My Princess

My Princess
#154



"Uma..." Panggil Rakes lalu kian mendekati Elsaliani yang sedang duduk di sofa.


Perlahan Rakes duduk lesehan di lantai tepat di depan kaki Elsaliani, tangan Rakes mulai menyentuh lembut tangan Elsaliani.


"Uma, jika nanti aku pergi lebih dulu dari uma, tolong biarkan Rafeal yang menggantikan tempat aku, karena aku tau hanya dia yang bisa menjaga Zea dengan baik." Jelas Rakes.


"Apa yang sedang kamu bicarakan? Rafeal memang bisa menjaga Zea dengan baik, tapi Rafeal tidak mencintai Zea sebagaimana kamu melakukanya." Jelas Elsaliani sambil membalas genggaman tangan Rakes di tangannya.


"Uma, sebenarnya banyak hal yang begitu aku takutkan! aku takut keberadaan aku justru membuat Zea terluka, aku takut karena aku Zea selalu dalam bahaya. Uma, maaf karena aku sama sekali tidak bisa menjadi suami yang baik untuk putri uma, dan.....dan....!" Jelas Rakes yang mulai meneteskan air mata.


"Rakes, Rakes, Rakeeeeees!" Panggil Elsaliani pelan dengan mata yang masih terpejam.


"Sayang,,,,!" Ujar Iqbal dengan perlahan menyentuh wajah Elsaliani yang mulai dibasahi dengan tetesan air mata.


"Rakes.....!" Ujar Elsaliani bersamaan dengan membuka kedua matanya.


"El, El baik-baik saja?" Tanya Ayu yang juga ikut mendekati Elsaliani.


"Bunda, mas!" Lirih Elsaliani.


"Dimana yang sakit? hmmmmm, jangan buat mas khawatir!" Jelas Iqbal.


"Mas...!" Lirih Elsaliani yang semakin larut dalam tangisnya.


"Sayang, ada apa? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa menangis?" Tanya Iqbal yang langsung mendekap wajah Elsaliani dengan kedua tangannya.


"El, tenangkan dulu dirimu. Semuanya baik-baik saja, kamu harus fokus pada kesehatan mu, kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu banyak pikiran." Jelas Ayu dengan senyuman.


"Bunda, El baik-baik saja. Tidak ada yang harus di khawatirkan. Hmmmm, bagaimana keadaan Rakes?" Tanya Elsaliani.


"Rakes baik-baik saja." Ayu langsung memberi jawaban karena tidak ingin di dahului oleh Iqbal, Ayu hanya tidak ingin kalau keadaan menantunya akan semakin memburuk jika tau keadaan Rakes yang sebenarnya.


"Iya sayang, Rakes baik-baik saja. Sekarang kamu istirahatlah, mas akan jagain kamu di sini." Jelas Iqbal.


"Syukurlah!" Ujar Elsaliani yang kembali memejamkan matanya, ia sedikit lega dengan kabar Rakes.


"Cepat sembuh sayang!" Ucap Iqbal lalu mengecup lembut kening Zea.


"Iqbal, bunda akan pergi untuk melihat keadaan Rakes sebentar, kamu jaga El dengan baik." Jelas Ayu.


"Baik bunda." Jawab Iqbal.


Ayu bergegas keluar dari ruang rawat Elsaliani. Iqbal masih terus menatap wajah teduh Elsaliani yang kembali terlelap, tangan Iqbal masih setia menggenggam kedua tangan Elsaliani.


Ayu terus melangkah menuju ruang VIP dimana Rakes di rawat, namun langkahnya seketika terhenti saat melihat semua orang sedang duduk diluar ruang tersebut lengkap dengan beberapa orang prajurit yang menjaga ketat ruangan tersebut.


"Bunda...!" Ujar Adimaja yang langsung menyambut kedatangan Ayu.


"Kenapa kalian semua diluar?" Tanya Ayu.


