
Suasana kian mencengkam yang terdengar hanyalah isak tangis Zea dan Iqbal hingga membuat Mikeal dan Rafeal hanya bisa berdiam diri seribu bahasa. Mereka tidak berani mengusik Iqbal dan Zea yang terlihat begitu mencoba menguatkan satu sama lain.
hampir setengah jam berlalu namun pintu operasi belum juga kunjung terbuka, membuat dada Iqbal semakin sesak dan berkecamuk.
(Ya Allah, tolong jaga mereka. Biarkan aku terus memiliki mereka, jangan engkau ambil mereka lebih dulu dariku, aku sungguh begitu bergantung pada mereka. Jika ada yang harus pergi, maka ambillah aku lebih dulu ya Allah, karena tanpa aku mereka pasti akan jauh lebih baik-baik saja dan juga lebih bahagia. Hamba mohon ya Allah selamatkan mereka, hamba mohon.) Beribu doa terus Iqbal panjatkan di dalam hatinya.
"Uma, abang Rakes dan adek bayi, berjuanglah! aku dan ayah masih disini menunggu kalian kembali, tolong jangan tinggalkan aku dan ayah, kembalilah pada kami." Doa Zea masih saja diiringi dengan tangisan pilu, meski berulang kali jemari Iqbal mengusap air mata Zea, tetap saja pipinya basah.
'Klik' Pintu ruang operasi Elsaliani terbuka, dokter pun keluar, dengan cepat Iqbal dan yang lainnya menghampiri sang dokter.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" Tanya Iqbal.
"Alhamdulillah ibu Elsaliani selamat, dia berhasil melewati masa kritisnya." Jelas Dokter.
"Alhamdulillah!" Ujar Zea, Mikeal dan Rafeal hampir bersamaan, ketiganya terlihat sedikit lega.
"Lalu, dimana jenazah anak saya?" Tanya Iqbal yang terus berusaha untuk tegar.
"Jenazah? apa yang ayah bicarakan? siapa yang meninggal? aku baik-baik aja, jangan bilang kalau...." Pertanyaan Zea langsung terhenti seketika saat dengan lembut tangan Iqbal merangkul tubuh Zea.
"Kita harus Ikhlas sayang, ayah yakin rencana Allah pasti lebih baik dari harapan kita." Ucap Iqbal.
"Ayah, bagaimana bisa ayah masih begitu tegar dengan apa yang menimpa kita, jika ayah roboh jangan berusaha untuk kokoh, bukan cuma aku yang butuh bahu untuk bersandar tapi ayah juga." Ungkap Zea yang langsung memeluk erat tubuh Iqbal.
Tangis Iqbal pecah, seketika ia terlihat begitu rapuh dan lemah. Mikeal mendekat lalu merangkul keduanya.
"Jenazah bayinya akan segera dibawa keluar, dan ibu Elsaliani juga akan segera di pindahkan ke ruang rawat, kami turut berduka cita, kalau begitu saya permisi." Jelas Dokter.
"Terima kasih dok!" Ujar Rafeal ramah.
Dokter dan beberapa asistennya berlalu meninggalkan keluarga duka. beberapa suster kini mulai memindahkan Elsaliani ke ruang rawat, Elsaliani terlihat masih terlelap, ada perban di bagian lehernya dan juga sedikit luka gores di pipi kirinya.
"Uma..." Ujar Zea yang langsung mencium kening Elsaliani.
"Maaf, pasien harus segera kami pindahkan keruang rawat, keluarga silahkan menemuinya di ruangan." Jelas seorang suster dan langsung membawa Elsaliani keruangan.
"Mikeal, tolong temani El, abang harus mengurus jenazah Ahmad Ziyad Saka lebih dulu." Jelas Iqbal ketika melihat tubuh mungil bayinya dibawa keluar.
