My Princess

My Princess
#046



"Buku dengan sampul Rapunzel, pulpen tinta kuning, pensil bermotif Nobita, Tas dari kantong kresek warna kuning, dan yang terakhir jilbab dengan jepitan jemuran di kedua sisi, hadeuuuuh!" Gumam Zea yang tampak sedang mengemasi barang-barang nya satu persatu ke dalam ransel.


Hari ini adalah hari kedua Zea harus mengikuti ospek di sekolah barunya, yah pastinya sebagai murid SMA. Setelah memastikan semuanya telah terkemas sempurna, Zea segara mengambil ranselnya dan lekas keluar dari kamar, langkah Zea terhenti di depan pintu kamar Rakes yang berada di samping kamarnya, sejenak menatapnya dengan tatapan sendu lalu bergegas menuruni tangga.


"Cepatlah pulang, aku rindu Chim chim" Ungkap Zea yang terus menuruni tangga.


"Wow tumben hari ini awal kali siapnya, udah di cek ulang semua perlengkapannya? ntar harus balik lagi kayak kemaren loh." Jelas Elsaliani yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Hari ini jadwal masuknya lebih cepat dua puluh menit dari kemaren uma, dan yah semuanya udah ada di ransel ajaib, ayah mana uma?"


"Masih di dalam, mau uma panggilkan sekarang?"


"Sayang mas...." Ungkap Iqbal yang baru keluar dari kamar dan langsung memeluk tubuh Elsaliani dari belakang.


"Mas!" Seru Elsaliani sembari memukul tangan Iqbal yang memeluk erat tubuhnya.


"Ayah!" Seru Zea.


"Ada tuyul rupanya? ada apa?" Tanya Iqbal yang masih saja memeluk Elsaliani.


"Dasar ayah curang!" Seru Zea yang ikut memeluk tubuh Elsaliani dari depan.


Zea merebahkan kepalanya di dada Elsaliani, dengan lembut tangan Elsaliani mengelus kepala Zea yang terbalut jilbab putih, lalu Iqbal juga ikut menyentuh kepala Zea.


"Uma sayang kalian semua!" Ucap Elsaliani penuh kasih sayang.


"Zea juga sayang uma, sayang ayah, sayang adik baby juga." Ujar Zea yang langsung mengecup kedua pipi Elsaliani dan mengelus perut Elsaliani yang mulai membuncit.


"Ayah juga mau dong!" Ujar Iqbal yang langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Zea.


"Dari uma juga dong!" Pinta Iqbal manja setelah mendapatkan kecupan dari Zea.


"Nggak usah di ladenin, ayo uma kita sarapan!" Ajak Zea yang langsung menggandeng Elsaliani untuk ikut bersamanya ke ruang makan.


"Drama keluarga yang begitu menyejukkan jiwa, ini kali pertama aku menontonnya secara live! menyenangkan!" Seru Fadhil yang sedari tadi menyaksikan kelakukan keluarga Saka yang bergitu harmonis.


"Ayo makan, lain kali akan om perlihatkan yang lebih sweet dari hari ini!" Jelas Iqbal yang bergegas mengikuti Zea dan Elsaliani.


_____________________


"Semuanya masuk barisan! tidak ada yang di luar barisan, hitungan ketika tidak ada lagi yang beres-beres semuanya siap dengan peralatan sesuai anjuran kemaren." Jelas sang ketua OSIS dengan suara lantang.


Semua panitia terus mengecek para pengikut ospek, membuat semua peserta begitu terlihat sopan dan tertib.


"Hei, kamu, kamu tuli?" Tanya seorang panitia wanita yang terus mendekat kearah di mana Zea berada.


"Syyyyyit, Zea!" Seru Rafeal yang mencoba memanggil Zea yang masih fokus memasang jepitan jemuran di jilbabnya.


"Zea!" Seru Taufan yang langsung menarik ujung Jilbab Zea dari belakang, membuat Zea bergumam kesal.


"Mau aku patahkan tangan mu itu?" Gumam Zea kesal yang sontak membuat panitia cowek tadi menghentikan langkahnya.


(Waaaah, menyeramkan! penampilannya feminim tapi nyatanya sangar abis)" Bisik hati panita cewek tersebut dan beralih melangkah kearah lainnya.


"Waaaah! the power of BigBos, kakak kelas aja langsung cabut thu!" Seru Bian.


"Apaan sih? aku nggak paham!" Jelas Zea yang tidak mengerti dengan apa yang sedang jadi bahan perbincangan teman-temannya.


"Kalian, berhenti bergosip atau kalian semua bakal di hukum!" Seru Rayyan yang berdiri tepat di depan Zea.


"Siap komandan!" Seru Rafeal yang di akhiri dengan senyuman menggoda.


"Nuri Zea Zahiya Saka!" Ucap sang ketua panitia sekaligus ketua OSIS setelah membaca name tag yang terpasang di sisi kiri jilbab Zea.


"Iya!" Ujar Zea.


