
Alrico POV
Aku sangat senang sekali ketika Stefany tidak menolak ciumanku, sungguh sangat manis sekali bibirnya dan sekarang bibirnya menjadi canduku. Aku sekarang berada di ruang kerja ku dan meninggalkan Stefany di ruang tamu.
Aku jadi ingin cepat-cepat memilikinya kalau tidak aku bisa gila membayangkan lekukan tubuhnya dan bibirnya yang selalu ku bayangkan, Gadis itu memang tidak ada istimewanya dan tidak berasal dari keluarga yang berada.
Namun gadis itu selalu bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa kata-kata kasar selalu dilanturkan kepadaku namun aku malah semakin ingin menjahilinya.
Aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang sudah menumpuk karena mengurusi gadis itu pekerjaanku jadi terbengkalai, namun mood ku bekerja hari ini tidak ada dan aku memutuskan untuk mencari tahu kembali keluarganya siapa tau dia mempunyai kakek atau keluarga yang lain.
Aku sudah mencari semuanya, kakek dan nenek nya sudah tiada namun ada keganjalan dalam kematian kedua orang tuanya dan dari berita yang kutemui orangtuanya tidak ditemukan jasadnya, namun ibunya sedang mengandung.
Aku akan terus mencari tahunya, jasadnya tidak ditemukan dan kemungkinan orangtuanya masih hidup aku akan mencaritahunya.
Setelah selesai mencaritau tentang gadisku aku memutuskan untuk memastikan keadaannya, dan aku lupa jika tadi ia sedang lapar jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, aku takut dia kenapa-kenapa.
Aku berjalan menuju ruang tamu namun tidak aku tidak menemukannya, aku memeriksa kamar tidurnya namun aku tidak menemukannya juga, aku berlari ke halaman belakang dan aku tidak menemukannya.
Apakah dia ada di dapur? Aku segera berlari ke dapur dan terlihat gadisku sedang memasak dan kelihatannya ia sangat sibuk sekali.
Aku berjalan perlahan kearahnya dan kupeluk badannya dari belakang hingga membuatnya terkejut.
"Biarkan seperti ini sebentar" Ucapku, namun bukannya ia memberiku kesempatan untuk memeluknya tapi ia malah mencengkram lenganku dan pisau yang sedang ia pegang diarahkan kearahku dan membuatku mundur selangkah dari nya dengan mengangkat kedua tanganku keatas.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan atau kau mau mati ditanganku?" Ucap gadisku dengan menyodorkan pisau ke wajahku kembali, aku menelan salivaku dengan susah melihat pisau di depanku dan menggelengkan kepalaku didepannya.
"Memangnya kenapa kau takut dengan pisau?" Stefany kembali menyodorkan pisau yang ia pegang ke arahku, aku berusaha ingin mengambil pisau itu tetapi jika aku memaksanya aku takut jika tangannya yang terluka.
"Aku tidak takut kumohon hentikan kegiatan memasakmu dan aku tidak mengizinkan kau memasak, aku sangat mampu membeli makanan untukmu dan untukku bahkan untuk satu dunia aku mampu, taroh pisaunya Stef!" Stefany masih tidak mau mendengarkan perintahku, aku tidak takut dengan pisau tapi aku hanya takut kejadian itu terulang kembali.
"Kau cerewet sekali Al, dan hentikan ucapanmu lebih baik kau membantuku dari pada berbicara yang tidak penting. Ini hanya memasak dan tidak ada yang perlu kau takuti" Stefany kembali melanjutkan kegiatannya dan membuatku semakin geram.
Aku hanya melihat ia memotong-motong bahan-bahan yang ingin ia masak dengan lihai dan aku hanya melihat ia memasak tidak membantunya.
"Stef! Hentikan aku bilang hentikan, aku tidak mau kau terluka. Seterah kau mau sebutku apa saja asal berhenti memasak dan kita bisa makan diluar!" Aku sudah sangat amat geram dengan sikap keras kepalanya.
πππππ
TBC
Aku mohon bantuannya agar cerita ini tembus 1k ya teman-teman π
Aku mohon di pencet jempolnya dan di komen mohon bantuannya dan kalian bisa share ke teman-teman kalianππβ€οΈ
Salam penulis Amatir π
DINβ€οΈ