chim!" Ungkap Zea pelan setelah memeluk tubuh Zea dari belakang.


Bibir Zea mendarat lembut di punggung telanjangnya Rakes.


"Dinding betonnya tambah kekar! aku tunggu Chim chim di bawah, cepatlah turun, jangan membuat aku menunggu terlalu lama!" Jelas Zea dan lekas keluar.


Zea yang baru saja keluar langsung di sambut oleh Rayyan yang sedari tadi menunggumu di depan pintu kamar.


"Ayo!" Ajak Zea.


"Kamu tidak memanggil Rakes?" Tanya Rayyan.


"Biarkan saja, kalau lapar juga bakal turun sendiri!" Jelas Zea dan lekas turun.


"Sini aku gendong!" Tawar Rayyan yang mengikuti Zea.


"Aku nggak selemah yang kalian pikirkan, ayo buruan aku lapar!" Jelas Zea yang terus menuruni tangga.


Setelah semuanya berkumpul di meja makan termasuk juga Rakes, acara makan malam pun di mulai, semuanya bercanda ria penuh dengan kebahagiaan hingga akhirnya Iqbal pulang saat mereka masih asyik menyantap makan malam mereka.


"Mas...!" Ujar Elsaliani yang langsung bangun lalu mendekat pada Iqbal.


"Ayah!" Ujar Zea yang ikut bangun lalu mencium tangan Iqbal.


"Gimana? apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Iqbal.


"Hmmmm, ayah tenang aja, Zea kan anak ayah, sudah pasti setangguh ayah, nggak akan tumbang dengan hal sepele seperti itu!" Jelas Zea dengan senyuman lalu memeluk sang ayah.


"Syukurlah!" Ujar Iqbal lega.


"Ayo ikut kami makan malam!" Ajak Elsaliani.


"Mas udah makan sama teman-teman tadi di luar, kalian lanjutkan makan malam kalian." Jelas Iqbal.


"Baiklah!" Ujar Elsaliani.


"Selamat makan semuanya!" Ujar Iqbal.


"Makasih om!" Ujar Bian dan Rayyan hampir bersamaan.


Iqbal meninggalkan meja makan dan Elsaliani serta Zea kembali duduk dan melanjutkan makan malam mereka.


Iqbal yang tadinya telah keluar dari ruang makan kini tiba-tiba kembali mendekati meja makan.


"Rakes temui ayah di ruangan ayah, kamu juga Rafeal!" Jelas Iqbal dan lekas pergi.


"Siap!" Jawab Rakes dan Rafeal serentak dengan suara lantang mereka, keduanya bahkan berdiri tegak dalam waktu yang bersamaan.


Perpaduan serasi antara Rakes dan Rafeal sukses mencuri fokus semua orang yang ada di meja makan.


"Rafeal..." Ujar Rayyan dan Bian dengan masih menatap Rafeal dengan kebingungan.


"Ahhhhhh! hmmmmm!" Gumam Rafeal yang kian susah mencari penjelasan yang tepat.


"Aku nggak nyangka ternyata hobi nonton drama action dengan gendre polis story, militer dan juga hukum bisa membuat mu begitu menjiwai karakter mereka, kamu bahkan mengekspresikannya dengan begitu lihai!" Jelas Taufan bahkan diiringi dengan tepuk tangan.


"Benar banget, aku bahkan juga sering mengadopsi setiap karakter yang aku tonton!" Jelas Namira.


"Nah itu kalian paham!" Ujar Rafeal yang perlahan duduk.


"Lalu bagaimana dengan Rakes? aku tidak yakin kalau dia juga korban film!" Jelas Rayyan.


"Aku? kenapa aku harus menjelaskan semuanya pada kamu, apa hubungan kita?" Cetus Rakes yang kembali menyantap makanannya.


"Ahhhh, Rayyan lanjutkan makan mu!" Ujar Elsaliani.


"Waaaah sedapnya!" Seru Zea setelah kembali melahap makan malamnya.


"Masakan uma benar-benar lezat, bakal buat ketagihan nih!" Jelas Namira.


"Rumah uma selalu terbuka untuk kalian semua, datang lah kapanpun kamu suka!" Jelas Elsaliani.


"Terima kasih uma!" Ujar Namira dengan senyuman.


"Sama-sama sayang!" Ujar Elsaliani.


Acara makan malam kembali berlangsung dengan baik, meski sempat menjadi tegang namun akhirnya berakhir dengan aman dan damai.


Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga namun tidak dengan Rafeal dan Rakes, karena mereka harus menghadap Iqbal.


"Aku masih belum mengerti kenapa om ayah meminta Rafeal untuk menemuinya? sekeras apapun aku berfikir aku masih saja tidak menemukan alasannya." Jelas Rayyan.


"Iya sih, aku juga tidak mengerti kenapa!" Keluh Bian.


"Pasti di jadiin saksi, apa lagi!" Cetus Zea.


"Saksi?" Tanya Taufan.


"Hmmmm!" Seru Zea.


"Sudahlah, biarkan mereka mengurus masalah mereka. Oh ya, kalian akan menginap di sini kan?" Tanya Elsaliani.


"Terima kasih uma, tapi aku harus pulang!" Jelas Namira.


"Ya udah ayo aku antar, Bian, gimana? mau sekalian pulang bareng?" Tanya Taufan.


"Oke, uma kami pamit ya!" Ujar Bian.


"Baiklah, hati-hati sayang!" Ujar Elsaliani.


"Selamat malam tante, kami pamit pulang!" Ujar Namira.


"Aku juga permisi uma!" Ujar Rayyan.


"Hati-hati!" Ujar Zea.


Zea dan Elsaliani mengantar mereka hingga ke teras, setelah semuanya pulang keduanya kembali masuk ke dalam.


♥️♥️♥️♥️♥️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️