"Keluarkan barang-barang mu!" Perintahnya lagi.


"Baik!" Jawan Zea yang langsung mengeluarkan semua barang yang ada di dalam tas kantong kresek yang ia pakai.


"Dimana penggaris mu?" Tanya sang ketua OSIS.


"Penggaris!" Ulang Zea.


(******! gimana nih, hmmmm, hadeuuhh!) Gundah hati Zea yang terus mencoba mencari solusi.


"Nah, lengkap kan?" Tanya Zea setelah meletakkan penggaris ke dalam tumpukan barangnya.


"Rayyan, keluarkan semua barang mu!" Pinta Ketua OSIS yang beralih pada Rayyan.


"Semuanya lengkap!" Jelas Rayyan setelah mengeluarkan semua bawaannya.


"Apa kalian satu club?" Tanya Ketua OSIS sambil menatap mereka satu persatu.


"Aku bukan bagian dari mereka berlima!" Seru seorang gadis yang berdiri di belakang Taufan.


"Berlima? oh jadi lima serangkai? angkat tangan kalian!" Pintanya lagi.


"Aku Taufan, anaknya pak Baskara Kusuma. Hmmm, abang benar papa aku yang sering muncul di surat kabar, berita online, siaran langsung di stasiun TV." Jelas Taufan setelah mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Jadi kamu ingin berlindung di balik kekayaan papa mu?" Tanyanya yang terlihat emosi dengan sikap Taufan.


"Hai perkenalkan nama aku Rafeal Praftara, yah aku juara boxing tingkat internasional tahun lalu!" Seru Rafeal yang sengaja memamerkan tinju kekarnya.


"Aku Rayyan, juara Olimpiade Matematika dan juga lomba lari maraton tingkat internasional." Ujar Rayyan penuh kesombongan.


"Dan aku si jago dalam segala hal, termasuk menyalahkan orang yang tak bersalah, dan kenalkan ini Bigbos kami, namanya Zea, ratu balap, pemegang sabuk hitam, juara kelas, dan juga sekedar informasi dia anaknya sang kapten pasukan khusus yang begitu berpengaruh di negara kita!" Jelas Bian.


"Kalian, diamlah!" Seru Zea.


"Besok kalian berlima temui aku setelah semua acara selesai!" Jelas sang ketua OSIS yang bergegas menjauh dari club physcopat tersebut.


"Takut juga rupanya!" Seru Bian.


"Jangan ulangi lagi hal bodoh seperti ini!" Seru Zea.


"Bukannya asyik! biar dia nggak semena-mena sama kita!" Jelas Taufan.


"Udah, nggak usah di bahas!" Tegas Rayyan yang kembali menikmati acara ospek.


"Apa aku boleh join dengan kalian berlima, hmmmm ayah aku dokter dan ibu aku seorang model, aku rasa profesi orang tua aku setara dengan orang tua kalian." Jelas Gadis manis tersebut.


"Yakin mau gabung?" Tanya Taufan yang langsung mengarahkan pandangannya ke belakang untuk menatap wajah gadis tersebut.


"Hmmmmm!" Jawabnya serius.


"Oke, Namira, kamu anggota kami sekarang!" Ujar Zea dengan senyuman.


"Terima kasih Bigbos!" Ucap Namira yang langsung di sambut gelak tawa yang lainnya.


__________________


"Zea....!" Panggil Rakes dengan suara pelan dan tangan yang mencoba menyentuh wajah Zea namun seketika tubuh Rakes tumbang di lantai.


Bersamaan dengan jatuhnya sebuah robot berukuran sedang yang terpajang di meja rias hingga suara bantingan tersebut membuat Zea terbangun.


"Chim chim!" Seru Zea yang langsung kaget setengah mati melihat sosok Rakes yang terbaring di lantai.


Zea bergegas menghampiri Rakes, lalu mencoba untuk membangunkannya.


"Chim chim, bangun!" Pinta Zea sambil terus menepuk ke dua pipi Rakes.


"Aku mohon bangunlah! jangan begini, tolong!" Pinta Zea dengan tetesan air mata.


"Zea...!" Seru Rakes setelah membuka kedua matanya.


Mata Rakes yang langsung menatap wajah Zea yang memang tepat berada di hadapannya, perlahan membuat tangan Rakes tergerak lalu menyentuh kepala Zea.


Pelan-pelan Rakes terus memandu kepala Zea agar terus mendekat padanya, hingga akhirnya 'Cup' Bibir Rakes mendarat sempurna di bibir indahnya Zea, membuat Zea tercengang seketika, tubuh Zea bak tersambar petir, kaku tak tau harus bereaksi seperti apa, mata bulatnya Zea terbuka lebar bahkan terus menatap bingung pada Rakes yang kini malah memamerkan senyuman manisnya.


"Manis banget, love you Jannati!" Ungkap Rakes dengan mata yang terus mencari setiap Exspesi yang terpancar dari wajah pucat Zea.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️