My Princess

My Princess
#036



"Kamu tenang aja, secepatnya aku akan membawamu menemui wanita yang bernama Lestari." Jelas Fadhil lalu kembali melangkah mendekat, hingga tepat berdiri dihadapan Zea.


"Aku sama sekali tidak kenal dengan kamu ataupun dengan wanita yang bernama Lestari itu, tapi jika kalian berdua ada hubungannya dengan ayah ku, maka dengan senang hati aku akan berkenalan dengan kalian." Tegas Zea dengan mimik wajah yang begitu Serius.


"Tentu saja, ayah kamu telah menghancurkan segala milikku maka sekarang aku yang akan menghancurkan semua miliknya, akan aku mulai kamu, gadis yang begitu mengagumkan!" Jelas Fadhil dengan jemari yang beranjak menyentuh wajah Zea namun secepat kilat Zea menghindarinya.


"Jangan coba-coba menyentuh aku atau akan aku patahkan tanganmu itu!" Gumam Zea.


"Oke, fine! kalau kamu memang lebih suka dengan cara kasar, bakal aku turuti sesuai permintaanmu!" Jelas Fadhil lalu melangkah mundur menjauhi Zea.


"Bawa dia ke mobil!" Perintah Fadhil pada pasukannya, sedangkan ia langsung kembali masuk kedalam mobilnya.


Perintah Fadhil langsung dilaksanakan oleh para pasukannya, mereka langsung mengepung Zea membuat Zea segera mengangkat tinjunya.


"Dasar! badan kekar tapi hobi keroyokan!" Cela Zea yang telah bersiap untuk membalas setiap serangan sang lawan.


Dua tinju dari arah yang berlawanan seketika menyerang Zea, tangan Zea yang gesit segera menangkis pukulan yang berasal dari sisi kanan, sedangkan yang datang dari sisi kiri langsung dihadang dengan kaki jenjang milik Zea, membuat kedua pria tersebut terseret beberapa langkah ke belakang.


Seolah tidak memberi waktu untuk Zea, lagi-lagi tinju melayang kerahnya, membuat Zea mau tidak mau harus melayani tinju mereka.


Untuk beberapa saat Zea masih bisa melawan, namun semakin lama seolah mereka semakin brutal, mereka bahkan tidak memberi jeda sama sekali, dengan begitu membabi buta melayangkan serangan kearah Zea, hingga pada menit berikutnya wajah Zea harus menerima pukulan hingga membuatnya meringis kesakitan, disaat Zea masih berusaha menahan perih di ujung bibirnya yang mulai meneteskan darah kini kakinya yang jadi sasaran.


"Haissssh!" Gumam Zea yang begitu kewalahan melawan dan kehabisan tenaga karena meladeni segerombolan lelaki yang begitu kekar.


Tendangan salah satu dari mereka membuat tubuh Zea tersungkur diaspal.


"Awwww!" Jerit Zea ketika mendapati luka di pergelangan kakinya.


"Bawa dia ke mobil!" Perintah salah satu diantara mereka.


Dua lelaki mendekat dan langsung membawa Zea ke dalam mobil di mana Fadhil duduk manis menunggu kedatangan Zea.


"Ternyata kamu cukup tangguh juga!" Ujar Fadhil yang masih fokus pada layar ponsel miliknya.


"Akan aku buat kamu menyesal karena mengenal aku!" Tegas Zea yang berusaha memberontak, namun dalam sekejam tangan Fadhil mendarat di wajah Zea.


"Diam! atau aku akan langsung membunuh kamu sekarang juga!" Gumam Fadhil kesal.


"Jalan!" Perintah Fadhil pada sang sopir.


Mobil segera meluncur meninggalkan kawasan tersebut.


___________________


"Zea, Zea...!" Panggil Rakes sambil terus menelusuri setiap ruangan yang ada di rumah Iqbal.


"Rakes, bukannya Zea lagi sama kamu?" Tanya Elsaliani yang turun dari tangga sana.


"Tadi dia di rumah tante, aku hanya pergi ke rumah om Hendra barusan sebentar!" Jelas Rakes.


Rakes segera menaiki tangga lalu membuka kasar pintu kamar Zea, setelah memastikan bahwa Zea benar-benar tidak ada di kamarnya, Rakes kembali menuruni tangga, menghampiri Elsaliani yang masih mondar-mandir dengan penuh kegelisahan.


"Mas hanya menemukan ponselnya!" Jelas Iqbal yang baru saja datang dengan memamerkan ponsel milik Zea di tangannya.


"Apa? Haissss, mereka mempermainkan aku!" Gumam Rakes kesal dengan tinju yang mendarat sempurna di dinding ruangan tersebut.


"Apa terjadi sesuatu yang tidak om tau?" Tanya Iqbal.


"Dimana Zea? apa yang terjadi?" Tanya Elsaliani dengan air mata yang lolos dengan sendirinya.


"Aku akan mencarinya sekarang!" Tegas Rakes.


"Om sudah meminta Zafran untuk melacak, tapi di jalan depan hanya ada ponsel Zea, sedangkan Zea sama sekali tidak ada di sana!" Jelas Iqbal.


"Aku akan mencarinya!" Tegas Rakes.


"Sayang, tetap di rumah, kunci semua pintu dan jendela, sebentar lagi Mikeal dan Hendra akan tiba, mereka akan jagain sayang. Mas akan menemukan Zea dan membawanya kembali pada kita!" Jelas Iqbal.


