My Princess

My Princess
#172



"Roger, kamu habis dari mana? sejak tadi kakek terus menghubungi mu, tapi kenapa nggak kamu jawab? ada apa Roger?" Tanya Erina saat Roger baru saja menginjakkan kakinya di rumah.


"Ada hal penting yang sedang aku urus ma, aku akan menelpon kakek sekarang!' Jelas Roger dan berlalu meninggalkan Erina begitu saja.


"Sayang? apa terjadi sesuatu?" Tanya Erina yang mengikuti langkah Roger lalu menyentuh lembut tangan kanan sang putra tercinta.


"Ada kerjaan yang nggak berjalan sesuai rencana, mama tenang aja, aku akan menyelesaikannya!" Jelas Roger lalu perlahan memindahkan tangan Erina yang sedang menggenggam tangannya.


"Roger..."


"Please ma, aku butuh waktu sendiri!" Pinta Roger lalu bergegas ke kamarnya.


"Roger, apa yang sebenarnya sedang kamu kerjakan? kenapa mama begitu khawatir, firasat mama nggak enak tentang kamu dan juga abang mu" Ungkap Erina yang begitu khawatir pada kedua putranya.


Roger langsung menutup rapat pintu kamarnya lalu segera menghubungi sebuah nomor yang ada di ponselnya.


"Ini aku, lakukan sesuai perintah!" Jelas Roger setelah orang di seberang sana menerima panggilannya.


"Baik pak!" Jawabannya tegas dan pasti.


Setelah memutuskan panggilan tersebut Roger langsung melempar ponselnya ke atas kasur.


"Abang, maafkan aku! bagaimanapun pada akhirnya aku tetap harus menyakitimu." Ujar Roger bersamaan dengan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, sejenak menarik nafas dalam lalu perlahan memejamkan matanya.


___________________


"Abang.....!" Panggil Mariana dan langsung masuk ke kamar Marvel.


"Ana! ada apa?" Tanya Marvel yang langsung menutup laptopnya saat Mariana melangkah mendekatinya.


Mariana langsung duduk di samping Marvel lalu memeluk erat sang abang tersayang.


"Ana...." Ujar Marvel lalu mengusap lembut bahu Mariana.


"Apa salah jika aku mencintai Rafeal? kenapa rasanya dia terus saja menjaga jarak dari aku? aku sudah terlanjur mencintainya lalu bagaimana bisa aku melupakannya? abang, kenapa rasanya begitu susah untuk menjadi orang yang penting bagi Rafeal, aku sangat mencintai teman abang, apa yang harus aku lakukan?" Curhat Mariana dengan tetesan air mata.


"Ana, tenanglah!"


"Bagaimana aku bisa tenang jika hari demi hari cinta ini semakin besar, aku....."


"Tidak semua hal yang kita suka harus menjadi milik kita, adik abang tidak senaif itu kan? Abang percaya kalau Ana pasti bisa mengendalikan perasaan kamu dengan baik."


"Tapi..."


"Abang paham dengan perasaan kamu tapi abang juga tidak mungkin memaksa Rafeal untuk mencintai adik abang, abang serba salah, tapi percayalah abang adalah orang pertama yang berharap kalian bisa sama-sama."


"Apa mungkin di hati Rafeal masih ada Kania?"


"Ana, setiap hati punya hak untuk mencintai siapa saja dan kita sama sekali nggak punya hak untuk menghakimi rasa cinta orang lain. Jika kamu dan abang yang akhirnya harus menyerah maka itu bukan salah mereka, hanya saja takdir tidak berpihak pada kita berdua."


"Kenapa bicara seperti itu? apa abang berencana memberikan Kania pada Rafeal?"


"Ana, abang hanya mau kita siap dengan segala kondisi yang akan datang."


"Kenapa bertingkah konyol? kemana abang Marvel yang selalu ambisius yang aku kenal dulu?"


"Sudahlah Ana, berdamai lah dengan diri kamu sendiri, abang sayang kalian semua?" Ujar Marvel lalu mengecup kening Mariana.


"Aku akan tetap memperjuangkan cinta aku, akan aku tunjukkan pada Rafeal kalau aku pantas untuk dicintai." Tegas Mariana.


"Abang akan mendukung mu selama kamu tidak memaksakan kehendak kamu pada Rafeal, berjuanglah hingga Rafeal sendiri yang akhirnya datang lalu mengengam tanganmu!" Jelas Marvel.


"Akan aku perlihatkan siapa Mariana Revtankhar sebenarnya!" Ujar Mariana bangga.


"Hadeuhhhh di puji sedikit aja nih langsung terbang, dasar.......!" Cetus Marvel yang memainkan rambut Mariana dengan nakal.


"Haisssssh jangan buat aset kesayangan aku berantakan dong!" Gumam Mariana yang memang sejak dulu tidak suka saat ada yang menyentuh rambutnya.


"Ciiiih!" Cetus Marvel dan semakin melancarkan aksinya.


