My Princess

My Princess
#035



"Dapat!" Seru Marvel setelah menghancurkan kue tar tersebut hingga membuat Zea dan Rakes segera menatap pada Marvel.


"Sebuah memory card?" Jelas Marvel setelah menghapus bersih sisa kue yang membalut barang tersebut.


"Siapa kamu?" Tanya Zea yang langsung mendekati Marvel lalu merebut memory card yang ada ditangan Marvel.


"Aku? oke, perkenalkan nama aku Marvel sahabat senyawanya calon suami kamu!" Jelas Marvel yang merebut kembali memory card dari tangan Zea.


"Apa pekerjaan kalian juga sama?" Tanya Zea yang memandang Intens sosok Marvel.


"Pastinya!" Tegas Marvel dengan senyuman lebar yang memamerkan gigi putihnya.


"Udah! sekarang bukan saatnya kalian berkenalan, sini! aku harus melihat isinya!" Jelas Rakes yang mengambil alih memory card lalu segera memasangnya pada ponsel miliknya.


"Sebuah vidio!" Seru Marvel yang juga ikut menatap pada layar ponsel Rakes.


"Ayo cepat putarkan!" Pinta Zea yang begitu ingin segera mengetahui apa isi dari vidio tersebut.


Tangan Rakes langsung menekan tombol play, seorang laki-laki yang mengenakan masker terlihat sedang duduk dengan kaki yang ia rentangkan keatas meja kecil yang ada dihadapannya. Mata lelaki tersebut memancarkan tatapan yang begitu dalam, untuk sesaat ia hanya terdiam hingga pada menit berikutnya suara tawanya mulai terdengar baru setelahnya ia mulai berbicara panjang lebar.


(***Senang bisa membuat kamu panik, aku tau kamu pasti habis lari-larian untuk menyelamatkan putri tercintamu, iya kan? Iqbal, apa kamu lupa kalau aku tau semua hal tentang kamu, tentang istri cantikmu yang bernama Elsaliani dan juga putri tercintamu yang bernama Zea.


Oke, kamu pasti berfikir kalau aku akan mengusik anak mu, iya kan? Iqbal, Iqbal, aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan. Putri kamu, aku tidak bisa menyentuhnya dengan mudah, dia mewarisi darah kental mu, dia jago bela diri, kuat dan lebih dari itu semua, dia di jaga ketat oleh Malik, sang intelijen yang begitu terkenal karena selalu sukses dengan buruannya. Lalu mana mungkin aku mengusik gadis yang sudah kamu didik menjadi penerus gen monster yang ada dalam dirimu?


Tenang, aku tidak akan bermain dengan dia, lagi pula masih banyak boneka lainnya yang bisa aku gunakan dalam permainan kita***.)


Sosok lelaki dalam vidio terlihat bangun dari posisi awal, lalu melangkah semakin mendekat para kamera, sehingga wajahnya terlihat semakin jelas.


(Aku akan bermain sebentar dengan Reva, putri tercintanya Luqman, atau mungkin akan lebih asyik jika Qalesya putri tunggalnya Mikeal juga ikut bermain? Hmmmmm,,, Kania, yah putri dari kepala tim penyelidik kriminal, sepertinya gadis polos ini bisa lebih membuat Hendra memanas dan bertindak ceroboh. Atau apa aku harus ikut sertakan putra satu-satunya para tim pasukan khusus? Zafran, cowok dengan keahlian IT yang begitu memukau, bukankah dengan membawa serta dia akan sengat menguntungkan pihak aku, aku jadi penasaran bagaimana Alam akan mengamuk jika tau anaknya ikut terseret dalam drama panjang ini.) Lanjutnya kali ini dengan mata yang penuh ambisi.


Ucapan barusan merupakan kata-kata terakhir sebelum akhirnya durasi vidio tersebut selesai.


"Bukan Zea, kita tertipu, target mereka bukanlah Zea!" Jelas Rakes.


"Kita harus pastikan keadaan yang lainnya, sekarang juga!" Ujar Marvel.


"Aku akan menghubungi Qalesya." Jelas Zea yang segera meraih ponselnya dan segera menghubungi Qalesya.


"Kamu dimana dek?" Tanya Zea penuh rasa khawatir setelah Qalesya menjawab panggilannya.


"Lagi jalan sama abang Zafran, kenapa kak?" Jawab Qalesya dari seberang.


"Dek, berikan ponselnya sama abang Zafran!" Pinta Zea.


"Oke!" Jawab Qalesya.


"Ada apa?" Tanya Zafran.


"Abang, dengarkan aku baik-baik. Secepatnya bawa Qalesya pulang, ada yang mengincar abang dan juga Qalesya, tolong jaga dia dengan baik, jika ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku!" Jelas Zea.


"Apa yang terjadi?" Tanya Zafran.


"Ceritanya panjang, intinya, jaga Qalesya dengan baik!" Pesan Zea yang langsung mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana?" Tanya Zea setelah Rakes dan Marvel juga mengakhiri panggilan mereka.


"Reva sedang di rumah sama tante Khaira dan juga om Luqman, yang lainya gimana?" Jelas Rakes yang memang sedari tadi menghubungi Reva.


"Qalesya lagi sama abang Zafran, mereka aman. Bagaimana dengan Kania?" Tanya Zea yang langsung menatap Marvel.


