
"Chim chim, aku lapar!" Jelas Zea.
Dari tadi Zea hanya rebahan sambil membaca buku pelajaran sedangkan Rakes mengisi waktunya dengan latihan memanah.
"Mau makan apa?" Tanya Rakes yang langsung meninggalkan busur dan anak panahnya lalu bergegas mendekati Zea.
"Apa aja."
"Ya apa?"
"Ya apa apa yang ada!" Tegas Zea lalu menutup buku bacaannya.
"Ya kamu maunya apa?"
"Ya adanya apa?"
"Oke, tunggu sebentar!" Jelas Rakes yang langsung bergegas keluar kamar.
"Kalau gini ceritanya mending aku sakit sampai sebulan full aku ikhlas. Kapan lagi coba dapat pelayan ekstra dari Chim chim. Nah memar nggak usah sembuh ya, please!" Jelas Zea pada dirinya sendiri sambil mengelus memar yang ada di tangannya.
Zea kembali membaca buku, namun tiba-tiba aja ponsel milik Rakes berdering, satu panggil masuk, Zea segera mengambil ponsel tersebut yang memang tergeletak di dekatnya.
"Assalamualaikum, ada apa ayah?" Tanya Zea setelah melihat nama Iqbal muncul di layar ponsel Rakes.
"Zea, Rakes mana?" Tanya Iqbal dari seberang sana.
"Lagi masak."
"Masak? siapa yang istri siapa yang suami coba?"
"Ayah tau kan Zea mirip siapa?"
"Nggak tau!"Jawab Iqbal ketus.
"Dasar ayah durhaka anak sendiri aja nggak ingat. Uma mana?"
"Masih di rumah bunda, ah tuh kan hampir lupa maksud utama ayah nelpon. Panggil Rakes, ayah mau bicara."
"Siap my lovely ayah! bentar ya." Ujar Zea yang segera menyusul Rakes ke dapur.
Di dapur sana Rakes terlihat sedang bergulat dengan masakannya, Zea segera menghampiri lalu menyerahkan ponsel kepada sang pemiliknya.
"Ayah mau bicara!" Jelas Zea.
"Iya kapten!" Ujar Rakes setelah mengambil alih panggilan Iqbal.
"Sepuluh menit, kamu harus tiba di lokasi dalam waktu sepuluh menit dari sekarang." Jelas Iqbal tegas.
"Lokasi? apa kami akan berpartisipasi dalam misi kapten?"
"Iya. Aku akan kirim alamatnya, kamu urus seperti biasa, setelah pasti konfirmasi pada tim kami, aku dan tim akan bersiap di seputaran lokasi."
"Siap laksanakan!" Tegas Rakes.
"Oke, komandan kalian telah menerima pengajuan permohonan bantuan dari tim kami, dan sekarang Rafeal dan Marvel juga sudah menuju lokasi, bergegaslah!"
"Siap!" Tegas Rakes.
Pembicaraan berakhir, Rakes langsung berlari ke kamar untuk mengambil perlengkapan kerjanya lalu lekas kembali ke dapur di mana Zea masih duduk mematung di meja makan.
"Nah makanannya udah siap, makan dan lekas istirahat. Abang akan kirimkan beberapa penjaga buat memperketat penjagaan rumah. Jaga diri baik-baik, abang akan secepatnya kembali." Jelas Rakes.
Rakes langsung menyajikan nasi goreng komplit dengan sosis, bakso dan juga telor lalu segelas susu hangat. Perlahan mengusap lembut kerudung putih yang melekat di kepala Zea.
"Pergilah, aku bisa jaga diri dengan sangat baik." Jelas Zea dengan senyuman lebar.
"Abang berangkat, assalamualaikum!" Ujar Rakes lalu mengecup lembut kening Zea dan lekas pergi.
Rakes terlihat begitu terburu-buru, namun ia tetap melayani Zea. Zea yang memang sedang begitu lapar segera melahap semua masakan Rakes yang memang begitu menggiurkan.
___________________
"Apa kalian sudah tiba di lokasi?" Tanya Rakes yang masih fokus mengendarai motor dengan kecepatan diatas standar.
