My Princess

My Princess
#051



"Harus gimana?" Tanya Zea sembari mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Rakes.


"Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya pada Roger, ayo kita temui dia bersama!" Jelas Rakes.


"Abang! abang ngapain sih? dengar nggak apa yang barusan aku katakan?" Suara Roger kembali terdengar.


"Jangan sekarang!" Pinta Zea.


Tangan Zea segera menghentikan langkah Rakes yang kini beranjak mendekati pintu.


"Kenapa?" Tanya Rakes.


"Aku, aku...." Gundah Zea yang mulai panik.


"Abang Rakes!" Panggil Roger.


"Ia sebentar!" Tegas Rakes.


"Tidurlah, biar abang yang temui Roger!" Jelas Rakes.


Zea segera berlari menuju kasur, lekas berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, sedangkan Rakes segera membukakan pintu.


"Kenapa lama sih? abang ngapain aja?" Tanya Roger yang terlihat begitu kesal karena harus menunggu lama.


"Ganti baju!" Jawab Rakes ngasal.


"Kenapa pintunya di kunci? nggak biasanya."


"Kan Zea disini, kalau tiba-tiba dia nyosor masuk terus abang lagi ganti baju gimana?"


"Nggak usah mimpi deh, kalau pun Zea nyosor pasti ke kamar aku, ngapain ke kamar abang, toh dia sukanya sama aku bukan sama abang."


"Ya siapa tau salah kamar!"


"Nggak akan! oh iya jadi lupakan, abang tau sekarang dimana Zea? dari tadi aku cariin kemana-mana nggak ada."


"Nggak tau! pulang kali."


"Pulang? nggak mungkin, kan tadi katanya mau nginap di sini."


"Ya siapa tau berubah pikiran, kayak kamu nggak kenal bocah itu aja, dia kan mang sering gitu, asal nyosor aja, suka-suka hati dia aja, yah namanya aja bocah bar-bar, bobrok pula!"


"Dasar mulut tak berperasaan, biarpun gitu abang tetap tergila-gila sama dia kan? dasar! oke kalau gitu aku cari My Queen dulu, selamat malam!" Jelas Roger dan lekas meninggalkan kamar Rakes.


Setelah menutup kembali pintu kamar, Rakes kembali melangkah namun seketika kaki Rakes terhenti, karena mendapati Zea yang sedang menatap horor kearahnya.


"Bar-bar? bobrok? bocah? tukang Nyosor?" Gumam Zea dengan nada sinis dan tatapan menyeramkan.


Zea masih duduk dengan wajah yang terlihat penuh amarah di tambah pancaran mata yang seakan siap menghisap seluruh darah Rakes.


"Apa ucapan abang ada yang salah?" Tanya Rakes.


"Tapi semua sikap itu hanya muncul saat aku lagi bersama Chim chim! aku sama sekali tidak pernah nyosor sama sesiapapun selain Chim chim!" Jelas Zea yang mulai sedikit terkendali.


"Dan abang suka dengan semua itu, abang suka kamu saat berubah jadi bar-bar, abang juga suka saat kamu tiba-tiba nyosor sama abang, abang suka semua hal yang ada sama kamu, lebih-lebih semua sikap itu hanya kamu peruntukan untuk abang." Jelas Rakes.


"Apa mau terus berdiri di situ?"


"Kenapa mau nyosor lagi?"


"Tadi katanya Chim chim suka!"


"Ya tapi...!"


"Buruan maju sebelum aku yang ke beraksi!" Jelas Zea menggoda, tidak ada lagi tatapan menyeramkan yang tersisa hanyalah aura mesum yang seakan memenuhi seluruh kamar.


"Tidurlah!" Ujar Rakes setelah duduk di samping Zea.


"Nggak mau!" Tegas Zea yang mulai menyentuh jemari Rakes.


"Besok kamu harus sekolah!"


"Selalu saja sekolah jadi alasannya, apa lebih baik aku nggak usah sekolah lagi aja sekalian!" Cetus Zea yang mulai memamerkan wajah juteknya.


"Oke baiklah, kamu mau abang ngapain?"


"Tabrakan!"


"Tabrakan? apa maksud@?" Tanya Rakes yang memang tidak paham dengan apa yang barusan ia dengar.


"Ya tabrakan." Tegas Zea.


"Jangan ngomong bahasa alien sama abang, abang nggak paham."


"Kiss!" Ujar Zea.


"Sejak kapan kiss berubah jadi tabrakan?"


"Terserah aku dong, kan aku yang ngomong jadi terserah mau pakek bahasa apa!" Kekeh Zea tak mau kalah dari Rakes.


'Cup' Satu kecupan mendarat di kening Zea.


"Apa itu namanya kiss?"


"Chim chim benaran umurnya dua enam nggak sih? jadi ragu aku, apa jangan-jangan masih di bawah umur?"


"Apa hubungannya sama umur abang? apa harus abang tunjukkan buktinya?"


