My Princess

My Princess
#050



"Nah, kita sudah sampai, ayo turun! mama udah nungguin kedatangan mu sejak tadi pagi." Jelas Hadi.


"Iya om, eh papa!" Ujar Zea dengan di akhiri senyuman manisnya.


"Selamat datang di keluarga baru mu, terima kasih karena mau menjadi menantu papa!" Ucap Hadi lalu mengusap lembut kepala Zea yang terbalut jilbab biru muda.


"Ini kali pertama aku kesini sebagai menantu papa, aku akan terus berusaha menjadi menantu yang baik buat papa dan mama. Terima kasih karena mau menerima aku sebagai pendampingnya abang Rakes." Ungkap Zea yang langsung memeluk erat tubuh Hadi.


"Sama-sama sayang, udah ayo masuk, mama pasti udah nggak sabar nungguin kedatangan mu!" Ajak Hadi.


Keduanya langsung keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.


"Zea..." Panggil Erina dan bergegas menghampiri Zea dan memeluknya erat.


"Mama!" Ujar Zea yang ikut membalas pelukannya Erina.


"Yah di lupakan deh!" Ujar Hadi memasang wajah cemberutnya.


"Papa apaan sih!" Cetus Erina.


"Papa juga pengen di peluk kayaknya ma!" Jelas Zea.


"Sok manja banget! ingat umur dong pa!" Jelas Erina.


"Mau tua atau masih muda tetap aja harus terus romantis, iya kan Zea?" Ujar Hadi.


"Pastinya dong! Udah mending papa sama mama manja-manjaan dulu deh, Zea mau sapa bi Leha." Ujar Zea yang segera berlari ke dapur.


"Bi Leha!" Panggil Zea penuh semangat dan langsung memeluk bi Leha.


"Non Zea, waaaah udah lama nggak main ke sini, tambah cantik aja!" Ujar bi Leha yang memang sangat kenal dengan Zea.


"Bibi juga tambah cantik, tambah muda!" Jelas Zea lalu mencium kedua pipi bi Leha.


"Kangeeen!" Ujar Zea yang kembali memeluk bi Leha.


"Sama bi Leha aja nih kangennya? sama abang nggak kangen?" Tanya Roger yang baru saja duduk di kursi meja makan.


"Abang!" Seru Zea dengan wajah yang langsung berubah tegang seketika.


"Kenapa terkejut begitu? apa abang semakin ganteng aja sehingga membuat kamu syok gitu lihatnya!" Ujar Roger.


"Abang, hai!" Ujar Zea canggung.


"Kenapa? udah nggak rindu lagi sama abang?" Tanya Roger.


"Hmmmm non Zea, tuan Roger bibi permisi ke dapur sebentar!" Ujar bi Leha.


"Bibi!" Ujar Zea dengan tatapan penuh harap seakan memohon agar bi Leha tetap bersamanya.


"Zea, duduklah! ada hal yang mau abang bicarakan." Pinta Roger.


"Bibi tinggal ya non!" Ujar bi Leha yang langsung bergegas ke dapur.


"Zea..." Panggil Roger yang membuat Zea kembali tersadar akan keberadaan Roger yang masih terus memandanginya.


"Hmmmm, iya!" Jawab Zea.


"Duduklah!"


"Hmmmmm." Ujar Zea dan langsung duduk tepat di hadapan Roger.


"Kamu ke sini bareng papa?"


"Iya."


"Zea....!"


"Iya!"


"Maafkan abang!"


"Sudah lama aku maaf kan."


"Abang salah, saat itu abang benar-benar di kuasai amarah dan emosi. Maafkan kekhilafan abang!" Pintu Roger yang menundukkan wajahnya.


"Biarkan jadi masa lalu, di kenang sebagai pengajaran bagi kita berdua, dan semoga ke depannya nggak akan ada lagi kekhilafan yang kedua."


"Itu artinya kamu belum bisa memaafkan abang?"


"Bukankah udah aku katakan, kalau jauh sebelum abang minta maaf, aku sudah lebih dulu memaafkan abang. Aku sama sekali tidak menaruh dendam, abang tetap abang aku apapun yang terjadi." Jelas Zea.


"Abang tau, abang berbuat kesalahan yang begitu fatal, abang janji abang....!"


"Sudahlah, aku tidak ingin mengenang masa kelam itu lagi. Hmmmm, aku permisi, sebentar lagi magrib, aku mau siap-siap." Jelas Zea dan lekas bangun lalu segera berlalu.