"Aku sudah di titik A, apa aku boleh langsung ambil peran?" Rafeal orang yang merespon lebih dulu.
"Aku akan tiba sekitar lima menit lagi, kamu bertindak lah lebih dulu, dan Harimau tetap jaga jaga di titik E."
"Oke!" Seru Marvel yang telah siap di posisinya.
"Siap beraksi!" Seru Rafeal.
Rafeal sedikit membenarkan jas dan dasi yang melekat di tubuh kekarnya, lalu dengan senyuman langsung melangkah memasuki gedung tersebut.
"Wah baru kali ini aku dapat peran seperti ini, senangnya. Aku jadi terharu, biasanya juga jadi anak SMP, jadi kutu buku, jadi preman pasar, jadi pocong, orang gila, haisssss menyebalkan. Oke, baiklah, Rafeal let's go!" Jelas Rafeal pada dirinya sendiri.
Langkah Rafeal terlihat begitu elegan, ia terus memasuki gedung tersebut hingga sang penjaga menahannya.
"Hai, apa aku masih tidak boleh masuk?" Tanya Rafeal sambil membuka tas bawaannya.
Para penjaga langsung memberi akses untuk Rafeal ketika melihat tas yang ia bawa di penuhi dengan uang seratus ribuan.
Setelah menutup kembali tas yang ia bawa, Rafeal segera memasuki ruang yang bertuliskan VIP.
Setelah pintu terbuka, suasana berbanding balik dari luar sana. Semua meja di penuhi oleh para pengunjung, tidak ada yang mengusik yang lainnya semua terlihat begitu fokus pada meja mereka masing-masing.
"Mau main sekarang?" Tanya seorang wanita cantik yang berdiri di dekat pintu.
"Oke!" Jawab Rafeal.
"Ayo mari!" Ajak Gadis tersebut yang langsung membimbing Rafeal mendekati sebuah meja.
"Yakin mau gabung di meja ini?" Tanya seorang pria dewasa yang terlihat begitu lihai memainkan kartu.
"Tentu, ayo pasang!" Tegas Rafeal yang langsung duduk di satu kursi yang memang masih kosong.
"Mau pasang berapa?" Tanya seorang wanita yang begitu elegan dan dia adalah satu-satunya wanita di lokasi tersebut.
"Seratus juta!" Jelas Rafeal yang langsung membuka tasnya.
"Deal, ayo pasang!" Jelas Wanita tersebut yang juga langsung menumpukkan uangnya di atas meja.
"Boleh aku ikutan?" Tanya seorang pemuda yang langsung melemparkan tasnya keatas meja tersebut.
"Dua ratus juta!" Lanjutnya lagi.
"Oke main!" Tegas Rafeal yang membuka tas miliknya satu lagi.
"Ayoooo kita mulai!" Jelas sang pemegang kartu dan langsung memulai permainan.
Suasana mulai tegang, kartu mulai di bagikan, semua raut wajah terlihat begitu serius memandangi kartu yang ada di tangan mereka.
"Aku datang kesini untuk melipat gandakan uang yang ku bawa bukan untuk melepaskannya begitu saja. Oke, good bey!" Jelas Rafeal yang langsung melemparkan kartu yang ada di tangannya lalu dengan gesit tangannya mulai mengutip semua uang yang ada di meja.
"Sial!" Gumam pria berdasi merah.
"Berhenti! atau aku akan melubangi kepalamu!" Jelas wanita elegan tersebut.
"Hah! aku sudah menduga kalau kejadian seperti ini pasti akan terjadi. Panggilkan pemilik tempat ini!" Tegas Rafeal.
"Aku pemiliknya!" Jelas Pria berdasi merah lalu tersenyum puas.
"Bukankah kamu harus mengatasi ke kekacauan ini?" Tanya Rafeal.
"Berhenti bersikap bodoh, Rafeal Rajaksa dan Rakes Al-Malik. Apa kalian berfikir kalau kalian berhasil membodohi kami? hah konyol, bukan kami yang terperangkap tapi kalian." Jelas Pria tersebut dengan senyuman penuh kemenangan.
