
Pagi ini sebuah kebetulan terjadi, entah apa yang merasuki keduanya, pagi-pagi buta Zea dan Rafeal sudah berada di dalam kelas. Rafeal datang lebih dulu dari Zea, karena saat Zea tiba Rafeal sudah tertidur nyenyak dengan kepala yang tersandar di atas meja. Zea yang baru datang juga mengikuti jejak Rafeal, ia langsung tidur tepat di samping Rafeal dengan posisi wajah yang berlawanan arah.
Keduanya yang begitu lelah, akhirnya tertidur lelap hingga para murid lainnya mulai berdatangan.
"Wah wah wah! nambah lagi nih maniak game!" Seru Bian yang baru saja menyaksikan pemandangan tepat dibelakang mejanya.
"Benar-benar, apa sih yang membuat mereka bergadang semalaman hingga harus tidur dikelas seperti ini?" Tanya Rayyan.
"Bu Susi datang!" Teriak Bian jail berharap kedua sahabatnya segera bangun.
Namun keduanya bahkan tidak terusik sama sekali.
"Kebakaran!!!" Teriak Taufan yang sukses membuat Zea dan Rafeal berdiri seketika.
"Dimana?" Tanya Rafeal panik.
"Apa yang terbakar?" Tanya Zea yang terus melirik ke sana sini.
"Hati aku yang terbakar amarah karena sikap kalian berdua!" Cetus Taufan enteng lalu duduk tepat di belakang Zea.
"Resek..!" Gumam Rafeal.
"Kalian habis main game lagi ya?" Tanya Namira.
"Udah jujur aja, sebenarnya apa yang kalian berdua lakukan sampai kalian bisa ketiduran di pagi buta?" Tanya Rayyan.
"Apa lagi ya main game lah!" Cetus Rafeal.
"Kalau kamu?" Tanya Rayyan dengan tatapan yang mengarah pada Zea.
"Yah, aku ya main game juga!" Jawab Zea.
"Sejak kapan kamu tertarik dengan game?" Silidik Taufan.
"Aku yang ngajarin!" Jawab Rafeal.
"Dasar maniak!" Gumam Bian kesal dan langsung memukul kepala Rafeal.
"Sakit tau!" Protes Rafeal.
"Berhenti candu dengan game, kalau begini terus kesehatan kalian bakal terancam. Main sekedarnya saja, yah sebagai iklan, jangan berlarut hingga berjam-jam." Nasihat Namira.
"Siap Ustazah!" Ucap Rafeal dengan senyuman.
"Mulai besok jika aku lihat Kalian tidur lagi kelas, maka aku tidak akan diam lagi." Tegas Rayyan yang langsung fokus menghadap ke depan.
"Oke, perintah di laksanakan!" Ucap Zea sembari mengusap kedua matanya, mencoba berdamai dengan rasa kantuknya yang masih menyerang.
"Sana gih cuci muka, bentar lagi jam pelajaran akan mulai!" Jelas Taufan.
"Baiklah, Ayo Zea!" Ajak Rafeal.
Keduanya segera keluar kelas lalu bergegas menuju toilet.
"Misi lagi?" Tanya Zea saat keduanya masih berjalan menelusuri sepanjang jalan menuju toilet.
"Hmmmmm, terus kamu ngapain? cieeee cieeeeee, alamat bakal dapat ponaan nih!" Goda Rafeal.
"Berisik! tuh mulut ngeselin banget sih!" Cetus Zea.
"Pasti semalam kalian, na na nanana nana na!" Ujar Rafeal dengan senyuman menggoda bahkan ia bersiul gembira.
"Berhenti nggak!" Ancam Zea yang langsung memamerkan tinjunya.
"So beneran? buktinya tuh muka memerah sempurna! wuiiiiiiiiih bikin iri."
"Ah benar-benar!" Gumam Zea yang langsung melayangkan tinjunya di bahu Rafeal.
"Berapa ronde? Rakes hebat nggak?"
"Ihhssssss!" Gumam Zea yang kali ini langsung memukul mulut lebar Rafeal.
"Awwwww sakit tau!" Protes Rafeal.
"Rasain!" Cetus Zea yang bergegas masuk ke toilet.
"Zea!" Panggil Rafeal dengan nada yang begitu serius membuat Zea kembali menoleh kearahnya.
"Pantesan dari tadi aku perhatikan jalannya hari ini kalem banget, biasanya juga hura-hurakan nggak jelas, rupanya jebol toh!" Goda Rafeal dengan tawa cekikikan.
"Dasar mulot buaya!" Gumam Zea dan langsung masuk ke toilet cewek.
"Bakal aku rontokkan tuh gigi semua! awas aja, dendam akan segera terbalaskan, ciiiih bakal ku mutilasi tuh bibir dower" Gumam Zea.
Zea langsung membasuh wajahnya dengan air, hingga ia merasa benar-benar kembali segera, lalu sedikit membenarkan jilbabnya yang mana sisi yang membalut wajahnya sedikit ikut basah. Ketika Zea hendak keluar seseorang menarik kasar tangannya.
"Elo bocah kurang ajar kemaren kan?" Tanya Cindy yang di dampingi oleh kedua sahabatnya.
"Jangan harap!" Tegas Cindy yang semakin mencengkram kasar tangan Zea.
"Hari ini mood aku sedang buruk, jangan ganggu aku!" Jelas Zea.
