
Semua murid terlihat begitu larut dengan pembahasan yang sedang di jelaskan oleh guru mereka. Ntah mengapa hari ini seisi kelas begitu penurut, tidak ada yang sibuk dengan hal lainnya hingga suara pintu yang di ketuk dari luar sejenak mengalihkan perhatian seluruh kelas.
"Permisi pak Anton!" Ujar Susi yang datang bersama seorang murid baru.
"Bu Susi, silahkan masuk!" Ujar Anton.
"Saya hanya mengantarkan siswa baru yang akan bergabung di kelas ini. Baiklah, nak masuklah!" Jelas Susi.
"Terima kasih bu!" Ujar siswa baru tersebut.
"Silahkan perkenalkan diri kamu pada semua teman-teman baru mu!" Jelas Anton.
"Assalamualaikum semuanya, nama saya Ivent Darman, panggil saja Ivent. Salam kenal!" Jelas Ivent yang terdengar begitu kaku, mungkin karena ini adalah hari pertama dia bergabung dengan kelas barunya.
"Hmmmm, duduklah kalau begitu saya permisi, terima kasih pak Anton." Ujar Susi.
"Sama-sama bu!" Ujar Anton.
Susi lekas keluar dari kelas tersebut, sedangkan Anton langsung duduk di kursi kosong tepatnya di sudut ruangan sana. Pak Anton kembali melanjutkan pelajaran nya hingga bel istirahat membuat dirinya mengakhiri kelas hari ini.
Setelah Anton keluar, tanpa tunggu lama, semua murid pun ikut keluar dan segera menyerbu kantin.
Rafeal bangun dari kursinya lalu melangkah mendekati meja sang anak baru.
"Rafeal!" Ujar Rafeal sambil mengulurkan tangannya.
Bukannya menjabat tangan Ivent malah bangun namun dengan cepat Rafeal menendang kakinya Ivent hingga membuat Ivent kembali terduduk.
"Besok pindahlah ke kursi ku." Bisik Rafeal.
"Apa yang kamu bisikkan?" Tanya Bian yang tiba-tiba muncul di dekat keduanya.
"Aku memintanya untuk jadi anggota kita." Jelas Rafeal.
"Lalu?" Tanya Rayyan yang juga ikut bergabung.
"Apa?" Tanya Rafeal tak paham.
"Ya hasilnya? gimana mau gabung?" Tanya Rayyan.
"Dengan senang hati." Jelas Ivent dengan senyuman.
"Ayyyo ke kantin, lapar!" Ajak Zea dengan suara lantangnya.
"Let's go!" Seru Taufan penuh semangat.
"Selamat datang anggota baru, nggak perlu canggung karena sebenarnya aku juga masih bari di club ini." Jelas Namira sambil merangkul bahu Ivent.
"Baiklah!" Ujar Ivent.
"Ayo buruan ke kantin." Ajak Bian yang segera berlari keluar mengejar Zea yang telah lebih dulu berjalan di depan.
Semuanya segera menyusul ke kantin.
___________________
Club Zea yang memilih duduk di meja paling pojok kantin sana terlihat sedang menunggu pesanan sambil mengintrogasi sang anggota baru.
"Alasan pindah?" Tanya Bian.
"Ikut orang tua!" Jawab Ivent.
"Sekolah sebelumnya?" Tanya Taufan.
"Nggak usah di jawab! bikin pusing aja, pertanyaannya nggak berbobot sama sekali!" Cetus Rafeal yang semakin asyik mengunyah kerupuk yang ada di atas meja.
"Sialan loh!" Gumam Taufan kesal.
"Keahlian kamu apa?" Tanya Zea.
"Agresif!" Jawab Ivent spontan.
Jawaban Ivent sukses membuat semua mata memelototi dirinya.
"Agresif!" Gumam semuanya dengan mengernyitkan kedua alis mereka.
