
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Kania yang sejak tadi memang sengaja terus mengikuti Marvel hingga ke tepi pantai.
"Kania...." Ujar Marvel yang baru menyadari keberadaan Kania di belakangnya.
Dengan cepat Marvel membuka kemeja kotak-kotak yang ia kenakan lalu menggunakannya untuk menutupi kedua bahu Kania.
"Ayo kita bicara di dalam, sudah larut malam, anginnya juga semakin kencang." Jelas Marvel.
"Tapi aku ingin tetap di sini." Jelas Kania yang langsung duduk di atas pasir, Marvel juga ikut duduk di sebelah kanan Kania.
"Tentang abang atau tentang Rafeal?" Tanya Marvel dengan tatapan yang terus saja menatap deburan ombak yang menyapa bibir pantai.
"Lebih tepatnya tentang aku."
"Apa hati kamu berubah?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kania, mungkin terdengar menyerah, atau bak orang putus asa, tapi jujur abang katakan jika memang kamu ingin datang pada Rafeal abang ikhlas. Karena abang tau Rafeal jauh lebih bisa membuatmu bahagia."
"Apa abang mencampakkan aku?" Tanya Kania dengan tangan yang sedikit gemetaran namun tetap mencoba untuk menyentuh tangan Marvel.
"Abang hanya ingin menawarkan kehidupan yang lebih indah untuk kamu."
"Apa abang mulai bosan dengan tingkah kekanak-kanakan aku?"
"Bagaimana abang bisa bosan? abang bahkan begitu menggilai mu!" Tegas Marvel yang membalas sentuhan Kania.
"Berarti aku masih boleh berada di hati abang kan?"
"Kamu yakin memilih abang, meski ada pilihan yang lebih bagus?"
"Karena abang lah yang terbagus untuk aku. Aku, Kania binti Hendra sangat, sangat mencintai abang Marvel." Jelas Kania yang langsung menyandarkan kepalanya di lengan Marvel.
"Terima kasih karena memilih abang, terima kasih Kania." Ungkap Marvel bahagia.
"Dan aku masih punya satu permintaan lagi!"
"Apa itu?" Tanya Marvel.
"Restui abang Rafeal dengan kak Ana, mereka berdua terlihat serasi." Jelas Kania.
"Abang juga ingin melihat mereka sama-sama, Rafeal tidak hanya teman buat abang, tapi dia adalah keluarga abang, abang sangat menyayanginya, begitu pula dengan Ana, dia adik abang satu-satunya, alangkah bahagianya jika mereka berdua bisa hidup bersama." Jelas Marvel.
"Aku akan mewujudkannya, aku akan buat mereka berdua saling jatuh cinta!"
"Abang siap membantu!" Tegas Marvel.
Lalu sesaat kemudian keduanya tertawa bahagia.
___________________
"Mau sampai berapa jam berdiri di sini?" Tanya Rafeal.
Rafeal yang tiba-tiba datang membuat Mariana tersentak kaget lalu dengan sigap langsung membungkam mulut Rafeal dengan tangan kanannya.
"Berisik!" Gumam Mariana pelan.
"Apa ada yang salah dengan mereka berdua?" Tanya Rafeal yang ikut mengarahkan pandangannya kearah barat dimana Qalesya dan Zafran berada.
"Aku hanya sedikit iri pada mereka." Ujar Mariana lalu melangkah menuju kursi yang ada di teras belakang lalu duduk di sana.
"Tuan putri kok masih iri sih?" Cetus Rafeal lalu ikut duduk di sebelahnya Mariana.
"Dulu aku pernah jatuh cinta pada seorang lelaki, aku begitu mengaguminya, setiap hari aku terus mencoba mendekatinya, hingga akhirnya kami pacaran, tapi sayang kenyataan tidak seperti harapan."
"Apa dia selingkuh?"
"Aku bahkan berharap begitu, setidaknya hati aku tidak akan sesakit ini." Jelas Mariana yang mulai terbawa suasana.
"Lalu apa yang dia lakukan?"
"Ternyata dia dan pacarnya yang merupakan sahabat terbaik aku, kedua berkerja sama, mereka membuat skenario yang begitu menarik, mereka hanya ingin menikmati kekayaan orang tua aku, tidak hanya kehilangan pacar, tapi aku juga kehilangan sahabat terbaik aku, sejak awal mereka merencanakan semuanya!" Jelas Mariana dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi kedua pipinya.
"Apa mereka masih hidup?"
"Untuk apa? apa kamu mau membunuh mereka untuk aku?"
"Tidak! aku sama sekali tidak berniat untuk membunuh mereka."
"Lalu?"
"Aku ingin me-reka ulang skenario yang mereka buat!" Jelas Rafeal.
"Kamu ini..." Ujar Mariana yang yang tiba-tiba tertawa bahagia.
"Apa Marvel tau?"
"Tidak, dan tolong jangan beri tau abang Marvel, karena jika dia tau, aku takut mereka berdua akan mati." Jelas Mariana lalu kembali tertawa.
"Cantik!" Ujar Rafeal.
"Siapa? mantan sahabat aku? yah cantik sih!"
"Kamu, aku bilang kamu yang cantik!" Jelas Rafeal.
"Huuuf, mulai lagi kan! dasar berandalan SMA, sudah ah! aku mau masuk!" Jelas Mariana hendak pergi.
"Aku serius, kamu memang cantik!" Tegas Rafeal dengan wajah serius.
"Huuuuuf!" Seru Mariana dengan terus mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai merona.
Mariana segera masuk meninggalkan Rafeal yang sejenak kembali menatap kearah di mana Qalesya dan Zafran berada.
