My Princess

My Princess
#153



'Bruuuuuk' Tubuh Rakes ambruk ke lantai, ia terkulai tak sadarkan diri.


"Chim chim!" Teriak Zea panik dan langsung memeluk erat tubuh lemah Rakes.


"Abang bangun! aku bilang bangun!" Teriak Zea histeris dengan tangan yang menggenggam erat kerah kemeja Rakes.


Semua bergegas menghampiri Rakes dan Zea. Tangan Elsaliani perlahan menyentuh bagian leher Rakes, sesaat kemudian tubuh Elsaliani yang ikut terjatuh ke lantai.


"Sayang, sayang bangun!" Gundah Iqbal yang semakin panik.


"Cepat ambil mobil!" Teriak Marvel yang langsung mengangkat tubuh Rakes.


Iqbal pun dengan cepat mengangkat tubuh Elsaliani sedangkan Ivent segera berlari mengambil mobil.


"Ya Allah jagalah menantu dan juga cucu menantu ku, jagalah keduanya ya Allah, hamba mohon!" Tangis Ayu didalam dekapan Adimaja.


"Mereka akan baik-baik saja kan?" Tanya Tia yang tak kalah panik dari yang lainnya.


"Iya sayang, mereka berdua akan segera membaik!" Ujar Alam yang terus menenangkan sang istri.


"Uma, abang, aku mohon bertahanlah untuk aku dan ayah!" Pinta Zea dengan langkah yang terus berlari mengikuti Iqbal dan Marvel.


"Biar aku dan Lexel yang mengurus Damar dan pasukannya, kalian pergilah ke rumah sakit, saat ini Iqbal butuh kalian di sana." Jelas Luqman.


"Baiklah, aku sudah menghubungi Angel, sebentar lagi dia dan rekannya akan tiba." Jelas Hendra.


"Siap pak!" Tegas Lexel.


Yang lain segera bergegas menyusul Iqbal yang sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit.


_________________


Mobil yang dikemudikan oleh Ivent terus melaju membawa Iqbal dan Elsaliani menuju rumah sakit. Di jok belakang sana, Iqbal terus saja menatap sang istri dengan air mata yang terus saja menetes tak terkendali, tangannya begitu setia mendekap wajah dingin Elsaliani.


"Sayang, aku mohon tetaplah disini! jangan kemana-mana, jangan biarkan aku sendiri! aku mohon bertahanlah untuk aku dan Zea, jangan pergi!" Tangis Iqbal yang begitu ketakutan tangannya bahkan begitu gemetaran saat merasakan wajah Elsaliani yang seakan dingin membeku.


_______________


"Mas...." Panggil Elsaliani pelan sambil berdiri di belakang tubuh Iqbal lalu perlahan mengusap lembut punggung Iqbal.


"Hmmmmm, ada apa? kangen Excellent servis ya?" Goda Iqbal.


"Mas, El serius! ada hal yang ingin El bicarakan!" Jelas Elsaliani lalu perlahan melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


"Mas juga serius! apa? bicaralah, akan abang dengarkan semuanya, termasuk cerita tentang drama korea favorit sayang!" Iqbal kembali menggoda sang istri.


"Mas....." Cetus Elsaliani kesal.


"Oke, mas Serius! apa?" Ujar Iqbal yang perlahan berbalik menghadap Elsaliani.


"Mas, jika nanti El pergi lebih dulu dari mas, tolong jaga Zea dan Rakes dengan baik, pastikan kalau mereka berdua hidup bahagia bahkan lebih bahagia dari kita berdua!" Jelas Elsaliani.


"Nggak mau!" Tegas Iqbal.


"Mas!"


"Sayang harus hidup lebih lama dari mas, sayang sendiri yang harus memastikan sendiri hidup mereka!"


"Mas, tidak ada yang tau takdir hidup kita. Semua itu rahasia, ajal, riski dan jodoh. Sama seperti El yang tak pernah menyangka akan berjodoh dengan lelaki yang dulu pernah menyelamatkan nyawa El, begitu pula dengan kematian, tak ada yang tau pasti kapan ia akan datang. Mas, El sangat mencintai mas, bahkan lebih dari rasa cinta untuk diri El sendiri!" Jelas Elsaliani lalu menghadiahkan sebuah kecupan lembut di pipi kiri sang suami.


