
Zea yang membaringkan kepalanya dalam pangkuan Rakes, dengan mata yang terus menatap wajah Rakes sepanjang Rakes bercerita tentang masa lalu mereka berdua.
Setelah menyudahi cerita yang begitu panjang, perlahan Rakes mengelus rambut Zea.
"Sejak kejadian itu, abang memutuskan untuk menjadi anggota militer, abang ingin jago bela diri, tangguh, bisa menggunakan senjata dengan baik karena hanya dengan menjadi kuat abang bisa menjagamu dengan baik. Abang tidak ingin tragedi itu kembali merenggut masa-masa indah mu." Jelas Rakes mengakhiri cerita kelam yang bahkan membuat sang pujaan hati harus melewati waktunya selama dua tahun dengan terbaring kaku di rumah sakit.
"Sejak kapan Chim chim begitu mencintaiku?" Tanya Rakes.
"Sejak kamu masih dalam perut uma. Abang masih ingat dengan jelas, saat abang melamar kamu sama ayah, saat itu abang masih berumur delapan tahun dan kamu baru saja datang dalam rahim uma."
"Lucu bukan? bagaimana kalau aku terlahir sebagai gadis cacat? atau bisa jadi aku terlahir dengan wajah jelek?"
"Bagaimana bisa semua itu menjadi ukuran dalam cinta. Bahkan sejak abang tidak tau bagaimana bentuk mu, abang telah jatuh cinta padamu. bahkan jika waktu itu kamu terus saja koma hingga selamanya, abang akan tetap menikahi mu." Jelas Rakes.
"Aku yang beruntung atau abang yang memang sial?"
"Maksudnya?" Tanya Rakes kebingungan.
"Hmmmm, aku yang memiliki takdir yang begitu sempurna, terlahir dari uma dan ayah yang luar biasa mengagumkan lalu diberikan jodoh setangguh dan setampan Chim chim, hidupku begitu membuat para wanita lain iri. Atau mungkin takdir Chim chim yang penuh kesialan karena harus berjodoh dengan wanita yang bahkan tidak memiliki satu keistimewaan pun." Jelas Zea.
"Tidak dua-duanya, kamu tidak beruntung dan abang tidak sial. Justru abang lah orang yang paling beruntung." Tegas Rakes yang langsung mengecup kening Zea.
"Yakin?"
"Banget!"
"Love Chim chim more and more!" Jelas Zea lalu meraih leher Rakes.
Perlahan tangan Zea menarik kepala Rakes agar mendekat padanya, saat wajah keduanya begitu dekat, Zea langsung mengecup lembut sang suami tercinta.
"Ayo tidur!" Ajak Rakes yang mulai salah tingkah karena mendapat perlakuan yang begitu romantis dari Zea.
"Yakin mau tidur? nggak mau lanjut?" Tanya Zea.
"Mau lanjut apa lagi? cerita kita udah kelar, abang udah menceritakan semuanya." Jelas Rakes.
"Hadeuuuuh! siapa yang ngomongin cerita coba?" Cetus Zea kesal lalu segera bangun dari rebahannya.
Zea duduk di hadapan Rakes dengan terus menatap dalam wajah Rakes.
"Terus? apa yang mau dilanjutkan?" Tanya Rakes.
"Tabrakan maut!" Jawab Zea lantang.
"Dasar mesum!" Cetus Rakes.
"Ayu buruan! kalau Chim chim nggak mau, aku bakal tabrak lari aja!" Tegas Zea.
"Tabrak lari? istilah apa lagi itu?" Tanya Rakes dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Nih aku ajarin!" Jelas Zea yang langsung mempraktekkannya.
'Cup cup cup' Secepat kilat Zea mencium kening, hidung lalu di akhiri dengan bibir milik Rakes, perbuatan Zea sontak membuat Rakes kaku.
"Nah itu namanya tabrak lari!" Jelas Zea dengan nakal ia malah mengedipkan matanya dengan dipenuhi aura mesum.
"Besok istilah apa lagi yang akan kamu buat, lama-lama abang bakal semakin terlihat bodoh karena tidak mengerti dengan bahasa alien mu itu." Jelas Rakes.
"Tunggu aja tanggal mainnya, Chim chim!" Ujar Zea sambil merebahkan tubuhnya kembali di kasur.
"Hnmmmmm, apa?" Tanya Rakes yang ikut rebahan di sisi kanan Zea.
"Gimana kalau lanjut ke Raze join?" Tanya Zea yang langsung bangun lalu menghadang tubuh Rakes.
Rakes yang telah terbaring mencoba untuk bangun, namun usaha Rakes segera digagalkan oleh aksi Zea. Wajah Zea semakin mendekat hingga tak ada lagi jarak dari wajah keduanya. Kedua tangan kanan Zea mulai mengusap lembut seprei lalu kian berpindah menuju dada bidang Rakes.
