My Princess

My Princess
#030



"Di bagian mana dia menyentuh mu? abang akan hapus bekas tangan kotor itu dari tubuh mu!" Tegas Rakes yang kini kembali berdiri dihadapan Zea.


Zea yang tadinya sedang tiduran kini segara bangun lalu duduk menghadap Rakes.


"Seluruh wajah dan tanganku!" Lapor Zea.


"Mandilah, bersihkan badanmu, wudhu lalu kita sholat Insya berjamaah." Jelas Rakes.


"Baiklah!" Zea menurut, ia segera turun dari kasur.


"Pakailah baju manapun yang kamu suka, semua isi lemari kamar ini milikmu, abang tunggu di luar!" Jelas Rakes.


"Semua ini?" Tanya Zea setelah membuka semua pintu lemari.


"Hmmmm."


"Chim chim yang menyiapkan semua ini? sejak kapan?"


"Udah nggak usah banyak tanya, sana gih cepat mandi!"


"Siap bos!" Tegas Zea dan langsung masuk ke kamar mandi.


Rakes menunggu Zea sambil menonton sebuah acara reality show yang diputar di salah satu stasiun TV.


"Abang....!" Panggil Zea yang masih berdiri agak jauh dari Rakes.


Rakes segera mengalihkan pandangannya ke asal suara yang memanggil namanya. Mata Rakes seakan tidak bisa berhenti menatap sosok Zea, bahkan tanpa ia sadari kakinya langsung bangkit lalu berdiri, tangannya yang tadi mengupas kacang seketika terhenti dengan sendirinya, Rakes masih saja mematung dengan mata yang tak berkedip sama sekali.


"Abang! Apa aku terlihat begitu mengerikan? sampai abang menatap aku seperti itu?" Tanya Zea dan terus berusaha mengecek penampilannya.


"Zea, kamu cantik banget! bagaimana kalau pertahanan abang roboh? ayo kita nikah! abang tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Jelas Rakes yang masih saja menatap Zea dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Mendengar penjelasan Rakes membuat pipi Zea memerah sempurna, bahkan Zea sampai salah tingkah. Zea hanya menunduk, matanya tidak lagi berani menatap Rakes.


"Zea...!" Ujar Rakes yang mulai melangkah mendekat pada Zea.


"Chim chim, a.....abang Ra...kes...!" Kini bahkan Zea dibuat benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya.


"Imut sekali calon istri abang yang biasanya bar-bar tapi seketika jadi pemalu seperti ini."


"Berhenti menggoda aku! atau Chim chim emang sengaja mau mancing aku?" Jelas Zea yang kembali menatap Rakes bahkan tangan Zea hendak menyentuh wajah Rakes namun dengan spontan Rakes menghindari sentuhan tersebut.


"Soal kejadian tadi abang minta maaf! abang yang salah, abang tidak bisa mendidik adik abang dengan baik, abang yang tidak bisa menjaga Roger hingga dia jadi cowok kasar, maafkan abang. Dan juga, maaf karena abang datang telat, abang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Setelah ini akan abang pastikan kalau kejadian seperti tadi tidak akan lagi menimpa mu, abang janji!"


"Apa Chim chim tau apa yang abang Roger katakan?"


"Hmmmmm! abang dengar semua pembicaraan kalian, abang lihat semua perbuatan dia padamu, dan abang juga sudah membalas semua perlakuannya."


"Maksud Chim chim?"


"Terima kasih karena masih tetap memilih abang meski ada pilihan yang seratus kali lebih baik dari abang!"


"Chim chim dengar semuanya?"


"Iya, abang janji, abang akan mencintai kamu hingga abang lupa dengan cinta yang lainnya, bahkan cinta untuk diri abang sendiri."


"Manisnya, ingin rasanya aku peluk tubuh kekar itu!" Goda Zea sambil menunjuk tubuh Rakes.


"Mulai lagi deh bar-barnya, ayo solat!"


"Ayo imam ku!" Jawab Zea dengan senyuman lebar lalu mengikuti langkah Rakes.


"Apa aku kelihatan sangat cantik mengenakan mukenah ini?" Tanya Zea yang terus mengikuti langkah Rakes.


"Apa abang harus menjawab pertanyaan konyol mu itu?"