"Aku nggak akan mundur Zea, selamanya hanya aku yang boleh memiliki mu. Abang akan melakukan apapun, apapun itu untuk bisa membuatmu datang pada abang." Ungkap Roger.


__________________


Setelah menutup pintu kamar rapat-rapat, seketika tubuh Zea ambruk di lantai dengan punggung yang bersandar pada daun pintu kamar.


"Kenapa tubuh ini seketika gemetar, kenapa kejadian itu muncul kembali dalam ingatan ku, kenapa wajah abang Roger saat itu kembali tergiang di kepala ku?" Keluh Zea yang terus berusaha menenangkan dirinya.


Setelah merasa sedikit lebih tenang, Zea segera bangun lalu duduk di tepi kasur, matanya terus menatap ke seluruh isi kamar tersebut.


"Cepatlah pulang, aku butuh bahu untuk bersandar!" Ungkap Zea dengan mata terus menatap wajah Rakes yang terpajang tepat di dinding di depan tempat tidur dalam ukuran yang begitu besar.


Suara Azan yang menggema dari mesjid dekat rumah membuat Zea segera tersadar dari lamunannya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk wudhu lalu sholat magrib baru setelahnya makan malam bersama keluarga sang suami tercinta.


______________________


Usai shalat magrib semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama.


Di kursi utama ada Hadi lalu di sisi kiri ada Erina di susul dengan Zea, sedangkan Roger mengambil tempat disisi kanan tepatnya di depan Erina.


"Abang mana?" Tanya Roger.


"Tadi katanya sih lagi di jalan." Ujar Erina.


"Paling bentar lagi juga sampai, kita tunggu aja sebentar." Jelas Hadi.


"Oke, lagi lupa aku juga rindu makan malam kita sekeluarga, udah lama sekali rasanya nggak sama-sama." Ujar Roger.


"Gimana sekolah barunya? apa ada masalah?" Tanya Hadi.


"Pa? sejak kapan panggilan kamu untuk papa berubah? bukannya sejak dulu kamu manggilnya om Hadi?" Tanya Roger yang menyadari perubahan Zea.


"Papa yang minta, lagi pula papa lebih suka di panggil papa dari pada om." Jelas Hadi.


"Apa mama juga ikutan kayak papa?" Tanya Roger.


"Iya dong, mama juga nggak mau kalah dari papa." Jelas Erina.


"Bagus juga sih!" Ujar Roger yang langsung menatap kearah Zea dengan penuh makna.


"Assalamualaikum!" Salam Rakes yang baru saja datang.


"Waalaikumsalam!" Jawab semuanya hampir serentak.


"Ayo sini duduk bang, kami udah lapar nih!" Jelas Roger yang langsung bergeser ke kursi di sebelahnya.


Roger mempersilahkan Rakes untuk duduk di kursi yang ia duduki sebelumnya, ia sendiri malah sengaja pindah agar bisa berhadapan dengan Zea. Tanpa protes Rakes mengambil posisi tersebut.


"Zea, ayo tukar tempat sama mama, soalnya papa juga pengen dekat-dekat sama kamu, masa ia mama aja yang boleh dekat, papa kan juga rindu." Jelas Hadi.


"Baiklah, mama juga nggak mau kalau sampai papa marah hanya karena kamu lebih milih dekat sama mama, ayo tukar tempat sayang!" Jelas Erina yang langsung bangun.


Zea ikut dengan semua ucapan Erina, ia segera bertukar tempat dengan Erina, hal tersebut membuat dirinya kini duduk tepat di hadapan Rakes.


"Mama sama papa kenapa sih?" Keluh Roger kesal karena rencananya mau berhadapan dengan Zea kini gagallah sudah.


"Katanya tadi udah lapar, ayo kita makan!" Ajak Rakes yang langsung menaruh nasi keatas piring Roger.


"Ayo makan!" Ajak Erina bersemangat dan langsung mengambil beberapa lauk.


"Papa mau makan apa? biar aku ambilkan?" Tanya Zea.


"Yang ini, ini dan juga ini!" Jelas Hadi sambil menunjuk lauk satu persatu.


"Abang juga mau!" Ujar Roger yang langsung mengarahkan piring miliknya kearah Zea.


"Nih, yang mana lagi?" Tanya Rakes setelah meletakkan ayam sambal ke dalam piring Roger.


"Abang apaan sih? aku maunya Zea yang ambilkan!" Jelas Roger.