"Harimau target telah di pastikan, minta pasukan khusus ambil alih!" Perintah Rakes sambil menyentuh benda yang ada di telinganya.
"Minta mereka semua datang, cepat tunggu apa lagi!" Gumamnya penuh amarah.
Wanita yang tadinya merupakan peserta di meja tersebut kini mulai menunjukkan siapa ia sebenarnya. seketika mengeluarkan dua unit senjata darii tasnya lalu mengarahkan tepat di dada Rakes dan Rafeal.
"Yang kalian incar bukan lapak judi kan? tujuan kalian adalah senjata, iya kan?" Jelas Wanita tersebut.
"Jika tim Iqbal tiba akan aku perlihatkan sebuah sinema layar lebar, jadi tidak sabar menunggu kedatangan sang monster!" Jelas Pria berdasi merah.
"Menyerahlah! gedung ini dalam pengintaian." Tegas Iqbal yang baru masuk bersama Hendra, Alam dan Luqman.
"Woowww, tamu istimewa telah datang, ayo kita mulai pestanya." Jelas pria berdasi merah.
Dinding putih bersih di belakang sana mulai menampilkan sebuah gambar.
Semua mata seketika tertuju pada dinding tersebut.
Terlihat jelas Wajah Elsaliani yang begitu ketakutan, keringat yang bercucuran, perut besarnya membuat ia begitu kesusahan dalam posisi duduk di jok belakang sebuah mobil dengan tali yang melilit di kedua tangannya.
"Apa kalian mengenalinya?" Tanya pria berdasi merah.
"********! lepaskan istri aku!" Gumam Iqbal dengan wajah yang dipenuhi kemarahan.
"Yakin cuma istri yang ingin kamu selamatkan, bagaimana dengan vidio yang satunya lagi!" Jelas Pria berdasi merah tersebut lalu kembali memutarkan sebuah vidio di dinding sebelahnya lagi.
Di Vidio yang kedua ada Zea berdiri di atas atap sebuah gedung dengan kedua tangan yang terikat kebelakang tubuhnya serta mulut yang terlapban sempurna. Zea tepat di bagian pinggir sisi gedung, sedikit saja dia bergeser dapat dipastikan tubuhnya akan terjun bebas ke aspal.
"Bagaimana? Istri atau anak?" Tanya Pria tersebut dengan senyuman penuh kemenangan.
"Hahhh! Apa kamu sedang menawar harga?" Tanya Iqbal yang melepaskan semua perlengkapan yang ada di tubuhnya, termasuk rompi anti peluru juga ikut ia tanggalkan.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan dua bocah ini sebagai pemanasan?" Tanya Pria berdasi merah.
Wanita yang tadinya mengarahkan senjatanya kearah Rafeal dan Rakes kini semakin mendekat, ia terlihat siap melepaskan pelurunya.
Para anak buah lainnya yang memenuhi ruangan tersebut juga ikut bersiap dengan senjata mereka di berbagai arah.
"Ternyata kalian dilatih dengan begitu gesit. Aku mulai sedikit takut!" Jelas Iqbal yang kembali melangkah mendekati sang bos mereka.
"Temi, usia empat puluh lima tahun, jabatan penguasa Naga Merah, memiliki tujuh belas ribu anak buah yang tersebar di berbagai lokasi, berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu, menguasai ekonomi gelap, dengan memperjual belikan senjata secara ilegal. Badai, dia salah satu mitra mu kan? ah satu lagi Kesya Marissa, dia putri tercinta mu, iyakan?" Jelas Rakes dengan senyuman lebar.
"Fadhil Pangestu, dia calon menantu mu, tebakan aku benarkan?" Lanjut Rafeal.
"Aku tau kalau aku cukup terkenal, jadi tidak heran kalau kalian berdua mengenaliku dengan sangat baik." Jelas Temi sang lelaki berdasi merah.
"Sudah ku duga ceritanya akan seperti ini. Oke nyawa istri untuk lima ratus unit senjata dan nyawa putriku untuk biaya ekspor." Jelas Iqbal.
