
Setelah mendapat kabar dari Rakes bahwa ia berhasil menyelamatkan Zea, Iqbal sedikit lega, karena ia bisa fokus mencari keberadaan sang Istri.
Iqbal dengan di temani oleh tim pasukan khusus segera beroperasi. Mereka terus mencari dimana sebenarnya Vian menyembunyikan Elsaliani.
Mereka melakukan pencarian dengan cara berpencar, Alam bersama Luqman terus mencari ke semua titik gedung kosong di kota tersebut, sedangkan Hendra dan Mikeal memburu lokasi rawan terjadinya pembunuhan lalu Iqbal dengan di temani oleh Hadi meluncur ke lokasi dimana ia dulu menangkap Vian bersama komplotannya.
Setelah bersusah payah menelusuri jalanan yang sempit, akhirnya Iqbal dan Hadi tiba di sebuah pabrik yang sudah lama tutup, di tempat inilah Iqbal dulunya membongkar semua kebusukan Vian hingga pada akhirnya Vian di berhentikan secara tidak hormat.
Tak ingin membuang waktu sedikitpun, Iqbal dan Hadi langsung mengeledah seluruh pabrik tua tersebut namun setelah terus mencari mereka tetap juga tidak bisa menemukan Elsaliani.
"Haissssh! akan ku bunuh kamu Vian, akan ku cabik jantungmu dengan sadis!" Teriak Iqbal yang begitu ingin melenyapkan Vian.
"Tenanglah! kita butuh taktik untuk melawan Vian, dia sangat licik, sekarang jelas-jelas dia sedang mempermainkan kita. Tenanglah!" Jelas Hadi.
"Kami sudah menelusuri semua kawasan namun Elsaliani sama sekali tidak ada disini." Jelas Mikeal dari seberang.
"Di sini juga kosong!" Jelas Alam dengan begitu putus asa.
Laporan keduanya terdengar jelas dari alat yang ada di telinga Hadi dan Iqbal. Setelah mendengar penjelasan dari pasukan lain, Hadi dan Iqbal saling menatap dengan mulut yang diam terbungkam.
Mata Hadi dan Iqbal seolah terus memberi kode dengan sesuatu yang baru saja mengalihkan fokus keduanya.
"Mas, abang Hadi!" Seru Elsaliani dengan suara yang gemetaran.
Suara Elsaliani sontak membuat Hadi dan Iqbal segera menoleh ke arah suara tersebut.
Di ujung pintu sana, Elsaliani berdiri dengan dihimpit oleh dua orang lelaki kekar, wajah Elsaliani terlihat begitu ketakutan, bahkan rambut Elsaliani terurai tanpa kerudung tak hanya itu, rok Elsaliani robek hingga menampilkan kaki putih mulusnya.
Keadaan Elsaliani cukup membuat Iqbal di penuhi dengan amarah yang membakar hatinya. Iqbal berlari mendekati Elsaliani namun langkah Iqbal terhenti ketika lelaki yang berdiri di sebelah kanan Elsaliani menarik kemeja pada bagian perut Elsaliani hingga menampilkan bom yang terpasang rapi di sana.
"Aku akan memulainya sekarang!" Tegas salah satu antara mereka yang langsung menyalakan bom tersebut.
'Tit, tit, tit, tit" Bom terus berbunyi mempertontonkan waktu yang terhitung mundur.
Kedua lelaki yang tadinya menghimpit Elsaliani seketika langsung melarikan diri.
Iqbal masih mematung dengan mata yang terfokus pada bom tersebut.
Iqbal benar-benar kehilangan akal untuk berpikir, hatinya begitu terluka melihat keadaan Elsaliani, bahkan dalam keadaan seperti itu Elsaliani masih saja berusaha tersenyum padanya.
"Mas, pergilah! El nggak mau kita mati bersama di sini. Zea masih butuh perhatian mas, dia masih kecil, dia butuh kasih sayang, pergilah!" Jelas Elsaliani yang berusaha berdamai dengan ketakutannya.
"Abang Hadi, pergilah dari sini! tolong jaga Zea dengan baik." Jelas Iqbal sambil terus melangkah mendekat pada Elsaliani.
"Jangan mendekat mas, El mohon!" Pinta Elsaliani.
"Sebentar lagi Hendra pasti datang, kita akan pulang bersama-sama, nggak akan terjadi apa-apa." Jelas Hadi yang memang sejak awal telah meminta semua Tim Pasukan Khusus untuk datang ke alamat yang ia kirimkan.
Tangan Iqbal mengusap lembut air mata Elsaliani, perlahan menyentuh jemari Elsaliani yang terasa jelas sedang gemetar.
"Hendra akan segera datang, kita akan baik-baik saja." Tegas Iqbal dengan menatap dalam bola mata indah Elsaliani.
"Mas, El, El takut!" Ungkap Elsaliani.
"Mas disini, mas akan jagain sayang!" Jelas Iqbal.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Luqman yang baru saja tiba di lokasi bersama yang lainnya.
"Di mana Vian?" Tanya Mikeal.
"Hendra, lakukanlah sesuatu!" Pinta Hadi.
Iqbal sedikit menggeserkan tubuhnya hingga terlihatlah bom yang terpasang di tubuh Elsaliani, melihat keadaan tersebut membuat yang lainnya panik.
"Kamu bisa melakukannya kan?" Tanya Iqbal.
