
Mariana terus melangkah menuju kamar miliknya, tangannya yang hendak membuka pintu seketika langsung terhenti dengan sendirinya.
"Apa jangan-jangan....! dasar bocah mesum, aku jamin tadi itu dia memang lagi nonton sesuatu kalau tidak mana mungkin dia begitu takut aku melihatnya. Sepertinya aku harus mengecek bocah itu, otaknya pasti tidak sepolos wajahnya." Gumam Mariana lalu segera beralih menuju kamar Rafeal yang letaknya paling ujung sana.
Saat ia semakin dekat dengan kamar Rafeal, ia kian memelankan gerak langkahnya, dengan begitu hati-hati ia mencoba untuk membuka pintu lalu berusaha untuk mengintip keadaan di dalam kamar sana.
"Aman, dia pasti sedang di kamar mandi, saatnya beraksi!" Jelas Mariana pada dirinya sendiri lalu segera masuk dan lekas mencari keberadaan laptop milik Rafeal.
Mariana langsung mengambil laptop yang tergeletak di atas kasur lalu dengan cepat membukanya. Saat laptop terbuka langsung menampilkan sebuah vidio, tangan Mariana bergerak lalu menekan tombol play hingga vidio yang tadi sempat berhenti kini kembali diputar.
"Apa ini? apa jangan-jangan...." Mariana yang mulai khawatir seketika langsung beranjak dari tempat tidur tanpa lagi peduli pada vidio yang sejak tadi begitu membuatnya penasaran.
Perlahan Mariana mendekati kamar mandi lalu menempelkan telinganya erat-erat pada pintu kamar mandi.
Jeritan Rafeal yang tertahan diiringi suara air membuat Mariana langsung membuka pintu kamar mandi. Di sudut kamar mandi sana tepatnya di depan cermin besar Rafeal terlihat jelas sedang menjahit ulang luka di perutnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan? ayo keluar, aku akan menelpon dokter!" Jelas Mariana.
"Ana, aku baik-baik saja!" Tegas Rafeal yang langsung menutup tubuhnya dengan handuk.
"Jika kamu baik-baik saja, kamu nggak harus menonton vidio totorial menjahit luka." Tegas Mariana.
"Aku sudah menjahitnya dengan baik." Jelas Rafeal.
"Apa jahitannya sudah terbuka sejak semalam?"
"Hmmm, semalam lukanya terasa begitu gatal dan aku lepas kendali, aku malah membuat lukanya kembali terbuka. Tapi kamu tenang aja, aku sudah mengatasinya dengan baik." Jelas Rafeal.
"Ayo ke tempat tidur, aku akan memanggil dokter untuk mengecek luka mu. Ets... ini bukan tawaran jadi kamu nggak punya hak untuk menolaknya, ini pemaksaan." Tegas Mariana lalu membantu Rafeal untuk kembali ke tempat tidur.
"Tunggulah sebentar, aku akan menghubungi dokter." Jelas Mariana setelah membantu Rafeal berbaring di atas kasur.
"Ana....."
"Nggak ada protes!"
"Terima kasih!" Ucap Rafeal dengan senyuman lebar.
"Bisa di ulang?" Tanya Mariana dengan girang.
"Terima kasih." Ulang Rafeal.
"Sama sama sayang!" Ujar Mariana dan langsung menghubungi dokter keluarga Revtankhar.
_____________________
"Apa jemputan mu belum datang?" Tanya Ardi yang perlahan mendekati Kania yang sedang duduk di halte depan sekolah mereka.
"Ardi, aku lagi nungguin taxi. Kamu sendiri kenapa belum pulang?" Jelas Kania.
"Aku juga nungguin jemputan." Jelas Ardi yang langsung duduk disebelahnya Kania.
Ardi adalah teman kelasnya Kania.
"Kenapa sendiri? biasanya kan selalu sama Bagas dan Romi, kemana mereka?" Tanya Kania.
"Mereka udah pulang duluan. Itu jemputan aku datang, ayo biar aku antar kamu pulang!" Ajak Ardi saat mobilnya berhenti di depan halte tersebut.
"Makasih, tapi tadi aku udah pesan ojek online, nggak enak kan kalau aku cancel di tengah jalan." Jelas Kania yang memang tidak nyaman dengan Ardi.
"Nggak masalah dong! sini biar aku yang cancel!" Jelas Ardi yang mengambil ponsel dari tangan Kania.
"Ardi..." Tegas Kania lalu berusaha untuk mengambil kembali ponsel miliknya.
"Kami bohong kan? sama sekali nggak ada pesanan!" Jelas Ardi setelah membuka aplikasi ojek online yang ada di ponsel Kania.
"Ardi, aku tidak ingin ada gosip diantara kita, aku tidak mau di anggap pelakor oleh Fitri, jadi tolong berhenti memperhatikan aku, berhenti mengikuti aku, aku risih." Jelas Kania.
"Kania, aku suka sama kamu. Dan aku rela meninggalkan Fitri jika kamu mau jadi pacar aku." Jelas Ardi.
"Kamu gila, dasar Playboy!" Cetus Kania yang kembali berusaha merebut ponsel miliknya yang masih digenggam erat oleh Ardi.
