My Princess

My Princess
#095



"Gimana? udah siap?" Tanya Rakes yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Udah dari kemaren kali!" Cetus Zea dengan wajah juteknya.


"Sorry, soalnya tadi ada tugas dadakan. Abang akan bersiap dengan cepat!" Jelas Rakes dan segera berlari ke ruang ganti.


Zea beranjak bangun dari tepi kasur tempat ia sedari tadi duduk menunggu sang suami mandi. Zea segera menyusul Rakes ke ruang ganti, sejenak berdiam diri memandangi sang suami yang sedang sibuk mengenakan kemejanya lalu melangkah mendekati Rakes.


"Sini aku bantu, kalau nunggu Chim chim bisa telat kita!" Cetus Zea yang langsung mengambil alih pekerjaan Rakes.


Zea terus mangkancingi satu persatu kemeja Rakes hingga selesai. Zea segera meraih sebuah jeans yang berwarna hitam yang terlipat rapi di lemari lalu menyodorkannya pada Rakes.


"Yang ini aja!" Ujar Zea.


"Oke!" Ujar Rakes yang langsung mengambil jeans dari tangan Zea lalu segera memakainya.


Zea kembali mendekat, tangannya berusaha untuk merapikan rambut Rakes yang masih acak-acakan. Ulah Zea yang tiba-tiba menyentuh kepala Rakes, membuat Rakes mengelakkan kepalanya dari sentuhan Zea membuat tubuh Zea kehilangan keseimbangannya, Rakes yang menyadari apa yang terjadi seketika langsung menjadi tameng untuk sang istri, tubuh Rakes terjatuh lebih dulu ke atas lantai lalu berikutnya diikuti oleh tubuh mungil Zea yang mendarat sempurna di atas Rakes.


"Awwwww!" Jarit Zea.


"Zea, dimana yang sakit? kamu baik-baik saja kan?" Tanya Rakes panik sembari terus mengecek keadaan Zea.


"Sakit!" Protes Zea namun dengan mata yang terus memerhatikan raut wajah Rakes yang terlihat begitu panik.


"Maafkan abang, abang benar-benar nggak sengaja!" Pinta Rakes dengan penuh rasa bersalah.


Zea tersenyum puas dengan kepanikan Rakes, Zea segera berdiri, Rakes ikut berdiri.


"Zea, anak kita baik-baik aja kan? Raze junior nggak kenapa-napa kan?" Rakes kembali mengecek seluruh tubuh Zea.


"Chim chim, resletingkan dulu tuh celananya!" Seru Zea dan segera berlari ke luar.


Rakes terdiam mencoba untuk mengingat kembali apa yang baru saja ia dengar, dengan wajah yang memerah sempurna, Rakes segera merapikan celananya.


"Rakes, kamu kenapa jadi salting gini sih? meski sudah lama hidup bersama, aku tetap saja masih dek-dekan dan gugup setiap kali berdekatan dengannya. Zea, kamu selalu saja meluluh lantahkan hati abang!" Ungkap Rakes yang masih berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang sedari tadi terus maraton.


"Chim chim, buruan! ntar kita telat loh!" Panggil Zea yang sudah siap untuk berangkat.


"Iya, nih keluar sekarang!" Seru Rakes sambil melangkah keluar.


"Ayo buruan!" Ajak Zea yang langsung menggandeng tangan Rakes.


"Kamu yakin, kalau tadi itu kamu nggak kenapa-napa?" Tanya Rakes memastikan.


"Nah nah nah nah! oke kan?" Seru Zea sambil berputar-putar di hadapan Rakes.


"Ya udah, ayo!" Ajak Rakes lalu keduanya segera turun.


Setelah berpamitan pada Iqbal dan Elsaliani yang sedang bersantai sambil menonton TV, keduanya segera meluncur menuju tempat tujuan yang menjadi tempat mereka berkumpul menghabiskan malam minggu bersama.


