
"Ya ampun ponsel aku ketinggalan, Rafeal bisa tolong ambilkan ponsel aku sebentar?" Ujar Roger saat ketiganya sedang duduk di kursi taman menikmati angin sepoi-sepoi yang membuat suasana semakin sejuk dan tenang.
"Oke!" Ujar Rafeal dan bergegas kembali ke dalam.
"Ayo ikut abang!" Ajak Zea setelah Rafeal pergi.
Zea langsung menarik tangannya yang berada dalam genggaman Roger, membuat Roger manatapnya tak suka.
"Kenapa? apa abang nggak boleh pegang lagi tangan kamu? apa sekarang kamu membatasi sepenuhnya dirimu dari abang?" Tanya Roger yang kembali menyentuh tangan Zea.
"Lepas!" Tegas Zea yang kali ini menarik dengan begitu kasar.
"Berhenti membuat abang menggila! jangan minta abang berbuat kasar, tolong jangan ubah cinta mati ini menjadi benci yang berdendam." Jelas Roger yang langsung memeluk Zea.
"Tolong lepas!"
"Sebentar saja!"
"Abang tau, abanglah yang membuat aku jadi kasar." Tegas Zea yang langsung memberontak lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan Roger.
Zea melangkah menjauh beberapa langkah dari Roger, Roger ingin kembali melangkah namun segera ia hentikan karena Rafeal telah datang kembali.
"Nih!" Ujar Rafeal sembari menyodorkan ponsel ke arah Rafeal.
"Terima kasih!" Ucap Roger yang langsung meninggalkan tempat tersebut.
"Zea, ada apa?" Tanya Rafeal yang melihat Zea yang terlihat sedang berusaha menahan air matanya.
"Aku masuk dulu!" Ujar Zea dan langsung berlari masuk ke dalam.
"Apa Roger melakukan sesuatu selama aku pergi? sialan!" Gumam Rafeal yang segera ikut masuk.
Rafeal yang sama sekali tidak menemukan Zea meski sudah mencarinya ke seluruh ruangan.
"Rakes bangun!" Pinta Rafeal dengan tangan yang langsung menarik lengan Rakes hingga membuat badan Rakes seketika terduduk di sofa.
"Apa lagi? aku lelah!" Gumam Rakes.
"Zea hilang! aku sudah mencarinya tapi tidak ada." Jelas Rafeal.
"Apa katamu?" Gumam Rakes.
"Katanya dia mau masuk, tapi aku sudah mencarinya ke seluruh ruangan yah kecuali kamar om Hadi, kamar Roger dan kamar mu."
"Haissssh!" Seru Rakes yang segera berlari menaiki tangga.
Tangan Rakes langsung membuka pintu kamar Roger lalu segera masuk, namun tidak ada yang ia temukan, kamar tersebut kosong tidak ada siapapun disana.
"Haaah! hampir saja aku berfikir yang tidak-tidak tentang adik aku sendiri." Ujar Rakes yang mulai sedikit lega.
Rakes keluar dari kamar Roger dan lekas ke kamar miliknya.
"Zea.....!" Panggil Rakes.
Di sudut kamar sana Zea duduk dengan memeluk kedua lututnya, tangisannya yang tertahan membuat Rakes tidak bisa mendengarnya sama sekali. Perlahan Rakes mendekat, ia hanya melihat ia yang sesekali segugukan dengan wajah yang terbenam sempurna di kedua lututnya.
"Zea..." Panggil Rakes dengan perlahan mengusap jilbab Zea.
"Chim chim!" Panggil Zea setelah menoleh wajah Rakes yang tepat di hadapannya.
Zea langsung memeluk erat tubuh Rakes seakan ia tidak ingin melepaskan pelukannya sedikitpun.
Rakes membiarkan Zea berbuat sesukanya, tangannya kembali mengusap lembut jilbab Zea, karena saat ini wajah Zea terbenam sempurna di dada bidang Rakes.
"Rupanya bocah bar bar bisa nangis juga ya? baru tau abang!" Ujar Rakes diakhiri dengan tawa di akhir ucapannya.
"Ini bukan saatnya bercanda! lagian mau bar bar atau kalem tetap aja punya air mata, kan?" Cetus Zea yang mulai menatap wajah Rakes.
"Kenapa? cerita sama abang! bahkan saat cemburu pada Cindy tadi kamu nggak sampai gini gini amat!"
"Ohhhh jadi nama cewek bening itu Cindy!"
"Bening?"
"Ya iya, bening, glowing, feminim, lembut, santun pokoknya cewek banget lah!" Jelas Zea yang kembali menundukkan wajahnya.
"Abang nggak tertarik tuh dengan cewek yang model begituan. Abang sukanya sama yang bar bar, joga bela diri, mandiri, kuat dan juga tegar ya kayak istri abang ini." Jelas Rakes lalu mengusap lembut wajah Zea.
"Selera yang bagus!" Ujar Zea dengan memamerkan kedua jempolnya.
"So??"
"Apa?"
"Kenapa nangis?"
"Mau jawaban jujur atau bohong?"
"Bohong!"
"Boleh abang peluk lagi?"