"Semoga kelak aku juga bisa sebahagia kalian berdua!" Ujar Rafeal lalu ikut masuk.
Qalesya yang sejak tadi menikmati langit malam bersama sang kekasih akhirnya beranjak dari tempat duduk mereka.
"Ayo masuk!" Ajak Qalesya.
"Ayo...!" Ujar Zafran yang juga ikut bangun.
"Qalesya!" Panggil Zafran saat keduanya melangkah menuju pintu resort.
"Terima kasih karena mau menerima abang!"
"Dan terima kasih karena sudah memilih aku, terima kasih kerena telah mencintai aku. I love you, abang Zafran." Jelas Qalesya yang lekas mempercepat langkahnya dan langsung masuk tanpa lagi peduli dengan Zafran.
"Waaaah! jantungku mulai tidak normal, berhentilah meloncat-loncat! Qalesya, kamu membuat darah aku semakin mendidih!" Ungkap Zafran yang mencoba mengendalikan dirinya lalu ikut masuk.
_________________
"Saat awal semester depan, aku akan kembali ke asal aku dan aku harap aku masih bisa menjadi teman kamu dan juga teman bagi yang lainnya juga!" Jelas Ivent.
"Pastinya dong! Terima kasih karena selama ini telah menjaga aku dengan begitu baik!" Ujar Zea.
"Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu menjadikan aku bagian dari teman-teman mu, aku senang saat berkumpul dengan pasukan kamu, mereka membuat aku bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki sahabat. Rayyan, Bian, Taufan Dan Namira, mereka benar benar teman yang baik." Jelas Ivent.
"Benarkah? syukurlah!" Ujar Zea.
"Zea....." Ujar Roger yang ikut bergabung.
"Kenapa?" Tanya Zea.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Roger.
"Apa itu artinya kamu mengusir aku?" Tanya Ivent.
"Tepat sekali!" Tegas Roger.
"Sayangnya aku masih betah disini!" Tegas Ivent yang tadinya berdiri kini malah duduk di sebelah Roger.
"Apa-apaan sih?" Gumam Roger risih.
"Aku rasa kalianlah yang harus ngomong berdua, aku permisi!" Jelas Zea yang segera pergi.
Roger segera bangun hendak menyusul Zea namun secepat kilat di hentikan oleh Ivent.
"Sebenarnya apa sih yang kamu ingin kan?" Tanya Roger penuh amarah.
"Kamu!" Jawab Ivent.
"Ihhhhhh! Aku tegaskan, aku masih normal!"
"Aaaaha apa kamu pikir aku yang gila?"
"Lepas!" Gumam Roger yang langsung menarik kasar tangannya dari genggaman Ivent.
Ivent melangkah lebih dekat pada Roger, lalu menatap matanya dengan dalam.
"Aku tegaskan, untuk yang pertama dan terakhir kali, jangan usik Zea, jangan ganggu pak Rakes atau aku yang akan mengurus mu dengan kedua tangan aku sendiri. Aahhh iya, satu hal lagi, aku normal, aku sudah punya kekasih, jika ada waktu luang akan aku kenalkan kamu dengan ratu hati aku, selamat malam." Jelas Ivent dan segera pergi.
"Kamu mengancam aku? Dasar bocah liar!" Gumam Roger kesal.
_______________
"Dari mana aja?" Tanya Rakes saat Zea masuk ke kamar.
"Habis ngobrol sama Ivent, gimana? udah siap laporannya?" Jelas Zea lalu mendekati Rakes yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di depan cermin sana.
"Udah!" Jawab Rakes.
"Sini aku bantu!" Pinta Zea yang langsung mengambil alih handuk dari tangan Rakes.
"Terima kasih!" Ujar Rakes lalu duduk.
Zea mulai mengerjakannya, dengan mata yang menatap dalam wajah Rakes yang tepat berada di hadapannya.
'Cup' Bibir Zea mendarat di hidung mancungnya Rakes.
"Zea...."
"Untuk biaya yang harus abang bayar atas pekerjaan yang aku lakukan!" Jelas Zea dengan senyuman lebar.
"Lalu?" Tanya Rakes ngambang.
"Lalu apa?" Tanya Zea kebingungan.
"Mana bayaran untuk yang semua abang kerjakan?"
"Emangnya apa yang abang lakukan?"
"Semuanya!"
"Ya udah aku bayar semuanya!" Jelas Zea dengan tatapan mesum.
"Benarkah?"
"Mau aku bayar seberapa banyak?" Tanya Zea yang langsung menghapus jarak antara ia dan suami.
Hidung Zea menempel sempurna di hidung mancung Rakes, lalu tangan Zea perlahan menyentuh bagian leher Rakes dengan sentuhan yang begitu lembut.
Rakes langsung membawa Zea ke tempat tidur, lalu perlahan membaringkannya.
"Apa hari ini anak Daddy baik-baik aja?" Tanya Rakes yang mengusap lembut perut Zea.
"Hmmmmm, hari ini begitu menyenangkan! bahkan serasa begitu cepat berlalu!"
"Masih terasa bagaikan mimpi, pada akhirnya kamu jadi milik abang."
"Chim chim!" Ujar Zea yang mengangkat wajahnya mendekat pada wajah Rakes.
"Semoga selamanya kita bersama, menua dengan penuh kasih sayang, bersama anak-anak kita." Jelas Rakes yang langsung mengecup lembut kening Zea.
"Love Chim chim forever!" Ungkap Zea dan langsung menyerang sang suami dengan tabrakan maut yang membabi buta, ia bahkan tidak memberikan Rakes kesempatan sama sekali, ia terus saja meluncurkan aksi-aksinya. Keduanya melalui malam panjang bersama, yah liburan yang begitu menyenangkan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️