"Hanya satu orang yang boleh berada di dalam, ayo duduk dulu!" Jelas Adimaja.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Rakes baik-baik saja kan?" Tanya Ayu memastikan setelah ia duduk di sebelahnya Erina.


"Bunda..." Lirih Erina yang langsung menangis di pelukan Ayu.


"Erina, ada apa? jangan buat bunda takut. Rakes baik-baik saja kan?" Tanya Ayu sambil mengusap pelan punggung Erina yang terasa begitu rapuh.


"Abang Hadi sedang menemui dokter, belum ada kejelasan yang pasti tentang keadaan Rakes." Jelas Alam.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Apa luka Rakes begitu parah?" Tanya Ayu.


"Bunda, tenanglah dulu! Satu peluru tidak akan membuat Rakes terluka parah." Jelas Mikeal yang sejak tadi berusaha tenang.


"Bagiamana dengan keadaan El?" Tanya Tia.


"Dia baik-baik saja, dia hanya harus istirahat yang cukup!" Jelas Ayu.


"Syukurlah!" Ujar Hendra.


"Rafeal, Marvel, sampai kapan kalian akan mematung di situ, duduklah dulu!" Pinta Lexel.


"Aku harus menunggu Rakes di sini!" Jelas Rafeal.


"Aku akan berdiri sedekat mungkin dengan dia, saat ini dia butuh kita semua." Jelas Marvel yang terus berusaha menahan air matanya.


"Pak Rakes pasti akan baik-baik saja!" Tegas Ivent dengan mata sendu yang terus menatap daun pintu ruang rawat yang tertutup rapat.


Air mata yang menetes lembut dari ujung mata Rakes langsung disambut oleh telunjuk Zea, ia mengusapnya pelan.


"231, 232, 233, 234, 235, 236...." Sejenak Zea menarik nafas dalam lalu menatap kembali wajah pucat sang suami.


"237, 238, 239, 240....!" Lanjut Zea dengan nafas yang mulai tertahan karena sejak tadi terus mencoba menahan tangisnya.


"Huuuuf, haissssh! harus sampai berapa aku berhitung? apa harus sampai ribuan baru Chim chim mau membuka mata? haaaah! jangan buat aku semakin membenci Chim chim! jangan sampai merobohkan pertahanan ku, jangan tunggu sampai aku terkulai tak berdaya, bangunlah! aku mohon!" Jelas Zea yang perlahan mulai kalah dengan dirinya sendiri.


Ia yang terus berusaha kuat dan kokoh perlahan mulai kalah dengan keadaan yang ada, melihat tubuh Rakes yang terbaring tak berdaya akhirnya merobohkan pertahanan terkuatnya. Kini bak air bah, tangisnya tak bisa lagi ia bendung, isak tangis yang begitu memilukan dengan nafas yang tersengal-sengal dan jemari yang mulai gemetar, Zea perlahan menyentuh tangan Rakes yang terpasang silang infus.


"Haruskah cerita kita berakhir sadis seperti ini? bagaimana bisa Chim chim begitu kejam pada aku dan Raze Junior?"


Zea beranjak dari kursinya lalu kian berdiri mendekat pada kepala Rakes.


'Cup' Kecupan Zea mendarat di kening Rakes bersamaan dengan air matanya yang terjatuh dimata indah Rakes. Tangan Zea mengusap lembut rambut panjang Rakes, Sedikit menyibakkan rambut yang sejak tadi menutupi hampir seluruh bagian dari kedua bola mata Rakes.


Tangan Zea beralih beranjak menyentuh leher jenjang Rakes yang terlihat sedikit lebam di bagian kiri, lalu perlahan sentuhan Zea turun menuju dada Rakes yang baru saja mendapatkan beberapa jahitan.


"Jahitannya terlihat rapi dan cocok dengan kontak kotak indah milik Rakes. Malah terlihat semakin sempurna, ini indah, lalu kenapa Chim chim masih juga belum bangun, apa sekarang Chim chim sedang berada dalam mimpi indah sehingga Chim chim mengabaikan aku yang ada di dunia nyata?" Jelas Zea.


