
Tanpa ucapan sepatah katapun Rakes langsung meletakkan tubuh Zea di atas tempat tidur, lalu ia bergegas untuk mengambil kotak obat. Hanya butuh beberapa menit saja, kini Rakes telah kembali dengan kotak obat di tangan kirinya.
Rakes langsung berjongkok lalu segera memeriksa keadaan kaki Zea, tangan Rakes dengan lihai melipat celana training yang Zea kenakan, lalu dengan telaten memeriksa jari kaki mana yang terluka.
"Awwwww! Seru Zea saat Rakes mulai mengobati ibu jari kakinya yang memang terlihat memar bahkan warnanya mulai kebiruan.
"Istirahatlah!" Ujar Rakes setelah selesai mengobati Zea, ia hendak melangkah meninggalkan Zea, namun secepat kilat tangan Zea menarik kaos yang Rakes kenakan.
"Kenapa?" Tanya Rakes bersamaan dengan tatapannya yang langsung menatap tajam mata Zea, saat ini Rakes terlihat begitu kacau, matanya memerah, ia terlihat seperti sedang berusaha menahan amarahnya.
"Kalau marah ya marah! jangan diam seperti ini!" Jelas Zea yang semakin menggenggam erat ujung kaos Rakes.
"Haiiiiiisssss!" Gumam Rakes dan langsung menyerang Zea.
Dengan kasar tangan Rakes mendorong tubuh Zea hingga terbaring, lalu dengan cepat Rakes mulai meluncurkan aksinya.
Rakes terus saja mencium setiap jengkal dari wajah Zea, ia bahkan menarik jilbab Zea dan membuangnya begitu saja. Rakes semakin tak terkendali, kali ini leher jenjang Zea yang menjadi sasarannya.
"Awwwwww!" Jerit Zea menahan rasa sakit saat tanpa sengaja lengan Rakes menekan perut buncitnya.
"Zea.....!" Ujar Rakes yang dibarengi dengan isak tangis yang tak mampu ia tahan lagi, Rakes menjatuhkan tubuhnya di sisi Zea, lalu menutup wajahnya yang memang sedang di penuhi dengan linangan air mata.
'Cup' Dengan begitu lembut Zea mengecup telapak tangan Rakes yang terus berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Maafkan abang! abang benar-benar cemburu saat melihatmu bersama Roger. Abang bahkan menyakiti kamu dan Raze Junior karena cemburu yang memenuhi pikiran abang."
"Chim chim, jika memang cemburu, maka katakan cemburu, jika sedang marah katakan marah, jangan lagi menanggung semua perasaan itu sendiri. Aku paham, karena aku juga merasakannya saat setiap kali melihat Chim chim dengan wanita lain. Tapi jujur, tadi itu bukan salah abang Roger, aku yang mencoba menghindarinya dan tanpa sadar kaki aku membentur kaki kursi." Jelas Zea yang perlahan melingkarkan tangannya di perut Rakes.
"Abang percaya sama kamu dan abang juga percaya kalau Roger tidak pernah berniat untuk menyakiti kamu." Jelas Rakes.
"I love you!" Ucap Zea.
"Tapi apa tadi itu abang menyakiti kalian?" Tanya Rakes yang segera bangun lalu mengecek kondisi Zea dan kandungannya.
"Sedikit tapi aku suka!"
"Suka?" Tanya Rakes dengan mengerutkan dahinya.
"Iya, aku suka dengan Chim chim yang menjadi brutal seperti tadi!"
"Zea....!"
"Aku serius! aku suka Chim chim menyerang aku seperti tadi dan kalau boleh, ayo kita lanjutkan!" Jelas Zea yang seketika mendekatkan wajahnya ke wajah Rakes, hingga tidak ada lagi celah diantara keduanya, bahkan hidung Zea menyentuh hidung mancung milik Rakes.
"Beneran nih?" Tanya Rakes memastikan.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Zea kembali bertanya.
Tangan Rakes mulai menyentuh lembut rambut Zea, lalu membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Huuuuuf! udah magrib, ayo kita solat!" Jelas Rakes dengan senyuman lebar dan langsung berdiri.
"Janji bakal di lanjutkan kembali nanti siap insya?" Tanya Zea dengan tatapan penuh harap dan wajah yang ia buat menjadi begitu manis dan manja.
"Hmmmmmm!"
"Nggak dengar!"
"Iya, abang janji!" Ujar Rakes yang langsung menggendong tubuh Zea lalu membawanya ke kamar mandi untuk bersih-bersih lalu bersiap untuk sholat magrib bersama.
____________________
"Tadaaaaaaaaaa........!" Seru Mariana girang sambil memamerkan beberapa lembar tiket yang ada di kedua tangannya.
Kedatangan Mariana membuat semua yang berada di ruangan tersebut langsung mengalihkan pandangan mereka pada Mariana.
"Apa itu tiket ke kebun binatang?" Tanya Rafeal yang masih sibuk memasukkan semua barang Kania ke dalam tas.
"Ciiiiih! jangan ngasal ya kalau ngomong!" Cetus Mariana kesal.