"Zea...." Seru Rakes yang menghentikan akses tangan kanan Zea yang terus meraba-raba.
"Kenapa?" Tanya Zea dengan penuh rasa kecewa.
"Selamat malam!" Lanjut Zea lalu segera merebahkan tubuhnya ke posisi semula.
"Ayo!" Ajak Rakes yang kini beralih menyerang Zea.
"Tunggu apa lagi?" Tantang Zea.
Rakes segera memenuhi permintaan Zea.
_____________________
"Marvel, Marvel!" Teriak Rafeal yang terus menelusuri semua ruangan yang ada di rumah dimana selama ini Marvel tinggal bersama Rakes.
"Apa kamu temannya abang Marvel? kenapa langsung nyelonong masuk tanpa izin? tidak punya etika sama sekali." Jelas gadis tersebut dengan menatap sinis sosok Rafeal.
"Upsss sorry!" Ucap Rafeal.
"Mau cari sarapan gratis?" Tanya Marvel yang tiba-tiba muncul dari ruang tamu.
"Tau aja, mulai sekarang aku bakal ambil alih kebiasaan mu yang selalu pulang ke rumahku untuk sarapan dan makan malam, aku akan tagih kembali semuanya, kamu kan kaya, bisa dong nebeng senang dikit!" Jelas Rafeal.
"Terserah!" Jelas Marvel lalu segera ke meja makan.
"Setelah ini pulanglah! dari tadi malam papi sibuk minta abang untuk ngantarin kamu pulang, mereka khawatir." Jelas Marvel.
" Tapi aku masih betah di sini, aku masih rindu banget sama abang!" Jelas Gadis manis tersebut yang tak lain adalah Mariana adik satu-satunya Marvel.
"Apa kamu mau papi datang ke sini lalu menyeret kita pulang? sayang, pulanglah! abang akan janji jika ada waktu luang abang akan sering-sering pulang." Jelas Marvel.
"Janji!" Tegas Mariana manja.
"Janji!" Tegas Marvel.
"Khmmmm, dilupain deh!" Cetus Rafeal yang langsung duduk di samping Marvel.
"Ana, kenalin dia teman abang namanya Rafeal." Jelas Marvel.
"Hai!" Cetus Mariana ia bahkan mengabaikan tangan Rafeal yang terulur kearahnya.
"Hai....!" Ujar Rafeal yang segera menarik kembali uluran tangannya.
"Kamu nggak sekolah?" Tanya Marvel.
"Elo nggak lihat nih seragam menempel di tubuh aku!" Jelas Rafeal yang memamerkan seragam dari balik jaket hitamnya.
"Hah masih bocah rupanya? pantas nggak punya tatakrama." Cetus Mariana.
Pernyataan Mariana sontak membuat Marvel tertawa pecah membuat Rafeal semakin kesal.
"Dasar muka SMA!" Seru Marvel.
"Ihssssss lihat aja, aku bakal balas kalian setelah semua ini berakhir." Jelas Rafeal.
"Benar-benar nggak ada sopan sopannya, abang aku lebih tua dari kamu harusnya kamu tidak mengenakan kata-kata kasar saat berbicara dengan yang lebih tua. Dasar bocah kasar!" Gumam Mariana.
"Ana udah, dia memang udah gitu sejak lahir, buruan gih makan, sebelum ke sekolah abang akan mengantarkan mu pulang lebih dulu." Jelas Marvel.
"Baiklah!" Jawab Mariana menurut.
Ketiganya melanjutkan sarapan pagi mereka, lalu bergegas berangkat ke sekolah.
_________________
"Kenapa memanggil aku ke sini?" Tanya Zea.
Zea baru aja tiba di ruang UKS.
Rakes tampak sedang berbaring di salah satu ranjang, Zea kembali mendekat.
"Ayo makan!" Ajak Rakes yang mengeluarkan paper bag yang berisikan kotak makanan.
"Dapat dari siapa?" Tanya Zea yang ikut duduk di ranjang.
"Uma tercinta!" Jawab Rakes yang langsung mengeluarkan satu persatu kotak makanan.
"Wiiiih sedap gila nih! Tapi gimana kalau tiba tiba ada yang datang?" Tanya Zea.
"Abang udah izin sama penjaga UKS kok! Kamu tenang aja, ayo makan!" Jelas Rakes yang langsung melahap makanannya.
"Aku juga lapar!" Adu Zea.
"Nih, aaaaaa!" Ujar Rakes yang mengarahkan sendok makanan kearah mulut Zea.
"Pak Rakes....!" Seru Cindy yang berdiri di ambang pintu dengan terus menatap Zea.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