
Stefany bangun pagi hari agar ia bisa memasak untuknya dan untuk alrico sebagai balas budi kepada laki-laki yang selama ini menolongnya walaupun Stefany sendiri baru mengenal Alrico.
Stefany membereskan tempat tidurnya dan pergi ke westafel untuk merapihkan dirinya.
Di apartemen itu hanya ada Alrico dan Stefany, ia tidak memakai asisten rumah tangga. Pasalnya apartemen ini digunakan untuk kegiatan sex nya Alrico.
Alrico pun merasa lebih nyaman tinggal bersama Stefany berdua saja seperti saat ini, walaupun dulu tempat ini digunakan untuk hal bejat.
Ya memang jika ia sedang kacau atau sedang bertengkar dengan Dady nya pasti ia akan pergi ke apartemen ini untuk menenangkan hati nya, Alrico tidak mau melampiaskannya ke orang lain.
Stefany pergi ke dapur untuk memasak, ia mengeluarkan bahan-bahan yang tersedia di dalam kulkas dan mulai memasak.
Di dalam kulkas hanya ada telur, roti, serta sayur-sayuran, Stefany akan membuat olmet serta salad tidak butuh waktu lama untuk menyajikan makanan itu.
Stefany menyajikan makanan yang telah ia buat di atas meja makan dengan dua gelas susu untuk nya dan untuk Alrico.
"Selesai" Stefany tersenyum menatap hidangan yang telah ia sediakan.
Stefany mengambil secarik kertas setelah itu ia menuliskan sesuatu. "Aku tidak meracunimu. Hanya ini yang ada di dalam lemari es mu jadi nya aku olah saja yang ada, selamat makan, semoga kau menyukainya."
Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi dan pasti Alrico belum bangun tidur, Stefany tidak mau mengganggu waktu nya Alrico ia sudah berjanji tidak akan mengganggu aktivitas Alrico serta tidak akan merepotkannya.
Memang kebiasaan Stefany tidak mandi pagi hari jika hari libur. Ia akan memasak serta membereskan rumah terlebih dahulu baru setelah itu ia membersihkan badannya.
Stefany pergi ke halaman yang terdapat tanaman hijau, ia menyiram tanaman itu serta merapihkan tanaman. Stefany sangat suka jika melihat halaman yang indah seperti halaman Alrico.
"Laki-laki seperti dia bisa juga merawat tanaman yang sangat indah ini" Ucap Stefany sembari menyiram tanaman.
Setelah selesai ia merasa badannya sangat lengket sekali, Stefany memutuskan untuk membersihkan badannya terlebih dahulu setelah itu ia baru sarapan.
Stefany pergi ke kamarnya kembali setelah itu masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian yang telah Alrico berikan kemarin kepadanya.
"Hoammm" Alrico mengusap wajahnya, dan ia melihat jam menunjukkan pukul 8 pagi.
Alrico segera bangun dari tidurnya, walaupun hari libur ia tetap bangun pagi karena itu sudah kebiasaannya. Ia pun segera membersihkan dirinya.
Alrico tersenyum membaca secarik kertas yang berada di atas meja itu.
"Manis sekali kamu princess." Ujarnya dengan kertas yang berada ditangannya.
Tapi yang membuat Alrico bingung kenapa Stefany tidak memakan sarapannya terlebih dahulu, apakah ia menunggu Alrico untuk memakan bersamanya.
Alrico memutuskan untuk pergi ke kamar Stefany takut jika gadis itu tertidur kembali tanpa memakan sarapannya.
Sesampainya di depan pintu kamar Stefany ia langsung membuka kamar Stefany, ya memang Alrico tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu ia pasti akan langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Disana terlihat Stefany yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di pinggir kasur dengan membelakangi Alrico, dan sepertinya Stefany tidak menyadari keberadaan Alrico.
Alrico berjalan perlahan dan setelah itu memeluk tubuh mungil Stefany dari belakang, yang sepertinya memeluk Stefany sangat nyaman untuknya.
"Astaga Al! Lepaskan! Kau seenaknya saja memelukku, kau bukan siapa-siapa ku. Lepaskan Al" Stefany memberontak di dalam pelukan Alrico, namun Alrico malah semakin mengeratkan pelukannya. Dan alhasil ia harus diam agar Alrico melepaskan pelukannya.
"Ya sudah kau menikah saja denganku Stef!" Ucap Alrico dengan tersenyum walaupun senyuman itu tidak terlihat oleh Stefany.
"Aku tidak akan menikah dengan orang seperti mu, lelaki yang selalu memaksakan kemauannya tanpa peduli dengan keadaan orang lain disekitarnya!" Ucapan Stefany membuat Alrico melepaskan pelukannya dari tubuh Stefany.
"Maaf Stef, aku akan merubah sikap ku agar kau mau menerima ku," Stefany menatap mata Alrico namun mata itu menjelaskan bahwa yang diucapkan oleh Al sangat tulus.
Ada yang kangen sama Stefany dan Alrico? silahkan komen enak nya abis ini konflik apa kaga??
**Aku mohon bantuannya agar cerita ini tembus 10k ya teman-teman 🙏
Aku mohon di pencet jempolnya dan di komen mohon bantuannya dan kalian bisa share ke teman-teman kalian😘💞❤️
Salam penulis Amatir 😘
DIN❤️**