"Ternyata kamu cerdas, aku suka kecepatan mu dalam berfikir." Jelas Temi.
"Konyol, kamu pikir aku akan membuat penawaran yang seperti tadi? lucu sekali. Aku tidak pernah mencampur adukkan urusan pribadi dengan tugasku. Terserah kamu mau membunuh atau menyiksa keduanya aku tidak peduli, misi ku adalah menangkap mu." Tegas Iqbal yang terus melangkah mendekati Temi.
"Baik, mulai!" Jelas Temi.
Perintah Temi langsung di laksanakan oleh para anak buah yang berada di lokasi. Di layar pertama ada Elsaliani yang terlihat sedang di cekik oleh seorang laki-laki yang mengenakan masker sedangkan di layar satunya lagi ada seorang lelaki yang mulai mengulurkan tali tambang yang ada di tangannya, tali tersebut terpasang di pinggang Zea, sehingga setiap kali tali di ulur maka tubuh Zea perlahan melayang di udara.
"Jika kapten Iqbal tidak memenuhi permintaan mu, maka aku yang akan beraksi." Tegas Rakes yang dengan gesit merampas senjata dari tangan wanita tadi lalu seketika mengarahkannya tepat di kening Iqbal.
"Deal, lima ratus unit senjata untuk nyawa uma dan jaminan keamanan dalam proses pengiriman untuk nyawa Zea." Tegas Rakes.
"Rakes!" Gumam Iqbal.
"Diam, aku bukan bawahan mu! aku tidak harus tunduk pada perintah mu, aku punya kekuasaan untuk bertindak sesuai pemikiran ku sendiri." Tegas Rakes dengan mata memerah mencoba menahan amarah.
"Hentikan anak buah mu! jika sesuatu terjadi pada Zea dan uma ku maka aku akan menghancurkan kalian semua, tanpa ampun!" Tegas Rakes yang semakin melangkah lalu menempelkan ujung senjatanya tepat di kepala bagian belakang Iqbal.
"Rakes!" Gumam Iqbal.
"Oke, aku jauh lebih suka dengan cara kerja bocah ini. Berhenti!" Jelas Temi yang langsung membuat para anak buah menghentikan aksi mereka.
Elsaliani terlihat begitu kesakitan, dia bahkan terlihat begitu susah untuk bernafas dengan baik, sedangkan Zea malah terlihat begitu tenang, tidak ada ketakutan sama sekali, dia masih bisa tenang meski tubuhnya melayang di udara, jika tali dilepaskan maka tubuhnya akan sukses meluncur dari lantai sepuluh menuju jalanan.
"Kalian menjadikan aku umpan. Dengar baik-baik, usaha kalian sia-sia, keluarga aku sudah memprediksikan bahkan hal lebih sadis dari ini. Ayah akan tetap melakukan tugasnya meski aku dan uma ku taruhannya. Dan aku bangga terlahir sebagai anak kapten Ahmad Iqbal Ardimas Saka, dia lelaki terhebat, dan aku akan selalu mencintai ayah ku, dan bangga dengan apapun keputusan yang ayah buat, meski resikonya adalah kematian aku sendiri." Jelas Zea bahkan di akhiri dengan senyuman bahagia.
"Suami ku, akan membuat pilihan yang tepat. Dia tidak akan mengorbankan negara hanya untuk menyelamatkan istri dan putrinya, kemaslahatan umum diatas kemaslahatan pribadi, begitulah cara kerja suamiku. Kalian, silahkan membunuh ku dan putri ku, tapi ingat suami ku pasti akan menghancurkan kalian semua." Jelas Elsaliani meski dengan air mata dan bibir yang gemetar.
Suara Zea dan Elsaliani terdengar begitu jelas menggema di ruangan di mana semuanya berada. Semua mata terus memandang kedua layar tersebut secara bergantian. Ucapan Zea dan Elsaliani sukses membuat siapapun yang mendengarnya tersentak seketika, mereka bahkan terdiam membisu menyaksikan kedua wanita tangguh milik sang kapten Iqbal.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