"Dengan senang hati!" Seru Zea yang langsung kembali merebahkan kepalanya di dada Rakes.
"Kalian? apa ini?" Gumam Roger yang baru saja membuka pintu kamar Rakes lalu melihat adegan romantis antara Zea dan Rakes.
"Kenapa buka pintu tanpa izin?" Tanya Rakes yang langsung bangun lalu melangkah mendekati Roger dengan tangan yang masih menggandeng erat tangan Zea untuk tetap di sampingnya.
"Lelucon macam apa ini? giliran aku yang sentuh kamu kasar bukan main, nah kalau abang Rakes yang menyentuh bahkan memelukmu, kamu diam aja, berapa bayaran yang abang Rakes berikan? abang bisa bayar sepuluh kali lipat ayo tidur dengan abang!" Gumam Roger penuh amarah.
'Plakk!' Tangan Rakes mendarat sempurna di pipi kiri Roger.
"********!" Gumam Roger dengan menahan rasa sakit diwajahnya.
"Abang cukup!" Pinta Zea yang langsung menghentikan tangan Rakes yang siap kembali melayang ke wajah Roger.
"Astaghfirullah ya Allah!" Ungkap Rakes dengan nada melemah lalu tubuhnya langsung ambruk di lantai.
"Maafkan abang, abang tidak bermaksud menampar mu, maafkan abang!" Pinta Rakes yang bahkan menitikkan air mata.
"Tolong sekali ini saja, biarkan abang memiliki apa yang abang inginkan. Roger, Zea adalah istri abang." Jelas Rakes.
"Drama apa lagi ini?" Tanya Roger dengan langkah yang perlahan mundur menjauh dari Rakes dan Zea.
"Iya, aku istri sahnya abang Rakes!" Tegas Zea yang semakin erat mendekap tubuh lemah Rakes.
"Abang main curang! bukankah sejak dulu kita sudah sepakat untuk bertanding dengan jantan, kenapa abang main belakang? kenapa merebutnya secara diam-diam? kenapa?" Gumam Roger yang dengan spontan membanting semua barang yang ada di atas meja di dekatnya.
"Hentikan!" Tegas Hadi yang baru saja datang dengan di susul oleh Rafeal, Marvel dan Erina.
"Apa kalian juga tau semuanya? kalian sengaja menipu ku?" Gumam Roger yang semakin tak terkendali.
"Diamlah! papa akan menjelaskan semuanya." Jelas Hadi.
"Nggak ada yang harus di jelasin. Kalian yang mulai, maka aku juga akan bermain dengan caraku. Zea sampai kapanpun hanya abang yang bisa memilikimu, ingat itu! abang akan merampas mu kembali bagaimanapun caranya, termasuk dengan cara melenyapkan pemilik mu lebih dulu." Tegas Roger yang beranjak meninggalkan kamar Rakes.
"Bukankah kau sudah memulainya sejak awal?" Tanya Rafeal lalu tangannya menggenggam kasar bahu Roger.
"Apa maksud mu?" Tanya Roger yang mulai gusar.
"Fadhil, tante Lestari, Reva, Temi kalian semua bersatu untuk menghancurkan Rakes dan Kapten Iqbal kan?" Tegas Rafeal.
"Jangan memutar balikkan fakta!" Tegas Roger.
"Selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, kamu bukan lagi anak papa!" Tegas Hadi.
"Pa, tenanglah!" Ujar Erina mencoba menenangkan Hadi yang mulai emosi, dengan lembut tangan Erina mengusap lembut bahu Hadi.
"Pa, biarkan Roger menenangkan dirinya dulu. Saat ini kita semua sedang emosi, kita butuh waktu untuk menenangkan diri kita masing-masing, setelah itu baru kita berembuk kembali." Jelas Rakes.
"Maafkan aku pa, untuk hari ini aku harus pergi." Tegas Roger dan langsung pergi.
"Roger!" Panggil Hadi.
"Pa, biarkan dulu." Jelas Erina.
"Biar aku yang awasi Roger." Jelas Marvel dan langsung bergegas mengejar Roger.
"Om, kita selidiki semuanya pelan-pelan." Jelas Rafeal.
"Ayo pa." Ajak Erina yang merangkul Hadi untuk ikut bersamanya.
"Aku akan coba cari tahu apa yang sebenarnya Roger lakukan. Aku akan segera mengabari mu, jaga Princess oke! Jangan sampai monster memangsa kancil thampan mu ini!" Jelas Rafeal mencoba mencairkan suasana lalu segera pergi.
"Bagaimana ini?" Tanya Rakes.
"Haruskah aku keluarkan jurus terampuh milik pendekar langit Zea Saka?"
"Kamu ini..."
"Hari ini cukup sampai di sini! besok kita bahas lagi, ayo tenangkan hati dan otak kita!"
Zea langsung menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu segera menyerang Rakes dengan tabrakan mautnya.
"Jangan memikirkannya seorang diri, kita cari solusi sama-sama." Jelas Zea lalu memeluk erat sang suami tercinta.
"Terima kasih Jannati!" Ucap Rakes lalu mengecup kening Zea.
πππππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