My Princess

My Princess
#192



πŸ’œSehari sebelum Roger menyerang Zea.


πŸ’œπŸ’œBAG: Roger


_________________


"Bagaimana??" Tanya Fadhil saat ia mendatangi Roger di kantornya.


"Coba jelaskan, apa rencana mu? jika tidak bagaimana bisa aku bekerja sama dengan kamu!" Jelas Roger yang masih duduk santai di kursi kerjanya.


"Kamu hanya harus menyerang Zea, sedikit Zea, pastikan Rakes melihatnya, selanjutnya aku yang akan mengurus semuanya!" Jelas Fadhil.


"Apa ini ide mama mu?" Tanya Roger memastikan.


"Tidak peduli ide siapa, yang jelas kamu dan aku sama sama untung, kamu mendapatkan Zea dan aku mendapatkan Rakes. Adil bukan?" Jelas Fadhil.


"Apa aku bisa mempercayai mu? bagaimana kalau kamu justru mengkhianati ku?" Tanya Roger.


"Aku bukan orang yang akan ingkar janji, aku janji aku tidak akan menyentuh Zea sedikit pun, yang aku butuh hanya Rakes." Jelas Fadhil.


"Oke deal!" Tegas Roger mengulurkan tangannya.


"Oke!" Jawab Fadhil lalu menjabat tangan Roger.


"Kalau boleh aku tau, apa kamu ingin menjadikan Abang Rakes alat tukar untuk melepaskan mama mu?" Tanya Roger.


"Itu masalah pribadi ku, aku tunggu kabar baik dari mu besok!" Jelas Fadhil dan lekas pergi.


"Fadhil, kamu ingin menjadikan aku tumbal? oke, akan aku ikuti alur mu, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa menghancurkan keluarga aku!" Tegas Roger setelah Fadhil benar-benar pergi.


"Apa kamu siap?" Tanya Iqbal yang baru saja keluar dari balik jendela sana.


"Apa nggak sebaiknya kita bicarakan lebih dulu dengan abang Rakes?" Tanya Roger khawatir.


"Kamu tenang saja, ayah yang akan mengurus semuanya, dan ayah izinkan kamu menyentuh Zea, tapi hanya sedikit, ingat hanya sedikit saja!" Jelas Iqbal.


"Ayah???" Tanya Roger.


"Lalu? apa kamu tidak bisa melakukannya? meski ayah tidak bisa memberikan Queen nomor dua untuk kamu, tetap saja kamu bagian dari keluarga ayah." Jelas Iqbal lalu perlahan menepuk bahu Roger.


"Ayah, apa ayah tau apa yang selama ini aku lakukan terhadap abang Rakes dan Zea?" Tanya Roger.


"Setiap orang punya kesalahan, ayah bahkan melakukan begitu banyak kesalahan di masa muda ayah. Yang harus kita lakukan adalah memperbaiki semuanya semaksimal mungkin. Dan soal abang mu, apa kamu pikir dia tidak tau semuanya, dia diam bukan karena dia tidak tau hanya saja dia takut jika ia bergerak ia justru akan menyakiti mu dan Zea." Jelas Iqbal.


"Meski terlahir dari rahim yang sama aku dan abang bagai bumi dan langit, aku benar-benar sampah yang hanya bisa mengotori hidupnya." Jelas Roger.


"Lalu sekarang ubahlah semuanya, jadilah permata dalam hidupnya, ayah tunggu kabar baik besok!" Jelas Iqbal dan lekas pergi.


"Baiklah Roger, meski hanya sekali ayo lakukan hal yang terbaik untuk orang yang kamu cintai!" Jelas Roger dan kembali duduk di kursi kerjanya.


______________________


'Tok, tok, tok' Pelan-pelan tangan Roger mengetuk pintu kamar Jordan, hingga akhirnya suara dari dalam memintanya untuk masuk.


"Masuk!" Pinta Jordan.


"Apa aku mengganggu waktu kakek?" Tanya Roger yang masih berdiri diambang pintu sana dengan pintu yang sedikit ia bukakan.


"Masuklah!" Pinta Jordan yang sejak tadi memang sedang duduk di atas sofa sambil menikmati tehnya.


"Kakek!" Ujar Roger yang kini berdiri di samping Jordan.


"Duduklah!" Pinta Jordan yang langsung dituruti oleh Roger.


"Kek, ada hal yang harus aku lakukan besok!" Jelas Roger yang memulai ceritanya.


"Tentang apa?" Tanya Jordan yang mulai serius.


