My Princess

My Princess
#201



"Apa sebegitunya? padahal kalian sudah pacaran beberapa tahun lamanya, apa masih merasa canggung?" Tanya Rafeal.


"Sebenarnya, hmmmmm....." Ujar Marvel kebingungan.


"Sabarlah sebentar lagi, kamu tau kan? dia itu Kania, dia masih remaja, biarkan dia terbiasa, beri dia ruang dan waktu untuk menata hatinya agar lebih tenang, ajari dia perlahan, tenangkan dia dalam dekapan mu, pelan-pelan!" Jelas Rafeal.


"Hmmmmmm, lalu kamu apa cerita?" Tanya Marvel.


"Mungkin Ana beda dari Kania, tapi kami juga masih butuh waktu untuk lebih mengenal lagi satu sama lain, aku janji, aku tidak akan membuat Ana terbeban karena aku, aku akan mencintainya dengan penuh keikhlasan." Jelas Rafeal.


"Rafeal, terima kasih karena sudah menjadi sahabat aku dan juga, terima kasih karena memilih Ana sebagai istri mu!" Jelas Marvel lalu menepuk bahu Rafeal.


Sesaat keduanya saling memandang lalu tersenyum bahagia, Rafeal merangkul sang sahabat ke dalam pelukan hangatnya.


"Hmmmmm!" Suara Revtankhar sukses membuat Rafeal dan Marvel melepaskan pelukannya.


"Papi..." Ujar Marvel.


"Boleh papi gabung?" Tanya Revtankhar.


"Tentu, silahkan duduk pi!" Pinta Rafeal dan sedikit bergeser memberi tempat untuk Revtankhar.


"Kenapa para pengantin baru pada di luar nih? kenapa?" Tanya Revtankhar.


"Cuma cari udara segar aja pi!" Jawab Rafeal.


"Rafeal, jika Ana salah tegur dia, banyak hal yang dia tak paham dan juga, Ana adalah putri yang papi manjakan, dan karena kekurangan papi pula, dia tumbuh dengan ilmu agama yang begitu minim, jadi papi mohon tolong bimbing dia, ajarkan dia, tolong bawa putri papi ke jalan yang Allah ridhai!" Jelas Revtankhar.


"Papi...." Ujar Rafeal yang langsung memeluk Revtankhar.


"Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan untuk keluarga papi, terima kasih banyak Rafeal." Jelas Revtankhar.


"Aku yang harusnya berterima kasih pi, terima kasih karena keluarga papi sudah menerima aku dengan begitu hangat!" Jelas Rafeal.


"Sekarang kembalilah ke kamar mu, Ana pasti sedang menunggu dirimu!" Jelas Revtankhar.


"Baik pi, selamat malam, permisi!" Jelas Rafeal dan lekas kembali ke kamarnya.


"Tunggu apa lagi? kamu juga kembali ke kamar mu gih!" Jelas Revtankhar.


"Sebentar lagi pi!" Ujar Marvel dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Kenapa?" Tanya Revtankhar.


"Aku tidak ingin membuat Kania tertekan!" Jelas Marvel.


"Dia akan semakin tertekan bila kamu tiba-tiba menghilang dari kamar mu! sana, kembali ke kamar mu!" Jelas Revtankhar.


"Baiklah pi! Selamat malam!" Ujar Marvel dan lekas kembali ke kamarnya.


____________________


~Sayang, kok malah chat mama terus sih?~


~Terus, aku harus ngapain?~


~Ya ampun KaniaπŸ€¦πŸ½β€β™€οΈ udah mama lagi dinas nih sayang.~


~Ma, maaaaaaaπŸ˜”πŸ₯ΊπŸ˜­~


~Ma, Aku mau pulang!!!~


~Sayang, kalau kamu chat mama terus, lalu gimana dengan Marvel? sayang kamu sekarang adalah istri seseorang, mana boleh begini, udah sekarang sayang temani Marvel, sayang ngerti kan maksud mama? I love you, Kania~


Kania menenggelamkan wajahnya di guling dengan tangan kiri yang terus memukul-mukul kasur.


"Dimana abang Marvel? apa dia kecewa dengan aku? atau mungkin......? dia pasti sudah tidur di kamar lain, percuma kan disini sama manusia batu kayak aku, dasar istri nggak guna!" Cela Kania pada dirinya sendiri diiringi dengan isak tangis yang semakin memilukan.