______________________


Restauran mewah dengan menyuguhkan pemandangan langit malam yang di hiasi dengan taburan bintang dan sang rembulan membuat suasana semakin nyaman, di tambah hamparan bunga dengan sejuta warna yang menghiasi setiap sudut membuat suasana romantis kian tercipta.


Restauran dengan desain outdoor memang menjadi tempat paling diincar oleh para pasangan saat ini, terbukti dengan keadaan restauran yang saat ini di penuhi oleh para pelanggan yang memang merupakan dari kalangan para pasangan remaja.


Di Meja nomor delapan sana, tampak Zafran bersama Qalesya, Kania dan juga Rafeal lalu diikuti dengan kedatangan Rakes dan Zea yang langsung bergabung dengan mereka.


"Marvel belum datang?" Tanya Rakes yang baru saja duduk di samping Kania lalu disusul oleh Zea di sebelahnya.


"Masih di jalan katanya!" Jelas Kania.


"Aku pulang!" Tegas Rafeal yang langsung bangun dari kursinya.


"Duduk!" Perintah Rakes.


"Kalian gila, ngapain coba kalian ajak aku ke sini? kalian sengaja kan mau jadiin aku sebagai obat nyamuk kalian, dasar sadis!" Gumam Rafeal kesal.


"Makanya cari pasangan, jangan cari duit mulu!" Cetus Zea.


"Ini juga lagi usaha au ah! aku mau pulang!" Jelas Rafeal.


"Abang Rafeal masak gitu, ini bukan acara pasangan loh, ini itu makan malam dalam rangka kebersamaan kita!" Jelas Kania.


"Nah Kania benar, udah! abang duduk gih!" Pinta Qalesya yang menarik ujung kaos Rafeal agar kembali duduk di sampingnya.


"Udah tenang aja, kami bakal nyediain pasangan kok buat abang!" Jelas Zafran.


"Nggak perlu! aku masih bisa cari sendiri!" Cetus Rafeal lalu kembali duduk.


"Yakin bisa? perasaan sejak SMP sendiri mulu!" Seru Zea.


"Lama-lama kamu jadi kayak Rakes deh, sadis, kalau ngomong ngasal mulu, nggak ada remnya sama sekali, hati dan perasaan orang pun kalian hantam saja!" Jelas Rafeal.


"Ya emang kak Zea benar kan? aku juga nggak pernah tuh lihat abang pacaran. Abang Bian, abang Taufan dan juga abang Rayyan meski jarang tapi aku pernah lihat mereka jalan sama pacar mereka, lah abang, aku sama sekali tidak pernah melihatnya!" Jelas Kania.


"Lama-lama kalian semua mulai terkena virus Rakes deh!" Cetus Rafeal.


(Bagaimana bisa aku jalan sama cewek lain, jika hati dan otak aku hanya di penuhi oleh kamu. Aku bahkan tidak bisa melihat gadis lainnya, ntah lah aku tidak tau bagaimana hati aku bekerja yang jelas disini, di hati ini, hanya terisi dengan mu, Kania) Bisik hati Rafeal.


"Sorry telat!" Pinta Marvel yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Kania tepatnya di kursi paling ujung.


"Emang udah kebiasaan kamu kan datang telat mulu!" Cetus Rafeal.


"Ya maaf!" Ujar Marvel lalu tersenyum pada sang kekasih tercinta.


"Kak Ana mana? katanya ikut?" Tanya Kania.


"Ada tuh di belakang!" Jelas Marvel.


"Sorry, karena aku kalian harus nunggu lama." Pinta Maryana yang baru saja bergabung.


"Santai aja, ayo duduk!" Ujar Zafran.


"Terima kasih!" Ujar Maryana yang mau tak mau harus duduk di sebelahnya Rafeal karena memang hanya di situ satu-satunya kursi yang tersisa.


"Udah lengkap kan? ayo pesan, aku lapar!" Jelas Qalesya.


"Sama aku juga lapar banget, ayo kita pesan!" Jelas Maryana diakhiri dengan tawa lepasnya.