"Mas, Rakes, tolong, segera temukan Zea!" Pinta Elsaliani.


"Iya tante!" Jawab Rakes.


"Mas pergi, tenangkan diri sayang, semuanya akan baik-baik saja!" Jelas Iqbal dan segera berlari keluar.


"Apa yang sebenarnya terjadi? dimana Zea?" Tanya Marvel yang baru saja tiba di rumah Iqbal.


"Apa tadi terjadi sesuatu ketika om tak ada di rumah?" Tanya Iqbal yang mendapati Marvel dan Rakes di depan rumahnya.


"Ada yang buat gara-gara, mereka mempermainkan kami, target mereka memang Zea bukan yang lain!" Jelas Marvel.


"Kita berangkat sekarang, aku tau kemana mereka membawa Zea!" Jelas Rakes setelah mengecek lokasi di ponselnya.


"Ayo jalan!" Perintah Iqbal dan segera masuk kedalam mobil dengan disusul oleh Marvel dsn Rakes.


__________________


"Akhirnya kamu bangun juga!" Seru seorang wanita yang begitu elegan dengan gaun merah yang menempel membentuk lekuk tubuh sexinya.


Zea yang baru membuka matanya langsung disuguhkan dengan kehadiran wanita yang duduk dihadapannya, perlahan Zea bangkit, namun gerakannya terhenti seketika saat ia merasakan kedua tangannya yang diikat pada kelapa tempat tidur.


"Jadi kamu wanita yang bernama Lestari?" Tanya Zea dengan tubuh yang masih terbaring sempurna diatas kasur.


"Dasar ******! kamu sama menyebalkan dengan ibumu yang cupu itu!" Gumam Lestari dengan tatapan sinis.


"Lepas? lepaskan tangan aku!" Pinta Zea dengan terus menarik kedua tangannya berharap tali tersebut segera terlepas dari pergelangan tangannya.


"Lepas? aku akan membuat ayahmu membayar mahal atas perlakuannya terhadap aku di masa lalu." Tegas Lestari.


"Apa ayah mencampakkan kamu dan menerima uma ku?" Tanya Zea.


"Ibu mu itu ******, dia yang merampas milik ku!" Cela Lestari.


"****** teriak ******! dasar wanita rubah!" Zea membalas celaan Lestari tanpa rasa takut sedikitpun.


"Fadhil, lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada bocah itu!" Jelas Lestari dan segera keluar dari kamar tersebut.


"Baik ma!" Jawab Fadhil patuh.


Fadhil bangkit dari sofa lalu melangkah kearah Zea.


"Berhenti! selangkah lagi kamu maju aku akan langsung membunuhmu!" Tegas Zea.


"Sebelum kamu melakukannya aku akan lebih dulu bermain dengan tubuh indah mu ini!" jelas Fadhil yang mulai menyentuh wajah Zea.


Zea terus melakukan perlawanan sebisa mungkin, ia terus menghindari sentuhan Fadhil.


"Diam!" Teriak Fadhil dengan tangan yang menggenggam kasar wajah Zea.


"Jauhkan tangan kotor mu dari wajahku!" perintah Zea.


Ucapan Zea sama sekali tidak membuat Fadhil berhenti, dengan kasar Fadhil menarik jilbab Zea, hingga terlihatlah rambut lurus yang dikuncir rapi ditengah kepala.


"Kembalikan jilbabku!" Pinta Zea dengan terus memberontak dan menarik kedua tangannya dengan harapan bisa terlepas dari lilitan tali yang membuatnya begitu kewalahan.


"Ayo kita mulai!" Seru Fadhil setelah membuang asal jilbab Zea yang telah ia robek ke lantai.


Tangan Fadhil membuka ikatan rambut Zea, hingga membuat rambut hitam tersebut terurai berantakan, jemari Fadhil kini beralih menyentuh setiap inci wajah Zea lalu menghentikan jari telunjuknya tepat di bibir Zea, membuat Zea semakin berusaha melepaskan diri dari cengkraman Fadhil.


"Lembut dan hangat!" Ujar Fadhil dengan tatapan mesumnya membuat air mata Zea berjatuhan.


"Jangan sentuh aku!" Teriak Zea yang semakin frustasi dengan keadaan yang tidak adil pada dirinya.


Fadhil bergerak, wajahnya semakin mendekat, kedua bibirnya berusaha menjangkau bibir merah milik Zea.


"Hentikan!" Pinta Zea.


Suara Zea bak angin berlalu bagi Fadhil, ia terus melanjutkan aksinya, hanya tinggal beberapa inci lagi bibirnya akan merasakan kenikmatan namun sebelum semua itu terjadi, sebuah tangan menarik kasar bahu Fadhil hingga membuat tubuhnya terpental ke lantai.


"********!" Gumam Rakes yang langsung melayangkan tinjunya tepat di bibir Fadhil membuat sang pemilik kembali ambruk ke lantai.


"Chim Chim!" Seru Zea dengan mata yang berkaca-kaca.


Rakes segera melepaskan ikatan di tangan Zea. Rakes melepaskan kemeja biru yang melekat di tubuhnya lalu menggunakannya untuk menutup kepala Zea.


"Tutup aurat mu!" Pinta Rakes.


Tangan Rakes meng-kancing kemeja yang berada dibawah dagu Zea, hingga kemeja tersebut menempel di wajah Zea.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️