
"Mau berapa kali lagi kamu gonta ganti jilbab? abang jadi pusing lihat kamu dari tadi." Jelas Rakes yang masih berbaring di atas kasur dengan mata yang sejak tadi terus memerhatikan tingkah Zea.
Sejak sepuluh menit yang lalu Zea berdiri di depan cermin, dia terlihat begitu sibuk dengan jilbabnya. Bukan cuma style-nya aja yang ia ubah-ubah tapi jilbabnya juga, sampai detik ini sudah ada tujuh lembar jilbab putih yang ia lempar ke atas tempat tidur.
"Pusing!" Keluh Zea yang kembali membuka jilbabnya lalu duduk di samping Rakes.
"Kenapa?" Tanya Rakes yang perlahan agak bergeser mendekat pada Zea.
"Aku...." Keluh Zea yang langsung terhenti, Zea langsung menundukkan kepalanya.
"Apa ini masalahnya?" Tanya Rakes yang perlahan menyentuh perut Zea yang mulai sedikit membuncit.
"Apa mulai keliatan? ya wajar sih kan udah jalan empat bulan!" Jelas Zea.
"Hmmmm! hari ini terakhir ujian kan?"
"Iya, terakhir ngumpul sama para perusuh, karena semester depan aku bakal mulai home schooling!" Jelas Zea dengan wajah yang terlihat jelas begitu sedih.
Semenjak empat bulan terakhir, Zea memang sering sedih saat mengingat bahwa ia tidak bisa lagi ke sekolah bersama teman teman clubnya.
"Apa kamu sedih?"
"Jangan salah paham!" Ujar Zea yang langsung menyentuh wajah Rakes.
"Aku hanya sedikit, sedikit aja sedih karena nggak bisa menggila bersama mereka tapi aku senang karena nih perut mulai membesar itu artinya Raze Junior akan segera datang ke dunia ini." Lanjut Zea dengan memamerkan senyuman bahagia.
"Zea...."
"Aku tau apa yang sedang Chim chim pikirkan, dan aku mau Chim chim berhenti memikirkannya. Aku fine, dan aku bahagia." Jelas Zea yang langsung mengecup kening Rakes.
"Tunggulah sebentar abang akan mengantarkan mu ke sekolah!" Jelas Rakes yang segera bangun namun langsung di hentikan oleh Zea.
"Istirahatlah! Chim baru pulang tadi jam lima pagi, pasti masih capek kan? lagi pula bentar lagi Ivent pasti datang!" Jelas Zea yang langsung membaringkan tubuh Rakes.
"Abang sama sekali nggak capek, ayo sini abang bantu pakaikan jilbabnya." Jelas Rakes yang kembali duduk.
"Baiklah!" Ujar Zea yang langsung mendekatkan wajahnya pada Rakes.
Setelah selesai Zea segera berdiri di depan cermin, memeriksa penampilannya, ia bahkan sedikit memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa perutnya tertutup sempurna dengan jilbab.
"Waaaah! sempurna, terima kasih!" Ujar Zea yang kembali mendekati Rakes.
"sama sama Jannati!" Ujar Rakes yang mengusap pelan pucuk kepala Zea.
"Hari ini kan terakhir nih aku ujian, besoknya udah mulai libur loh!" Jelas Zea.
"Terus?"
"Dasar tukang parkir! terus, terus, maju aja sekalian biar nabrak tembok!" Cetus Zea kesal.
(Tuh kan mulai lagi, merajuk lagi nih ujung ujungnya! harus ekstra sabar, apa semua wanita hamil emang seperti ini bawaannya? Tenang Rakes, tenang!) Gundah hati Rakes yang memang belakangan mulai terbiasa dengan sikap Zea yang sebentar-sebentar manis terus tiba tiba jadi marah-marah, cuek atau bahkan ngeselin, terlepas dari semua itu, Rakes begitu menikmati setiap waktu yang ia habiskan bersama sang istri tercinta.
"Jadi? mau liburan kemana?" Tanya Rakes dengan nada menenangkan.
"Apa Chim chim nggak bertugas?"
"Tugas ya pasti ada sih, cuman...."
"Di rumah aja, kita liburan di rumah aja." Jelas Zea.
"Sorry!" Ujar Rakes.
'Cup' Bibir Zea mendarat sempurna di bibir seksi Rakes.
"Bukankah liburan di kamar ini lebih menyenangkan!" Goda Zea dengan mengedipkan mata kirinya.
"Pikirkan dulu ujian hari ini, sana gih!" Jelas Rakes.
"Cieeee yang wajahnya merah merona, pada hal kita nikahnya nggak sehari dua hari yang lalu, udah jalan lima bulan loh! tapi Chim chim masih saja malu-malu, emang yah harus di serang lebih dulu, dasar!"
Tangan Rakes begitu gesit menarik tubuh Zea, hingga dalam sekejam mata kini tubuh Zea telah terbaring dengan posisi Rakes yang tepat berada di hadapannya.