"Aah! kalian jangan salah paham! agresif dalam segala situasi maksud aku, yah lebih tepatnya sigap atau hmmmm!" Jelas Ivent yang begitu kebingungan.
"Gesit!" Seru Namira dan Zea serentak.
Diikuti dengan tawa semua anggota.
Pesanan pun datang, bakso yang begitu menggiurkan kini tepat di hadapan mereka, semuanya mulai beraksi, namun Zea yang mulai mual-mual, membuat semua tangan berhenti bekerja, mereka malah menatap kearah Zea.
"Sejak kapan kamu musuhan sama makanan kesayangan mu ini?" Tanya Bian yang benar-benar tidak bisa mengerti dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Nggak tau, tiba-tiba aku enek banget sama baunya!" Tegas Zea yang kembali mual.
"Wah wah wah ada yang janggal nih kayaknya!" Seru Cindy sambil terus mendekati meja di mana Zea dan teman-temannya berada.
"Maksud kamu?" Tanya Rayyan.
"Yakin kalian nggak curiga sama sekali?" Tanya Cindy.
"Ya kamu benar Cindy, aku mulai curiga, sebenarnya masalah kamu apa sih sama Zea? apa kamu punya dendam di masa lalu? atau kamu mulai merasa tersaingi?" Jelas Rafeal.
"Jaga mulut besar mu itu! tapi kali ini firasat aku pasti benar, Zea kamu hamil kan?" Jelas Cindy dengan terus menatap horor wajah Zea.
Ucapan Cindy untuk beberapa saat sukses membuat Zea kaget bukan kepalang, ia bahkan terdiam seribu bahasa dengan mata yang melotot sempurna.
"Kamu hamil juga, Ivent? waaah dua anggota club kita hamil nih, wiiih bakal tambah rame pasukan kita!" Cetus Rafeal sembari membalas tatapan Cindy.
"Kayaknya bukan cuma Zea dan Ivent deh, aku juga hamil nih kayaknya!" Jelas Taufan yang ikut-ikutan pura pura enek.
"Aku juga deh kayaknya!" Timpal Namira.
"Kalian!" Gumam Cindy kesal.
"Ayo ke rumah sakit! jadi nggak sabar pengen cepat-cepat lihat ponaan aku!" Jelas Rayyan yang langsung bangun dari bangkunya.
"Ayoo!" Ajak Namira penuh semangat dan ikut bangun.
Yang lain juga ikut bangun lalu meninggalkan meja tersebut. Rafeal yang bangun belakangan, perlahan mendekat pada Cindy.
"Sedikit saja kamu usik ketenangan Zea dan semua anggota club ini, akan ku ubah sekolah ini menjadi neraka bagi kamu. Oh ya, sekedar informasi, aku punya mata-mata yang mengawasi kamu bahkan sampai dua puluh empat jam, jadi jangan coba-coba untuk menyentuh Zea lagi, ingat itu!" Bisik Rafeal tepat di telinga Cindy.
"Kakak tenang aja, setelah USG nanti, aku bakal kabari kakak tentang jenis kelamin anak yang ada dalam kandungan aku, permisi!" Ujar Ivent dan lekas mengikuti yang lainnya yang telah lebih dulu meninggalkan kantin.
"Kurang ajar! Lihat aja, aku bakal buat kalian semua menyesal atas perlakuan kalian hari ini. Zea, aku akan membuat hari-hari mu di sekolah ini semakin menyeramkan, akan aku hancurkan kamu sehancur-hancurnya!" Gumam Cindy dengan penuh ambisi lalu lekas pergi karena saat ini ia baru menyadari bahwa sedari tadi semua siswa-siswi yang ada di kantin terus saja memperhatikan dirinya.
________________________
Hujan yang awal nya hanya gerimis kini perlahan berubah menjadi begitu deras, angin kian kencang dengan diikuti petir dan guruh yang mulai menyambar. Mobil Rakes berhenti tepat di halaman rumahnya, lalu ia dan sang istri lekas keluar dan berlari-lari kecil menuju teras.