"Jika Zea melayani kita semua, lalu kapan dia makan? udah makan!" Tegas Hadi.


Ucapan Hadi langsung membuat Roger meletakkan kembali piring di hadapannya.


"Zea, makanlah yang banyak, kamu butuh tenaga yang kuat, besok itu hari pertama kamu aktif sebagai siswa SMA, semangat!" Jelas Erina sembari meletakkan beberapa lauk ke piring Zea.


"Terima kasih ma!" Ujar Zea dan langsung melahap makan malamnya.


Semuanya kembali melanjutkan makan malam mereka, Roger terus saja memandangi Zea bahkan tatapannya tersebut begitu membuat Zea risih.


"Berhenti menatap Zea, kamu malah membuatnya tidak bisa menikmati makan malamnya dengan leluasa!" Jelas Rakes yang sontak membuat Roger kaget.


"Selagi ada kesempatan untuk memandang wajah ayunya kenapa di buang percuma, lagian aku udah lama tidak menatap wajahnya, aku rindu! lah Zea aja nggak protes kenpa abang yang rusuh?" Jelas Roger yang kian menatap intens wajah Zea.


"Roger! kamu sadar kalau kamu justru membuat Zea risih!" Tegas Erina.


"Kenapa mama dan abang jadi heboh gini?" Tanya Roger kesal.


"Stop! kita lagi di meja makan, bukan di ajang adu mulut!" Tegas Hadi yang membuat semuanya berhenti berdebat, lalu kembali fokus pada makan malam mereka.


Suasana terdiam seketika, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring, hingga semuanya selesai dengan makan malam mereka, semuanya masih saja diam hingga akhirnya Rakes angkat bicara.


"Aku lelah, aku ke kamar duluan, selamat malam semuanya!" Ujar Rakes yang lekas beranjak meninggalkan meja makan.


"Aku juga mau langsung istirahat, soalnya besok hari pertama sekolah." Jelas Zea.


"Iya sayang, selamat malam!" Ujar Erina.


"Selamat malam ma, pa dan juga abang Roger." Ujar Zea dan lekas meninggalkan ruang makan.


Zea segera berlari memasuki kamar Rakes.


"Kunci pintunya!" Pinta Rakes yang langsung dilaksanakan oleh Zea.


"Kenapa? apa ada yang ingin Chim chim lakukan? sampai harus kunci pintu segala."


Zea mulai melangkah mendekati Rakes yang terlihat sedang sibuk meletakkan buku-buku ke raknya.


"Kenapa? apa kamu ingin abang melakukannya?" Tanya Rakes yang sontak membuat langkah Zea terhenti.


"Apa Chim chim serius?"


"Apa abang terlihat sedang bercanda?"


Kini Rakes yang mulai mendekati Zea.


"Jangan permainkan aku!" Tegas Zea yang perlahan menyentuh ujung kaos yang Rakes kenakan.


"Bukannya kamu yang selalu mempermainkan abang?" Tanya Rakes yang mulai menyentuh jilbab Zea.


"Chim chim!"


"Hmmmmmm!" Jawab Rakes yang langsung mengecup lembut kening Zea.


"Aku, aku benar-benar risih dengan tatapan abang Roger, seakan dia ingin menelan ku hidup-hidup!" Keluh Zea dengan tangan yang mulai menyentuh dada Rakes.


"Maaf karena lagi-lagi abang membuatmu tidak nyaman, tunggulah sebentar lagi, abang akan secepatnya bicara soal hubungan kita pada Roger, tolong beri abang sedikit waktu lagi!"


"Kenapa minta maaf? lagi pula selama aku bersama Chim chim semuanya akan baik-baik saja, iya kan?" Jelas Zea yang kini mulai memeluk erat tubuh Rakes.


"Abang, abang Rakes!" Panggil Roger sambil mengetuk pintu kamar Rakes.


"Iya, ada apa?" Tanya Rakes dari dalam kamar masih dengan memeluk Zea, Rakes bahkan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya semula.


"Abang lihat Zea nggak? soalnya dia nggak ada di kamar om Iqbal, nggak ada juga di kamar tamu, nggak ada di ruang tamu sama papa dan mama, di dapur juga cuma ada bi Leha, aku sudah cari ke mana- mana tapi Zea sama sekali nggak ada!" Jelas Roger yang mencoba membuka pintu kamar Rakes.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Stay terus sama My Princess๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


KaMsaHamidaโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธโค๏ธ