
"Termenung jauh nampaknya!" Cetus Marvel yang berdiri diambang pintu sana.
"Kamu datang sendirian? dasar! bagaimana kalau luka mu tambah parah?" Gumam Rafeal yang segera meloncat dari ranjang lalu segera menghampiri Marvel.
Rafeal langsung mencoba untuk membopong tubuh Marvel namun sebelum itu terjadi, Marvel sudah lebih dulu menolaknya.
"Udah sembuh kali! awas Kapten Marvel mau lewat!" Cetus Marvel dengan mendorong bahu Rafeal dan lekas menuju ranjang.
"Syukurlah kalau memang begitu!" Ujar Rafeal yang ikut rebahan di sampingnya Marvel.
"Aku kira aku yang pertama datang, ternyata paling akhir rupanya." Ujar Rakes yang baru saja masuk dan ikut rebahan di samping Rafeal.
"Masih ada waktu lima belas menit, ayo main!" Ajak Rafeal dan langsung duduk.
"Nggak ah, ntar yang ada makan hati, curang mulu mainnya!" Cetus Marvel yang memang hafal betul dengan perangai Rafeal.
"Ogah!" Cetus Rakes.
"Ciiiih punya teman berasa musuh semua! nasib ya nasib!" Jelas Rafeal kesal dan kembali rebahan.
"Malam itu, apa yang kalian bicarakan dengan om Kapten Iqbal?" Tanya Marvel.
"Kok kamu tau?" Rakes malah balik bertanya.
"Kan waktu itu aku telpon kamu, terus Zea yang angkat, dan katanya kalian berdua lagi di ruangan kapten Iqbal, emang Zea nggak cerita?" Jelas Marvel.
"Zea nggak bilang tuh!" Ujar Rakes.
"Nggak penting makanya princess nggak bilang, lagi pula yang kami bahas cuma hal sepele!" Cetus Rafeal.
"Mau hal sepele atau darurat aku ingin mendengarnya!" Tegas Marvel.
"Ntar kita ceritakan kok!" Jelas Rakes.
"Sekarang!" Tegas Marvel.
"Kamu lupa apa tujuan kita kumpul di sini? bentar lagi kita harus menghadap kepala!" Jelas Rakes.
"Kan masih ada waktu tiga belas menit!" Jelas Marvel.
"Oke fine, biar aku yang cerita!" Ujar Rafeal.
"Buruan!" Cetus Marvel.
"Malam itu,,,,,,," Rafeal mulai bercerita.
___________________
"Kalian, yang lain dimana?" Tanya Iqbal yang terlihat sibuk dengan tumpukan kertas putih yang ada di atas mejanya.
"Yang lain di bawah sama uma dan Zea." Jelas Rafeal.
"Duduklah! tidak perlu tegang gitu, malam ini om ingin bicara sebagai ayah kalian bukan sebagai partner kerja." Jelas Iqbal.
"Siap!" Jawab keduanya serentak dan masih saja berdiri tegap.
"Ayo sini!" Pinta Iqbal.
"Maaf! waktu itu saya lancang mengatakan kalau jabatan saya lebih tinggi dari kapten, karena saya memang tidak tau kalau sebenarnya kapten adalah Mayor." Jelas Rakes.
"Ayah tidak ingin membahas hal itu." Jelas Iqbal.
"Kenapa menyembunyikan pangkat yang sebenarnya?" Tanya Rafeal yang perlahan duduk di samping Iqbal.
"Bila saatnya tiba akan ayah ceritakan semuanya, dan sekarang ayah ingin jadi pendengar, kalian berdua yang harus bercerita!" Jelas Iqbal.
"Bercerita? tentang apa?" Tanya Rakes yang masih betah berdiri.
"Duduklah dulu!" Pinta Iqbal.
Rakes menurut, ia segera duduk di dekat Rafeal.
"Pertama ayah ingin laporan dari Rafeal, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Zea harus di dirawat di rumah sakit?" Tanya Iqbal.
"Terjadi pertengkaran antara Zea dan Cindy di toilet, dan saat kejadian berlangsung aku tidak masuk sekolah karena sedang menjaga Marvel di rumah sakit." Jelas Rafeal.
"Cindy? ayah baru mendengar nama itu, siapa dia?" Tanya Iqbal.
"Kakak kelasnya Zea, daaannnn...." Penjelasan Rafeal terhenti dengan mata yang menatap kearah Rakes.
"Apa?" Tanya Rakes yang merasa bahwa dirinya sedang ditatap oleh Rafeal.
"Jadi Cindy suka sama Rakes?" Tanya Iqbal yang paham dengan tatapan Rafeal.
"Nggak mungkin, ayah nggak usah dengerin dia!" Tegas Rafeal.
"Sayangnya ayah percaya dengan Rafeal." Jelas Iqbal.
"Jadi semua ini terjadi karena salah aku? kenapa bisa aku tidak peka dengan semua ini!" Jelas Rakes yang begitu kecewa pada dirinya sendiri.
"Mana mungkin ini salah kamu, emang kamu yang minta dia untuk jatuh cinta padamu dan satu lagi, harusnya aku yang salah karena tidak ada di samping Zea." Jelas Rafeal.
"Terima kasih karena kalian berdua begitu peduli dan perhatian pada Zea, kalian bahkan menjaganya dengan begitu baik. Ayah tidak akan lagi mempertanyakan tentang kejadian itu, tapi bolehkah ayah tau kenapa kalian di 'Dipanggil Pulang' ?" Jelas Iqbal dengan melemparkan pandangannya pada Rakes dan Rafeal secara bergantian.