"Meski agak terlambat tapi aku ingin sekali saja menjadi tameng untuk abang Rakes."


"Apa maksud mu?"


"Aku akan melindungi abang dan juga istrinya. Kek, soal warisan, tolong hapus nama aku dari sana karena memang aku tidak pantas mendapatkannya. Tapi aku...." Jelas Roger terhenti.


"Roger, bicaralah yang jelas, kakek sama sekali tidak paham!" Jelas Jordan.


"Aku akan bekerja sama dengan ayah Iqbal, aku tidak paham aturan mainnya tapi akan aku pastikan aku melakukannya dengan baik. Kek, ada satu hal yang ingin aku minta dari kakek!"


"Apa?"


"Reva? anaknya Luqman?"


"Iya, sebenarnya dia gadis yang sangat baik, hanya saja aku meracuni pikiran dan hatinya, aku merusak jati dirinya aku yang menjadikan dia brutal makanya om Luqman memasukkannya ke pesantren, karena dia tidak ingin Reva semakin tak terkendali. Kek, aku ingin bertanggung jawab atas segala perbuatan aku sama Reva, jika nanti dia lulus SMA dan keluar dari pesantren, tolong lamar dia untuk aku." Jelas Roger.


"Apa kamu serius?" Tanya Jordan memastikan.


"Iya, aku capek terus hidup dalam amarah dan benci, aku juga ingin bahagia." Jelas Roger dengan air mata yang perlahan mulai menitik dari ujung matanya.


"Apapun itu, kakek pasti akan melakukannya untuk kebahagiaan cucu-cucu kakek!" Jelas Jordan yang langsung memeluk erat tubuh Roger.


"Kalau begitu, aku permisi kek!" Ujar Roger.


"Menginaplah di sini!" Pinta Jordan.


"Lain kali aku pasti akan menginap disini, dengan semua cucu-cucu kakek yang lainnya." Jelas Roger yang langsung keluar dari kamar tersebut.


"Akhirnya kamu kembali menjadi cucu kakek lagi, Roger. Terima kasih, akan kakek pastikan kalau semuanya akan baik-baik saja, kamu dan juga yang lainnya tidak akan kakek biarkan kalian terluka." Tegas Jordan pada dirinya sendiri.


_____________________


"Ma....mama!" Panggil Roger dengan suara lantang saat ia melangkahkan kakinya di rumah.


"Ma.....!" Ulang Roger sambil terus melangkah masuk hingga langkahnya terhenti saat ia melihat Zea yang sedang terlelap di sofa seorang diri.


Lama Roger menatap Zea tanpa berkedip sama sekali, hingga tatapannya beralih pada suara yang baru saja memanggil namanya.


"Roger!" Ujar Erina yang baru saja menghampiri Roger.


"Mama masak enak kan? aku udah nggak sabar mau menikmati masakan mama!" Jelas Roger yang langsung menggandeng Erina menuju dapur.


"Kenapa tiba-tiba pengen makan masakan mama?" Tanya Erina saat keduanya telah tiba di dapur.


"Pengen aja. Oh ya, abang mana?" Tanya Roger.


"Bentar lagi juga pulang, ada kerjaan dadakan katanya." Jelas Erina.


"Ma...."


"Iya...."


"Aku sayang mama!" Ujar Roger yang kini beranjak mendekap erat tubuh Erina kedalam dekapannya.


"Mama jauh lebih sayang sama kamu nak!" Ungkap Erina lalu mengusap pelan rambut Roger.


"Khmmmmmmm!" Dehem Hadi yang baru saja datang.


"Papa!" Ujar Roger dan Erina.


"Mama kok belum siap-siap sih, kita mau berangkat loh!" Jelas Hadi.


"Loh bukannya kita berangkat pas Rakes pulang, ntar Zea sendirian." Jelas Erina.


"Kan ada Roger yang nemenin, lagian papa udah bawa Zea ke kamarnya barusan!" Jelas Hadi.


"Roger...." Ujar Erina.


"Mama tenang aja, aku nggak bakal gangguin menantu mama kok!" Jelas Roger.


"Ya udah mama siap-siap dulu!" Jelas Erina dan berlalu.


"Ingat, hanya sedikit saja!" Jelas Hadi.


"Baik pa!" Tegas Roger.


Hadi segera mengikuti Erina sedangkan Roger kembali duduk dan melanjutkan makannya.


"Kamu pasti bisa Roger, pasti bisa!" Tegas Roger pada dirinya sendiri.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE😊😊


Stay terus sama My Princess😘😘😘


KaMsaHamidaπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