
πSatu Bulan Kemudianπ
Setelah satu bulan berangkat tugas akhirnya hari ini misi terselesaikan dengan sempurna, setelah berberes beres di markas dan membuat laporan ketiganya langsung meluncur untuk menemui orang yang begitu mereka rindui selama satu bulan ini. Makan malam waktu itu adalah pertemuan terakhir mereka karena subuhnya mereka langsung berangkat menuju lokasi tugas yang memang berada di luar kota.
Rafeal yang masih berpenampilan acak-acakan terus turun dari motornya, ia terus berlari kecil memasuki sebuah gedung megah namun langkahnya langsung di hentikan oleh empat orang satpam yang memiliki badan kekar.
"Anda di larang masuk!" Tegas salah satu diantara mereka dengan tangan yang langsung menghadang bahu Rafeal.
"Haisssssh! aku Rafeal." Jelas Rafeal.
"Aku tidak peduli siapa anda, yang jelas anda di larang masuk. Orang asing dan orang yang mencurigakan dilarang masuk kedalam kawasan kantor ini." Jelas Satpam lainnya.
"Apa aku harus telpon papi aku lebih dulu?" Gumam Rafeal yang begitu kesal.
"Saya tidak peduli, di sini kami hanya menjalankan perintah atasan kami." Jelas Satpam yang sejak tadi memang terus memperhatikan sosok Rafeal.
"Ghaffar Revtankhar, apa aku harus minta papi ke sini?" Jelas Rafeal.
Seketika keempatnya langsung mengecek ponsel mereka untuk memastikan benarkah lelaki yang ada di hadapan mereka adalah putra sulung Ghaffar Revtankhar yang tidak lain adalah pemilik gedung tersebut.
"Jelas-jelas kamu sedang membohongi kami, seret dia keluar." Tegas salah satu satpam setelah mengecek wajah Rafeal yang jelas berbeda dengan foto wajah Marvel yang ada di ponsel mereka.
"Aku putra nomor duanya." Jelas Rafeal
Tanpa tunggu lama dua orang satpam langsung menyeret Rafeal keluar dari gedung tersebut.
"Rafeal!" Ujar Mariana yang hendak masuk lalu tidak sengaja melihat Rafeal yang sedang bergulat dengan para satpam.
"Bu Ana! selamat pagi bu!" Sapa keempat satpam dengan begitu ramah.
"Bu Ana kenal dengan bocah berandalan ini?" Tanya salah satu satpam.
"Bocah? berandalan? aaaah iya pak, dia adik saya." Jelas Mariana.
"Adik? jadi benar kalau dia juga anak pak Revtankhar? bukan cuma tuan Marvel tapi ada satu lagi?" Jelas satpam yang berdiri di samping Mariana.
"Iya pak!" Jelas Mariana dengan senyuman.
"Maafkan kami tuan!" Pinta keempatnya serentak dengan kepala tertunduk.
"Ayo masuk!" Ajak Mariana yang langsung menarik tangan Rafeal untuk ikut bersamanya, dan Rafeal hanya menurut.
"Pak Revtankhar memang jago dalam urusan menyembunyikan putra-putranya, apa nanti akan muncul lagi putra ke tiga, empat dan seterusnya!" Jelas salah satu setelah Rafeal dan Mariana menghilangkan dari sana.
"Kita harus siap-siap nih, sepertinya bakal di pecat!" Keluh yang lainnya.
"Kita sudah begitu kasar dengan bocah, ah maksud aku tuan muda Revtankhar." Jelas yang lainnya.
"Nasib ya nasib!" Ujar seorangnya lagi lalu menghela nafas putus asa.
____________________
"Kapan pulang?" Tanya Mariana saat keduanya berada di dalam lift.
"Baru aja!" Jawab Rafeal singkat.
"Apa papi yang nyuruh kamu ke sini? terus abang Marvel mana?" Tanya Mariana.
"Bukan papi, dan soal Marvel aku rasa dia pergi menemui Kania." Jelas Rafeal.
"Ooooo, kalau bukan papi, terus kenapa ke sini?" Tanya Mariana.
"Ntahlah, tiba-tiba aja kaki aku maksa untuk ke sini!"
"Nggak lucu!"
"Apa kamu tidak ingin bertanya hal lainnya?"
"Maksud kamu?"
"Sebulan, sudah sebulan penuh kita nggak ketemu, apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada ku?"
"Tidak ada!" Tegas Mariana bersamaan dengan pintu lift terbuka.
"Kenapa nggak keluar?" Tanya Mariana setelah keluar dari lift dan mendapati Rafeal yang masih berdiri di posisi semula.
"Rindu?" Seru Rafeal.
"Ooooo jadi kamu mau ketemu dengan orang yang namanya rindu? ya udah, semoga kamu ketemu sama orangnya!" Ujar Mariana lalu pintu lift tertutup kembali memisahkan keduanya.
"Sudah ketemu kok, dan iyap, sedikit terobati, ternyata aku memang sudah gila, bisa bisanya aku rindu dengan dia." Ujar Rafeal pada dirinya sendiri.