"Biar aku yang ngebuktiin sendiri!" Tegas Zea yang langsung mendekati Rakes.


Zea semakin mendekat, terus menghapus jarak diantara keduanya, sedangkan Rakes masih saja berdiam diri hingga perlahan tangan Zea menyentuh wajahnya, wajah Zea semakin mendekat membuat suasana semakin tegang hingga akhirnya suara ponsel keduanya berdering dalam waktu yang bersamaan.


Lagu 'Bad Liar' menggema dari ponsel keduanya membuat Zea mau tak mau harus melepaskan tangannya dari wajah Rakes, keduanya langsung mengecek ponsel mereka masing-masing.


"Abang Roger!" Ujar Zea setelah melihat panggilan masuk di layar ponselnya.


"Marvel!" Ujar Rakes sembari memperlihatkan layar ponselnya pada Zea.


Setelah mendapat persetujuan dari Rakes, Zea langsung menjawab panggilan dari Roger, sedangkan Rakes langsung menjawab panggilan dari Marvel sembari melangkah menuju balkon sana.


"Kamu di mana?" Tanya Roger dari seberang sana.


"Aku, aku..." Jawab Zea sambil terus mencoba mencari alasan yang tepat.


"Dimana? apa kamu udah pulang? dari tadi abang cariin kamu ke seluruh pelosok rumah tapi nggak ada." Jelas Roger.


"Hmmmm iya, aku udah pulang." Jawab Zea.


"Pulang? kapan? sama siapa?"


"Sama Rayyan, yah barusan Rayyan yang jemput soalnya ada perlengkapan sekolah yang belum kami beli jadi terpaksa deh aku pulang." Bohong Zea.


"Kenapa nggak ngomong sama abang sih? kan abang bisa antarin."


"It's oke, ya udah aku mau belanja dulu, assalamualaikum." Ujar Zea dan segera mengakhiri panggilan telponnya.


"Huuuuf! ternyata nama Rayyan bisa berguna juga. Sorry, karena aku harus bohong sama abang." Ujar Zea yang merasa bersalah karena harus membohongi Roger.


"Gimana?" Tanya Rakes yang kini kembali ke kamar.


"Beres!" Seru Zea penuh semangat.


"Zea, maaf, abang harus pergi sekarang juga." Jelas Rakes.


"Sekarang?"


"Iya, maaf!"


"Kemana?"


"Ada hal yang harus abang urus. Abang pergi sekarang!" Jelas Rakes yang segera bersiap.


Rakes langsung bergegas ke ruang ganti, sedangkan Zea masih duduk mematung dengan wajah yang di tekuk kebawah.


Beberapa menit berlalu, Rakes kembali dengan penampilan yang cukup membuat pangling, karena biasanya Rakes selalu berpenampilan acak-acakan, tapi malam ini ia tampil dengan stelan Jas abu-abu rapi dengan dasi yang berwarna senada, lalu rambut yang tertata rapi serta kaca mata yang semakin membuat penampilan Rakes bak CEO sebenarnya.


"Jika sampai besok pagi abang nggak pulang, abang akan minta papa buat antar kamu ke sekolah, jaga diri baik-baik." Ujar Rakes lalu mengusap pucuk kepala Zea.


"Gagal lagi deh!" Cetus Zea yang terlihat begitu kecewa.


"Udah tidur gih sana, mimpi indah jangan lupa sholat isya tuh!"


"Siap bos!" Seru Zea bersamaan dengan memberi hormat ala prajurit yang sontak membuat Rakes kembali mengacak rambut Zea.


"Assalamualaikum!" Ujar Rakes.


"Masa iya cuma usap rambut doang!"


"Terus?"


Zea segera bangun lalu mendekati Rakes yang berdiri agak jauh dari tempat tidur, tanpa basa-basi Zea langsung mengecup lembut bibir sang suami, lalu tangannya beralih menyentuh dada bidang Rakes.


"Ini baru namanya tabrakan, ingat jangan sampai lupa lagi. Dan juga ini, jaga kotak-kotak aku dengan baik, jangan sampai lecet aku bahkan belum menikmatinya dengan benar." Jelas Zea dengan jemari yang masih menempel di dada Rakes.


"Mau tabrakan lagi?" Tanya Rakes yang sontak membuat Zea menatap wajah Rakes.


"Tunggu apa lagi!" Ujar Zea yang langsung menyilangkan kedua tangannya ke leher Rakes.


Rakes langsung meluncurkan ciuman yang selama ini begitu ia tahan mati-matian.


"Love Jannati!" Ucap Rakes setelah mengakhiri aktivitasnya.


"Love Chim chim!" Ucap Zea.


"Jangan lupa kunci pintu, jangan lupa sholat, terus baca doa sebelum tidur, good night!" Ujar Rakes yang langsung pergi.


"Good night my Chim chim." Ucap Zea.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE yaπŸ˜‰πŸ˜‰


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️