"Waaaaaah, ternyata selain kurang ajar kamu tak tau diri ya, dasar cewek menyebalkan!" Cela Cindy.
"Aku bilang jangan paksa aku main kasar!" Tegas Zea yang langsung menarik tangannya membuat Cindy kaget dengan sikap Zea.
"Kamu menantang ku?" Tanya Cindy.
"Udah sikat aja Cin, jangan di kasih hati!" Ujar salah seorang temannya.
"Bocah seperti dia memang harus di kasih pelajaran biar nggak ngelunjak!" Ujar salah satunya lagi.
"Ini peringatan pertama dan terakhir, jangan pernah berharap untuk bisa dekat dekat dengan pak Rakes, jangan pernah lagi muncul di hadapan aku dan juga pak Rakes, jika tidak maka aku akan membuat sekolah ini menjadi neraka bagi mu!" Jelas Cindy.
"Aku tunggu!" Ujar Zea.
"Tunggu?" Ulang Cindy yang tak paham.
"Iya, aku tunggu dengan senang hati. Ubahlah sekolah ini menjadi neraka bagi ku, jika kamu gagal maka aku yang akan mengubahnya menjadi sarang serigala bagi kalian!" Jelas Zea dan lekas melangkah keluar.
Namun dengan sigap tangan Cindy menarik jilbab Zea membuat langkah Zea terhenti.
"Kak Cindy, kak Zea!" Ujar Kania yang baru saja masuk ke toilet.
"Ingat baik-baik! ayo cabut." Jelas Cindy lalu segera pergi dengan diikuti oleh kedua temannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kania.
"Biasa, dimana-mana emang gini kan? senior semena-mena sama junior nya!" Jelas Zea.
"Kakak baik baik saja kan?" Tanya Kania memastikan.
"Kakak oke, yang jadi masalahnya sekarang, kamu oke nggak?" Tanya Zea setelah memerhatikan wajah sembab dan mata bengkaknya Kania.
"Aku? aku oke!"
"Jangan bohong sama kakak! apa yang terjadi, cerita sama kakak." Pinta Zea.
"Kania, Kania!" Panggil seseorang dari luar sana sembari terus terus masuk kedalam toilet cewek.
Langkahnya terhenti saat ia melihat Kania sedang bersama Zea. Marvel kembali melangkah lalu segera memeluk erat tubuh Kania.
"Abang Marvel! kita masih di sekolah, jangan ceroboh!" Jelas Zea yang langsung menarik keduanya untuk keluar dari toilet.
Zea langsung menyeret keduanya ke belakang sekolah, lokasi teraman yang jarang di jamah oleh para murid di pagi hari.
"Apa abang yang membuat Kania seperti ini?" Tanya Zea dengan menatap tajam wajah Marvel.
"Bukan salah abang Marvel, kak. Justru aku yang membuat abang Marvel menggila seperti ini!" Jelas Kania dengan wajah tertunduk.
"Apa kalian sedang ada masalah?" Tanya Zea mencoba memahami situasi yang ada.
"Tadi malam Om Hadi menelpon papa, dia ingin menjodohkan aku dengan abang Roger." Jelas Kania.
"Apa?" Tanya Zea yang begitu kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Kania, abang....!" Ungkap Marvel langsung terhenti, wajahnya seketika tertunduk berusaha menyembunyikan tetesan air matanya.
"Aku akan bicara sama papa, papa pasti akan mengerti." Jelas Zea.
"Nggak kak, aku sendiri yang akan bicara dengan abang Roger. Abang, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi milik abang, begitu juga sebaliknya. Wah sudah bel, aku masuk ke kelas duluan." Jelas Kania berusaha tenang dan tegar lalu lekas pergi.
"Aku hanya tidak ingin menempatkan Kania dalam situasi tersulit, aku nggak mau dia memilih aku lalu membangkang kedua orang tuanya. Aku tidak ingin membuat dia durhaka pada orang tuanya." Jelas Marvel.
"Abang tenanglah! semuanya akan baik-baik saja, aku kenal om Hendra dengan baik, dia nggak akan memaksakan keinginannya pada Kania." Jelas Zea.
"Entahlah Zea, aku juga bingung harus bagaimana!"
"Kita tunggu saja Kania, percayalah, dia akan memperjuangkan cintanya. Ayo bubar, ntar ada yang lewat lagi, terus aku bakal jadi bahan gosip karena memiliki hubungan spesial dengan guru Matematika tertampan." Jelas Zea yang langsung bergegas meninggalkan lokasi tersebut.
"Semoga semuanya baik-baik saja!" Ucap Marvel dan juga ikut pergi.
"Kamu tenang saja Marvel, semuanya akan baik-baik saja, aku tidak akan membiarkan Roger menyentuh Kania sedikitpun, dia sama sekali tidak mencintai Kania, dan aku tidak akan membiarkan dia melampiaskan semuanya pada Kania, aku tidak akan diam jika seseorang memperlakukan Kania dengan buruk. Kania hanya akan bahagia bila bersamamu, maka aku sendiri yang akan menjaga bahagianya agar tak memudar apa lagi hilang." Jelas Rafeal pada dirinya sendiri.
Ternyata sedari tadi Rafeal terus menguping pembicaraan ketiganya, Rafeal berdiri di dinding sebelah Utara dengan terus memperhatikan Marvel, Kania dan Zea, tidak hanya itu ia bahkan mencegat beberapa murid yang hampir saja melintasi lokasi tersebut.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