"Akan aku coba!" Jelas Hendra yang langsung mendekat.
"Aku juga akan membantu!" Tegas Alam yang juga ikut mendekat.
"Kita lakukan bersama-sama!" Jelas Luqman.
Mereka semua segera mendekati Iqbal dan Elsaliani. Hendra mulai memperhatikan bom tersebut dengan teliti baru akhirnya ia mulai menyentuh bom tersebut.
"Vian, dia ingin melihat kepanikan kita pada hal yang konyol lalu tertawa dengan kebodohan kita semua." Jelas Hendra.
"Apa maksud mu?" Tanya Hadi dan Luqman hampir bersamaan.
"Vian, akan ku bunuh kamu!" Gumam Iqbal.
"Ternyata bom palsu, dia menipu kita semua, brengsek!" Cela Alam penuh amarah.
"Aku rasa ini strategi dia yang sebenarnya. Ia ingin kita melupakan Zea lalu berlari menyelamatkan Elsaliani pada hal target dia sebenarnya adalah Rakes dan Zea. Saat ini, dia pasti sedang memburu Rakes dan Zea." Tegas Mikeal yang mulai mengerti dengan taktik yang Vian gunakan.
"Mas, cepat selamatkan mereka!" Pinta Elsaliani yang terlihat lebih panik dari sebelumnya.
"Kita harus cari mereka sekarang juga, meski tadi Rakes mengatakan bahwa mereka lolos dari Vian, kemungkinan itu juga ulah Vian, sekarang dia pasti sedang memburu mereka berdua!" Jelas Iqbal.
"Aku akan coba untuk menghubungi mereka, kita berpencar." Jelas Hadi.
"Aku akan lacak ponsel keduanya!" Jelas Alam.
"Hendra, tolong minta Angel untuk menjaga El." Pinta Iqbal.
"Baiklah, aku akan tetap disini sampai Angel datang, kalian pergilah aku akan segera menyusul." Jelas Hendra.
"Baik, kita gerak sekarang!" Tegas Iqbal.
"Siap!" Tegas para anggota tim dan segera bergegas.
_____________________
Zea yang mulai tersadar di kaget kan dengan tangan nan kekar yang memeluk perut ratanya. Meski begitu ketakutan ia tetap ingin melihat wajah dari pemilik tangan tersebut. Perlahan mencoba memindahkan rambut yang menutupi wajahnya, hingga terlihatlah dengan jelas wajah tampan yang masih terlelap damai.
"Abang Rakes, kenapa dia ada di sini? apa yang telah dia lakukan?" Tanya hati Zea yang semakin ketakutan.
Zea yang masih kebingungan langsung turun dari tempat tidur lalu kabur dari kamar tersebut. Suara pintu yang ditutup kasar membuat Rakes terbangun.
"Zea, Zea.....!" Panggil Rakes dengan suara yang menggema.
Rakes segera berlari keluar untuk mencari Zea.
"Zea....!" Teriak Rakes yang sukses mendatangkan Rafeal dan Marvel keruangan dimana kini ia berada.
"Ada apa?" Tanya Marvel.
"Apa adikmu hilang lagi? atau jangan-jangan...." Rafeal menggantungkan kalimatnya.
Rakes segera berlari keluar dengan disusul oleh Rafeal dan Marvel.
"Abang...." Ujar Zea yang tercegat tepat di depan gerbang.
"Zea...." Ujar Rakes.
"Jangan mendekat!" Tegas Zea.
"Zea, abang bisa jelaskan semuanya, kamu salah paham dengan keadaan yang tadi kamu lihat!" Jelas Rakes.
"Abang mu benar! kami saksinya!" Jelas Marvel.
"Masuklah, ini masih tengah malam buta!" Jelas Rafeal.
"Zea, dengarkan abang!" Pinta Rakes.
"Tolong jangan mendekat!" Teriak Zea.
Bersamaan dengan teriakannya Zea berlari keluar dari gerbang, Zea yang berlari dengan hati yang berkecamuk tak menentu, dengan air yang berderai, dengan jantung yang tak bisa berdetak normal hingga akhirnya sebuah mobil yang melaju kencang langsung menghantam tubuh mungil Zea, membuat tubuh kecil tersebut melayang di udara dan dimenit selanjutnya mendarat di aspal dengan darah kental yang mulai mengalir dari kepalannya. Sedang mobil tersebut langsung menghilang.
Kejadian tersebut cukup membuat Rakes, Marvel dan Rafael tersentak. Seluruh tubuh Rakes bak tersambar petir, air mata yang terus terjatuh, mulut yang hanya terdiam seribu bahasa, kaki yang gemetaran, tatapan yang terus melihat pada tubuh kecil Zea yang terlihat begitu memilukan.
"Aaaaaaaaaaa!" Teriak Rakes yang segera berlari meski beberapa kali terjatuh melukai lututnya namun ia terus melangkah mendekati Zea hingga akhirnya tubuhnya terjatuh di samping tubuh Zea.
"Zea, Zeaaaaaa......!" Teriak Rakes dengan tangan gemetaran yang berusaha menyentuh wajah Zea.
Marvel kembali dengan mobilnya, sedangkan Rafeal langsung membopong tubuh Zea ke dalam mobil, Rakes ikut masuk ke mobil dan mereka segera melarikan Zea ke rumah sakit. Dari kejauhan ada sepasang mata yang terus memantau kejadian tersebut lalu tersenyum puas.
ππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