
Zea seketika melepaskan pelukannya dan segera mengarahkan pandangannya pada sosok pemilik suara tersebut.
Keduanya tampak begitu kaget dengan sosok yang kian mendekati keduanya.
"Rayyan...." Ujar Zea saat mendapati sosok Rayyan yang kini tepat dihadapannya.
"Ada apa?" Tanya Rakes yang langsung berdiri dihadapan Zea.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Zea, boleh kan?" Tanya Rayyan.
"Aku ikut!" Tegas Rakes.
"Nggak bisa, lagi pula nggak cuma mereka berdua kok, aku, Bian dan juga Namira ikut serta." Jelas Taufan.
"Boleh kan abang kami pinjam istrinya sebentar aja!" Pinta Namira.
"Sepuluh menit!" Jelas Rakes.
"Terima kasih!" Ucap Bian.
Rakes langsung berjalan menuju tepi danau membiarkan rapat para sahabat tersebut berlangsung. Setelah Rakes benar-benar jauh dari mereka akhirnya Taufan mulai angkat bicara.
"Apa kamu sudah dengar beritanya?" Tanya Taufan yang langsung memulai rapat dadakan.
"Berita apa?" Tanya Zea yang begitu penasaran.
"Dion tiba-tiba ngajak balap, entah apa yang merasuki dia sehingga dia nantangin kita, bahkan dia mempertaruhkan motor kesayangannya." Jelas Namira.
"Apa? motor?" Tanya Zea.
"Iya, jika kamu menang kamu bisa memiliki motornya!" Jelas Bian.
"Tapi yang aku nggak ngerti kenapa dia tiba nantangin kita dan yang lebih tidak bisa aku mengerti kenapa harus Zea yang balapan?" Tanya Rayyan yang memang sejak awal tidak bisa memahami ajakan Dion.
"Apa sebaiknya kita abaikan saja?" Tanya Taufan.
"Tapi bagaimana jika ini adalah babak akhir antara kita dan mereka, setidaknya mereka tidak akan mengusik kita saat kita masuk kuliah nanti? Setidaknya kita akan menutup lembaran sekolah kita yang begitu berantakan." Jelas Bian yang memang begitu lelah dengan masalah mereka.
"Lalu bagaimana jika ini malah jebakan?" Tanya Namira.
"Berhenti memikirkan hal yang tidak akan pernah terjadi. Bian iyakan ajakan mereka." Jelas Zea.
"Zea...." Gundah Rayyan.
"Udah kalian tenang aja, meski sudah emak-emak jiwa pembalap masih bersemayam indah dalam diriku!" Jelas Zea.
"Tidak, sebaiknya kita tidak menerima tantangan mereka!" Tegas Rayyan.
"Udah santai aja kali, udah Bian buruan terima tawaran itu, bereskan!" Jelas Zea.
"Zea...!" Ujar Namira sambil menyentuh lembut tangan Zea.
"Udah kamu tenang aja, ini bukan kali pertama kok bagi Zea." Ujar Bian.
"Tapi...?" Ujar Zea yang seketika kebingungan.
"Kenapa?" Tanya Bian, Taufan, Namira dan Rayyan hampir bersamaan.
"Dari mana kalian tau kalau aku disini?" Tanya Zea.
"Abang Roger yang ngasih tau!" Jawab Namira polos.
"Abang Roger?" Tanya Zea memastikan.
"Aku juga heran, dari mana Roger bisa tau!" Ujar Bian.
"Katanya dari statusnya Kania." Jawab Namira.
"Ooooooo!" Ujar Yang lainnya bahkan mereka melakukannya dengan begitu serentak sembari menarik nafas lega.
"Khmmmmmm!" Seru Rakes yang sejak tadi terus memantau mereka dari kejauhan.
"Baiklah kami pamit pulang!" Jelas Taufan.
"Udah join aja sekalian, tanggung kan?" Ajak Zea.
Ajakan Zea sontak membuat mata Rakes semakin melotot kearah mereka bahkan Rakes terlihat jelas begitu kesal.
"Tenang aja kami pun sadar diri kok!" Jelas Rayyan dan lekas pergi.
"Sampai jumpa nanti malam!" Ujar Namira dan segera mengikuti Rayyan.
"Kami pamit! da my best best!" Seru Bian lalu mengadu tinju ciri khas antara dirinya dan Zea.
"Selamat liburan, semoga si kembar cepat dapat adiknya! aku pulang." Jelas Taufan dan melangkah mendekati Rakes.
Rakes hanya berdiri saat Taufan sejenak berdiri di sampingnya.
"Jaga Zea dengan baik, setidaknya pastikan Roger tidak mengusiknya!" Bisik Taufan dengan tatapan yang begitu dalam sambil menepuk bahu Rakes pelan, lalu berlalu begitu saja.
(Apa maksudnya? sebenarnya apa yang mereka bicarakan?) Gundah hati Rakes yang mulai tak menentu.
Zea yang begitu girang langsung duduk di atas rumput tepat di pinggir danau, perlahan Rakes mengambil tempat di samping Zea.
"Boleh abang tau apa yang baru saja kalian bicarakan?" Tanya Rakes.