Mereka langsung memesan makanan kesukaan mereka masing-masing, sambil menunggu pesanan datang mereka kembali mengobrol dan membahas bahkan hal yang tak penting sama sekali pun menjadi bahan perdebatan mereka terutama antara Maryana dan Rafeal yang kerap kali berbeda persepsi. Hingga akhirnya makanan datang lalu mereka sejenak menghentikan obrolan mereka yang memang sama sekali tak berfaedah lalu segera menyantap makan malam mereka dengan penuh semangat.


"Lapar amat, sampai makannya aja begitu persis kayak abangnya, padahal anak orang kaya tapi kok kayak orang kelaparan ya, keluarga yang aneh!" Ujar Rafeal pelan setelah memperhatikan cara Maryana makan yang memang foto copy dari Marvel.


"Jadi cowok kok bawel banget sih, terserah dong kan yang ngunyah mulut aku sendiri kok kamu yang repot!" Cetus Maryana kesal.


"Cieeee, abang Rafeal bukannya bawel kak, dia itu perhatian sama kakak!" Ujar Kania.


"Iya benar banget, biasanya orang yang suka curi-curi pandangan itu artinya sedang jatuh cinta loh!" Goda Qalesya.


"Jadi kak Ana gebetan kamu, wuiiiih mata kamu memang pandai dalam memilih, aku sebagai sahabat seratus persen mendukung, secara kamu kan Alhamdulillah banget tuh dapat kak Ana, yah mesti pun kak Ana bakal Astaghfirullah karena dapatin kamu." Jelas Zea.


Penjelasan Zea sukses membuat semua orang tertawa.


"Kamu sebenarnya teman atau musuh sih?" Gumam Rafeal.


"Ya teman dong!" Seru Zea.


"Tapi kalian cocok kok, kak Ana yang bawaannya tenang dan abang Rafeal yang ceroboh!" Goda Zafran.


"Dia bukan tipe aku!" Cetus Maryana dan kembali fokus makan.


"Situ juga bukan tipe aku kali!" Cetus Rafeal yang juga kembali melanjutkan makan.


"Banyak loh pasangan yang awalnya benci eh ujung-ujungnya cinta mati!" Ujar Marvel.


"Awas aja ntar bucin loh!" Goda Rakes.


"Ihhh nggak bakal!" Tegas Rafeal dan Maryana hampir bersamaan.


"Nah, mulaikan! wuiiih keliatan sih mulai ada benih-benih cintong!" Ujar Kania.


"Amit-amit!" Cetus Maryana.


"Ciiiih!" Gumam Rafeal.


"Khmmmm, dari benci jadi cinta, dari sebel jadi bucin, awassss ntar nyangkut loh!" Jelas Zea.


"Tapi serius, aku restui hubungan kalian." Jelas Marvel.


"Wowwww lampu ijo tuh!" Seru Qalesya.


"Udah jadian aja, kan sama-sama jomblo!" Ujar Zafran.


"Aku punya pacar!" Tegas keduanya dan kali ini dalam waktu yang bersamaan.


"Nah nah nah!" Goda Zea.


"Wuiiih mulai kompak bro!" Seru Rakes.


"Sikat!" Seru Zafran.


Rafeal dan Maryana menghentikan kegiatan makan mereka, sejenak saling memandang lalu menghembuskan nafas kasar membuat yang lainnya semakin bersemangat untuk menggoda keduanya.


Dari kejauhan, sepasang mata terus memerhatikan mereka bahkan sejak mereka pertama kali datang. Mereka terus menjadi pusat perhatian penghuni meja nomor sebelas yang memang letaknya tidak terlalu dekat dari meja dimana Rakes dan kawan-kawan bercanda ria.


Penghuni meja sebelas mulai bangun, tangannya terus ia selipkan dalam saku jaketnya, yah seorang cowok dengan pakaian serba hitam dan juga seorang gadis yang menutup wajahnya dengan masker, pasangan tersebut mulai bergerak terus melangkah menuju meja nomor delapan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️