"Oke, abang tidak akan menahan diri abang lagi, abang akan tunjukkan siapa predator yang sebenarnya!" Jelas Rakes yang semakin mendekatkan wajahnya pada Zea.
"Abang!" Ujar Zea dengan suara serak, matanya terus saja menatap wajah Rakes yang semakin mengikis jarak darinya.
Rakes terus mendekat membuat Zea tidak lagi bisa berkutik sama sekali, tangan Zea yang tadinya menggenggam kasar lengan Rakes kini perlahan mulai melemah.
Perlahan Zea ikut bangun, dan segera merapikan kembali seragamnya yang sempat berantakan karena ulah Rakes.
Zea selangkah kembali mendekati Rakes yang masih duduk di tepi kasur, perlahan-lahan Zea semakin mendekat hingga membuat tubuhnya tepat di hadapan Rakes. Tangan Zea memandu tangan Rakes agar melingkar di pinggangnya, Rakes menurut ia bahkan langsung menempelkan wajahnya di perut Zea.
"Jagain mommy ya sayang!" Ujar Rakes lalu mengecup lembut perut Zea yang tertutupi dengan seragam dan jilbabnya.
"Pasti dong!" Ujar Zea lalu mengecup kepala Rakes.
"Love you!" Ujar Rakes.
"Hufffff kalau aja hari ini nggak ujian aku bakal bolos kalau gini godaannya!" Ujar Zea dengan tangan yang terus saja bermain dengan rambut Rakes.
"Ayo keluar sekarang!" Ajak Rakes yang seketika bangun.
Tangan kiri Rakes mengambil tas Zea yang tergeletak di atas meja rias sedangkan tangan kanan Rakes dengan sigap menggenggam tangan Zea untuk ikut bersamanya.
"Yakin mau ke meja makan seperti ini?" Tanya Zea yang terus mengikuti langkah Rakes hingga ke depan pintu.
"Maksudnya?" Tanya Rakes tak paham.
"Yakin mau gabung sama ayah dan uma di meja makan dengan bertelanjang dada seperti ini?" Tanya Zea sambil menatap kotak-kotak kekar yang begitu menggoda.
"Haiiiiiisssss!" Gumam Rakes yang baru menyadari penampilannya saat ini.
Rakes segera ke ruang ganti sedangkan Zea terlihat begitu puas karena berhasil menggoda sang suami.
__________________
"Yeeeeeeeeee akhirya berakhir juga penindasan ini....!" Teriak Bian lega.
Setelah mata pelajaran terakhir selesai diujiankan, semua murid terlihat lega, bahkan banyak di antara mereka yang teriak karena merasa telah terlepas dari jeratan beban yang selama satu minggu ini begitu membuat mereka tertekan. Setelah pengawas ujian meninggalkan kelas, seketika suasana kelas langsung berubah menjadi pasar.
"Dasar pemalas!" Cetus Rayyan bersamaan dengan tangannya yang mendorong kepala Bian.
"Ini ujian pertama kita tanpa si pengganggu, jadi rindu dia!" Ujar Taufan yang kembali ingat dengan Rafeal yang setiap kali ujian selalu saja meminta jawaban pada yang lainnya.
"Kalau di ingat ingat, meski ngeselin tapi dia sahabat terbaik kita!" Jelas Rayyan.
"Justru karena sikapnya itu dia mengubah segala hal menjadi indah!" Jelas Zea.
"Iya, meski hanya sebentar bersama dia, aku juga sangat merasa kehilangan, dia benar-benar sahabat yang luar biasa!" Ujar Namira.
"Oke, stop bersedih! bukankah sekarang waktunya pesta!" Seru Taufan.
"Wokehhh! let's go!" Seru Bian penuh semangat dan segera bersiap.
"Ide bagus, ayo! sekalian ada hal yang ingin aku bicarakan sama kalian semua!" Jelas Zea.
"Tentang apa?" Tanya Rayyan.
"Udah nanti aja, kita bicara setelah makan, paling juga tentang balapan kan?" Jelas Bian yang langsung beranjak keluar dari kelas.
"Balapan? waaah bakal seru nih, udah lama kita nggak balapan, jadi rindu!" Ujar Taufan.
"Kita? Zea kali kita cuma jadi penonton doang!" Ujar Namira.
"Udah, buruan aku lapar! ayo Ivent!" Ajak Zea yang segera menyusul Bian.
"Bawa kami ke restauran mewah ya!" Seru Bian penuh semangat.
"Siap!" Seru Taufan.
"Gini nih enaknya punya teman tajir, buruan!" Seru Rayyan yang berlari menuju parkiran.
Melihat tingkah Rayyan membuat yang lainnya ikut berlarian ke parkiran.
mereka segera meluncur dengan mobil Mewah milik Taufan tentu di antar oleh sang sopir pribadi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️