Ingatan tentang kejadian Kemaren pagi buyar seketika, kini yang ada di hadapannya adalah Elsaliani yang tak sadarkan diri.


"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan mas! kenapa selalu saja kalian berdua yang harus terluka, waktu itu kalian sudah membuat aku tidak bisa bernafas dengan lega dan sekarang lagi lagi kalian terluka karena aku, maafkan mas sayang, maafkan ayah Rakes, ayah tidak bisa menjaga kalian dengan baik, karena lagi dan lagi kalian kembali terluka kerena berdiri di samping aku." Iqbal semakin larut dalam tangis yang begitu memilukan.


(Kalau sampai Chim chim ingkar janji, maka sampai akhirat aku akan tuntut Chim chim! Chim chim sudah buat janji untuk menjaga aku di sepanjang umur ku. Jangan buat aku marah! bangunlah! jangan buat aku membenci mu! aku bilang bertahanlah untuk aku yang sama sekali tidak bisa hidup tanpa Chim chim di sisi aku, ini bukan permintaan tapi ini perintah! Rakes Al Maliki, kamu harus tetap berdiri di samping aku!) Tegas hati Zea dengan penuh penekanan, matanya semakin memerah, sejak tadi ia terus saja menahan tangisnya.


_____________________


Sejak subuh tadi Rakes langsung di bawa ke ruang operasi dan hingga jam tujuh pagi pintu ruang operasi sama sekali belum terbuka.


Zea masih betah berdiri mematung di depan pintu dengan di dampingi oleh Rafeal dan Marvel, ketiganya bahkan sama sekali tidak berkedip memandangi pintu ruangan tersebut.


Di kursi tunggu ada Adimaja, Tia, Mikeal, Alam, Hendra dan juga Ivent sedangkan Ayu dan Iqbal sedang menemani Elsaliani yang masih belum sadarkan diri di ruang rawat sana.


"Kalian bertiga duduklah!" Pinta Adimaja.


"Nggak!" Jawab Marvel, Rafeal dan Zea bahkan dalam waktu yang bersamaan.


"Tante tau kalau kalian begitu mengkhawatirkan Rakes, tapi setidaknya duduklah, kalian juga harus menjaga diri kalian, jika kalian juga tumbang lalu siapa yang akan menjaga Rakes!" Jelas Tia yang perlahan mendekati ketiganya.


"Aku baik-baik saja!" Lagi dan lagi mereka memberikan jawaban yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.


Disaat itu pula pintu ruang operasi di buka, membuat semua orang yang sedang duduk segera menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rafeal.


"Dia baik-baik saja kan? dia akan segera bangun kan?" Tanya Zea.


"Dokter! jawaban!" Gumam Marvel.


"Kalian tenanglah dulu, bagaimana dokter bisa bicara jika kalian terus menyerangnya dengan pertanyaan!" Jelas Alam.


"Rakes telah melewati masa kritisnya, kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat." Jelas Dokter.


"Syukurlah!" Ujar Mikeal lega.


"Dasar bajingan!" Maki Marvel dengan tawa bahagia.


"Serigala kita melakukannya dengan baik!" Ujar Rafeal lega.


"Daddy menepati janjinya pada kita, Raze Junior!" Ujar Zea sambil mengusap pelan perutnya yang mulai membuncit.


"Tapi, saya harus bicara dengan walinya! siapa walinya? mari ikut ke ruangan saya!" Jelas Dokter.


"Saya istrinya!" Jelas Zea.


"Zea....!" Ujar Hendra yang langsung mencegah Zea.


"Saya papanya, saya yang akan ke ruangan dokter!" Jelas Hadi yang baru tiba dan langsung mengikuti dokter.


"Mari pak!" Ajak sang dokter.


"Sayang, biar papa yang urus, ayo kita ke ruang rawat Rakes. sekarang, dia butuh kamu di sisinya.!" Jelas Erina yang langsung merangkul bahu Zea.


"Baik ma!" Ujar zea menurut.


Semuanya segera ke ruang rawat dimana Rakes berada sekarang.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