Disisi lain, Mariana langsung memasuki ruang kerjanya lalu menutup pintu rapat rapat.
"Huuuuuuuuuf! akhirnya setelah setiap malam tidak bisa tidur nyenyak karena merindukan manusia receh itu akhirnya terobati sudah, yah meski hanya sekedar ngebahas hal yang nggak penting, setidaknya aku bisa menatap wajah polosnya." Ungkap Mariana lega dan segera menuju meja kerjanya.
_____________________
Tangan Kania perlahan mengetuk pintu, hingga suara dari dalam memintanya untuk masuk.
"Iya masuk!"
Meski begitu ketakutan perlahan Kania membuka pintu ruangan tersebut lalu melangkah sepelan mungkin dengan wajah tertunduk.
"Selamat pagi pak!" Ujar Kania masih dengan kepala tertunduk.
"Sayang, abang rindu!" Ujar Marvel dan langsung memeluk Kania.
Perlakuan Marvel sontak membuat Kania kaget dan langsung mencoba melepaskan tubuhnya dari Marvel.
"Abang Marvel..." Ujar Kania.
"Abang sangat merindukan mu!"
"Abang ini ruangan pak kepala sekolah, abang kenapa di sini? dan kalau sampai pak kepala sekolah lihat gimana?"
"Kamu tenang aja, abang udah minta izin kok!" Jelas Marvel lalu mengusap lembut pucuk kelapa Kania.
"Aku jauh lebih rindu, rasanya sudah bertahun-tahun lamanya. Aku bahkan hampir gila karena terus melihat bayang abang di mana-mana!" Lapor Kania dengan wajah yang begitu penuh kesedihan.
"Maaf, karena tugas kali ini memakan waktu lama!"
"Aku ngerti, aku paham hanya saja rindu ini tidak bisa berdamai sama sekali, aku sangat merindukan abang!" Ungkap Kania dan langsung memeluk Marvel.
"Abang jauh lebih rindu! sekarang kembalilah ke kelas, abang akan tunggu disini, kita pulang sama-sama."
"Benarkah?"
"Hmmmmm, ayo makan siang bersama!"
"Ayyo!" Ujar Kania girang.
"Ya udah sana gih balik ke kelas."
"Oke, miss you! ingat jangan ngilang, tunggu aku di sini." Jelas Kania.
"Siap nyonya muda Revtankhar!" Ujar Marvel dengan senyuman hingga membuat Kania tersipu malu.
"Apa karena pacaran dengan bocah SMA makanya aku jadi ketularan alay gini. Marvel, Marvel, kamu malah ikut ikutan jadi kayak anak SMA!" Ujar Marvel pada dirinya sendiri setelah Kania kembali ke kelas.
_________________
"Zea...." Panggil Rosita entah untuk yang keberapa kalinya, namun masih saja tak ada jawaban apa-apa, Zea masih saja duduk melamun dengan wajah yang begitu murung.
Rosita adalah guru matematika yang selama hampir satu bulan ini menjadi salah satu guru homeschooling-nya Zea. Karena sejak kembali aktif sekolah Zea di haruskan untuk belajar di rumah sesuai dengan keputusan yang dibuat oleh Hadi dan Iqbal.
"Zea...." Tegur Rosita lalu perlahan menyentuh bahu Zea yang bersandar di kursi.
"Hmmmm, iya, ada apa bu?" Tanya Zea saat mendapati Rosita yang kini duduk di sampingnya.
"Apa kandungannya baik-baik saja?" Tanya Rosita lalu sejenak menatap perut Zea yang kini jalan lima bulan.
"Iya baik, ayo kita mulai pelajarannya!" Ajak Zea.
"Yakin mau mulai sekarang? kamu terlihat sedang tidak dalam keadaan yang bisa menerima pelajaran dengan baik, ayo cerita sama ibu, kamu pasti sedang kepikiran sama pak Rakes kan?" Jelas Rosita.
"Apa terlihat begitu jelas?" Tanya Zea.
"Apa salahnya? lagi pula merindukan suami hal yang sangat wajar."
"Benarkah bu?'
"Hmmmm, tapi harus dalam batas wajar jangan sampai rasa rindu malah mendatangkan mudharat bagi kamu dan juga bayi kalian."
"Tapi aku benar-benar merindukan suami aku!" Jelas Zea dengan wajah tertunduk.
"Zea, ibu permisi sebentar ya!" Ujar Rosita saat melihat kedatangan Rakes.
"Iya bu!" Jawab Zea masih dengan pandangan yang menatap lantai.
Rosita beranjak pergi lalu tempat tersebut di ambil alih oleh Rakes.
"Abang juga rindu!" Ujar Rakes yang langsung mendekap erat tubuh Zea.
"Chim chim!" Ujar Zea setelah tau bahwa yang kini bersamanya adalah sang suami tercinta.
πππππππ
Jangan lupa Like comen n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessππ
KaMsaHamida πππππ