"Kembalikan!" Pinta Kania.
Bukannya mengembalikannya Ardi malah semakin mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Kania tidak bisa menjangkaunya lagi. Di saat yang bersamaan satu panggilan masuk, membuat Ardi langsung menoleh pada layar ponsel yang menampilkan nama 'ImamKu'.
"Imamku? waaah, jadi penasaran..." Ujar Ardi bersamaan dengan menekan tombol hijau pada layar ponsel.
"Kembalikan ponsel kekasih ku!" Tegas Marvel lantang.
Suara Marvel tidak hanya berasal dari ponsel tersebut namun juga jelas terdengar begitu dekat dengan mereka lalu pada menit berikutnya sebuah tangan langsung mengambil alih ponsel tersebut.
"Bocah ingusan, sana gih pulang minum susu yang banyak supaya tubuh lo tumbuh tinggi." Jelas Marvel.
"Abang..." Ujar Kania.
"Untuk yang pertama dan terakhir, jangan ganggu lagi calon makmum ku, jika tidak maka aku akan mengganggu hidup mu, ayo sayang pulang!" Tegas Marvel lalu menggenggam tangan Kania lalu membawanya ikut bersama dirinya.
Kania terus mengikuti Marvel hingga keduanya masuk ke dalam mobil sedangkan Ardi hanya terdiam seribu bahasa melihat Kania dibawa oleh Marvel.
"Lain kali jangan biarkan siapapun mengganggu mu!" Jelas Marvel.
"Hmmmmm" Jawab Kania pelan.
"Iya." Jawab Kania jutek lalu membuang pandangannya kearah luar mobil.
"Kalau saja bukan bocah sudah abang patahkan tangannya tadi!" Cetus Marvel namun masih fokus mengemudi meski emosi dan rasa cemburu membara di hati.
"Kalau dia abang anggap bocah berarti aku juga?" Tanya Kania.
"Jangan salah paham!"
"Jangan bicara dengan bocah!"
"Kania....."
"Apa abang juga menganggap kalau aku ini masih bocah?" Tanya Kania yang kini beralih menatap Marvel dengan tatapan begitu dalam.
"Lalu? ya emang kamu masih bocah kan?" Goda Marvel dengan tawa lepasnya.
"Abang...." Seru Kania Kesal.
"Iya abang tau kamu bukan bocah kok, hanya saja masih dibawah umur." Ujar Marvel dengan tawa yang semakin keras.
'Cup' sebuah kecupan mendarat di pipi Marvel membuat tawa Marvel seketika terhenti.
"Kenapa berhenti?" Tanya Kania saat Marvel secara tiba-tiba menepikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Jantung abang berhenti berdetak, tangan Abang bahkan kaku seketika, kamu membuat aliran darah abang terhenti." Jelas Marvel dengan wajah yang memerah sempurna.
"Apaan sih..."
"Kania, jangan ulangi lagi, abang bisa mati berdiri kalau begini ceritanya." Jelas Marvel yang langsung keluar dari mobil.
"Abang baik-baik saja?" Tanya Kania yang ikut keluar dari mobil.
"Abang butuh udara segar." Jelas Marvel yang memang sudah berkeringat dingin.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi!" Ujar Kania dengan kepala tertunduk.
"Hmmmm, Kania, cepatlah tumbuh dewasa!" Ujar Marvel lalu mengusap lembut jilbab Kania.
"Apa sekarang sudah baikan?" Tanya Kania dengan tatapan polosnya.
"Hmmmm, ayo pulang!" Ajak Marvel lalu membukakan pintu mobil untuk Kania.
Keduanya kembali ke mobil dan lekas pulang.
______________________
"Zea....."
"Zea, Zea, sayang ayo bangun!"
Zea yang masih tertidur lelap, perlahan mulai terusik dengan suara yang terus memanggil namanya dan tangan yang terus saja membelai wajahnya.
"Chim chim, aku masih ngantuk!" Protes Zea yang masih enggan membuka matanya.
"Zea, ayo bangun!"
"Iya, lima detik lagi aja, please!" Rengek Zea.
"Zea...."
"Iya..." Ujar Zea lalu segera bangun.
Tubuh Zea yang masih terduduk dengan rambut yang begitu berantakan kini perlahan membuka matanya lalu menatap sosok yang duduk tepat di hadapannya.
"Abang Roger....!" Seru Zea saat mendapati Roger duduk tepat di hadapannya.
Roger tersenyum manis lalu tangannya kembali menyentuh wajah Zea.
"Stop!" Tegas Zea dan dengan kasar menepis tangan Roger yang hendak menyentuh dirinya.
"Pergi!" Teriak Zea.
"My Queen..." Ujar Roger.
"Aku bilang pergi!" Tegas Zea lalu kakinya langsung menendang Roger hingga ia terjatuh ke lantai.
Dengan buru-buru Zea mengambil jilbabnya lalu segera mengenakannya.
"Abang Rakes, abang....! mama, pa...." Panggil Zea dengan suara lantang, dia berlari menuju pintu kamar.
"Nggak ada siapapun di rumah Zea, mereka baru aja pergi. Kamu tenang aja, abang akan menemani mu!" Jelas Roger lalu memeluk paksa tubuh Zea.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