My Princess

My Princess
#022



Bel istirahat menggema di seluruh kelas membuat semua siswa terbelalak matanya, yang awalnya bermalas malasan dalam seketika langsung bersemangat kembali, yang awalnya tidur pun langsung terbangun dengan sendirinya.


Setelah berpamitan sang guru langsung keluar dari kelas.


Zea tidak lagi bisa bersabar, ia langsung segera bangkit dari duduk yang sedari tadi begitu membuatnya kesal.


"Ayo ke kantin! aku lapar banget!" Ajak Zea sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Aku juga lapar banget, akhirnya kemerdekaan kita datang juga, setelah dijajah oleh matematika yang begitu memusingkan kepala!" Seru Bian sambil mengacak rambutnya.


"Buruan ntar keburu penjajah baru masuk!" Seru Taufan yang langsung berlari keluar kelas.


"Rayyan, ayo!" Ajak Zea yang melihat Rayyan masih membaca buku.


"Aku nggak lapar!" Tegas Rayyan dengan suara dingin.


"Kamu kenapa sih? kerasukan?" Tanya Rafeal yang tidak pernah melihat Rayyan dalam wujud yang seperti sekarang.


"Rayyan!" Panggil Zea dengan penekanan dan tatapan yang fokus kearah Rayyan.


"Aku bilang aku nggak lapar! bisa nggak jangan ganggu aku!" Gumam Rayyan yang langsung menutup kasar bukunya lalu beranjak dari kursinya.


"Kenapa sih tuh anak, semenjak tadi pagi dia benar-benar aneh banget!" Jelas Rafeal.


"Kalian duluan aja ke kantin, aku akan nyusul Rayyan dulu!" Jelas Zea dan langsung berlari menyusul Rayyan.


Zea terus saja mengikuti Rayyan hingga keduanya sampai di atap sekolah.


Sesampai di sana Rayyan langsung berdiri dengan pandangan lurus ke depan menatap kearah ruang kelasnya, perlahan Zea mendekat lalu duduk di samping Rayyan yang masih saja berdiri tegak.


"Ada apa?" Tanya Zea yang kini hanya ikut menatap arah yang sedari tadi ditatap Rayyan.


"Aku nggak mau diganggu siapapun! pergi!" Jelas Rayyan.


"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin pagi?"


"Nggak!"


"Rayyan, jarak usia aku dan abang Rakes tidak jauh sama sekali, masih banyak pasangan yang beda usia di muka bumi ini dan mereka baik-baik aja, malah yang jarak usia puluhan tahun pun lebih bahagia dari pasangan pada umumnya."


"Zea, cinta memang membuatmu gila, kamu yang sekarang bukanlah Zea yang aku kenal, kamu beda dan semua itu karena Rakes."


"Rayyan, yang berubah itu kamu bukan aku dan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan abang Rakes."


"Zea, kamu sadar nggak kamu itu egois!"


"Apa menyatakan cinta pada orang yang begitu kita cintai itu disebut egois? aku sangat mencintainya."


"Usia kalian terpaut jauh, kamu bisa ngerti nggak sih!"


"Saat menikah dengan ayah, umur uma sembilan belas tahun, dan saat itu ayah berusia dua puluh delapan tahun selisih umur mereka sembilan tahun, tapi coba kamu lihat sekarang apa mereka tidak bahagia? ayah sama sekali tidak terlihat tua ketika berdiri di samping uma, dan mereka sangat bahagia, lalu kenapa aku dan abang Rakes tidak bisa seperti mereka? jarak umur kami delapan tahun, lagi pula wajah aku lebih terlihat tua dari dia."


"Zea...."


"Rayyan, kamu sahabat terbaik aku, aku harap kamu bisa menerima keputusan aku, mengertilah kalau sahabatmu ini sedang jatuh cinta."


"Tapi...."


"Aku tau kamu tidak suka dengan abang Rakes, tapi tolong jangan kamu paksa aku untuk mengikuti ketidak sukaan mu itu!"


"Apa kamu yakin kalau lelaki itu bisa membuatmu bahagia? apa kamu yakin kalau dia tidak akan membuatmu terluka?"


"Aku percaya abang Rakes bahkan melebihi rasa percaya aku untuk diriku sendiri." Tegas Zea yang beranjak meninggalkan Rayyan.


"Mau kemana?"


"Yang lain menunggu kita di kantin, kalau kamu masih betah disini, lanjutkan aja! perut aku sudah nggak kuat lagi, dari tadi bakso bu Asri terus saja memanggilku, bye!" Jelas Zea dengan senyuman menggodanya lalu segera berlari menuruni atap membiarkan Rayyan seorang diri.


"Kemarin itu masih terasa bagai mimpi bagiku, Zea. Aku masih saja tidak bisa menerima kamu memilih Rakes sebagai lelaki yang kamu cintai, kamu bahkan mengabaikan Roger yang justru terlihat lebih mapan dan sempurna dari Rakes, sebenarnya apa yang kamu lihat dari seorang Rakes, kenapa kamu dibutakan oleh cintamu kepada lelaki yang bahkan terlihat seperti mafia. Mungkin hati aku tidak akan sekecewa saat ini jika saja Roger yang kamu pilih, karena aku tau dia jauh lebih bisa membahagiakan mu dari pada aku, tapi Rakes? aku tidak merasa dia itu pria baik-baik, aku takut dia akan menoreh luka di hati mu yang masih begitu labil, Zea aku harus gimana? aku benar-benar tidak bisa melepaskan kamu untuk Rakes." Tegas Rayyan yang masih bergelut dengan hatinya.


____________________


"Assalamualaikum!" Salam Zea dan langsung membuka pintu.


