My Princess

My Princess
#129



Suara bel yang di tekan berkali-kali membuat Zea mau tak mau harus bangkit dari sofa. Meski dengan perasaan kesal Zea langsung meninggalkan sofa yang di penuhi dengan berbagai jenis makanan ringan, dengan bermalas-malasan terus mendekati pintu utama lalu membukanya.


"Hai....!" Sapa Rayyan dengan memamerkan plastik yang di penuhi buah-buahan di kedua tangannya


"Waaah, ini buat aku semua?" Tanya Zea kegirangan.


"Pastinya dong, aku dengar kamu lagi nggak enak badan makanya habis dari rumah nenek aku langsung meluncur ke sini, aku bahkan tidak masuk ke rumah aku dulu, aku khawatir, gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Rayyan penuh perhatian.


"Benar-benar sahabat terbaik! love you, ayo masuk!" Jelas Zea yang langsung mengambil plastik yang ada di kedua tangan Rayyan.


Zea langsung masuk di susul oleh Rayyan, keduanya duduk di sofa yang ada di ruang TV, tempat biasanya Zea berkumpul dengan para pasukan recehnya.


"Ayo duduk!" Ajak Zea yang lebih dulu duduk di sofa yang tadi sempat ia tinggalkan.


"Kamu yang menghabiskan semua ini?" Tanya Rayyan dengan pandangan yang masih menatap semua bungkus makanan yang berserakan di sofa, meja dan juga lantai.


"Terus? masih ada sisa kok, kalau mau kamu boleh makan!" Jelas Zea yang kini sibuk mengunyah apel yang barusan Rayyan bawa.


"Kamu benar-benar hobi makan, bukannya berkurang tapi malah lebih parah!" Ujar Rayyan yang kini beranjak mengutip semua sampah yang berserakan.


"Mau gimana lagi!" Ujar Zea dengan wajah polosnya.


"Biar aku yang bereskan, makanlah!" Jelas Rayyan.


"Meleleh, kayaknya liburan ke rumah nenek membuat kamu semakin bijaksana deh, terima kasih atas bantuannya!" Ujar Zea yang kini beralih memakan anggur


"Kok sepi? uma mana? terus abang kesayangan mu itu juga nggak kelihatan? apa masih di kampus?" Tanya Rayyan.


"Uma dan abang Rakes lagi belanja, paling bentar lagi juga pulang." Jelas Zea.


"Zea...."


"Hmmmm!" Ujar Zea yang semakin larut dengan buah anggur.


"Kamu yakin mau home schooling?"


Pertanyaan Rayyan membuat Zea langsung menghentikan aktivitas makannya, keduanya saling menatap satu sama lain.


"Kamu benar-benar mau ninggalin kami semua? kalau iya, kami pasti akan sangat merindukanmu, terutama aku!"


"Rayyan, aku....aku masih tinggal di depan rumah kamu loh, kamu masih bisa temui aku kapanpun kamu mau!"


"Nggak akan sama Zea, semuanya akan beda, kamu yakin mau melepaskan masa SMA kamu begitu aja?"


"Ini semua keputusan ayah, aku hanya mengikuti perintah."


"Zea yang aku kenal tidak akan mengiyakan semudah itu, apa aku harus memohon pada kapten Iqbal?" Tanya Rayyan yang terlihat semakin serius.


"Tidak akan ada perubahan sekalipun kamu memohon!" Tegas Rakes yang baru saja melintasi ruangan tersebut.


"Chim, abang Rakes!" Ujar Zea.


"Kita tidak tau jika tidak mencobanya! lagi pula itu keputusan om Iqbal bukan keputusan mu!" Jelas Rayyan.


"Oke, cobalah!" Ujar Rakes dan segera meninggalkan ruangan tersebut.


"Dasar! Zea, apa sih yang kamu lihat dari cowok seperti dia? coba pikir ulang lagi apa pantas dia jadi pacar kamu!" Jelas Rayyan.


"Rayyan..."


"Oke, aku nggak akan protes lagi. Aku pamit, nanti malam aku bakal kesini lagi bareng semuanya. Assalamualaikum!" Jelas Rayyan yang bergegas keluar dengan membawa satu plastik sampah bersamanya.


"Abang Rakes!" Panggil Zea sambil terus mencarinya ke semua ruangan.


"Rakes baru aja naik ke atas!" Jelas Elsaliani yang sedang menata belanjaan ke kulkas.


