
***Paraaaah, acting kalian berdua keren banget, mau aku kenalkan sama pak Sut ternama?* Kancil.
*😤😤 Lagi emosi, jangan di ajak becanda, gk nafsu!* Harimau.
*Kenapa tidak menghentikan Princess? Srigala.
*Aku suka lihat princess in action😂😂* Kancil.
*🤬🤬* Srigala.
*🤣🤣 sing penting my princess juara kan?? puas banget lihat muka tuh cewek yang begitu ketakutan saat dihantam ama jagoan ku😘😘" Kancil*.
*Situ enak cuma nonton, nah sekarang aku yang kebingungan gimana cara menyelesaikan kekacauan ini.* Harimau.
*Makanya kalau mau ngomong ya mikir dulu!* Srigala.
*Gimana mau mikir kalau punya teman modelnya kayak kalian berdua, ngasal aja law ngebacot, selalu aku yang harus beresin😭😭* Harimau.
*Tenang, aku bakal bantu lewat doa🤲🤲 aman itu😉😉 bisa diatur🤣🤣🤣🤣* Kancil.
*😤😤😤* Harimau.
*Udah buruan selesaikan masalahnya, aku nggak mau kalau sampai Cindy gangguin Princess lagi.* Srigala.
*🙄🙄🙄* Harimau.
*Buruan!* Serigala.
*Gih cepetan🤭🤭* Kancil.
*🤬🤬🤬* Harimau***.
Marvel langsung off dari group chat yang penuh kegilaan tersebut. Marvel bergegas menghadap kepala Sekolah. Ternyata di ruangan tersebut sudah ada Cindy yang ditemani olah papan dan wali kelasnya, dan disebelahnya ada Zea bersama Susi.
"Silahkan duduk pak Marvel." Jelas pak Hilman.
"Maaf saya terlambat." Ujar Marvel dan langsung duduk di samping Zea.
"Tidak apa kok pak." Ujar Haikal.
"Gimana? apa kita sudah bisa memulainya?" Tanya Hilman.
"Sebelumnya, saya pribadi minta maaf. Adik saya mungkin bersalah karena telah menyerang anak bapak, tapi serangan yang adik saya lakukan bersebab, dia melakukannya karena terpaksa, yang dia lakukan murni sebagai bentuk pertahanan diri. Cindy, anak bapak yang memulainya, semua murid yang ada di kantin saksinya." Jelas Marvel yang begitu bijaksana, semua kata-kata ia ucapkan dengan begitu sopan dan pelan.
"Bagaimana pak Hamid? apa bapak akan berdamai atau akan memprosesnya secara hukum?" Tanya Hilman.
"Sudah pak Hamid, jangan lagi memperpanjang masalah ini. Mereka masih labil." Jelas Haikal.
"Meski begitu tetap saja di sini anak saya adalah korban, kalian tidak lihat tangan dan wajahnya lebam begini!" Jelas Hamid.
"Huuuuf, oke! bawa aja ke kantor polisi. Abang Marvel tidak harus membujuk mereka, karena aku sama sekali tidak melakukan kesalahan." Jelas Zea.
"Zea, tenangkan diri mu." Pinta Susi mencoba menenangkan Zea.
"Saya rasa ada baiknya perkara ini cukup sampai di sini. Kita selesaikan secara baik-baik, pihak pak Marvel akan menanggung semua biaya pengobatan Cindy atas luka yang di sebabkan oleh Zea, bagaimana?" Jelas Hilman.
"Pak, mereka ini keluarga Revtankhar, jika pun kita bawa keranah hukum kita tetap akan kalah." Bisik Haikal pelan pada Hamid.
(Revtankhar? jadi dia anak dari pemilik perusahaan tempat saya bekerja? gawat..) Bisik hati Hamid yang mulai gelisah.
"Bagaimana pak Hamid?" Tanya Hilman.
"Saya sudah menganggap semuanya selesai, kami sudah melupakan kejadian ini, tidak ada lagi yang harus di bahas. Kalau begitu kami permisi." Jelas Hamid yang lekas bangun dengan menyeret Cindy bersamanya.
"Tapi pak....." Seru Marvel.
"Kami tidak akan menggugat apapun, bapak tidak perlu khawatir, kami pamit." Jelas Hamid yang langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Saya juga permisi pak!" Ujar Haikal yang ikut keluar.
"Ada apa dengan mereka semua?" Tanya Marvel.
"Apa lagi kalau bukan pengaruh nama Revtankhar!" Ujar Susi santai.
"Marvel, bapak mohon jangan lagi buat masalah, baik adik mu, teman-teman mu, terutama kamu." Jelas Hilman.
"Baik pak, maaf merepotkan bapak dan juga terima kasih." Ujar Marvel.
"Sama-sama." Ujar Hilman.
"Ayo Zea kita kembali ke kelas!" Ajak Susi.
"Baik bu, terima kasih abang." Ucap Zea.
"Hmmmmm kontrol emosi mu!" Ujar Marvel dengan mengusap kepala Zea yang terbalut jilbab sekolahnya.