"Abang hentikan! udah ah aku mau balik ke kamar aja! dasar abang songong!" Gumam Mariana dan segera keluar dari kamar Marvel.


"Ana, maaf karena abang tidak bisa membantumu meluluhkan hati Rafeal, abang hanya bisa mendoakan semoga kalian bisa sama-sama seperti yang aku impikan selama ini. Karena aku akan tenang saat melihat sahabat yang aku sayang bersama dengan adik aku tersayang." Ujar Marvel dengan senyuman penuh harapan.


Tepat pukul Dua belas malam, Rakes terlihat masih saja menepuk bagian bahu Zea, ia melakukannya bukan tanpa alasan, semua itu agar Zea bisa tidur dengan tenang, karena sejak tadi Zea terus saja menggeliat sana sini untuk mencari posisinya tidur yang bisa membuatnya nyaman.


Rakes yang berbaring dengan menghadap kearah Zea dengan satu tangan yang menjadi alas kepala Zea dan satunya lalu ia gunakan untuk menepuk pelan bahu Zea.


Disaat Rakes terus saja menatap lembut wajah Zea yang baru saja terlelap di saat itu pula Zea kembali menggerakkan tubuhnya lalu memiringkan tubuhnya menghadap kearah Rakes.


"Chim chim!" Ujar Zea dengan mata yang masih terpejam lalu mulut yang sedikit bergumam kecil bahkan apa yang dia ucapkan sama sekali tidak bisa didengarkan oleh Rakes.


"Kamu pasti lelah banget, abang jadi nggak tega melihat kamu yang begitu susah bahkan hanya untuk menggerakkan tangan mu saja kamu begitu kewalahan. Zea, jika saja bisa abang ingin berganti posisi dengan mu...." Ujar Rakes dengan tangan yang kini beralih menyentuh wajah lelah Zea.


"Berhenti merasa bersalah, aku baik-baik aja!" Tegas Zea bersamaan dengan membuka matanya.


"Kamu belum tidur?"


"Lebih tepatnya kembali terjaga!"


"Sorry!"


"Chim chim, jangan pernah berpikir kalau aku nggak suka dengan keadaan ini, meski awalnya memang sedikit risih tapi aku lama ke lamaan aki mulai menikmati kehamilan ini, perut aku yang kian hari kian membesar seolah memberi aku kesenangan yang luar biasa. Raze Junior adalah bukti cinta abang, dan aku benar-benar baik-baik saja." Jelas Zea lalu sedikit menggeserkan tubuhnya agar semakin dengan Rakes.


"Tapi....."


"Aku sangat mencintai Chim chim!" Ujar Zea lalu menyentuh lembut leher Rakes dan beberapa saat kemudian membenamkan wajahnya di dada Rakes.


"Setelah melahirkan nanti, ayo kita resmikan pernikahan kita..."


"Benarkah?"


"Iya, abang tidak ingin lagi menyembunyikan hubungan kita, abang ingin seluruh dunia tau kalau kamu bukan adik abang tapi kamu adalah istri sah abang!"


"Jadi nggak sabar nunggu hati H datang, aku juga ingin semua orang tau kalau Chim chim adalah milik aku, agat tidak ada lagi gadis-gadis yang mengejar Chim chim!"


"Kamu ini..." Ujar Rakes lalu mengusap lembut rambut Zea.


"Aku mencintai abang Rakes."


"Abang tau! ayo tidur!'


"Hmmmmm" Lalu keduanya kembali mencoba untuk tidur.


_________________


"Abang, temanmu datang nih!" Teriak Mariana dari teras saat melihat kedatangan Rafeal.


"Abang....!" Mariana kembali berteriak karena tak ada jawaban sama sekali.


"Masuklah, mungkin abang masih di kamar!" Jelas Mariana yang langsung mengambil tasnya dan lekas menuju mobilnya.


"Ana....." Panggil Rafeal.


"Iya kenapa?" Tanya Mariana.


"Aku ke sini karena ingin ketemu sama kamu!" Jelas Rafeal.


"Apa? udah jangan bercanda! mana mungkin pagi-pagi buta nyariin aku. Aku harus berangkat, sorry aku nggak bisa melayani bercandaan mu!" Ujar Mariana yang langsung masuk ke mobil.


"Ana, aku..." Panggil Rafeal yang kemudian langsung menghentikan ucapannya karena mobil Mariana mulai beranjak pergi.


"Apa yang sebenarnya sedang aku lakukan?" Gumam Rafeal pada dirinya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam.


Dari dalam mobil Mariana terus memerhatikan sosok Rafeal.


( Hufffffff baiklah, aku akan mulai permainannya Rafeal, akan aku buat kamu tergila-gila pada ku, ini baru permulaan, setelah ini kita akan lihat siapa yang akan mengejar siapa! aku pasti akan mendapat kamu, Rafeal.) Tegas Mariana pada dirinya sendiri dan lekas berangkat ke kantor.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE 😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