
"Rakes, Rakes.....!" Suara Iqbal yang begitu keras menggema ke seluruh ruangan.
Mendengar namanya dipanggil, dengan cepat Rakes segera berlari menuruni tangga lalu cepat-cepat menemui Iqbal yang sedari tadi memanggil namanya dari ruang tamu sana.
"Iya om, ada apa?" Tanya Rakes dengan nafas ngos-ngosan.
"Nanti malam ada rencana kemana-mana nggak?" Tanya Iqbal yang masih sibuk menyelipkan beberapa pisau di kedua kaki panjangnya.
"Sejauh ini belum ada." Jawab Rakes pasti.
"Sejauh ini? apa maksud abang? apa abang orang Panggilan? yang harus pergi kapanpun panggilan masuk datang?" Tanya Zea yang bergabung ke ruang tamu bersama Elsaliani.
"Iya siapa tau nanti ada acara dadakan yang harus abang hadiri, seperti tugas kelompok misalnya." Jelas Rakes yang dengan spontan menggaruk lehernya dan terlihat begitu tidak nyaman dengan situasi saat ini.
"Aneh, emang mahasiswa bisa gitu yah?" Tanya Zea.
"Iya dong!" Tegas Rakes.
"Mas, jadi berangkat sekarang?" Tanya Elsaliani dan langsung duduk di samping Iqbal dengan di susul oleh Zea yang segara menghimpit Iqbal dari sisi sebelahnya lagi.
"Iya sayang, ada tugas dadakan, mas akan menyelesaikannya secepat mungkin." Jelas Iqbal yang langsung menyentuh wajah Elsaliani dan Zea secara bergantian.
"Tapi....!" Keluh Elsaliani penuh kegelisahan.
"Uma tenang aja, selama ayah tugas Zea akan jagain uma dan adik bayi dengan baik." Jelas Zea mencoba menenangkan Elsaliani.
"Iya sayang, lagi pula Rakes juga bakal di rumah terus, mereka berdua akan menjaga sayang dengan baik." Jelas Iqbal.
"Hmmmmm!" Ujar Elsaliani dengan pandangan yang masih tertunduk.
"Hmmmm? sayang marah? please! jangan begini." Pinta Iqbal.
"El oke! pergilah." Jelas Elsaliani.
"Mas janji, mas akan langsung pulang begitu masalahnya selesai. Zea, selama ayah pergi jaga uma dengan baik, kamu juga Rakes, om titip keluarga om sama kamu." Jelas Rakes.
"Siap!" Jawab Rakes tegas.
"Mas harus pergi sekarang, yang lain pasti udah menunggu mas di markas." Jelas Iqbal yang segera bangkit dari duduknya.
"Mas..." Panggil Elsaliani manja.
"Oke, Rakes, Zea alihkan pandangan kalian kearah lain!" Perintah Iqbal.
"siap!" Jawab Rakes yang langsung memutar badannya kearah lain.
"Oke!" Jawab Zea yang langsung membuang pandangannya kearah tangga.
Setelah keadaan aman, Iqbal langsung mengecup lembut bibir sang istri lalu diikuti dengan keningnya. Kini tangan Iqbal mengusap lembut kepala Elsaliani lalu beralih pada kepalanya Zea.
"Ayah sayang kalian semua!" Ucap Iqbal tersenyum manis pada kedua wanita yang begitu ia sayangi.
"Kami jauh lebih sayang sama ayah!" Ucap Zea yang langsung memeluk erat tubuh kekar Iqbal.
"Ayah pamit, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab Rakes, Zea dan Elsaliani hampir bersamaan.
_______________
Setelah sholat Insya berjamaah, Zea langsung menemani Elsaliani di kamarnya, Seperti biasanya, jika Iqbal pergi tugas maka Zea akan tidur bersama Elsaliani.
Setelah memastikan bahwa Elsaliani dan Zea telah kembali ke kamar, Rakes bergegas ke kamarnya, sejenak menghabiskan waktu sambil membaca beberapa halaman buku favoritnya. Disaat Rakes begitu larut dalam bacaannya di saat itu pula sebuah panggilan masuk, Setelah membaca nama yang terpapar di layar ponselnya, Rakes langsung menjawab panggilan tersebut.