Zea hanya tersenyum lalu segera mengikuti Susi untuk kembali ke kelas. Marvel juga ikut keluar dari ruang kepala sekolah dan lekas kembali ke ruang guru.
_____________________
"Kenapa menyerangnya?" Tanya Rakes pelan lalu duduk di samping Zea.
Zea segera beralih meletakkan kepalanya ke atas paha Rakes, matanya terus menatap dalam raut wajah Rakes yang berada tepat di atas wajahnya.
"Apa Chim chim takut aku melukainya?" Tanya Zea dengan tangan yang perlahan melingkar di pinggang Rakes.
"Huuuuuuf! jangan cemburukan hal yang tak mungkin pernah terjadi." Jelas Rakes lalu membelai rambut Zea.
"Habis model pertanyaannya gitu, aku kan jadi mikir kemana-mana." Tegas Zea.
"Dalam sekejap nama kamu jadi pusat perhatian di sekolah, ada beberapa yang tak suka, namun lebih banyak yang terpesona dengan ketangguhanmu. Berita mu menyebar di seluruh sekolah, banyak para cowok yang ingin memlndekati mu, mereka ingin memiliki pacar yang berani seperti kamu. Bahkan ada beberapa kelompok yang ingin menjadikan mu anggota mereka, ada pula yang ingin menjadikan mu komplotan untuk tawuran."
"Wowwww, apa Chim chim kenal sama mereka yang mau mengajak aku jadi anggota terdepan tawuran? bakal seru kayaknya jika aku ikut, waaaah harus di coba nih!" Jelas Zea yang begitu bersemangat.
"Zea....."
"Hmmmm, Chim chim kenal? please kenalkan aku pada mereka, jiwa berantem ku seketika menggebu!"
"Kamu sengaja manasin abang?"
"Emangnya Chim chim kompor dipanasi?"
"Ayo biar abang ajarkan tawuran yang sesungguhnya!" Jelas Rakes yang langsung menindih tubuh Zea.
"Yes, Raze join lagi!" Seru Zea yang begitu semangat bahkan dia langsung nyosor duluan.
Namun tiba-tiba saja Zea mendorong kasar tubuh Rakes, ulah Zea membuat tubuh Rakes terjatuh ke sisi kanan, lalu dengan cepat Zea berlari ke kamar mandi.
"Zea, Zea....!" Panggil Rakes yang segera meloncat dari tempat tidur.
Rakes langsung berlari menyusul Zea hingga ke kamar mandi.
"Zea, kamu kenapa? dimana yang sakit?" Tanya Rakes yang begitu panik dan langsung mengusap punggung Zea.
Zea terus saja muntah-muntah dengan tangan yang menggenggam bagian kepalanya.
"Zea...." Panggil Rakes yang semakin ketakutan.
Sejenak menoleh pada Rakes, Zea kembali muntah-muntah, tangan kiri Zea kini menggenggam erat bahu kanan Rakes bahkan ia menekannya hingga membuat Rakes harus menahan rasa sakit, tanpa berani protes sama sekali.
"Zea...." Rakes kembali memanggil Zea membuat Zea kembali menoleh kearahnya.
Wajah Zea terlihat pucat, matanya memerah, dan masih terlihat jelas bekas muntahan di bagian mulutnya.
Dengan begitu lembut Rakes membasuh mulut dan juga wajah Zea. Genggaman Zea mulai melemah membuat Rakes segera beralih mengangkat tubuh Zea lalu membawanya kembali keatas tempat tidur.
"Dimana yang sakit?" Tanya Rakes setelah membaringkan tubuh Zea.
"Nggak tau, kepala aku pening banget, perut aku rasanya mual banget, seluruh tubuh aku lemas semua." Jelas Zea.
"Biar abang telpon dokter sekarang."
"Nggak usah, istirahat sebentar juga nanti baikan."
"Atau biar abang panggil uma."
"Jangan, uma capek, sekarang pasti lagi istirahat, aku nggak mau uma khawatir." Jelas Zea.
"Yakin?" Tanya Rakes.
"Hmmmm, Chim chim nggak lupakan kalau istri Chim chim nih adalah perempuan tangguh, ini nggak seberapa, ayo istirahat!"
Rakes merebahkan kepalanya didekat Zea, lalu tangannya memeluk erat pinggang Zea.
"Besok kita cek ke rumah sakit, abang nggak mau kalau sampai kamu kenapa-napa. Jangan bantah, ini bukan tawaran tapi perintah."
"Siap komandan!" Tegas Zea yang langsung mengecup kening Rakes.
"Ayo tidur, selamat malam istri Chim chim tercinta, tersayang, tercantik dan juga terbobrok!" Jelas Rakes dengan tangan yang mencuil hidung mancung Zea.
"Selamat malam juga suami terthamvaaan ku, terbaik, terwow, terkeren dan juga terrrrr zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Goda Zea.
"Zuzuzuzu zuzuzu zuzuzu!" Seru keduanya hampir serentak lalu sama-sama tertawa.
"Tetaplah sehat selalu, abang nggak mau kalau kamu sampai sakit." Ujar Rakes.
Dengan lembut tangan Rakes membelai wajah pucat Zea lalu membenamkannya ke dalam dekapan hangatnya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️