"Baik, uruslah Ziyad dengan baik, aku akan menjaga El sampai abang kembali, aku sudah mengabari semua keluarga, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai." Jelas Mikeal.
"Terima kasih." Ucap Iqbal dengan mata yang masih menatap wajah bayinya.
"Assalamualaikum, dek Ziyad. Kakak menyayangimu namun Allah lebih dan lebih menyayangimu. Tunggu kakak, ayah dan uma di Surga ya sayang." Ucap Zea dengan terbata-bata lalu mengecup lembut kening Ziyad yang kini berada dalam gendongan Iqbal.
"Ayo sayang, ayah akan mengantarkan mu dengan penuh keikhlasan." Ujar Iqbal yang juga ikut mengecup kening Ziyad.
"Zea, pergilah! biar aku yang menunggu Rakes." Jelas Rafeal.
"Terima kasih! Segera kabari aku begitu pintu operasi terbuka." Jelas Zea.
"Baik." Tegas Rafeal.
"Ayo Zea!" Ajak Iqbal yang langsung di ikuti oleh Zea.
Keduanya terus melangkah meninggalkan area rumah sakit.
_________________________
Setelah semua proses pengurusan jenazah selesai, mulai dari memandikan, mengafankan, hingga Iqbal menjadi imam saat menyolatkan jenazah buah hatinya tercinta, kini semua keluarga mulai beriringan mengantar Ahmad Ziyad Saka ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Dengan begitu tabah Iqbal mengantarkan sang buah hati hingga ke liang lahat, mengazankan hingga membaca doa dengan begitu kusyuk.
Zea masih terus menatap makam kecil dengan tanah yang masih begitu basah, ia tidak bisa menahan air mata, meski Zulfa dan Ayu terus menenangkan dan menguatkannya.
"Iqbal, kamu benar-benar seorang ayah yang begitu tangguh dan sempurna. Bapak bangga memiliki putra sepertimu." Ucap Adimaja yang langsung memeluk sang putra tercinta.
"Aku yang bangga terlahir sebagai anak bapak, bapak yang mendidik aku hingga bisa tumbuh jadi ayah yang sabar dan tabah seperti ini. Ziyad, yang begitu kami nantikan kedatangannya, setelah penantian panjang, dan ketika kami hanya perlu menunggu dalam hitung beberapa minggu lagi, da......Allah berkehendak lain, Allah lebih menyayangi Ziyad." Ungkap Iqbal.
"Ayah..." Ujar Zea yang segera memeluk Iqbal.
"Hmmmm!" Ujar Zea.
"Ziyad sudah di surga, tidak ada yang harus ditangisi. Dia sudah tenang di sana." Jelas Rizal.
"Iya, dia akan menunggu abang Iqbal dan El di akhirat nanti." Ujar Arumi.
"Aamiin!" Ucap Iqbal dan Zea.
"Ayo kita pulang, kita harus menjenguk El dan Rakes." Jelas Ismail.
"Ayo abi..." Ujar Zulfa.
"Ayo..." Ajak Adimaja.
Semua keluarga bergegas meninggalkan pemakaman, termasuk istri dari semua anggota tim pasukan khusus juga ikut mengantar kepergian Ziyad kecuali Angel yang memang sedang dalam bertugas.
____________________
Rakes baru saja di pindahkan ke ruang VIP yang letaknya memang bersebelahan dengan ruang VIP dimana Elsaliani dirawat.
Mata Rakes sama sekali belum terbuka, ia masih saja terbaring kaku sejak keluar dari ruang operasi tadi, Rafeal masih begitu setia menunggu Rakes terbangun. Di sisi lain ada Mikeal yang juga begitu setia menunggu Elsaliani membuka mata.
Di luar ruangan sana terlihat prajurit yang berjaga ketat di setiap sudut sehingga tidak ada seorangpun yang di izinkan untuk masuk tanpa izin dari pihak keluarga. Marvel yang baru tiba segera berlari memasuki ruang rawat Rakes.