"Kali ini apa lagi ulah mu?" Tanya suara yang terdengar begitu berwibawa namun terdengar penuh penekanan dari seberang sana.
"Apa maksud kakek tentang Zea?" Tanya Rakes dengan nada yang tak kalah mengerikan.
"Sampai kapan kamu akan terus mengutamakan gadis itu? kamu membantah kakek karena dia, kamu membuat Roger terluka karena dia dan kamu juga mengorbankan keinginan mamamu karena dia? apa kamu sudah gila?"
"Ini hidup aku, jadi biar aku sendiri yang atur. Lagi pula kenapa Roger boleh mendekatinya sedangkan aku kakek larang? bukankah ini tidak adil bagi aku?"
"Itu karena kakek sayang sama kamu, kamu cucu pertama keluarga Kusuma, kamu pewaris sah keluarga kita!"
"Aku sama sekali tidak tertarik!"
"Rakes!"
"Jangan usik diam ku kek! aku diam itu jauh lebih baik dari pada aku hancurkan semuanya!"
"Rakes! kamu...."
"Aku tidak ingin berdebat." Jelas Rakes dan langsung mematikan ponselnya.
Karena emosi Rakes langsung membanting ponselnya di kasur, lalu merebahkan tubuhnya yang begitu frustasi setiap kali berurusan dengan Jordan Kusuma yang tak lain adalah kakeknya.
"Selalu saja begitu, kenapa kakek begitu ingin mengekang aku? padahal Roger telah bersedia berada diposisi itu? berhenti kek, sebelum Roger semakin membenci aku, lagi pula aku tidak butuh apapun selain Zea dalam hidup aku, kakek tolong mengerti." Gundah hari Rakes yang semakin kebingungan.
Disaat Rakes masih bergelut dengan pikiran kacaunya, ponsel miliknya kembali berdering.
"Jangan hubungi aku lagi!" Pekik Rakes yang menjawab panggilan masuk tersebut tanpa lebih dulu melihat siapa yang menelponnya.
"Apa aku membuatmu kesal?" Tanya suara dari seberang, yang mana suara tersebut jelas berbeda dari suara sebelumnya.
Mendengar suara tersebut membuat Rakes segara mengecek layar ponselnya yang ternyata hanya menampilkan beberapa digit angka.
"Fildan!" Seru Rakes.
"Ternyata kamu masih ingat dengan suara aku, bagus! aku tidak perlu lagi memperkenalkan diri aku padamu!" Jelas Fildan.
"Tidak ada! aku hanya mengajak mu untuk barter!"
"Badai? mau menukarnya dengan siapa?"
"Bagaimana kalau dengan Jordan Kusuma? atau mungkin Roger Al-Hambal? Atau Erina Kusuma? mau yang mana?"
"Jangan sentuh mereka!" Tegas Rakes.
"Oke, slow! aku sama sekali tidak akan menyentuh mereka bertiga, sekarang aku hanya sedang memantau mereka dari jarak jauh. So, tergantung sama kamu, temui aku atau aku langsung aja bermain dengan salah satu dari mereka bertiga." Jelas Fildan.
"********! aku akan segera menemui mu sekarang, jika sedikit saja kamu menyentuh mereka maka akan aku habisi kalian semua!" Tegas Rakes.
"O,o,o....bagaimana kalau kamu malah menghubungi polisi?"
"Aku bukan pengecut sepertimu! segera kirimkan alamat mu sekarang!" Tegas Rakes yang langsung mematikan ponselnya.
Rakes segera berlari keluar dari kamarnya, menelusuri setiap tangga, sejenak berdiri memandangi pintu kamar Iqbal, lalu perlahan mengetuknya.
"Ada apa Chim chim?" Tanya Zea setelah membukakan pintu dan melihat Rakes yang berdiri tepat dihadapannya.
"Zea, abang..."
"Apa? cieee mau ajak aku kencan ya? so sweet, Chim chim dengar sesuatu nggak?"
"Bukan, dengar? emangnya kamu dengar apa?" Tanya Rakes panik dan langsung menoleh ke setiap sisi ruangan.
"Chim chim nggak dengar apa-apa? serius?"
"Iya, dari mana asal suaranya?"
"Dari sini, jantung aku berdetak seratus kali lipat lebih kencang dari biasanya, hati aku lebur hancur berkeping-keping, karena sikap manis Chim chim!"