Marvel yang memang sejak tadi telah kembali, seketika mematung di ambang pintu karena ucapan Kania, matanya terus saja menatap sosok Kania yang kini sedang menangis pilu. Perlahan Marvel melangkah mendekati Kania.


"Kania..." Panggil Marvel lembut dengan tangan yang menyentuh pelan rambut Kania yang begitu berantakan.


"Abang...." Ujar Kania saat menatap sosok Marvel.


Kania cepat-cepat mengusap air matanya dan sedikit membernarkan rambutnya.


"Apa....?" Pertanyaan Marvel langsung tertahan karena mendapat tatapan dari Kania.


"Jangan salah paham! aku begini bukan karena abang, sama sekali bukan salah abang. Suasana membingungkan ini, aku sendiri yang menciptakannya, aku yang tidak tau harus bagaimana dan akhirnya hanya bisa menangis, maafkan aku!" Jelas Kania yang langsung memeluk erat tubuh Marvel.


"Harusnya abang yang minta maaf, kamu jadi serba salah karena sikap abang yang tidak bisa membuat kamu nyaman. Kania, tenanglah! abang akan baik-baik saja selama kamu nyaman dan tenang, abang janji abang akan izin lebih dulu sebelum melakukan apapun terhadap mu, abang janji!" Jelas Marvel dengan mengusap lembut rambut Kania.


"Tidak harus seperti itu, jangan membangun benteng yang justru membuat aku semakin merasa bersalah. Aku memang tidak peka di tambah lagi sering tidak paham, maka abang boleh memulai apapun, apapun!" Jelas Kania


"Kalau begitu....."


"Apa yang ingin abang lakukan?" Tanya Kania yang seketika langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Marvel.


"Ayo kita mulai dengan tidur lebih dulu, besok pagi baru kita pikirkan lagi apa yang akan kita lakukan. Lagi pula abang masih cuti kok!" Jelas Marvel dengan memainkan matanya menatap wajah polos Kania yang sedang kebingungan.


"Benarkah? abang benar mau langsung tidur kan?" Tanya Kania dengan wajah sumringah.


"Untuk malam ini, iya." Ujar Marvel dengan senyuman nakalnya.


"Selamat malam!" Ucap Kania dan langsung merebahkan tubuhnya.


"Selamat malam!" Ujar Marvel yang ikut merebahkan tubuhnya di samping Kania.


________________


Perlahan Rafeal membuka pintu kamarnya, sejenak menatap ke tempat tidur dimana sosok Mariana terbaring lelap dengan memeluk gulingnya.


Setelah terhenti sejenak, kini Rafeal kembali melangkah mendekati tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya disebelah Mariana.


"Maafkan aku, Ana. seharusnya aku tidak membiarkan kita berada dalam situasi seperti ini." Jelas Rafeal dengan menatap dalam wajah Mariana.


Perlahan tangan Rafeal menyentuh wajah Mariana lalu mengecup lembut kening Mariana.


"Selamat malam istri ku!" Ujar Kania lalu mengusap pelan kepala Mariana.


Setelah suasana sepi, perlahan Mariana membuka matanya, ia langsung melirik pada sosok sang suami yang ternyata sudah tertidur nyenyak.


Setelah memastikan Rafeal telah tidur barulah Mariana membuka matanya lebar-lebar dan manarik nafas dalam-dalam.


"Harusnya aku sebagai istri tidak membuat kamu berada dalam situasi ini, aku yang salah Rafeal, bukan kamu. Aku sama sekali bukan istri yang baik. Dan pun aku takut menyentuh kamu, aku tidak bisa dengan leluasa bermanja pada mu, karena aku tau, aku bukanlah gadis impian mu, aku takut kamu akan jenuh dengan aku. Rafeal, kamu tenang saja, aku adalah wanita yang paling terbiasa dalam menunggu, aku akan menunggu sampai hati kamu seutuhnya menjadi milik ku. Setelah masa itu tiba, maka aku akan terus bergantung pada mu layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Rafeal, aku sangat mencintai mu." Jelas Mariana dengan tatapan tang begitu lembut dan tenang, lalu kembali memejamkan matanya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