Setiap ruangan yang ia lewati begitu terasa sepi.


"Baru aja kemarin ramai eh udah sepi lagi, kangen sama semuanya." Ungkap Zea sendu ketika memerhatikan setiap sudut ruangan yang kemarin terisi penuh oleh keluarga dan sahabat sang ayah.


Perlahan Zea membuka pintu kamar kedua orang tuanya, yah diatas kasur sana, Elsaliani tampak terlelap begitu damai, sejenak menatap tubuh sang uma dengan senyuman bahagia, Ze kembali menutup rapat pintu tersebut, ia tidak ingin mengganggu istirahat sang uma tercinta.


Dengan bermalas-malasan Zea terus menaiki tangga, ia terlihat begitu lesu.


"Coba aja kalau Chim chim nggak kuliah, kan aku bisa gangguin dia, kangen banget sama senyum manisnya, kangen sama reaksinya ketika aku goda, Chim chim cepat pulang, baru setengah hari aku sudah rindu menggila!" Gumam Zea sambil terus menaiki tangga.


Langkah Zea terhenti tepat di depan pintu kamar Rakes, menatap pintu tersebut agak lama lalu perlahan membukanya.


"Tunggu, sepertinya..." Seru Zea setelah menutup kembali pintu tersebut.


Sejenak memutar kembali ingatan yang baru saja terlewatkan, lalu segera membuka pintu kembali.


"Haaaah! Chim chim nggak kuliah, wah kesempatan bagus nih, mumpung dia lagi tidur!" Zea begitu girang ketika melihat Rakes yang terlihat tertidur diatas tempat tidurnya.


Zea melangkah sepelan mungkin, dia tidak ingin langkah kakinya malah membuat Rakes terjaga. Zea semakin mendekat, hingga kini ia benar-benar berdiri di depan tubuh Rakes yang terlelap di atas kasur.



Zea segera duduk membuat tubuhnya sejajar dengan wajah Rakes yang begitu damai dalam tidurnya.


Entah apa yang saat ini ada dipikirannya, tangan Zea langsung bergerak secara alami perlahan semakin mendekat pada wajah Rakes, hingga akhirnya menyentuh wajah tampan tersebut, mata Zea seakan tidak bisa berhenti memperhatikan mahakarya terindah yang sekarang tepat beberapa senti dari matanya.


"Sempurna! bagaimana bisa semakin hari Chim chim terlihat semakin tampan? hatiku luluh lantah oleh mu, Chim chim. Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku? semua yang melekat padamu, seakan bagai candu yang terus membuatku bergantung padamu, Chim chim tetaplah bersamaku hingga akhir dari segala akhir hidup ini" Ungkap Zea penuh harapan.


Tanpa terkendali jemari Zea terus menelusuri setiap lekuk wajah Rakes hingga membuat Rakes menggeliat dalam tidurnya, Zea segera menjauhkan tangannya dari wajah Rakes, namun ketika Rakes kembali terlelap Zea kembali menggerakkan tangannya lalu kembali menyentuh hidung Rakes, perlahan tanpa terkontrol jari telunjuk Zea mulai menyentuh bibir Rakes membuat sang empunya membuka matanya.


"Zea...!" Seru Rakes dengan suara penuh penekanan, mata Rakes terus menatap Zea yang berada begitu dekat dengannya.


Dengan cepat Rakes segera bangun lalu menjauhkan wajahnya dari jangkauan Zea.


"Sejak kapan kamu disini? apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Rakes panik lalu menutup dadanya dengan bantal yang sedari tadi ia peluk.


"Melihat mahakarya terindah dari jarak dekat!"


"Zea..."


"Chim chim manusia kan?"


"Lalu kamu kira aku iblis?"


"Hmmmm, iblis? memangnya ada iblis setampan Chim chim?"


"Udah, mending kamu keluar sekarang, abang masih ngantuk."


"Tidur aja! aku nggak akan ganggu."


"Zea, abang juga lelaki, jika kamu begini terus kepala abang bakal dipenggal sama om Iqbal. Zea, abang tidak ingin kita berdosa. Jannati, abang mau kita ke surga bersama-sama, jangan tantang kesabaran abang, jannati paham kan maksud abang? jangan buat dosa yang justru membuat kita jauh dari Rahmat Allah, abang ingin menggenggam tangan Jannati dalam rahmatnya, cepatlah dewasa, abang akan menghalalkanmu, setelah itu sentuhlah abang semau kamu. Kita berjuang sama-sama, karena abang tidak ingin merusak jannati abang, tolong bantu abang!!" Jelas Rakes dengan penuh kelembutan dan tatapan yang begitu penuh arti.


Zea terdiam seribu bahasa, namun itu hanya berlaku beberapa menit saja.


"Oke! Tapi.....!" Ujar Zea yang kembali menggerakkan jarinya.


"Jannati..." Ujar Rakes dengan tatapan begitu dalam yang kembali membuat hati Zea bak kesetrum listrik.


"Oke! aku ngalah, lagi pula cuma pegang-pegang sedikit aja!"


"Abang nggak halal buat Zea, mau sedikit atau banyak, sebentar atau lama tetap aja dosa. Udah sana gih ganti baju, kita makan siang sama-sama."


"Siap my Chim chim!" Seru Zea penuh semangat.


"Abang tunggu di meja makan."


"Oke!" Seru Zea dan segera keluar dari kamar Rakes.


"Hufffffffff! bocah kecil hampir saja pertahanan ini roboh seketika. Selamat! coba saja kalau tadi aku tidak bisa menahan diri, Zea kamu benar-benar membuat abang ingin cepat-cepat menghalalkanmu!" Jelas Rakes frustasi lalu mengacak rambutnya kasar.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️