Entah apa yang merasuki pikiran Zea, kini perlahan ia malah membuka kancing baju pasien yang melekat di tubuh Rakes, satu persatu kancing mulai terbuka hingga memamerkan dengan jelas tubuh kekar nan indah milik Rakes.


'Cup' kali ini dada Rakes yang menjadi sasaran kecupan Zea.


"Apa aku harus bertindak lebih mesum lagi? bangun! marahi aku, larang aku, hentikan tingkah konyol ku ini, atau aku akan berbuat lebih jauh lagi. Aku merindukan Chim chim, aku sangat merindukan Chim chim!" Tangis Zea lalu membenamkan wajahnya pada bantal tepat di samping wajah Rakes.


"Aku rindu, aku rindu setengah mati, jangan hukum aku seperti ini...." Rancau Zea yang kian larut dalam tangisnya, namun tetap tidak ada respon sama sekali dari Rakes, ia masih saja terbaring tak sadarkan diri.


_______________


"Abang, apa kata dokter?" Tanya Erina yang langsung berlari menghampiri Hadi yang baru saja datang bergabung dengan mereka setelah keluar dari ruangan dokter yang menangani Rakes.


"Hadi, apa yang terjadi?" Tanya Adimaja yang ikut mendekati Hadi.


"Pa, Rakes akan bangun kan? dia akan segera sembuhkan? papa jawab aku!" Jelas Rafeal yang langsung menyentuh tangan kanan Hadi, tatapan Rafeal terlihat penuh harap.


"Pa, jangan diam? bicaralah!" Pinta Erina yang mulai kembali panik.


"Aku akan menemui dokter!" Jelas Marvel yang hendak pergi.


"Tidak ada yang harus dibahas lagi, Marvel. Tetaplah disini, temani Rakes." Jelas Hadi yang sontak membuat langkah Marvel terhenti.


"Apa yang abang bicarakan? ada apa sebenarnya dengan Rakes?" Tanya Mikeal yang tak lagi bisa tenang.


"Rakes, dia.....!" Jelas Hadi menggantung.


"Dia akan segera bangun! tidak akan ada hal buruk yang terjadi!" Tegas Rafeal.


"Akan aku bunuh kamu, Damar! aku akan membunuhmu!" Gumam Marvel dan lekas pergi.


"Ivent, Lexel cepat awasi Marvel!" Perintah Hadi.


"Baik pak!" Jawab Ivent dan Lexel dan lekas pergi.


Rafeal yang tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, ia langsung membuka kasar pintu ruang rawat Rakes.


"Bangun! dasar bajingan, tak berperikemanusiaan! hewan liar, serigala buas, bangun! aku bilang bangun sebelum aku membunuh mu!" Teriak Rafeal bersamaan dengan tinjunya yang menghantam dinding tepat di sebelahnya ranjangnya Rakes, ulah Rafeal membuat Zea segera bangun.


"Rafeal!" Ujar Zea kebingungan.


"Cepat bangun, atau aku akan merebut posisi mu, aku akan mengambil alih Zea dan juga bayi mu! aku tidak bercanda, akan akan menguasai semua milik mu! bangun!" Gumam Rafeal yang langsung merangkul Zea membuat Zea semakin kebingungan.


"Rafeal...!" Ujar Erina yang ikut masuk dengan di susul oleh yang lainnya.


"Bajingan kamu! kamu pikir aku bercanda, aku sungguh-sungguh akan merebut posisi mu, mama, papa, ayah, uma, Zea dan juga bayi mu, semuanya, aku akan mengambil semuanya! semuanya, jadi aku mohon bangunlah, bangun Rakes! " Gumam Rafeal dengan air mata yang kian menetes tanpa henti, matanya memerah, perasaannya benar-benar begitu kacau.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