"Zea, bagi abang kamu, hanya kamu satu satunya wanita tercantik dimuka bumi ini!" Tegas Rakes.


"Aduhhhhh!" Seru Zea dengan tangan yang menyentuh dadanya.


"Kenapa? kamu sakit?"


"Jantung dan hati aku yang bermasalah, jawaban Chim chim membuat bunga-bunga bermekaran disini!" Jelas Zea dengan tangan yang masih menunjuk bagian hati dan jantungnya.


"Kumat lagi!" Cetus Rakes sambil menepuk jidatnya.


Rakes langsung berdiri tegap ketika keduanya sampai di sebuah ruangan yang ditata khusus untuk tempat ibadah, terlihat begitu teduh dan nyaman, Rakes mengambil posisi paling depan di susul dengan Zea yang berdiri tepat di belakang Rakes sebagai makmum yang siap mengerjakan sholat Insya berjamaah dengan sang imam tercinta.


_____________________


"Haiiiishhhhhhhh!" Teriak Roger penuh kekesalan.


Semua barang yang ada di hadapannya di banting ke lantai, bahkan kakinya berulang kali menendang segala sesuatu yang ada di dekatnya.


Hanya butuh waktu beberapa menit, ruang tamu tersebut telah disulap menjadi ruang yang bak kapal pecah.


"Aku akan membalas semua ini! abang Rakes, aku pasti akan mengambil kembali milikku, hanya aku yang bisa memiliki Zea." Gumam Roger penuh ambisi.


Keadaan Roger saat ini benar-benar kacau. Roger tidak hanya gagal menyentuh Zea, tapi ia juga harus mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya terutama pada bagian tangan kanan yang tadi ia gunakan untuk menyentuh Zea.


"Permainan ini belum berakhir abang! Kamu yang membuat aku jadi monster. Kenapa kamu boleh menyentuhnya sedangkan aku tidak boleh? kamu bahkan melukai tangan aku karena menyentuh dia! haaaiiiiiish, lihat saja aku juga bisa berlaku lebih kejam dari abang." Gumam Roger dan kembali meringis kesakitan.


"Kamu benar-benar sudah gila!" Seru Marvel sambil terus melangkah menghampiri Roger.


"Apa dia yang mengirim abang ke sini?" Tanya Roger lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.


"Obati luka mu!" Tegas Marvel lalu melempar sebuah plastik yang berisi obat ke sisi Roger.


"Tinggalkan aku sendiri!"


"Jika aku yang jadi Rakes, aku pasti telah membunuhmu!" Tegas Marvel.


"Haaah! kenapa? apa aku salah?"


"Tidak, kamu tidak salah sama sekali, hanya saja otakmu yang bermasalah. Kenapa selalu saja merampas milik Rakes? dia begitu menyayangimu tapi apa balasan mu?"


"Berhenti bicara omong kosong!"


"Terserah, aku sama sekali tidak tertarik untuk berurusan dengan adik yang tak tau diri seperti mu. Obati lukanya, jangan sampai om Iqbal atau om Hadi tau tentang cerita malam ini karena kalau itu terjadi, kamu pasti akan digantung hidup-hidup!" Jelas Marvel dengan tatapan dinginnya.


"Pergi!" Teriak Roger yang kembali menendang barang-barang yang berserakan di lantai.


"Jaga dirimu baik-baik!" Cetus Marvel yang langsung pergi dari rumah tersebut.


"Sial! dasar nggak guna, haiiiiish" Teriak Roger disertai dengan tangisan yang meledak tanpa lagi bisa ia kendalikan.


Roger kembali membanting semua barang, bahkan obat yang di bawa Marvel ikut jadi sasaran, tidak hanya membanting ia bahkan menginjak-injak semuanya.


Roger begitu di kuasai oleh nafsu dan ambisinya, membuat hati dan otaknya tidak lagi bisa berfungsi dengan baik. Mata yang telah memerah sempurna, tenaga yang telah terkuras habis, keringat yang telah membasahi seluruh wajahnya membuat Roger begitu kelelahan hingga ia ambruk ke lantai.


"Kenapa bukan aku? kenapa kamu tidak memilih aku Zea!" Teriakan Roger kian melemah hingga membuat dirinya kehilangan kesadaran.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya😉😉


Stay terus sama My Princess 😘😘😘


KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️