"Bagaimana?" Rafeal dan Marvel bahkan mengajukan pertanyaan yang sama dalam waktu yang bersamaan.
Sejenak terdiam, lalu Marvel melangkah mendekati Rakes yang masih terbaring kaku.
"Dia masih belum sadarkan diri." Jelas Rafeal.
"Aku dan anggota tim pasukan khusus gagal menangkap Temi." Jelas Marvel, lalu keduanya kembali terdiam dengan mata yang masih setia menatap wajah Rakes.
"Peluru yang menembus bahu Rakes merupakan peluru ilegal dengan racun yang mematikan. Wanita itu sengaja mengunakan peluru itu untuk membunuh Rakes karena selama seminggu yang lalu, Rakes kerap kali menggagalkan beberapa bisnis yang di jalankan oleh anak buahnya Temi." Jelas Marvel.
"Dokter sudah mengatakannya, dia bisa bertahan hingga operasi selesai sudah merupakan sebuah keajaiban. Jenis racun yang mereka masukkan adalah jenis yang sungguh begitu cepat menjalar ke setiap aliran darah namun entah apa yang terjadi dengan tubuh Rakes, dokter pun tidak bisa menjelaskannya. Tubuh Rakes seakan membuat racun membeku bahkan sebelum ia beranjak dari tempatnya. Dokter akan memeriksa ulang kondisi tubuh Rakes setelah ia sadarkan diri." Jelas Rafeal.
"Srigala, bangunlah! kamu harus cepat bangun kalau tidak Kancil akan mengambil alih Princess dalam segala hal!" Cetus Marvel lalu tersenyum beberapa menit dan akhirnya kembali muram.
"Iya, Harimau benar. So jika sampai besok kamu masih betah tidur maka aku akan langsung membungkus Princess." Timpal Rafeal yang juga ikut tersenyum.
"Dimana Princess? dari tadi aku tidak melihatnya? apa dia juga harus dirawat?" Tanya Marvel yang baru menyadari ketidak beradaannya Zea.
"Bayi tante El tidak dapat di selamatkan. Zea dan om Iqbal pulang untuk mengurus jenazah Ziyad." Jelas Rafeal yang kembali murung.
"Innalillahi wainna ilaihi rajiun, surga untuk mu dek." Ucap Marvel lalu menghadiahkan bacaan Al-Fatihah untuk almarhum.
"Apa tante El baik-baik aja?" Lanjut Marvel.
"Hmmmm, dia ada di ruang sebelah di temani oleh om Mikeal." Jelas Rafeal.
"Keluarga om Iqbal benar-benar sedang di uji, semoga mereka semua tetap tabah dan sabar, aamiin" Ucap Marvel.
"Semoga badai ini cepat berlalu. Rakes, bangunlah! saat ini Princess sangat membutuhkan mu, cepat bangun! kamu tidak ingin kan melihatnya sedih, bangun dan buat ia kembali tersenyum!" Jelas Rafeal lalu kembali menundukkan pandangannya.
"Bagaimana keadaan Rakes?" Tanya Hadi dengan suara tegas namun raut wajahnya menggambarkan sejuta rasa khawatir akan keadaan sang putra sulung tercinta.
Melihat kedatangan Hadi membuat Rafeal dan Marvel segera berdiri tegak. Hadi yang baru saja memasuki ruangan, segera mendekat menghampiri Rakes lalu memandangi Rakes dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Rakes, cepat bangun! jika mama datang dan melihat keadaanmu seperti ini, dia pasti akan histeris, atau bahkan dia akan tumbang seketika. Bangunlah!" Pinta Hadi dengan penuh harap lalu dengan lembut ia mulai menyentuh tangan kanan Rakes yang masih terpasang infus. Sentuhan Hadi sama sekali tidak membuat tubuh Rakes bereaksi, ia masih sama, masih tak sadarkan diri.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