"Beneran kan tambah lebat!" Seru Zea sambil memperhatikan hujan yang kian lebat.
"Ya udah ayo masuk, kita di sini aja dulu!" Jelas Rakes yang langsung merangkul Zea dan hendak masuk.
"Woiii tunggu!" Panggil Marvel dengan suara lantang dan segera berlari ke teras rumah.
"Dari mana?" Tanya Rakes.
"Nih!" Ujar Marvel sambil memperlihatkan belanjaannya.
"Ayo makan, kebetulan aku lapar banget! ayo!" Ajak Zea yang begitu semangat saat melihat bungkusan makanan dari plastik yang ada di tangan Marvel.
"Ayo!" Ajak Marvel yang langsung masuk.
Ketiganya segera menuju ke ruang makan, Marvel langsung meletakkan belanjaannya di atas meja.
Rakes bergegas mengambil piring serta sendok, lalu meletakkannya keatas meja.
Zea segera mengeluarkan semua bungkusan makanan lalu meletakkannya ke atas piring, Marvel kembali dengan membawa tiga gela air putih.
"Wanginya! pasti lezat banget!" Ujar Zea setelah membuka bungkus makanannya.
"Makanlah! kalau mau nambah nih!" Ujar Marvel.
"Buat aku mana?" Tanya sebuah suara yang perlahan mulai mendekati meja makan.
"Kamu siapa? kenapa bisa ada di rumah aku?" Tanya Rakes.
"Kamu tanya siapa aku? hah lucu!" Seru gadis cantik tersebut.
Gadis yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun putih panjang dan rambut sebahu yang terurai indah. Gadis tersebut terus mendekat.
"Siapa kamu? kenapa tiba-tiba muncul di rumah aku?" Tanya Marvel yang segera bangun.
"Rumah aku kata mu? kalian berdua benar-benar membuat aku emosi? kalian masih muda, nggak mungkinkan kalau kalian pikun? atau kalian amnesia berjamaah? dasar kurang ajar! bisa-bisanya kalian melupakan aku begitu saja!" Gumam gadis tersebut yang terlihat semakin kesal.
"Apa hubungan kamu dengan kedua lelaki ini?" Tanya Zea yang perlahan bangun dari kursinya.
"Kamu bertanya tentang hubungan kami? dengar ya, tidak ada yang bisa memisahkan kami bertiga, begitulah hubungan kami, Rakes dan Marvel adalah bagian terpenting dalam hidup aku!" Jelas gadis tersebut.
"Bohong! aku bahkan tidak mengenal kamu!" Cetus Rakes.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Marvel dengan penuh amarah.
"Kalian semakin tampan saat marah!" Goda sang gadis dengan tangan kiri yang menyentuh wajah Rakes dan tangan kanan yang menyentuh wajah Marvel.
"Stop!" Tegas Zea dengan air mata yang ntah sejak kapan sudah membasahi wajahnya.
"Zea, jangan dengarkan wanita ini, abang sama sekali tidak mengenalnya!" Tegas Rakes.
"Setelah bersama-sama selama bertahun-tahun lamanya, kamu bilang nggak kenal?" Cetus gadis tersebut.
"Berhenti berbohong!" Bentak Marvel yang langsung menyeret gadis tersebut.
"Berhenti! aku masih ingin mendengar pejelasan nya!" Jelas Zea.
Permintaan Zea membuat Marvel berhenti, Zea melangkah mendekati kembali gadis tersebut, Rakes juga ikut mendekat.
"Diantara mereka berdua, yang mana kekasih mu?" Tanya Zea.
"Zea......" Seru Rakes dan Marvel serentak.
"Jawab, yang mana? abang Marvel atau abang Rakes?" Tanya Zea.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️