"Tidak ada jawaban, dia tidak menjawab panggilan aku!" Jelas Marvel yang kelihatan begitu panik.


"Aku akan hubungi Om Mikeal!" Ujar Rakes.


"Apa kamu mau membuat dia panik? semua ini belum pasti, bisa saja mereka mempermainkan kita semua. Aku akan langsung mengecek keadaan Kania!" Jelas Marvel.


"Aku ikut!" Pinta Zea.


"Tapi...." Keluh Zea.


"Aku akan pastikan adik kamu baik-baik saja, kamu bisa percaya pada ucapan aku, karena aku tidak akan membiarkan gadis yang aku cintai berada dalam bahaya." Jelas Marvel yang langsung bergegas pergi.


"Jaga diri kamu baik-baik! abang akan segera kembali!" Pesan Rakes dan segera menyusul Marvel.


Kedua lelaki nan gagah tersebut langsung meluncur meninggalkan Zea yang masih belum bisa mencerna dengan baik atas apa yang sedang terjadi di keluarga besarnya.


"Bagaimana jika Kania kenapa-napa? sial, aku tidak bisa hanya berdiam diri menyaksikan semuanya terjadi, haissss!" Gumam Zea frustasi dan akhirnya memilih untuk menyusul Rakes dan Marvel.


Zea berlari keluar, ia terus saja berusaha mencari taxi namun sayangnya disiang itu sama sekali tidak ada taxi yang melintas didepan rumahnya.


"Menyebalkan!" Umpat Zea yang semakin kesal, lalu kembali melangkah meninggalkan gerbang rumahnya.


Zea terus berlari-lari kecil berharap bisa secepatnya menemukan taxi.


"Ponselku malah ketinggalan lagi, seharusnya kan aku bisa pesan ojek online. Benar-benar hari sial!"


Kaki Zea yang sedari tadi terus berlari seketika langsung terhenti ketika begitu banyak mobil berwarna hitam mengelilingi dirinya.


"Hai! Akhirnya kita bisa bertemu!" Jelas Pemuda tersebut yang baru saja keluar dari mobil dengan didampingi oleh beberapa lelaki bertubuh kekar disebelahnya.


"Apa kita pernah bertemu? aku rasa kita tidak saling kenal deh!" Jelas Zea dengan terus menatap sosok pemuda yang terus mendekat kearahnya.


"Tentu, aku sangat mengenal kamu Nuri Zea Zahiya Saka. Oh, baiklah aku akan memperkenalkan diri aku lebih dulu, aku Fadhil Pangestu, senang bertemu dengan mu!" Jelas Fadhil yang menghentikan langkahnya saat ia benar-benar ada dihadapan Zea.


Semua anak buahnya berangsur keluar dari mobil mereka, membuat jalanan dipenuhi dengan para lelaki kekar yang begitu sigap menjaga dari berbagai arah.


"Jadi aku targetnya? waaah, entah mengapa aku malah senang dengan keputusan kalian dalam memilih target!" Jelas Zea yang memandang semuanya secara bergantian.


(Lima puluh orang! aku harus mulai dari arah mana? haisssssh!) Hati Zea mulai cemas setelah menghitung jumlah lawan yang begitu banyak lalu berusaha menyusun strategi terbaiknya.


"Ternyata begitu mudah mempermainkan kalian semua." Seru Fadhil yang lagi-lagi tersenyum penuh kemenangan.


"Oke, sebelum kita memulai pertandingannya, aku ingin tau, sebenarnya siapa yang kamu incar?" Tanya Zea yang masih begitu terlihat tenang meski otaknya sedang berfikir keras cara ampuh melumpuhkan para musuh.


"Ayah mu, monster gila itu, aku akan menghancurkan semua miliknya, ******** itu akan aku buat dia menyesali perbuatan di masa lalunya!" Tegas Fadhil dengan tatapan yang dipenuhi dendam.


"Ayah? kamu pasti salah sasaran, bagaimana bisa bocah sepertimu bisa berurusan dengan ayahku? aku tau usia mu tidak jauh berbeda dari usia aku, iya kan?" Jelas Zea.


"Aku rasa kamu ahli dalam menebak usia lawan mu. Aku datang untuk membalas semua perbuatan brutal ayahmu di masa silam!" Jelas Fadhil.


"Apa ayahmu musuh negara? jika tidak mana mungkin kamu datang dengan segudang dendam terhadap ayahku, pasti ayahku membuat ayahmu membusuk di balik jeruji besi, atau malah mungkin dikirimkan ke neraka?" Tanya Zea lantang.


"Konyol! Bagaimana kalau aku menyebutkan nama Lestari? apa kamu pernah mendengar nama tersebut?" Tanya Fadhil.


"Apa dia orang yang penting? sehingga aku harus mengenalnya!" Cetus Zea.


"Aku rasa monster itu menutup rapat dosa di masa lalunya!"


"Katakan siapa Lestari?" Pinta Zea dengan nada memaksa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaπŸ˜‰πŸ˜‰


Stay terus sama My Princess😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dear para pembaca setia My Princess, terima kasih banyak atas semua dukungan dan saran dari manteman selama ini. Semoga kita semua sehat selalu🀲 salam kenal semuanya, salam persahabatan, tetap semangatπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Love you all😘😘😘