"Lalu, tiket apa itu?" Tanya Zea yang duduk manis di atas ranjang bersama Kania.
"Ini adalah hadiah buat Kania, hari ini kamu kan keluar dari rumah sakit, nah ini hadiah dari aku!" Jelas Mariana.
"Jadi buat Kania doang nih?" Tanya Zea.
"Tenang, ini buat kita semua!" Jelas Marina.
"Termasuk aku dong?" Tanya Rafeal.
"Ntar deh aku pertimbangkan!" Jelas Mariana.
"Apa tante juga dapat?" Tanya Angel yang sejak tadi juga sibuk beres-beres dengan Rafeal.
"Tante mau ikut? biar aku pesan tiket lagi!" Tanya Mariana.
"Udah, tante mah ngalah aja! kalian yang muda-muda aja liburannya." Jelas Angel.
"Seratus persen!" Ujar Angel dengan senyuman.
"Apa kami juga boleh ikut?" Tanya Qalesya yang baru saja tiba. Qalesya datang tidak seorang diri, ia datang bersama Reva, Zafran dan juga Roger.
"Kalian boleh ikut semua kok!" Jelas Marvel yang baru saja kembali setelah tadi mengurus semua administrasi bersama Rakes untuk kepulangan Kania.
"Serius nih bang?" Tanya Zafran memastikan.
"Hmmmmmm!" Jawab Marvel.
"Yeeeeey!" Seru Qalesya yang terlihat begitu girang.
"Kita bakal liburan kemana?" Tanya Roger.
"Kita? apa kamu juga berniat untuk ikut?" Tanya Rafeal.
"Tentu! boleh kan Mariana?" Tanya Roger.
"Hmmmmmm, oke boleh!" Jelas Mariana.
"Mau liburan kemana?" Tanya Rakes yang perlahan mendekati Kania dan Zea yang masih duduk di ranjang sana.
"Ada aja, yang pasti tempatnya bagus banget!" Jelas Mariana.
"Kapan kalian akan berangkat?" Tanya Angel.
"Aku udah beli tiket untuk penerbangan nanti sore." Jelas Mariana.
"Oke! ayo pulang untuk siap-siap!" Jelas Reva.
"Ya udah ayo!" Ajak Marvel.
Mariana segera mendekati Kania lalu merangkul bahunya.
"Ayo pulang, tempat ini pasti membuat kamu sangat bosan, iya kan? tenang kita akan menikmati liburan kita selama dua hari! memanjakan mata, jiwa dan juga hati tentunya!" Jelas Mariana.
"Terima kasih kak!" Ujar Kania dengan senyuman lalu mengikuti langkah yang lainnya yang mulai keluar dari ruang rawat Kania selama dua hari ini.
"Sini, abang akan menggendong mu!" Pinta Rakes yang sedari tadi memerhatikan Zea yang terlihat sedikit susah berjalan karena menahan rasa sakit pada bagian ibu jari kakinya.
"Yakin? banyak mata yang akan memerhatikan kita loh!" Jelas Zea pelan.
"Tapi...." Keluh Rakes sambil menatap yang lainnya terutama Reva yang memang sejak tadi terus memerhatikan dirinya yang berjalan di samping Zea.
"Aku Zea, anaknya Iqbal Saka, luka secuil ini mah nggak seberapa!" Jelas Zea lalu mempercepat langkahnya.
"Ana, tolong antar Kania dan juga Zea, soalnya ada hal yang harus abang urus dengan Rakes dan Rafeal." Jelas Marvel saat semuanya berada di parkiran.
"Biar aku yang antar Zea!" Tawar Roger.
"Aku ikut, soalnya aku juga udah lama nggak ketemu uma, kangen banget, iya kan Qalesya?" Jelas Zafran.
"Iya, kami ikut sama abang Roger ya?" Jelas Qalesya.
"Dengan senang hati, ayo!" Jelas Zea yang langsung merangkul Qalesya lalu masuk ke dalam mobil Roger.
"Kalau gitu, aku bareng sama Kania aja!" Jelas Reva.
"Ayo sayang!" Ujar Angel yang langsung mengajak Reva masuk kedalam mobil Mariana.
"Kalau gitu, kami pulang duluan, bey!" Ujar Mariana yang segera masuk ke dalam mobil.
"Nanti akan abang jemput!" Ujar Marvel.
"Hmmmmm!" Ujar Kania dengan senyuman.
Marvel langsung menutup kembali pintu mobil setelah Kania masuk.
"Hati hati!" Pesan Rafeal.
"Oke, kami duluan!" Ujar Mariana yang langsung menjalankan mobilnya.
"Kami juga duluan." Ujar Roger dan segera masuk ke dalam Mobil miliknya di susul oleh Zafran.
Mobil Roger juga mulai meluncur meninggalkan Rakes, Marvel dan Rafeal yang masih betah berdiri di parkiran rumah sakit.
"Ada apa? apa ada panggilan tugas? masa cuti kita masih sisa kan?" Tanya Rafeal sambil terus menatap Marvel dan Rakes secara bergantian.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊
Stay terus sama My Princess😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️