"Waaah ada semangka, Zea mau uma!" Pinta Zea saat melihat semangka di tangan Elsaliani.


"Apa mulut kamu nggak capek makan terus?"


"Uma...."


"Zea, sana susul Rakes dulu, saat ini dia pasti sedang cemburu, semangkanya biar uma yang potong dulu."


"Tapi..."


"Zea...."


"Oke, uma sayang! Semangka tercinta tungguin kedatangan aku ya!" Ujar Zea lalu segera menuju tangga.


Zea menghentikan kakinya tepat diantara kedua pintu kamar. Sejanak menatap kedua daun pintu secara bergantian, hingga akhirnya tangan Zea meraih gagang pintu kamar Rakes namun di saat yang bersamaan pintu kamarnya terbuka dari dalam, sosok Rakes muncul dari sana.


"Chim chim!" Panggil Zea lalu mendekat pada Rakes.


"Abang mau keluar!" Jelas Rakes dengan kedua tangan yang sibuk merapikan kemejanya.


"Apa ada pesanan?"


"Nggak ada!" Tegas Zea yang langsung masuk ke kamarnya, ia bahkan menutup pintu dengan begitu kasar.


Zea langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur, lalu pandangannya langsung fokus pada layar ponsel yang sedang berada di tangannya.


Dengan kasar Rakes merebut ponsel Zea lalu melemparkannya keatas tempat tidur.


"Kalau cemburu ya bilang terus terang, jangan malah ngajak berantem!" Jelas Zea yang langsung bangun lalu memeluk erat pinggang Rakes.


"Kamu sengaja buat abang kesal?"


"Habisnya kalau lagi kesal Chim chim lebih imut. Chim chim, Rayyan adalah sahabat aku, nggak lebih dari itu, jangan lagi cemburu padanya." Jelas Zea.


"Ntahlah Zea, abang tau kalau bocah itu sahabat kamu, tapi tetap saja dada abang sesak saat melihat kalian saling bertatapan."


"Bertatapan? aku dan Rayyan? tuh kan, jangan salah paham!"


"Abang nggak salah paham, hanya saja abang benar-benar gerah melihat kalian barusan!"


"Oooooooh aku paham sekarang!" Ujar Zea yang langsung mencoba membuka kemeja Rakes.


"Zea..." Ujar Rakes yang langsung menghentikan Zea.


"Tadi katanya gerah?" Goda Zea.


"Huuuuf!" Ujar Rakes mencoba menenangkan dirinya, lalu kembali mengkancingi kemejanya.


"Ayo sini, duduk!" Ajak Zea dan Rakes hanya menurutinya.


"Chim chim!"


"Iya."


"Chim chim!"


"Hmmmmm, kenapa?"


"Chim chim!"


"Apaan?"


"My lovely Chim chim!"


"Apa?" Tanya Rakes kali ini langsung menatap intens mata Zea.


"Lucu!" Ujar Zea diiringi tawa pecahnya.


Zea yang tidak lagi bisa menahan tawanya membuat Rakes kebingungan.


"Aku suka lihat wajah Chim chim yang kebingungan seperti ini, lucu mirip anak TK yang kehilangan ibunya di mol!" Jelas Zea masih dengan gelak tawanya.


"Apa iya?" Tanya Rakes dengan tangan yang menyentuh wajahnya.


"Chim chim, meski mereka sahabat aku, aku masih tau batasan kok, aku memang hanya memiliki teman cowok, karena mereka yang lebih paham dengan apa yang aku mau, kami berteman baik sejak dulu, dan persahabatan kami tidak pernah menyebrangi batas apapun. Rayyan, Bian, Taufan dan juga abang Rafeal, buat aku mereka sama. Hanya abang satu satunya yang aku cintai, so simpan semua rasa cemburu itu, karena sampai kapanpun hanya ada abang Rakes Al-Malik di hati aku." Jelas Zea sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Rakes.


"Terima kasih karena memilih abang!" Ujar Rakes.


"Lapar!" Lapor Zea manja.


"Lapar? bukannya tadi kamu baru aja makan? lapar lagi?"


"Jangan salahin aku, tuh Raze Junior yang pengen makan mulu!"


"Beneran nih?"


"Serius, rasanya tubuh aku tambah melar deh, makin berat buat gerak, maunya rebahan terus."


"Ya udah ayo makan!"


"Asyikkkk!" Ujar Zea girang.


Keduanya lekas keluar kamar dan segera menuju dapur.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️