"Zea, abang serius!"
"Aku juga serius, apa abang mau mendengarnya?" Tanya Zea yang sontak melangkah mendekati Rakes.
"Zea, dengarkan abang baik-baik!" Pinta Rakes setelah mundur beberapa langkah dari Zea.
"Oke!" Jawab Zea yang kembali melangkah mendekati Rakes.
"Zea, barusan abang dapat telpon dari Fildan!" Jelas Rakes yang sontak membuat Zea menghentikan langkahnya.
"Apa yang dia inginkan?" Tanya Zea yang mulai khawatir.
"Abang akan keluar untuk menemuinya, tolong jaga tante El dengan baik selama abang pergi!" Jelas Rakes.
"Apa mereka buat ulah lagi? bagaimana kalau ini justru jebakan?"
"Mereka menjadikan Roger, mama dan kakek sebagai ancaman. Abang nggak mau kalau sampai mereka nekat menyentuh mama, Roger lebih-lebih kakek. Jadi, abang benar-benar harus menemui mereka, tolong jaga diri baik-baik, abang akan segera menyelesaikannya!" Jelas Rakes.
"Bagaimana kalau sebenarnya justru aku dan uma yang mereka incar?"
"Mereka tidak akan berani menyentuh kamu dan tante El, untuk jaga-jaga pasang ini di kamar, abang akan meminta Zafran untuk mengawasi kalian berdua, abang harus pergi sekarang, ingat jaga diri baik-baik."
"Chim chim!" Panggil Zea yang membuat Rakes kembali menoleh padanya.
"Pulanglah sebagaimana Chim chim pergi, jangan terluka, disini aku akan menunggu Chim chim dengan sejuta rindu." Jelas Zea dengan senyuman manisnya.
"Assalamualaikum, Jannati!" Ujar Rakes dan bergegas pergi.
___________________
"Akhirnya kamu datang juga!" Seru Fildan yang terlihat duduk diatas sebuah bangku dan dikelilingi oleh para anak buah yang sigap dengan senjata di masing-masing tangan mereka.
"Aku bukan pengecut yang akan ingkar janji!" Tegas Rakes yang bahkan tidak terlihat takut sama sekali dengan keadaan yang begitu menguntungkan pihak lawan.
"Dimana abang aku?" Tanya Fildan.
"Bagaimana bisa aku langsung membawanya malam ini, aku butuh waktu!" Jelas Rakes.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?" Tanya Fildan dengan tatapan sinisnya.
"Rakes, aku tau siapa kamu sebenarnya, kamu bisa dengan mudah keluar masuk kantor polisi sesuka hatimu, tentunya melepaskan abang aku sangatlah mudah bagimu bukan?" Lanjut Fildan.
"Aku tidak punya jabatan yang seperti itu!" Tegas Rakes lalu segera berlari kearah Fildan, seketika mengarahkan pisau yang ada di saku jaketnya lalu mengarahkan tepat di jantungnya Fildan membuat semua anak buah Fildan panik seketika karena kecepatan Rakes dalam berpindah tempat.
"Hahahahaha, mau menusuk jantung aku? silahkan!" Jelas Fildan dengan tawa penuh kemenangan lalu mencoba membuka ponsel.
"Apa kau mau mengancam aku dengan mama, adik atau mungkin kakek aku? percuma karena saat ini mereka semua berada dalam pengawasan polisi." Jelas Rakes.
"Aku tau kamu pasti akan melakukan semua itu, makanya aku menyusun taktik yang lebih licik dari otakmu!" Jelas Fildan santai lalu segera membuka layar ponsel miliknya.
"Abang, abang tolong! aku nggak bisa lihat apa-apa, aku benci gelap!" Jerit Zea histeris.
Layar ponsel tersebut menampilkan sosok Elsaliani yang diikat pada sebuah kursi, ia terlihat begitu ketakutan, keringat dingin bercucuran, dan kedua tangan gemetar lalu disebelahnya lagi ada Zea yang kedua matanya diikat dengan kain hitam.
"Bagaimana? sebuah film yang sangat indah bukan?" Tanya Fildan yang langsung menepikan pisau yang semula tepat di jantungnya kini justru terjatuh dilantai begitu saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️