"Itu, hmmmmm!" Ungkap Rafeal yang terlihat kesusahan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang Iqbal ajukan.
"Mungkin karena kelalaian Rafeal dalam bertugas hingga membuat Zea terluka atau bisa jadi karena kejadian malam itu yang membuat Rafeal dan Marvel terluka, aku rasa karena itu kami 'dipanggil pulang' "Jelas Rakes.
"Mereka yang terluka atau luka yang ada di perut mu itu?" Tanya Iqbal yang sontak membuat Rafeal syok.
"Kamu terluka? coba aku periksa!" Pinta Rafeal.
"Udah baikan!" Cetus Rakes sambil menepis tangan Rafeal yang hendak menyentuh bagian lukanya.
"Rakes, apa kamu melakukan misi personal?" Tanya Iqbal.
"Kamu bahkan tidak mengatakan apapun pada aku dan Marvel, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rafeal.
"Aku, aku tidak melakukan apapun! kalian tenanglah!" Jelas Rakes.
"Lalu kapan kalian di minta untuk pulang ?" Tanya Iqbal.
"Senin depan." Jelas Rafeal.
"Jika ini tentang kejadian malam itu, ayah ingin colab, ayah akan ajukan permohonan." Jelas Iqbal.
"Apa ayah benar-benar ingin kembali bertemu dengan Lestari dan juga anaknya?" Tanya Rakes.
"Kenapa mengajukan pertanyaan seperti itu?" Tanya Iqbal.
"Seharusnya ayah tegaskan pada mereka semua kalau sebenarnya aku...." Rakes yang mulai terpancing emosi namun akhirnya terdiam kembali dengan kepala yang tertunduk.
"Apa ini rahasia keluarga? apa ada cerita yang tidak boleh aku dengar?" Tanya Rafeal yang begitu paham dengan keadaan yang sedang terjadi.
Rakes masih tertunduk, perlahan air mata mulai menetes dari kedua mata beningnya hingga mendarat di bagian lantai. Iqbal sejenak menarik nafas dalam lalu menghempaskan punggungnya di sandaran sofa.
"Jangan lagi buka kisah lama, ayah bahkan sudah melupakannya." Ujar Iqbal.
"Bagaimana bisa aku melupakannya, semua terjadi karena aku." Tegas Rakes.
"Aku tidak mendengar apa-apa, ayah sama Rakes bicaralah berdua!" Ujar Rafeal lalu memasang earphone ke telinganya.
"Lepaskan benda itu, tidak ada yang harus kami bicarakan berdua. Dan juga soal kalian yang akan pulang, jangan katakan apapun pada Zea, selama kalian nggak ada ayah sendiri yang akan mengawasi Zea, kalian tenang saja, selesaikan tugas kalian dengan baik." Jelas Iqbal.
"Siap!" Jawab keduanya serentak lalu bangun dari tempat duduk mereka.
"Kalian sudah boleh keluar." Ujar Iqbal.
"Kami permisi, selamat malam!" Ujar Rafeal lalu merangkul bahu Rakes dan lekas keluar dari ruangan Iqbal.
________________
"Yakin cuma itu?" Tanya Marvel setelah Rafeal mengakhiri ceritanya.
"Jadi? mau tambah lagi?" Rafeal malah balik mengajukan pertanyaan.
"Tapi tunggu? terluka? di bagian mana?" Tanya Marvel yang kembali ingat dengan cerita tentang Rakes yang terluka.
Marvel segera mengecek perut Rakes, bahkan tanpa permisi tangannya langsung mengangkat kemeja Rakes hingga terlihatlah bekas jahitan yang masih dalam masa pemulihan.
Rakes dengan cepat menarik kembali kemejanya, namun kali ini tangan Rafeal yang mulai usil menarik kerah kemeja Rakes, bahkan sampai membuat dua kancing teratas kemeja Rakes copot.
"Apaan sih!" Gumam Rakes yang berusaha menutup bagian leher dan dadanya yang terekspos.
"Waaaah meski lagi hamil ternyata Princess ganas juga ya!" Goda Rafeal.
"Kalau nggak main nyosor bukan Princess namanya!" Ujar Marvel.
"Kalian jangan gila ya, ini bekas luka!" Tegas Rakes.
"Ya ya ya, bekas luka yang disebabkan oleh princess lebih tepatnya." Goda Rafeal yang kembali ingin menarik kemeja Rakes.
"Terserah kalian! aku mau siap-siap!" Cetus Rakes yang dengan kasar menepis tangan Rafeal dan segera bangun.
"Sekedar mengingatkan, jangan sering-sering menyerang, Princess masih hamil muda loh, takutnya ntar berefek nggak baik buat calon penerus kalian berdua!" Jelas Marvel.
"Macam kamu paling ngerti aja, nikah aja belum!" Cetus Rakes.
"Etssss berarti betul dong kalau kalian..." Goda Rafeal.
"Berhenti bicara omong kosong, buruan gih siap-siap!" Tegas Rakes.
"Ciee kamu ketahuan, khmmmm khmmm khmmmm!" Goda Rafeal semakin menjadi bahkan dengan nada yang terdengar begitu mengesalkan.
"Kalau sampai telat, bakal aku bikin patah tuh tulang kaki!" Ancam Rakes dengan emosi.
"Ihhhh takut!" Seru Rafeal dengan senyuman jail dan lekas bergegas untuk siap-siap.
"Berhenti menggodanya! buruan, sebelum dia benar-benar berubah jadi Srigala!" Jelas Marvel.
Rafeal dan Marvel pun lekas bersiap, karena sebentar lagi ketiganya akan menghadap sang kepala.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️