"Bisakah kita bahas yang lainnya pas di rumah nanti? sekarang ayo kita nikmati momen kita, hanya tentang kita berdua!" Pinta Zea yang perlahan merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
"Baiklah!" Ujar Rakes nurut, ia bahkan memejamkan matanya ikut menikmati suasana yang begitu nyaman.
__________________
"Jika nanti abang pergi lebih dulu, maka abang mau kamu tetap bahagia, jangan berlarut mengenang abang, ambil jalan yang penuh dengan senyuman." Jelas Marvel saat ia dan Kania sedang berjalan bergandengan tangan sambil menikmati udara yang begitu sejuk.
Uzun bahkan terlihat begitu nyenyak tertidur dalam gendongan Marvel, tangan kiri Marvel mendekap erat tubuh mungil Uzun sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan Kania.
Penjelasan Marvel membuat Kania menghentikan langkahnya, kini Kania berdiri tepat di depan Marvel.
"Lalu jika malah aku yang meninggal lebih dulu apa abang akan langsung menikah lagi?" Tanya Kania.
"Kania?"
"Kenapa?"
"Bukan itu maksud abang..."
"Mati itu rahasia, tidak ada yang tau pasti, bisa saja aku atau abang yang lebih dulu di panggil pulang, semua tidak ada yang tau." Jelas Kania yang menyentuh lembut tangan kanan Marvel.
"Sayang...."
"Setidaknya jangan lagi membicarakan hal itu, kita manusia pasti akan mati tapi untuk saat ini ayo kita nikmati kebersamaan kita dalam ibadah kepada-Nya, aku ingin jadi istri abang dunia akhirat hingga ke surga-Nya kelak." Jelas Kania yang langsung memeluk erat tubuh Marvel.
"Hmmm,,,," Ujar Marvel lalu mengusap pelan jilbab Kania.
__________________
"Aku tidak tau bagaimana kisah kalian hingga berujung menjadi persahabatan yang begitu luar biasa hebat. Dulu, aku bahkan kerap kali cemburu dengan kehidupan abang Marvel yang memilik dua sahabat terbaik sekaligus sedangkan aku, aku bahkan tidak memiliki satu orang pun." Jelas Mariana saat dirinya, Azan dan Rafeal sedang menikmati minuman dingin di sebuah kios kecil di dekat danau.
"Aku pun tidak pernah terpikir akan bertemu dengan Marvel dan Rakes dalam hidup aku, mereka berdua bagai malaikat yang datang lalu merentangkan sayap kebahagiaan dalam hidup aku. Aku bahkan berhutang nyawa dengan mereka." Jelas Rafeal yang kembali mengenang pertemuan antara dirinya dengan Rakes dan Marvel.
"Aku tidak tau siapa yang beruntung diantara kalian bertiga, tapi aku harap persahabatan kalian tidak akan pernah luntur dengan masalah apapun itu, termasuk karena aku ataupun Kania dan Zea."
"Itu tidak akan pernah terjadi, karena apapun yang akan terjadi nantinya, kebahagiaan Marvel dan Rakes adalah prioritas hidup aku."
"Justru itulah hal yang begitu aku takutkan, abang Marvel dan abang Rakes juga mengatakan hal yang sama. Lalu bagaimana jika pada akhirnya kalian justru akan saling menyakiti diri sendiri?"
"Ana, itu tidak akan pernah terjadi, karena aku akan menjaga kalian dengan baik."
"Papa Rafeal..." Seru Azan girang lalu segera mengarahkan kedua tangannya pada Rafeal.
"Minta peluk nih ceritanya?" Goda Rafeal yang langsung menyambut tangan Azan.
"Peluuuuk!" Teriak Azan yang dengan siaga langsung memeluk Rafeal.
"Papa aja nih yang di peluk? mama Ana juga mau dong!" Jelas Mariana yang ikut bergabung dalam pelukan Rafeal dan Azan.
___________________
~Aku mau balapan nanti malam~ Makhluk itu.
~Jangan gila! aku hanya menjanjikan ke arena balap bukan ikut balapan!~ Maniak Game.
~Dion yang nantangin~ Makhluk itu.
~Udah jangan cari gara-gara!~ Maniak Game.
~Telat, aku udah mengiyakannya~ Makhluk itu.
"Nggak bisa!" Tegas Rafeal sembari mematikan ponselnya yang sedang iya gunakan untuk membalas chat Zea. Sejak dulu memang begitu nama kontak yang tersimpan di ponsel keduanya.
Suara lantang Rafeal cukup membuat yang lainnya kaget apa lagi saat ini mereka sedang menikmati makanan mereka di sebuah Resto yang tidak terlalu jauh dari danau.
"Harus!" Tegas Zea yang bahkan bangun dari kursinya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Rakes.
"Nggak ada!" Jawab Zea dan Rafeal serentak.
πππππ
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTEππ
Stay terus sama My Princessπππ
KaMsaHamida πππππ
Manteman semuanya, ayyok mampir juga ke novel aku πXue_lianπ
di tunggu kunjungannya π
terima kasihππ